
Bulan demi bulan kembali di lalui.
Hingga tiba pada hari-hari terakhir dibulan Ramadhan tahun ini.
Ya ini tahun pertamanya setelah puluhan tahun yang lalu, menikmati suasana Ramadhan di kampung halaman.
Bedanya dulu beliau masih ada mbak Adiba, bapak dan si mbok nya. Namun saat ini beliau sendirian. Jauh dari anak-anak dan cucu-cucunya, terlebih beliau kini benar-benar sendiri tanpa pendamping hidup, itulah yang membuatnya merasakan sedikit guratan perih di dada. Walaupun ada keinginan ke Jakarta untuk berlebaran bersama anak serta para cucunya, namun karena satu dan lain hal beliau memilih untuk menunda mengunjungi mereka setelah satu Minggu selepas IdulFitri.
Dalam langkahnya, Ustadz kembali mengingat sesuatu. Di saat beliau masih kecil, dengan membawa obor yang menyala, disaat temaram mulai menampak dengan semburan senja kemerahan. Mengusir jejak kelabu di kaki langit, mengejar mentari yang semakin tenggelam di telan gelapnya malam.
Irsyad kecil dengan sepasang sendal jepit sederhana di kakinya, setengah berlari menuju masjid, membawa sajadah agar bisa mendapatkan saf terdepan.
Karena saf terdepan akan lebih dekat dengan imam, dan beliau pun akan mendapatkan posisi itu di kemudian hari.
Entah kepercayaan dari mana, yang jelas? setiap kali mengingat itu, Ustadz Irsyad hanya terkekeh geli dengan dirinya sendiri.
Karena dulu beliau pun pernah berebut tempat, ketika keduluan dengan salah satu santri rajin lainnya. Yang kini sudah menjadi kyai besar juga di Wonogiri, bahkan beliau pun memiliki pondok pesantren juga sekarang.
Ustadz Irsyad terus berjalan, setelah mengajar kitab di majelisnya selepas Dhuha tadi. Petang ini adalah buka puasa terakhir, karena nanti malam inshaAllah takbir sudah bergema.
Beberapa santri yang di lewatinya memberi salam, sopan ada pula yang meminta menjabat tangan.
Pondok sudah mulai sepi, karena mereka sudah mulai mudik. Hanya tinggal beberapa santri yang memang rumahnya dekat dengan ponpes tersebut, menunggu malam lebaran saja, sembari bertakbir bersama.
Ya... Sebelum tiba waktu Dzuhur Ustadz Irsyad biasanya akan pulang lebih dulu ke kediaman beliau untuk beristirahat sejenak. Dan kembali ke masjid saat waktu sholat Dzuhur tiba, setelah itu istirahat siang hingga tiba waktu Azhar, mengaji dan berzikir lalu berbuka di masjid bersama para santri, para Ustadz, juga para warga yang turut jamaah di sana.
Itulah kegiatan beliau sehari-hari selama menetap di Magelang. Jika tidak di bulan Ramadhan, biasanya akan mengunjungi ladang peninggalan Bapaknya dulu. Menengok serta turut turun tangan mengurus tanaman padi dan jagung milik beliau sekarang.
Kembali pada Ustadz Irsyad yang menghentikan langkahnya, saat melihat sebuah mobil yang ia kenal terparkir di depan rumah.
"MashaAllah–" senyumnya merekah, beliau tergopoh-gopoh berjalan dengan sedikit mengangkat kain sarungnya. Tidak sabar, ingin bertemu mereka yang datang.
Benar saja, Rumi dan Alzah yang berada di gendongannya keluar dari rumah sederhana peninggalan orang tua ustadz Irsyad itu, dengan atap berbentuk joglo.
"Assalamualaikum, kakek." Rumi menggoyangkan tangan sang anak menyambut Abinya yang nampak sumringah mendapati kedatangan mereka ke rumah itu.
__ADS_1
"Walaikumsalam warahmatullah, barakallah... Alzah–" Ustadz Irsyad menciumi kedua pipi Alzah, dan Rumi setelahnya. Lantas mengambil alih menggendong cucunya itu, setelahnya menerima jabatan tangan Rumi yang langsung menempel punggung tangan beliau di bibirnya dengan takzim.
"Abi sehat?"
"Alhamdulillah, Le? Dari sana jam berapa?" Binar mata Ustadz Irsyad memancarkan rasa bahagia karena kedatangan anak laki-lakinya itu.
"Berangkat siang kemarin Bi."
"Ya Allah, kok baru sampai? Pasti macet ya?"
"Lumayan, tapi lebih ke banyak istirahatnya sih Bi," jawab Rumi.
"Owalah... Yang penting sudah sampai, kasian cucu kakek ini kecapean pasti?"
"Assalamualaikum, Abi–" Debby yang baru keluar setelah beristirahat sebentar di kamar pun langsung menghampiri Abi Irsyad, meraih tangan beliau lantas menciumnya.
"Walaikumsalam warahmatullah, Nduk... Ya Allah. Abi terharu kalian datang." Ustadz Irsyad mengusap-usap kepala menantunya itu.
