
Selesai dengan urusan piring kotor. Rumi berjalan keluar, menaiki satu demi satu anak tangga, lalu berjalan menuju kamarnya.
Ia mengetuk sebentar, takutnya? Debby tengah memakai pakaiannya. Jadi dia menunggu saja dulu di luar, hingga terdengar sahutan dari dalam yang mempersilahkan dirinya untuk masuk.
Cklaaakk... Di lihat Debby tengah memasangkan kancing di lengannya.
"Sini dek, aku bantu," Rumi mengambil alih, dimana senyum sumringah gadis itu langsung mengembang sempurna. Tatkala tangan Rumi berkutat memasukan kancing tersebut kedalam lubangnya.
"Satunya," pintanya lagi. Yang dengan sigap di berikan oleh Debby, menjulurkan tangan yang satunya dengan semangat. Rumi tersenyum, ia memasukkan lagi kancingnya kedalam lubang.
"Terimakasih," puji Debby menghadiahi pelukan hangat yang melingkar di pinggang Rumi. Setelah selesai membantunya memakai kancing di lengan.
"Sama-sama," mencium pangkal kepala itu dengan lembut. "Aku ganti baju dulu ya."
"Iya."
Debby melangkah menuju meja riasnya. Sementara Rumi berjalan menuju lemari pakaian. Ia meraih salah satu pakaian berlengan pendek dengan tiga buah kancing di bagian depan.
Lalu celana bahannya juga, setelahnya berjalan lagi menuju tandas untuk mengganti pakaian itu. Hingga selesai dia pun keluar, menghampiri Debby yang belum selesai dengan make-upnya. Mengungkung tubuh itu sebentar, lalu mencium kepalanya sejenak yang belum terpasang hijab.
Debby tersenyum ia baru selesai memakai lips cream berwarna nude yang terlihat alami di bibirnya.
"Ini apa?" Menekan kedua pipi Debby dengan satu tangannya, sementara matanya tertuju pada cermin, melihat ekspresi merengek karena bibir yang menjadi maju akibat tekanan ibu jari dan jari telunjuk Rumi. Ia terkekeh. "Gemesin."
"Gemesin apa? Sakit tahu. Lepas, iiiih," memukul dengan manja, lengan yang masih betah memegangi kedua pipinya.
"Jawab dulu ini apa?"
"Ya apa... Bibir lah."
"Oh bibir, di pakai apa sih? Susuknya berapa banyak?"
"Menghina sekali aku pakai susuk," bersungut.
Rumi terkekeh. Semakin ia tekan dan bibir itu semakin terlihat maju.
"Kak Rumi."
"Apa... jawab dulu berapa susuknya."
"Apa sih... siapa yang pakai susuk. Ini alami dari sananya."
__ADS_1
"Oh ya... tapi kok bikin candu sekali?"
Debby hanya tersenyum malu-malu, merasa tidak tahan dengan rayuan itu. Membuatnya segera melepaskan tangan Rumi lalu menoleh.
"Kak?"
"Emmmm?" Menciumnya.
"Aku punya sesuatu."
"Apa?"
Debby membuka laci di meja rias itu, lalu mengeluarkan kotak kecil.
"Tadaaaaaaa..." Membuka tepat di depan Rumi. Pria itu tertegun, meraih jamnya lalu berjongkok di depan Debby.
"Kamu belikan juga jam tangan ini untuk ku?" Tanya Rumi. Debby mengangguk.
"Suka nggak?"
"Suka... Banget malah. Ini bagus," puji Rumi, tanpa tersenyum. Debby terlihat bahagia lalu menarik dua pipi itu agar tersenyum.
"Kalau senang, senyum dong," titahnya sembari tergelak karena ekspresi Rumi yang nampak lucu menurutnya.
"Kakak panggil aku apa?" Tidak paham artinya, namun dia nampak senang.
"Ya Zaujatti... Duhai istri ku, dalam bahasa Arab."
"MashaAllah... Manisnya. Cium sini cium." Debby menghentak-hentakkan kedua kakinya manja, sementara kedua tangannya merenggang lalu menyentuh kedua pipi Rumi, memberikan kecupan sebanyak tiga kali di kening Rumi. Pria itu tersenyum dengan mata yang terpejam, lalu kembali membuka matanya menatap Debby dengan penuh cinta.
"Dek. Aku boleh jujur? Aku tuh malu sebenarnya di kasih beginian, berasa aku itu seperti?"
