Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
jiwa yang menjadi sepi


__ADS_3

Selang beberapa waktu kemudian, Rumi duduk di sebelah Debby, sembari membaca ayat suci Alquran berukuran kecil yang biasa ia bawa kemana-mana.


Sementara Nuha masih menangis di pelukan Faqih. Di sana ustadz Rahmat pun baru saja tiba bersamaan dengan pak Huda yang kebetulan bertemu di lobi rumah sakit, tadi.


Ustadz Irsyad duduk termenung di kursi panjang itu. Teringat wajah bersungut sang istri saat ia goda dengan sangat kakunya di malam pengantin mereka. Ustadz Irsyad mengusap matanya yang basah lalu menghela nafas.


"Ya Allah... Khumairah ku." Gumamnya lirih sedikit mendesah.


Sebuah telapak tangan menyentuh bahunya, Irsyad menoleh. Di sana ustadz Rahmat sudah duduk di sebelah beliau.


"Sabar ya saudara ku." Ucap ustadz Rahmat. Irsyad pun tersenyum kecut.


"InshaAllah... InshaAllah tadz."


Keduanya menatap lurus kedepan. "Pasti berat sekali, kehilangan teman hidup yang sudah berpuluh-puluh tahun mendampingi kita."


Ustadz Irsyad hanya tersenyum.


"Namanya hidup, kalau nggak kita duluan yang meninggalkan mereka? Ya mereka duluan yang meninggalkan kita." Sambung ustadz Rahmat kemudian.


"Ya Allah..." Gumam ustadz Irsyad, matanya kembali mengembun. Hening sejenak. Hingga datang pak Huda yang langsung duduk di sebelah kiri ustadz Irsyad.


"Tadz, antum lebih baik pulang duluan. Soalnya jenazah sudah di urus administrasinya, hanya menunggu sebentar. Nanti akan di antar dengan ambulans."


"Saya, ingin menemani istri saya pak, di ambulan," jawab ustadz Irsyad.


"Tapi saya melihat ustadz, sudah lelah sekali. Sebaiknya pulang dulu. Sekalian mempersiapkan yang di rumah. Dan lagi? Ulum tadi mengabarkan, bahwa dia sudah mengabari pihak Rt di tempat ustadz Irsyad, mengenai kabar kematian mbak Rahma. Beberapa warga pun sudah ada yang datang untuk bertakziah."

__ADS_1


"MashaAllah..." Ustadz Irsyad mengusap kedua matanya yang basah, merasa bersyukur karena banyak yang membantunya.


"Iya Tadz... Lebih baik antum pulang, biar di sini menjadi tanggung jawab kami." Ucap ustadz Rahmat. Irsyad pun mengucapkan terimakasih banyak kepada mereka setelahnya beranjak, untuk berpamitan pada mereka yang di sana.


Ia pun mengajak anak-anaknya, Seperti Debby dan Nuha karena mereka wanita. Sementara Rumi dan Faqih masih tertinggal di rumah sakit itu bersama Pak Huda dan ustadz Rahmat.


***


Mobil yang di kendarai ustadz Irsyad sudah sampai di depan rumah seorang warga lain. karena rumah Irsyad sudah mulai ramai dengan bangku-bangku plastik tertata di dalam bahkan sampai ke depan pagar. Beberapa orang termasuk Ulum langsung menyambut ustadz Irsyad, mereka menyalami Irsyad mengucap bela sungkawa kepadanya atas kepergian sang istri.


Karena pikiran yang masih gamang, Irsyad hanya menyalami saja. Lalu meminta maaf untuk masuk lebih dulu. Rumah sudah ramai, ada Aida, Shafa dan Qoni juga.


"Assalamualaikum." Sapa Irsyad pada beberapa wanita di sana yang sedang berkumpul membacakan surat Yasin.


"Walaikumsalam. Mas, Aida sempat tidak percaya ketika mendengar kabar tentang mbak Rahma." Ucap Aida.


