
Beberapa hari berselang...
Rumi menatap dirinya sendiri, yang tengah berdiri di depan cermin. Dia baru saja pulang selepas solat subuh, dan berzikir cukup lama di masjid yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan busana muslim yang masih ia kenakan. Ia mencoba meresapi rasa yang selama ini tidak tahu apa artinya.
Lalu perlahan tangan itu terangkat. Menyentuh dadanya.
"Shafa?" Rumi mencoba menyebutkan nama itu dengan lisan.
Ia menggeleng pelan, karena sama sekali tak membuatnya bergetar. Bagaimana dia bisa menjalani rumah tangga dengan wanita yang sama sekali tak membuatnya bergetar. Malah mungkin akan canggung jika dia ada dalam satu kamar yang sama, sebab? Yang ia tahu Safa kan saudara.
Rumi menghela nafas, lalu melepaskan pecinya, dia berjalan pelan dengan peci masih menggantung ditangan, turut terayun seiring tangannya yang juga terayun saat melangkah.
Sudah lebih dari semingguan ini, Rumi banyak melamun. Karena memikirkan ini semua, tentang dirinya yang akan di jodohkan dengan Safa.
Beliau pun lantas duduk di ujung ranjang, lalu menoleh kearah ponselnya. Meletakkan peci itu di atas meja setelahnya meraih ponsel tersebut, kemudian.
Saat itu Rumi hanya menekan tombol samping, sampai layar ponselnya menyala. Menatap itu dengan pikiran yang berkelana entah kemana.
Sudah lewat dari dua tahun berlalu, dia seperti orang yang kehilangan sesuatu.
Tapi tidak juga ia resapi sih, karena itu juga tidak baik. Rumi menghela nafas, lalu meletakkan lagi ponselnya.
"Bagaimana kabar dia? Dia baik-baik saja kan?" Gumam Rumi.
Pikiran itu terus-menerus ada, karena gadis yang biasa mengganggunya selama ini, sekarang seperti di telan bumi.
Menghilang begitu saja, tanpa kabar.
Rumi menghela nafas. "Apapun kondisi mu saat ini, semoga kau benar-benar Istiqomah dengan keinginan mu." Ucapnya mendoakan. Dia pun beranjak dari ranjang itu lalu berjalan masuk menuju tandas di dalam kamarnya.
–––
Sementara di sisi lain.... dengan waktu yang sudah berjalan semakin siang, Tepatnya pukul sepuluh pagi.
Di sebuah masjid, islamic center. Seorang wanita berusia 21 tahun yang di dampingi wanita berusia 29 tahun itu tengah duduk di hadapan seorang kyai dan beberapa saksi karena hendak melafalkan dua kalimat syahadat, sebagai wujud kemantapan dia masuk Islam.
Bibir manis itu tak henti-hentinya menebar senyum terharunya, bahkan tangannya pun terasa dingin saat ini. Begitu gugupnya dia, bahkan sampai meremas tangan bibinya sendiri, setelahnya terkekeh bersama tanpa suara.
"Cici Debora Aruan?" Panggil kyai tersebut. Debby menjawab seruan itu dengan menatap pak kyai di hadapannya. "Enaknya panggil Cici atau mbak ya? Atau teteh karena dari Bandung?" Terkekeh.
"Terserah saja, pak kyai mau panggil yang mana. mbak juga boleh."
__ADS_1
"Baiklah Mbak ya, biar enak hehe. sebelumnya sini saya mau bertanya, sudah mengerti kah? Maksud dari dua kalimat syahadat ini?" Tanya kyai tersebut.
Debby mengangguk. "Iya pak Kyai, itu adalah bukti keyakinan seorang muslim. bahwa tidak ada Tuhan selain Allah."
"Subhanallah... Kalau begitu saya mau tanya lagi, Tujuan mbak, masuk Islam itu untuk apa? Dan adakah orang yang memaksa mbak Debby?"
"Tujuan saya karena saya benar-benar ingin menyempurnakan rukun Islam yang pertama. Karena selama ini, ada ketertarikan diri saya untuk belajar mendalami agama ini, saya pun mencoba mengerjakan apa yang di perintahkan Allah selama kurun waktu tiga tahun lebih. Dan dihari ini saya sudah memantapkan hati, kalau saya ingin menjadi seorang mualaf, tanpa paksaan dari siapapun." Jawab Debora lancar.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Seru orang-orang yang ada di sana.
Sementara Debby pun menunduk, tersenyum.
"Berati nanti sudah siap ya, menjalani setiap kewajiban yang harus di jalankan. sebagai seorang muslimah? Tentang kewajiban wanita menutup aurat, tentang ketaatan dalam hal ibadah seperti sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, zakat dan ibadah-ibadah wajib lainnya?"