"Apa? Jangan bicara yang aneh-aneh lagi. Semalam kan sudah di bahas, aku tidak apa-apa. Aku tidak pernah menganggap kak Rumi itu gimana-gimana. Aku rasa semua istri juga sama senangnya, ketika sesekali bisa memberikan sesuatu untuk kekasih halalnya."
"Iya tahu... Baiklah, sekali lagi terimakasih. Dan maaf aku belum bisa mengganti ini, dalam waktu dekat."
"Ya Allah... Siapa yang minta di ganti. Kak Rumi ini ya." Bersungut namun langsung di cium oleh Rumi.
"Jangan marah, dek. Aku cuma bicara apa adanya."
"Ya tapi jangan merendahkan diri sendiri terus. Aku nggak suka."
__ADS_1
"Iya," jawabnya. Ia pun beranjak mengusap lembut kepala sang istri. "Ya sudah, pakai dulu hijabnya ya. Aku mau memanaskan mesin mobil."
"Loh... Mobil Abi tidak di bawa?" Tanya Debby yang baru ngeh.
"Nggak dek. Setelah izin ke Abi, beliau malah menyerahkan kunci mobilnya. Sebenarnya aku sudah bilang mau naik motor saja. Namun Abi bilang, kalau aku sendiri tidak masalah. Yang di permasalahkan aku bawa kamu, Abi khawatir saja. Dan merasa tenang jika aku bawa mobil."
"Begitu ya... Abi tuh baik banget. Aku jadi tidak tega kalau Abi sendirian."
"Tadi aku juga sudah telfon A' Faqih. Buat nitip Abi. Dan beliau bilang, sore nanti akan kesini bersama Nuha dan Ziya. Abi tidak akan kesepian, jadi kamu Jangan khawatir ya."
Debby tersenyum, lalu mengangguk.
***
Dalam perjalanan menuju Bandung, yang tidak memakan waktu hingga berhari-hari.
Gadis itu menatap ke samping jendela dengan tatapan berbinar, senyum sumringah terus saja mengembang di bibirnya yang manis. mengucap syukur atas apa yang Tuhan berikan padanya. Dan berharap kebaikan lah yang akan dia tua saat tiba di rumah orangtuanya.
Ya... Itu lah Debby yang sekarang, menganggap bahwa hidup adalah sebuah rentetan rasa syukur dari Sang Maha Kuasa. Dari waktu ke waktu. Tidak ada yang perlu di keluhan, sementara nikmat yang di berikan jauh lebih banyak.
Memang benar, untuk saat ini tidak ada alasan bagi dia mengeluh. Keyakinan pasti, yang selalu tertanam dalam jiwa adalah di setiap luka, pasti akan ada tempatnya untuknya bernaung. Menyembuhkan luka itu, agar kembali tegar, saat menghadapi masalah yang tak kunjung usai.
Debby menoleh ke samping kanan. Saat tangan Rumi meraih tangannya menggenggam erat, sembari menunggu lampu lalulintas berubah hijau. Lebih-lebih nampak arloji berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tersenyum ceria, gadis itu membalas tatapan sang suami.
"MashaAllah..." Mengusap-usap pipinya gemas. Lalu kembali fokus kejalan, Ketika Lampu sudah berubah menjadi hijau. Mobil kembali melaju.
'Ya Allah, tetaplah buat dia seperti ini. Jangan buat dia kembali seperti hari-hari sebelumnya. Jangan ada cinta lain selain diri ku. Jangan ada... Jangan ada ya Allah.' gumam Debby dalam hati memandang Rumi yang tengah fokus menyetir.
Rumi menoleh sejenak.
"Kenapa? Ngeliatinnya begitu sekali?" Tanya dia, melirik sebentar lalu fokus kedepan lagi.
"Mengagumi ketampanan suami ku, mumpung sudah halal di pandang," gumam Debby menyandarkan kepalanya di bahu Rumi, kemudian. Rumi tersenyum tipis ia tersipu.
"Baru sadar ya?"
"Enggak sih udah dari dulu. Cuma kalau dulu aku bilang kamu tampan? kamu pasti istighfar."
"Hahaha... Kalau sekarang nggak dek."
"Masa."
__ADS_1
"Iya... Nggak beda Maksudnya, tetep istighfar." Tertawa sembari menggeser tubuhnya menghindari pukulan di bahu dari sang istri.
Mobil terus melaju, dengan canda tawa dari ke-duanya. Yang tak henti-hentinya menebar cinta