"Mbak Rahma tidak pernah melakukan kesalahan mas. Dia orang baik." Jawab Aida. Irsyad pun bergumam Hamdallah, seraya tersenyum lalu berjalan semakin kedalam, menaiki anak tangga dan berhenti di depan kamarnya dan Rahma, sebelum pindah ke kamar bawah.


Krieeet... Pintu itu terbuka pelan. Irsyad terdiam sejenak menatap kamar yang gelap itu, ketika ingatannya kembali kemasa lalu. Ia pun menekan saklar lampu, di lihat kasur busa di ranjang itu tak tertutup kain seprai.


Seolah ia masih ingat hiasan pengantin di setiap sudutnya, dimana Rahma yang masuk tanpa berbicara lalu duduk dengan santai tanpa merasa canggung di bibir ranjang, menjawab pertanyaan Irsyad dengan ketus.


Juga kesalnya Rahma saat ia bangunkan untuk solat dan mandi.


Irsyad Berjalan pelan sembari menutup pintu kamar itu, mendekati ranjang, dan duduk di sana. Sejenak ia merasakan Kasur itu kotor. Irsyad pun bangun lagi guna meraih sapu kasur, membersihkannya sejenak. Lalu tiduran di sana dengan posisi miring kanan, tangan kirinya mengusap-usap bagian yang kosong di sebelahnya. Pikirannya mulai berkelana.


(Flashback is on.)

__ADS_1


"Dek?" Panggil Irsyad pelan. "Sudah tidur belum?" Tanyanya kemudian.


"Aku sudah mau tidur tapi mas malah memanggilku." ucap Rahma masih memejamkan matanya, Irsyad pun terkekeh.


"maaf ya. Emmmm.... Mau mengobrol sebentar, tidak?" Tanya Irsyad.


"Apa?"


"Ya, apa saja tapi mas inginnya kamu dulu yang bercerita" ucap Irsyad masih menatap ke langit-langit kamarnya, perasaannya kala itu benar-benar tak karuan, antara berdebar, gemetaran karena ada wanita di sebelahnya. Dan dia sedang berusaha sekali mengambil hati Rahma yang ketus itu, nada bicaranya.


"Aku tak pandai bercerita" Jawab Rahma datar.


(Flashback is off)


Ustadz Irsyad terkekeh dengan air mata yang menetes, beliau lantas memutar tubuhnya merubah posisi menjadi terlentang menghadap langit-langit kamar.


"Dulu aku ragu, apa kamu bisa ku didik? Tapi hati ku seolah cepat sekali tertarik pada mu, ketika Ikrar sudah ku lantangkan. Dan aku beruntung kau itu rupanya adalah seorang bidadari surga yang sangat baik hati, dan mau mentaati ku." Ustadz Irsyad kembali menitikkan air matanya, beliau pun menutup kedua matanya itu dengan lengannya.


Perlahan ia mulai sesenggukan. Bergumam Khumairah... Khumairah ku Rahma, lalu beristighfar berkali-kali.


'Dek Rahma, mas merindukan mu. Mas benar-benar menjadi pria paling patah hati saat ini, dek.' batin Irsyad yang masih sesenggukan di sana. 'mas belum bisa membahagiakan mu... Kenapa sudah pergi saja?'


Masih saja ustadz Irsyad Melepaskan kesedihannya sendiri di kamar itu. Meratapi waktu yang cepat sekali berlalu, padahal dia masih ingin hidup lebih lama dengan sang pendampingnya itu. Begitu lah hidup, yang kita pikir akan bisa hidup abadi namun tidak pernah menyadari jika kita adalah mahluk bernyawa yang kapan saja bisa meninggalkan dunia ini, entah kita yang lebih dulu atau sebaliknya.


Pertanyaan, siapkah hati menerima kepergian sang kekasih hati? Pendamping dalam hidup? Jawabnya, tidak akan ada yang mau. Banyak sebagian orang yang merasa tidak peduli dengan pasangannya saat ini, namun ketika sudah tidak lagi bersama? Hanya tinggal lah kenangan manis yang membekas, seolah kembali mengobrak-abrik perasaan dan jiwa yang berkabung penuh penyesalan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2