
Beralih ke Bandung...
Rumi baru saja keluar dari ruang meeting bersama beberapa orang lainnya. Mereka bersenda gurau sembari tertawa, dimana hanya Rumi yang lebih banyak menanggapi dengan senyum tipisnya. Karena bahasan mereka merupakan hal yang tidak di mengerti oleh pria paling muda di devisi tersebut.
"Hari ini kita makan-makan yuk," ajak seseorang.
"Makan di mana, Kang?" Tanya seseorang yang lain.
"Di mana gitu, ada saung enak di daerah X. Sok lah kita kesana rame-rame. Karaokean juga."
Mendengar kata karaoke, Rumi terdiam.
"Rumi, ikut juga ya. Kamu kan orang baru di sini." Ajak pria bertubuh tinggi, dengan badan lumayan berisi, sembari merangkul pundak Rumi. Sementara Rumi pun tersenyum ramah.
"Mohon maaf, kang. Saya nggak bisa ikut."
"Loh kenapa? Kita kan jarang kumpul dalam satu devisi ini. Sekali-kali lah, mumpung lagi lengkap."
Rumi tersenyum tipis. "Nuhun, lain kali saja."
"Nggak asik kamu, Mah. Mumpung masih muda, kalau mau menyewa wanita juga bisa loh... Sekali-kali cuma buat nemenin karaokenya saja."
"Astagfirullah al'azim." Rumi bergumam tanpa suara. Ia tahu, tidak semua teman-temannya bisa memahami dia. Dan tidak banyak juga yang tahu bahwa Rumi adalah keturunan kyai, serta anak seorang ustadz yang lumayan tersohor di Jakarta. Jadi dia hanya diam saja, dan berusaha menolak itu dengan sopan.
Hingga tak lama sebuah panggilan telepon dari nomor yang belum ada namanya terdengar. Membuat dia bisa menghindari sejenak teman-temannya itu.
"Maaf kang, saya angkat telfon dulu. Kalau akang semua mau jalan duluan. Mangga..."
"Ckckckck... Pasif banget sih." Cibir beberapa dari mereka. Lantas pergi dari sana meninggalkan Rumi, yang hanya tersenyum lalu menerima panggilan teleponnya.
"Hallo assalamualaikum, maaf ini siapa?" Sapa Rumi, Dimana yang di sebrang hanya diam saja. "Hallo..."
"Rumi, Ini saya Pak Yohanes." Suara berat di sebrang membuat Rumi sedikit terdiam. Tidak menyangka jika ayah Debby menghubunginya.
"Oh... Ya ampun Papa? maaf Pa, Rumi pikir siapa. Selamat siang Pa."
"Siang. Saya ingin bertemu. Kira-kira... Kapan kamu bisa datang ke Bandung."
__ADS_1
Deg...! Rumi menelan ludah, sedikit merasa tegang. dan bertanya-tanya, kira-kira ayahnya Debby ingin bicara apa?
"Kebetulan saya sedang ada di Bandung, Pa."
"Begitu ya, bisa bertemu hari ini?"
"Bisa... Bisa sekali Pa."
"Jam berapa biasanya? Apakah, sekarang juga bisa?"
"Bisa Pa.... Kebetulan pekerjaan Rumi sudah selesai."
"Baiklah, tau daerah X kan? Tepatnya di restoran Padang yang berada di ujung perempatan lampu merah."
Rumi berfikir sejenak, "sepertinya Rumi tahu tempat itu, Pa."
"Kalau begitu temui Saya di sana ya, saya tunggu."
"Iya Pa, Rumi jalan sekarang."
"Emmm..." Setelah itu, telfon pun terputus. Rumi menurunkan lagi ponselnya yang menempel di telinga, lalu menghela nafas.
***
Di restoran Padang.
Setelah perjalanan kurang lebih sekitar tiga puluh lima menit, Rumi tiba. Ia langsung saja masuk karena ayah mertuanya itu sudah mengirim pesan chat, jika dia sudah di restoran Padang tersebut.
Benar saja... Beliau sudah di sana, dengan beberapa makanan tersaji di atas meja.
"Selamat siang, Pa. Maaf ya... Rumi kelamaan."
"Nggak papa, saya juga baru tiba." Jawabnya datar, "duduklah."
Rumi yang sudah di izinkan untuk duduk pun langsung menarik kursinya keluar, lalu mendaratkan bokongnya di sana.
"Kamu sudah makan siang?"
__ADS_1
"Kebetulan, belum." jawab Rumi jujur, karena memang benar dia belum sempat makan siang.
"Ya sudah, makanlah." titahnya tanpa menatap wajah Rumi.
"I... Iya terimakasih, Pa." Dengan canggung ia menunggu sang ayah mertua mengambil lauk pauknya lebih dulu, dengan kedua tangan berada di pangkuannya, duduk dengan sopan.
Menyadari Rumi belum juga mengambil lauknya, Tuan Yohanes pun mengangkat kepalanya.
"Kamu tidak suka nasi Padang?"
"Su... Suka Pa," jawab Rumi gelagapan.
"Kalau suka, kenapa tidak makan?"
"Papa dulu saja yang ambil."
"Kenapa harus saya duluan? Kamu juga bisa ambil duluan, 'kan?"
"Itu karena?"
"Apa? Kamu pikir saya meracuni kamu?"
"Ya ampun..." Rumi menggeleng cepat. "Bukan begitu Pa."
"Kalau begitu, cepat ambil lauknya. Apa mau lauk yang lain, saya sudah pesan semua lauk. Kecuali gulai usus sapi isi telur. Karena saya nggak suka."
"I... Ini sudah cukup kok Pa." Rumi langsung meraih lauk yang paling dekat dengannya, lalu sambalnya juga.
"Itu... Kamu nggak suka?" Tuan Yohan Menunjuk rendang.
"Ini sudah cukup, Pa."
"Kamu khawatir saya nggak bisa bayar ya, kalau kamu ambil lauk yang banyak?"
"Eh... Ya ampun, nggak gitu Pa. Cuman saya memang nggak biasa makan banyak."
"Ambil..." Titah beliau. Yang langsung membuat Rumi meraih piring kecil berisi dua potong daging rendang itu lalu mengambilnya satu.
__ADS_1
Keduanya pun menyantap makanan di piring mereka dengan suasana hening. Lebih ke tegang bagi Rumi, yang sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Berbeda dengan Ayah Debby yang sesekali melirik, lalu kembali fokus pada makanannya itu. Ia memutuskan untuk menunda pembicaraan, setelah keduanya selesai makan saja. Begitu pikirnya.
Bersambung....