"inshaAllah Siap, pak kyai."
"Sudah benar-benar mantap ya?"
"Iya, pak." Debby menghela nafas merasa semakin gugup.
"Nah, sekarang minta tolong mbak, itu hijabnya di pakaikan dengan cara yang benar ya." Pinta kyai itu pada bibi Maryam, karena hijab Debby masih menggantung di bagian bahunya. Maryam tersenyum, dia pun beranjak lalu memasangkan hijab itu pada Debby, gadis itu berbinar-binar sembari menatap wajah bibinya, Merasa senang.
"Nah, jadi lain sekarang. Nanti di pakai terus ya hijabnya seperti itu." Tutur kyai tersebut sembari terkekeh, Debby pun mengangguk cepat. "Baiklah bismillahirrahmanirrahim. Ikuti saya ya mbak Debora?"
"Iya, pak kyai."
"Asyhadu an,"
"Asyhadu an" Debby mengikuti.
"laa ilaaha illallaahu,"
"laa ilaaha illallaahu,"
"wa asyhaduanna"
"Wa asyhaduanna,"
"muhammadar rasuulullah."
"Muhammadar rasuulullah." Gadis itu terus mengikuti dengan sangat lancar, yang di sambung dengan terjemahan dari dua kalimat syahadat itu.
__ADS_1
"MashaAllah... barakallah!" Seru semua yang ada di sana, setelahnya mereka pun bersolawat menyambut lahirnya seorang mualaf yang baru saja masuk Islam, sementara Debby dan bibi Maryam langsung saling berpelukan, menangis penuh haru keduanya.
Rasanya lega, bahagia. Semua menyatu jadi satu. Ketika hati sudah benar-benar berpasrah kepada keyakinan yang baru, dan ia pun percaya, dengan kehidupan selanjutnya akan jauh lebih baik lagi.
Walaupun untuk saat ini, dia masih belum siap memberitahukan keislaman dirinya pada keluarga besar, juga rasa khawatir yang masih saja ada tentang nasibnya nanti di pandangan keluarga. Dan apapun yang terjadi, dia sudah lega dan akan berusaha untuk tidak berbelok di kemudian hari.
Lantas sekarang, yang terpenting adalah, dia sudah benar-benar masuk Islam, dan itu adalah janjinya di dalam hati kepada dirinya sendiri, dan kepada Tuhan sang penguasa alam semesta.
***
Beberapa hari kemudian, tepatnya di depan rumah Maryam. Debby memeluk bibinya, dengan hijab yang masih ia kenakan menutupi rambutnya.
Di sebelahnya lagi adalah mobilnya sendiri, yang belum lama ini ia dapatkan dari sang ayah sebagai hadiah kelulusannya, dan di terimanya Debora di sebuah kantor yang lumayan bonafit.
Ya... siang ini juga Debby akan pulang ke Bandung.
"Makasih banyak ya Tante. Debby seneng." Terkekeh dengan genangan air mata di sudut matanya.
"Sama-sama sayang. Tapi, kamu yakin? Mau memberitahukan Papah dan mamah mu, sekarang? Dengan menggunakan hijab ini?"
"yakin, tapi masih takut juga." Terkekeh.
"Nunggu Tante saja ya, Tante yang akan mendampingi mu."
"Jangan tante. Aku takut nanti papah akan memarahi Tante. Aku sudah siap kok, termasuk bertemu kakak." Menyebut kakaknya dengan nada lirih, karena Gallen termasuk kakak yang keras juga, malah melebihi kerasnya sang ayah.
"Beneran Yakin...? Dulu, Tante saja butuh waktu lama untuk menyiapkan hati, demi memberitahukan kabar pindah agamanya Tante. Itu saja saat Tante mau menikah dengan ustadz Akhri."
"Tante, bikin aku ciut nyali nih." Terkekeh lagi, sama halnya dengan Bibi Maryam.
"Teguhkan dulu hati mu, baru kembali ke Bandung."
"Hemmm... Aku mau kerumah temen dulu, mau minta saran. Sudah lama juga tidak bertemu dia."
"Siapa? Laki-laki?" Ledek bibi Maryam.
"Hahaha... Nggak Tante, dia perempuan kok. Sekalian aku mau kasih kabar, kalau aku sudah berpindah keyakinan."
Tersenyum. "Iya deh... Kalau begitu, hati-hati ya." Bibi Maryam kembali memeluk tubuh Debora yang mengangguk itu.
Dan kemudian melambai setelah melepaskan pelukannya, membiarkan anak itu berjalan menuju mobilnya, pergi dari rumah bibi Maryam.
__ADS_1