Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
menantu baik hati


__ADS_3

Hari terus berganti, tiba waktu Rumi kembali ke Bandung. Karena ada pekerjaan yang harus di kerjakan di kantornya.


Malam ini, Debby masih mengerjakan setrikaannya di ruang laundry. Saat itu pula Abi Irsyad baru saja pulang dari acara istigosah rutin setiap Kamis malam, di salah satu majelis. Niat hati ingin mengambil air. Namun rupanya ruangan laundry itu masih menyala lampunya.


Beliau menilik kearah jam tangannya, sudah pukul dua belas malam. Apakah Debby lupa belum mematikan lampunya?


Beliau berjalan, di lihat sang menantu masih di sana rupanya.


"Assalamualaikum."


"Eh... Walaikumsalam."


"Ya Allah... Kamu belum tidur?"


"Sebentar lagi, Bi. Tanggung soalnya."


"Sudah matikan setrikaannya. Besok lagi saja."


"Iya Bi, ini tinggal satu lagi kok." Debby masih mengerjakan pekerjaannya itu.


"Rumi mana?"


"Kak Rumi tidur."


"Astagfirullah al'azim."


"Nggak papa, Bi. Besok kan kak Rumi berangkat pagi."


"Sudah nduk, matikan itu. Lanjut besok saja. Kamu seharusnya istirahat."


"Iya Bi, izinkan Debby menyelesaikan yang ini saja ya."


Abi Irsyad menghela nafas, gadis itu sama sekali tidak nampak manja, ataupun malas karena tinggal bersama mertuanya.


Dia bahkan mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa pamrih, dengan senyum yang selalu mengembang ceria saat berhadapan dengan Beliau. Bahkan tak pernah sekalipun, dia mendengar gadis itu menggerutu, ataupun hanya sekedar menampakkan mimik wajah kesalnya karena kelelahan.


"Alhamdulillah... Sudah selesai." gumam Debby. Ia memasang hanger di kemeja tersebut, lalu mendekati Abi Irsyad. "Debby pamit ke kamar ya Bi, assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." gumam Abi Irsyad lirih. Ia menatap gadis itu merasa bersalah, karena Debby kini menjadi satu-satunya wanita di rumah ini. Yang pastinya memiliki perasaan untuk membuat seisi rumah ini nyaman dengan adanya dirinya. Beliau lantas mematikan lampu di ruangan itu, lalu memutuskan untuk ke kamar beliau sendiri.


–––


Esok harinya...

__ADS_1


Debby menyiapkan segala keperluan Rumi, setelahnya berlari kecil ke bawah, dia ingat tadi sedang merebus air di dapur.


Di dapatinnya Abi Irsyad tengah mematikan kompor gas.


"Astagfirullah al'azim, maaf ya Bi. Tadi Debby lagi menyiapkan segala keperluan kak Rumi."


Abi Irsyad tersenyum, beliau sudah siap dengan pakaian rapinya. "Nggak papa Nduk, ini juga baru terdengar kok suara ketel uapnya."


"Begitu ya? Abi mau di buatkan apa, kopi? Teh?"


"Nggak perlu, nduk. Air putih saja."


Debby tersenyum senang, ia lantas meraih cangkir besar. Menuangkan sedikit air panas lalu mencampurnya dengan air dingin. Karena Abi Irsyad suka minum air yang hangat.


"Ini minumnya, Bi."


"MashaAllah, terimakasih ya. Abi Sebenarnya bisa ambil sendiri. Tapi kalau di ladeni seperti ini nggak nolak juga. Terimakasih ya, anak Abi yang Soleha."


"Sama-sama Bi," Debby terkekeh merasa tersanjung. "Oh, Abi maaf ya. Debby cuma masak ini. Abi mau di masakin yang lain lagi?"


"Ini saja cukup, Nduk."


"Emmm.... kalau begitu nanti malam, Abi mau Debby masakin apa? Nanti biar Debby belanja."


"Hehehe... Abi suka?"


"Suka, suka sekali. Ini enak."


"Alhamdulillah... Lauknya Bi,"


"Abi akan makan semuanya, tenang saja."


Mendengar ucapan Abi Irsyad sembari terkekeh, lalu meraih telur bulat yang di masak semur itu membuat Debby bahagia, belum lagi dengan pujian-pujian yang lain. Itulah kenapa Debby merasa senang melakukan apapun di rumah itu, tanpa ada perasaan yang membuatnya berfikir macam-macam. Entah seperti menantu yang di anggap asisten rumah tangga lah dan sebagainya. seperti pemikiran para menantu di luar sana.


