Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
pertikaian


__ADS_3

Di rumah Aida...


Ustadz Irsyad tengah duduk berhadapan dengan Aida dan Ulum. Sebenarnya, Ulum masih biasa saja. Dia bahkan masih melayani dengan ramah pria di hadapannya, sebagai tamu yang paling ia hormati.


"Maaf ya, Aida. Ulum... Saya benar-benar tidak enak hati." Ucap Ustadz Irsyad.


Ulum terkekeh, dia sendiri malah yang jadi tidak enak. Mendengar permintaan maaf dari mantan dosennya itu. "Jangan gitu Ustadz... Ustadz tidak salah. Jodoh itu, kita tidak bisa mengaturnya kan? Sudah lupakan saja, mari di minum teh hangatnya." Ulum menawarkan, karena dia merasa suasananya jadi kaku sekali. Terlebih Aida, tidak tahu-tahu dia turut duduk di sebelahnya, padahal biasanya dia jarang nimbrung jika Ustadz Irsyad datang sendirian.


Ustadz Irsyad tersenyum tipis, sebelum meraih cangkir gelasnya, mengucap basmalah lalu menyeruputnya sedikit.


"Wanita seperti anak saya. Memang tidak akan pernah masuk kok mas, dalam kriteria seorang putra ulama seperti Rumi." Tutur Aida, dengan tampang datarnya. Dia yang sedari tadi diam pun buka suara. Membuat Ulum menoleh, lalu menoel sang istri agar tidak bicara macam-macam. Namun sepertinya hal itu tidak di indahkan oleh Aida.


Sehingga ustadz Irsyad pun kembali menurunkan cangkir gelas di tangannya. Meletakkan lagi di atas Lambar. Lalu menunduk, dengan kesepuluh jari-jari tangan saling bertaut di atas pangkuannya.


"Maafkan anak saya, Aida." Gumam Ustadz Irsyad.


Aida menitikkan air matanya. Andai di sana, tidak ada Ulum ia pasti sudah mengungkit sakit hatinya dulu. Yang merasa pernah di permainkan olehnya.


"Dia sama seperti mu, mas. Kriterianya sangatlah tinggi, tidak mungkin Sudi menikah dengan wanita rendah, Seperti Shafa..."


"Aida?" Ulum meraih pergelangan tangan istrinya, meminta dia untuk diam dengan suara setengah berbisik.


"Lalu dengan teganya. mempermainkan perasaan anak itu, dengan memberikan harap palsu... Memangnya hati anak saya itu apa, mas?" Aida masih saja mencecar Irsyad, dengan pernyataannya.


"Aida!!" Ulum mulai meninggikan suaranya, dia semakin tidak suka dengan sikap Aida itu kepada Ustadz Irsyad. lebih-lebih beliau hanya diam saja menunduk.


"Apa karena, kami memiliki hutang Budi? Karena semua yang kami miliki itu pemberian mu!! Jadi Rumi enggan bersanding dengan wanita yang orang tuanya bergantung kepada orang tua dia?"


"AIDAAAA...!!" bentak Ulum sudah tidak bisa menahannya lagi. Dari situlah, Aida bungkam, dia mengepalkan kedua tangannya seraya menangis.

__ADS_1


Ustadz Irsyad pun menelungkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Tersenyum pada Ulum, meminta dia untuk tidak memarahi adik angkatnya itu. "Sabarlah Ulum...Tidak apa... Dia berhak marah pada ku dan Rumi."


"Tapi dia keterlaluan. maafkan istri saya Ustadz... Maafkan Aida." Ucap Ulum merasa bersalah.


"Sssssttt.... Tidak apa, sungguh Ulum. Sekarang, mana Shafa? Apa dia ada?"


"Ada di kamar Ustadz, sebentar..." Ulum menoleh ke arah sang istri yang masih menunduk, geram. "Bu, ikut ayah. Ayo bangun." Titahnya sembari beranjak.


Aida mengangkat kepalanya, ia melihat Ustadz Irsyad tersenyum ramah kepadanya. Lalu menunduk lagi seraya beranjak dan mengikuti langkah suaminya, masuk.


Di sana, Ulum mengetuk kamar Shafa lebih dulu. Dengan sesekali menatap kearah sang istri kesal.


"Shafa...?"


"Iya, yah–" Shafa menyaut. Gadis itu keluar dengan mata yang masih sembab, hidung yang sedikit merah. Karena sisa-sisa tangisnya.


Cklaaaakkk pintu kamar itu terbuka, dan gadis itu keluar dengan hijab besarnya.


