
Rumi sebenarnya berusaha menahan kesal dengan kata-kata Debby, yang terus saja mengandung rasa keputusasaan. Membuat Rumi menatap sedikit tajam hingga Debby pun bahkan tidak berani menatap sang suami balik saat ini.
"Dek, sudah ya. Tolong di buang pikiran buruk seperti itu."
"Apa susahnya sih, aku cuma butuh jawaban yang bisa membuat ku tenang."
"Ya kan tadi sudah di jawab."
"Aku tidak cukup puas dengan jawaban kak Rumi,"
"Memang jawaban apa yang kamu harapkan? Coba kasih tau aku."
"Ya apa kek, apa yang bakal kak Rumi lakukan ketika aku tidak bisa memberikan mu anak?" Cecar Debby terus, dimana Rumi hanya geleng-geleng kepala sembari beristighfar. Ia tahu maksud Debby, namun Rumi memang paling tidak bisa menjanjikan apapun pada siapapun. Karena ia takut ingkar.
"Jawaban ku tetap akan sama, Dek. bersabar." Jawab Rumi masih berusaha melembutkan suaranya.
"Sabar doang, gitu?"
"Ya terus?"
"Iiisssh... Nggak peka, sumpah nggak peka." Debby kembali membuang muka. Merubah posisi duduknya, menyamping, serta membelakangi sang suami.
Rumi pun menggaruk keningnya semakin bingung, ketika Debby tiba-tiba kesal padanya lantas mencecar dengan kata-kata yang agak sulit untuk ia jawab. Memang akhir-akhir ini Debby sering kesal dan mendiami Rumi tanpa alasan. Mungkin sebab pengaruh pikiran negatifnya, membuat dia jadi seperti itu.
Hening sejenak, berusaha untuk mengalihkan situasi ke yang lebih kondusif antara dirinya dan sang istri. Ia pun bergeser sebentar, sedikit maju.
"Dek, jangan mancing aku buat meluk kamu dari belakang ya, ini tempat umum loh. Kalau ngajak debat jangan di sini. Pulang dulu gitu, di kamar kan enak." Bisik Rumi, membuat Debby melebarkan bola matanya.
"Apaan sih, lagi marahan ngomongnya gitu?" Tuturnya seraya menoleh dan mendorong bahu Rumi yang malah justru terkekeh.
"Loh bener kan? Marahnya udahan dulu. Mending kita pulang yuk lanjut di rumah, malah seru kayanya. Kamu mau marah kaya apa, terserah. Kalau di sini, aku nggak bisa ngasih penangkal marah mu."
"Kak Rumi...!"
"Hahaha." Rumi tertawa saat melihat Debby sedikit tersenyum, setidaknya sang istri bisa tertawa dan melupakan bahasan tidak penting tadi.
–––
Beberapa menit berlalu, setelah berhasil mencairkan suasana. Debby kini merasakan sedikit haus.
"Suami?"
"Emmm?"
"Aku haus. Ingin minum."
"Aku cari minum dulu ya, mau ikut nggak?"
"Nggak, aku mau di sini saja."
__ADS_1
"Ya sudah ku tinggal ya, aku cuma sebentar kok."
"Iya Kak. Mau yang dingin ya."
"Iya Zaujatti." Rumi mengusap kepala Debby lalu berjalan menjauh mencari pedagang minuman.
Dalam kesendirian Debby memutuskan untuk membuka akun sosial media miliknya. Di sana ada banyak foto dirinya dan Rumi, yang lebih banyak foto Ruminya sih, entah yang sedang makan, minum. Atau sedang bekerja. Debby pun tersenyum.
"Aku paparazi yang baik untuk suami ku. Fotonya keren-keren. Sayang kak Rumi tidak punya akun sosmed jadi tidak bisa Tag dia." Gumam Debby sembari menggulir layar ponselnya.
Tak lama berselang, datang seorang wanita dengan perutnya yang besar.
"Permisi mbak, saya boleh numpang duduk sebentar di sini. Saya habis jalan-jalan jadi agak sedikit lelah."
"Oh silahkan, Bu." Debby mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk duduk. Terlihat perutnya amat besar, sepertinya ia tengah hamil usia delapan jalan ke sembilan bulan. Ia menoleh ke kiri dan kanan. "Ibu sendirian?"
"Iya, saya sendirian."
"Ya ampun, ibu lagi hamil besar kok malah jalan-jalan sendirian."
Wanita paruh baya itu terkekeh, "Tidak apa saya sudah biasa."
"Tapi kan agak riskan, Bu."
"Mau bagaimana lagi, suami saya sedang bertugas di luar daerah. Jadi mau tak mau harus sendirian. Lagian rumah saya dekat, di sekitar sini juga, jalannya nggak jauh kok."