Yang menganggap melakoni seluruh pekerjaan rumah di kediaman mertuanya adalah sesuatu berbuatan yang masuk ke kategori perbudakan. Walaupun tidak semua menantu menganggap demikian.


Tak lama Rumi turun, menghampiri keduanya dimeja makan. Dimana sang istri dengan sigapnya meraih piring, menyerahkannya pada Rumi.


Abi Irsyad yang melihat itu geleng-geleng kepala. Gadis itu memang benar-benar mengagumkan. Dimana dia yang masih terlihat muda, dengan garis keturunan yang bisa di bilang bukan dari kalangan biasa, namun sikapnya cukup dewasa. Mampu menempatkan dirinya dengan baik, sebagai mana seorang istri dan menantu yang baik.


Bahkan rumah pun nampak rapi, seperti berusaha sekali mengerjakan pekerjaan rumah itu sendiri. Hingga tak sekalipun memberikan kesempatan dirinya walau hanya sekedar menyapu lantai saja. Semua sudah beres di kerjakan oleh menantunya. Benar dialah tambatan hati, Tuan Yohan dan Nyonya Gita. Sungguh orang tua yang luar biasa. Bisa mendidik Debby hingga menjadi wanita yang lumayan sempurna ahlaknya, walaupun dia adalah seorang mualaf.


Ustadz Irsyad berdeham, setelah mengingat sesuatu. "Nduk, nanti akan datang mbak Rani, untuk bekerja di sini."

__ADS_1


"Mbak Rani? Maksud Abi, seorang asisten rumah tangga?" Tanya Debby.


"Iya, buat bantu beresin rumah ini."


"Tapi kan? Debby juga bisa mengerjakannya sendiri. Nggak papa kok Bi." Debby merasa tidak enak hati, ia khawatir pekerjaannya tidak benar. Sehingga membuat Abinya Rumi memutuskan untuk mencari asisten rumah tangga.


"Dek, Abi itu kasian sama kamu. Makannya Abi minta mbak Rani buat bantu kamu," ucap Rumi menjelaskan.


"Begitu kah?"


"Iya nduk... rumah ini lumayan besar, Abi suka kasihan lihat kamu sampai kelelahan seperti ini. Lagi pula, mbak Rani bisa jadi teman kamu di rumah. Orangnya baik kok, dulunya beliau kerja di sini juga bantu Umma. Dan sempat berhenti selama lima tahun karena ibu beliau sakit. Sekarang Alhamdulillah beliau mau bekerja lagi di sini."


"Oh, begitu ya..." Manggut-manggut, paham.


"Ya sudah. Habiskan malam kalian. Abi sudah selesai. Abi berangkat dulu ya. terimakasih untuk sarapannya ini enak."


"Sama-sama Bi, Debby senang kalau Abi suka."


Abi Irsyad tersenyum. "Pulang nanti mau Abi bawakan lumpia boom lagi kah?" *(Lumpia pedas dengan isian, jamur, rebung, terlur orak-arik serta daging sapi. Ukurannya lumayan besar hampir seperti martabak telur.)


"Wah... Mau, Bi." Debby menanggapi.


"Baiklah, inshaAllah nanti Abi bawakan. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, terimakasih Bi." Senyum senang. Ia menoleh ke arah Rumi.


"Entah kenapa, kamu semakin mirip Nuha. Pantes Abi sayang banget sama kamu... MashaAllah." Rumi mengusap-usap kepala Debby, gemas.


"Hehehe... Berati jodoh. Aku bisa mirip seperti Nuha. Abi itu baik banget, jadi berasa ayah kandung."


"Memang harusnya seperti itu."


"Iya Kak."


Rumi tersenyum, ia meraih sesuap nasi untuk Debby. "Tanda sayang ku."


"Ih... Masa sesuap nasi, sedikit lagi." Debby membuka mulutnya.


"Hehehe... Kasih sedikit-sedikit, biar nggak cepet bosan kamunya. karena cinta ku masih banyak, takut kekenyangan juga."


Keduanya terkekeh, merasa itu garing namun tetap mampu mengundang tawa kedua, lalu melanjutkan makan mereka hingga selesai.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2