Shafa terdiam, dia sebenarnya belum kuat melihat padenya, takut-takut ucapan Ustadz Irsyad akan membuatnya tidak bisa menahan air mata.


"Maaf yah, Shafa sebenarnya tidak enak badan." Mencoba menolak.


"Hanya sebentar, kasihan pade Irsyad sudah kesini jauh-jauh loh." Bujuk Ulum, gadis itu menghela nafas. Ia mengusap-usap wajahnya, berharap sisa-sisa tangisannya itu tidak nampak. Shafa pun berjalan keluar, sementara Ulum masih tertahan bersama Aida.


Ia menatap tajam istrinya. Lalu menghela nafas, menahan kesal. "Maksudnya apa, tadi kamu bicara seperti itu?" Tanya Ulum pelan.


"Aku? Hanya melampiaskan kekesalan ku. Terhadap keluarga itu," jawab Aida, seraya menitikkan air mata yang kesekian kalinya.


"Kesal? Apa hak kita, Bu? Anak kita mau berjodoh atau tidak dengan Rumi, itu hak Allah SWT."

__ADS_1


"Tapi aku? merasa keluarga kita di permainkan mas."


"Siapa yang mempermainkan keluarga kita?" Ulum menopangkan satu tangan ke dinding, tepat di dekat Aida berdiri. Nada bicaranya masih sangat pelan. "Kemarin, Ustadz Irsyad itu bilang sama mas? Dia hanya mau main, mau silaturahmi. Tidak bilang apa-apa."


"Tapi mas, menyuruh Shafa untuk merias diri kan?"


"Itu wajar Bu... Karena Ustadz Irsyad bilang, ingin mencoba mendekatkan kedua anak kita. Kalau Keduanya cocok lanjut, kalau tidak? Ya kita sebagai orang tua harus menerima. Bukankah mas sudah bilang seperti itu kan kepada mu."


"Tapi aku sakit melihat anak ku sakit, kamu tidak tahu rasanya."


"Mas tahu kok? Kamu sakit karena mengingat masa lalu mu juga kan? Lalu apa kamu masih dendam karena tidak bisa di peristri oleh Beliau? Jadi membawa-bawa Shafa?"


Aida tercengang, dia pun menggeleng pelan "Mas Ulum! Aku tidak seperti itu, ya."


"Kalau tidak seperti itu? Kenapa urusan anak, kita harus ikut campur. Pakai segala merasakan sakit??"


Pertikaian Ulum dan Aida memang terdengar lirih, namun rumah mereka bukanlah rumah yang besar. Sehingga suara itu masih sangat lirih terdengar hingga keluar, Shafa yang duduk di ruang tamu bahkan sampai menunduk. Setelah mendengar gumaman Ustadz Irsyad, mengucap istighfar. Dia sangat ingin berlari masuk lalu berseru 'cukup! Aku sedang terluka! Jangan kalian tambahkan dengan rasa malu di depan Ustadz Irsyad!!' namun dia memilih untuk tersenyum di hadapan Ustadz Irsyad, dengan genangan air mata di kedua kantung matanya.


"Ma... Maaf, pade. Maaf." Shafa menahan sekali air matanya, itu. "Di... Di minum pade, airnya." Bibirnya sudah bergetar hebat, dia benar-benar ingin menangis. Irsyad pun meraih tangan anak itu.


"Kamu yang sabar ya Nduk... Kamu anak baik, kamu Soleha." Kata-kata itu, malah justru membuat kedua netranya semakin tidak bisa menahan untuk tidak menjatuhkan bulir-bulir beningnya.


"Hiks... Maaf, Pade."


"Nggak papa... Menangis saja." Shafa menunduk, dengan kedua telapak tangannya menelungkup menutupi wajahnya.


"Shafa malu Pade... Shafa malu, hiks. Malu sama Rumi. Karena Rumi tahu perasaan Shafa ke dia." Isaknya.


"Sssssttt, istighfar nduk... Tidak perlu merasa malu, tidak apa kok. Rumi tidak akan merendahkan, mu." Ustadz Irsyad berusaha menenangkan, setelahnya dia pun membiarkan anak itu menangis, melepaskan kesedihannya.

__ADS_1


Ya... Rasanya ia kembali lepas. Menangisi sesuatu yang membuatnya merasa kecewa. Hidupnya sudah cukup bahagia, namun memang soal masalah jodoh, mungkin dia harus kalah karena cinta tidak bisa memaksakan seseorang untuk menerimanya.


__ADS_2