"Iya, kita mau berlebaran di sini menemani Abi." Jawab Debby bersemangat.
Hingga sebuah klakson mobil lain terdengar, tengah memasuki halaman rumah. Bulir bening Ustadz Irsyad pun tak bisa terbendung lagi, saat terdengar teriakan Ziya dan dua anak kembar Nuha yang bernama Fawwaz dan Faiz Al Malik, dari dalam mobil yang baru tiba itu.
"Ya kareem–" Ustadz Irsyad mengusap kedua matanya yang basah, dengan bibir tersungging senang. Rasa rindunya seolah langsung terobati sekaligus tatkala melihat Nuha beserta anak-anak dan juga suaminya turut datang..
"Kakek– kakek–" teriak anak-anak itu yang sudah tidak sabar menunggu Abi mereka menempatkan mobilnya agar tidak menghalangi jalan.
Saat sudah pas, Nuha keluar membukakan pintu tengah untuk ke tiga anaknya itu. Si kembar yang baru lancar berjalan langsung berlari, hingga salah satu dari mereka terjungkal ke tanah akibat tertabrak yang satunya, hal itu pun menyebabkan satunya lagi jadi turut terjatuh dan menangis bersama.
"Nah kan? Faiz nangis ketabrak A' Fawwaz, Nggak hati-hati sih– jatuh kan dua-duanya." Nuha menggendong Fawwaz sementara Faqih yang hanya terkekeh langsung menggendong Faiz.
Ustad Irsyad dan yang ada di sana tertawa, saat Nuha bersungut memarahi keduanya. Sama persis seperti Rahma dulu, beliau pun lantas menciumi satu persatu cucunya, dengan penuh kasih sayang dan perasaan Rindu.
"kalian semua datang, Kenapa nggak ngasih kabar? Abi kan jadi nggak bisa menyiapkan hidangan spesial. Ya Allah–" Ustadz Irsyad memeluk tubuh Nuha menciumi kedua pipinya, lalu menjabat tangan Faqih yang lantas mendapatkan pelukan rindu dari beliau juga.
"Sengaja, kami nggak kasih tahu Abi. Memang untuk memberi kejutan. Tapi karena kak Rumi jalan lebih awal, sementara A' Faqih harus mengantar pesanan kurma terakhir lebih dulu jadi nggak bisa bareng sampainya." Jawab Nuha.
__ADS_1
Ustad Irsyad menoleh ke arah Rumi. "Memang kalian sudah tiba dari jam berapa, to?"
"Sudah ada sekitar tiga jam lah Bi kurang lebih."
"Lah tadi nggak ke masjid?"
"Ke masjid, tapi Rumi di saf belakang dan Abi nggak ngeliat Rumi."
"Ya Allah–" Ustadz Irsyad terkekeh-kekeh, bahagia bukan kepalang melihat mereka semua datang. Terlebih saat cucu-cucunya berebut untuk gantian meminta di gendong, karena beliau masih menggendong Alzah saat ini. "Yuk masuk dulu, nanti kakek gendong satu-satu ya." Ajak beliau, dimana anak-anak itu turut mengikuti kakeknya masuk ke dalam rumah.
Faqih menjabat tangan Rumi setelahnya, karena baru sempat setelah drama menenangkan anaknya yang menangis tadi, sementara Nuha langsung menggandeng tangan Debby masuk kedalam rumah.
"Ketemu macet nggak tadi, A'…?" Tanya Rumi sembari mengajaknya duduk di kursi teras.
"Lumayan sih, di Cikampek, ya Allah– Mungkin H-2 kali ya? Lagian sudah agak malam habis buka langsung jalan, akhirnya jadi lumayan kejebak di sana, tapi untungnya nggak lama."
"Makanya saya ngejar sehabis Dzuhur Kemarin langsung jalan. Kalau nggak ya, bisa kejebak macet. Walaupun tetap ketemu juga, ini saja semaleman di jalan."
"Alzah nggak rewel?" Tanya A' Faqih.
"Lumayan, makanya banyak berhentinya di rest area. Si kembar gimana?"
"Aktifnya MashaAllah– Si Neng yang uring-uringan. Tadinya mau ajak pengasuh mereka, tapi udah mudik juga."
"Bisa ngebayangin sih, anak tiga ya A'..."
"Ya begitulah–" jawab A' Faqih yang lantas menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sembari merenggangkan tubuhnya yang lelah setelah menyetir kurang lebih hampir sehari semalam.
Tak lama suara tangis Faiz terdengar, Keduanya pun menoleh kebelakang.
"Anak itu sepertinya agak kelelahan, nggak tidur sih dari subuh tadi."
"wah iya itu mah– Yuk masuk A'... Kita istirahat dulu."
"Ya–" keduanya beranjak dan berjalan bersama masuk ke dalam rumah Ustadz Irsyad yang bersih dan sejuk.
__ADS_1
Ya... Beliau memang tinggal sendirian, namun sifat rajin Ustadz Irsyad tidak pernah hilang. Rumah itu tetap bersih dan rapih, sehingga terasa nyaman bagi siapapun yang berkunjung ke sana.