
Beberapa jam sebelumnya...
Rumi baru saja keluar untuk melaksanakan sholat Azhar di masjid. Karena Umma Sepertinya semakin drop, Abi Irsyad pun memutuskan untuk sholat di rumah saja.
Dalam keheningan, di kamar itu. nafas Rahma terdengar lain, Irsyad yang tengah berzikir pun menoleh kebelakang. Di lihatnya Rahma Seperti kesulitan mendapatkan oksigennya.
Beliau langsung beranjak, dan mendekati Rahma. "Astagfirullah al'azim... Sepertinya oksigennya tinggal sedikit."
Beliau keluar dengan tergesa-gesa, memanggil Debby yang masih ada di rumah itu. Gadis itu pun setengah berlari menuruni anak tangga.
"Iya Bi?"
"Nduk... Bantu Abi, keluarkan mobil ya. Abi mau bawa Umma kerumah sakit."
"Ya Allah, Umma... iya Bi."
"Terimakasih, Ini kuncinya Nduk." Abi Irsyad terlihat panik kembali melangkah masuk, sementara Debby pun langsung berjalan cepat, keluar melakukan apa yang di perintahkan oleh ayah mertuanya itu. Setelah itu dia pun membantu Abi Irsyad, memapah Rahma yang duduk lemas di atas kursi rodanya.
"Umma... Umma kuat ya." Gumam Abi Irsyad, sembari memapah tubuh itu masuk kedalam mobil. Sementara Rahma hanya diam saja, dia sudah tidak ada daya lagi untuk berbicara. Air mata Debby sudah berderai-derai di pipinya. Dia benar-benar khawatir sekali melihat kondisi sang ibu mertua yang terlihat sangat lemah itu.
Braaakkk... Pintu tertutup. Abi Irsyad pun berlari kecil masuk ke dalam kursi kemudi, setelah menyampaikan pesan pada Debby jika mereka akan menuju Rumah sakit X tempat Rahma di rawat dulu. Debby pun mengiyakan.
Hingga mobil itu pun berjalan keluar dari pelataran.
Debby berjalan lemas, dan duduk di gazebo menunggu Rumi pulang. Hampir setengah jam dia menunggu, Rumi pun nampak. Debby langsung saja beranjak dari posisinya.
__ADS_1
"Kak...? Umma di bawa ke rumah sakit."
Praaaakkk... Sajadah dan tasbih yang ia bawa pun langsung terjatuh dari tangan Rumi.
"Umma kenapa?" Suara itu lirih terdengar.
"Hiks... Kak Rumi sabar ya. Umma mengalami saturasi oksigen," jawab Debby hati-hati.
"Innalilah... Kita susul sekarang dek." Rumi berlari masuk guna mengambil kunci motornya. Sementara Debby mengusap air matanya, ia meraih sajadah dan tasbih Rumi yang masih tergeletak di blok blok paving yang ia pijak itu.
"Ayo dek..." Rumi berjalan cepat, Debby pun langsung meraih lengan Rumi lalu memeluknya.
"Kakak tenang, jangan panik." Isaknya.
"Umma ku sakit, Deb. Umma–"
"Ya Allah..." Gumamnya parau.
"Sabar kak, Umma pasti baik-baik saja. Istighfar kak Rumi. Ayo istighfar dulu... Jangan seperti ini." Debby masih menahan tubuh Rumi yang hampir tumbang itu. Pria itu pun membalas pelukan Debby, menyandar di bahu sang istri sembari terisak.
"Astagfirullah al'azim... Astagfirullah al'azim." Gumam Rumi.
"Istighfar terus kak, Umma pasti baik-baik saja. Kakak yang tenang."
Rumi menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan ia mencoba menghalau ketakutannya, serta kesedihannya itu. Hingga hatinya benar-benar tenang mereka pun bergegas pergi menuju rumah sakit.
__ADS_1
🍂
🍂
🍂
Kembali ke malam hari...
Ustadz Irsyad duduk menatap lekat wajah yang lemas dengan mata terpejam itu. Beberapa selang dari alat bantu medis pun sudah terpasang seluruhnya.
Ia merasakan itu pasti tidak nyaman untuk istrinya. Hingga membuatnya ingin sekali melepaskan itu dari tubuh Rahma. Mata sang istri mulai terbuka dengan lemasnya. Irsyad semakin mempererat genggaman di tangan Rahma. Lalu mencium itu dengan lembut.
"Istri mas, tidurnya lama sekali?" Gumam Irsyad. Sementara yang di ajak bicara masih setengah sadar. Ia menutup lagi matanya pelan, lalu terbuka lagi. Tangan ustadz Irsyad yang satunya pun mengusap lembut kepala Rahma.
"Khumairah Ku." Menunduk, dengan bibir menempel di tangan Rahma, ustadz Irsyad terisak di sana. "Ya Allah..."
Rahma benar-benar lemas, terdengar rintihan kecil di bibirnya, membuat ustadz Irsyad kembali mengangkat kepalanya menatap Rahma. Ia mengingat ucapan sang dokter tadi, jika kemungkinan untuk Rahma bisa melewati masa kritisnya itu sangat kecil bahkan hampir nol. Sehingga membuat jantung Irsyad seolah rontok saat itu juga. Beliau mencium pipi Rahma lalu mendekat ke telinganya. Berusaha untuk menerima semua yang akan terjadi dengan lapang dada.
"Dek, mas mencintai mu, Sangat. Tapi mas tahu kamu bukan sepenuhnya milik ku. Kau milik Pencipta mu." Ustadz Irsyad terisak lagi. Sementara Rahma semakin melemah di sana.
Beliau menghela nafas. "Kamu istri ku yang Solehah. Kau bersedia menjalankan ibadah wajib mu dengan baik. Kamu juga mentaati ku sepenuh hati, kamu memberikan ku keturunan yang Soleh dan Solehah. Semoga itu bisa cukup membawa mu, ketempat yang terang dan indah. Mas...? Mengikhlaskan mu sayang, jika kamu mau pergi sekarang, meninggalkan ku di sini." Punggung itu berguncang, Isak tangis ustadz Irsyad sudah benar-benar tak bisa terbendung lagi.
Sementara Rahma terdengar menarik nafas panjang, membuat Ustadz Irsyad kembali menatap Rahma. Air matanya pun semakin menderas. Lalu dengan ketegarannya, beliau pun mentalqin dengan kalimat la ilaha illa 'llah. Dengan tangan yang semakin menggenggam erat tangan Rahma tepat di dekat telinga Rahma.
Di ucapan ke tiga, Rahma pun menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
Ustadz Irsyad terisak. "Innalilahi wa innailaihi roji'un. Istri ku... Rahma." Di kecupnya tangan itu cukup lama, sembari memanjatkan doa pengantar kepergian Rahma.
Bersambung...