"Boleh, silahkan." Kata ibu tersebut. Debby pun langsung tersenyum, ia menyentuh perut besar si wanita yang sedang duduk di sebelahnya.
"MashaAllah lucu sekali, ini kehamilan yang ke-berapa Bu…?"
"Alhamdulillah yang pertama."
"Pertama?"
"Iya," jawab ibu itu sembari tersenyum.
"Ya ampun. Maaf, apa saya boleh bertanya?"
"Silahkan."
"Apa ibu menikahnya telat?"
"Tidak juga saya dan suami saya sudah menikah lebih dari dua puluh tahun."
"Dua puluh tahun? Dan ini anak pertama ibu?" Tanya Debby terheran-heran.
"Iya, karena saya sempat kosong selama dua puluh tahun. Saya sempat berfikir antara saya dan suami saya itu tidak akan pernah mendapatkan keturunan. Bahkan saya sampai merawat anak dari adik saya, yang kebetulan punya anak banyak karena program KB-nya tidak bekerja dengan baik. Dan siapa yang menyangka, saat pernikahan masuk ke usia dua puluh tahun. Saya malah tidak haid, saya pikir saya sudah menopause dini. Ternyata malah positif hamil." Nampak senyum yang berseri-seri terpancar di wajah ibu hamil di sebelah Debby. Sembari mengusap perutnya.
"MashaAllah, Alhamdulillah sekali." Debby tersentuh dengan cerita sang ibu tadi.
__ADS_1
"Mbak sendiri di sini sendirian?"
"Saya sama suami, tapi sedang beli air minum."
"Oh, pengantin baru?"
"Bukan, saya sudah menikah hampir dua tahun." Tersenyum.
"Oh... Sudah punya momongan berapa?"
"Alhamdulillahnya belum di kasih Bu."
"Ya ampun, yang sabar saja ya. Lihat, saya saja nggak nyangka bisa hamil setelah kosong dua puluh tahun? Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak."
Debby tersenyum, seolah semangatnya kini kembali. Ia pun mengangguk pelan. "Semoga saja, saya segera mendapatkan momongan."
"Aamiin." Ibu-ibu itu mengamini, keduanya pun terkekeh. Bersamaan dengan itu, Rumi yang ternyata sudah berdiri tidak jauh dari kursi Debby turut senang, rupanya ia mendengar sekilas ucapan sang wanita hamil itu. Dan ia bersyukur, melihat Debby mulai bisa tertawa, dan ceria lagi. Padahal mereka baru saja kenal, namun memang Debby paling pandai membuka obrolan, sehingga wanita hamil itu pun seolah merasakan kenyamanan saat berbicara dengan wanita muda di sebelahnya.
***
Sebelum waktu Dzuhur tiba, keduanya memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, sudah tidak nampak lagi wajah muram durja yang sedari kemarin-kemarin terpancar di wajah sang istri.
Hal itu lah yang membuat Rumi merasa bersyukur.
"Kakak tahu, ibu-ibu tadi itu sedang hamil anak pertamanya loh. Setelah dua puluh tahun menanti."
"Oh iya kah?"
"Iya," jawab Debby bersemangat.
"Alhamdulillah ya, itulah kenapa aku minta kamu untuk sabar dek."
"Iya, tapi kan. Setelah dokter bilang aku yang bermasalah, aku jadi takut."
"Dokter kan hanya memvonis, sementara Allah yang maha kuasa, atas segala takdir manusia. Jadi ngapain khawatir. Rahmat Allah itu lebih luas dari apapun, teruslah berdoa dan berdoa."
Debby tersenyum. "Iya Kak rumi."
"Sekarang bagaimana? Mau lanjut lagi terapi program hamilnya?" Tanya Rumi sembari mengusap kepalanya. Debby mengangguk pelan.
"Tapi jangan kesal kalo mood-ku jelek ya."
"Kapan aku pernah kesal sama kamu, kalau kamu marah-marah nggak jelas selepas terapi? Lagian nggak habis terapi saja kamu suka sekali ngambek nggak jelas. Aku sampai hafal, situasi apa saja yang membuat mu ngomel." Tutur Rumi, Debby pun nyengir, ia menyentuh pipi sang suami.
"Kan kata kak Rumi wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok. Jadi harus selalu sabar ketika menghadapi bengkoknya diri ku."
"Iya... tapi bengkok mu itu hampir setiap hari, Dek." Rumi melirik sinis.
"Hahaha, untung Suamiku penyabar. Kesayangan. Gemes jadinya." Debby menarik pipi Rumi lalu tertawa saat Rumi menoleh sembari membuka mulutnya hendak menggigit tangan sang istri.
__ADS_1