
Di waktu yang sudah mulai hangat sinar mataharinya.
Debby bersiap menunggu Bibi Maryam yang akan datang menjemput. Ia duduk di gazebo depan, tempat itu sudah mengalami renovasi beberapa kali.
Dulunya masih terbuat dari bambu, lalu semakin ke sini sudah berubah menjadi lebih kokoh. Karena Abi suka tempat itu, di buatlah gazebo permanen. Dengan semen dan pasir sebagai alas duduknya. Lalu tiang-tiang yang di cor beton agar lebih kokoh.
Atap yang di pakai pun terbuat dari genteng yang kuat, dengan cat berwarna coklat.
Suara gemericik, dari air terjun mini yang di buat seindah mungkin. Beberapa bambu kuning pun tumbuh di pojok kolam menambah asri tempat tersebut.
Tempat para ikan koi peliharaan ustadz Irsyad, berenang bebas di dalamnya.
Dulu ustadz Irsyad memelihara hanya lima ekor, kini sudah bertambah lebih banyak. Bahkan ada beberapa juga yang beliau berikan pada kerabat ataupun teman yang kebetulan berkunjung, namun menginginkan ikan tersebut.
Kembali pada dia sejoli yang tengah duduk berdua, mengobrol ringan. Menceritakan tentang hal yang sedikit membuat Debby tertarik, hingga fokus mendengarkan.
"Akhir-akhir ini, aku lagi agak sering jadi imam di salah satu masjid dekat kantor."
"Oh ya?"
"Iya, dan bahkan. Kalau ada pekerjaan tambahan sampai aku menginap pun, di hari Kamis malam pasti di minta untuk memimpin istigosahan."
"MashaAllah, kok baru cerita sih?"
"Ya menurut ku, itu nggak penting untuk aku ceritakan." Rumi menjawab sembari membenahi Ciput Debby yang terlalu naik.
"Tapi aku bangga mendengarnya. Pantas saja, jika di Bandung ada pekerjaan tambahan kamu suka susah kalau di telfon. Kalau begini kan aku paham."
"Iya sayang, aku pun tidak sengaja. Jadi semenjak salah satu kyai yang menjadi imam di masjid itu sakit? Aku lah yang menjadi imam, sekali dua kali. Di ketiganya kyai itu mengajak ku berbicara."
"Lalu?"
"Ya beliau tanya, aku anak dari pondok mana?"
"Aku hanya bilang, aku tidak pernah mondok yang benar-benar mondok. Cuman beberapa bulan saja dulu, ikut Mbah pada masa-masa aku lulus SMP. Kurang lebihnya sekitar tujuh bulan di Magelang. Karena aku tidak betah jadi aku kembali ke Jakarta."
"Oh jadi kak Rumi dulu pernah tinggal di Magelang?"
"Iya, niatnya liburan dulu. Tapi entah bagaimana, Mbah minta aku di tinggal. Sebenarnya sama Nuha juga, tapi dia malah nangis semalaman pas Abi sama Umma mau pulang besoknya."
"kalau suami ku ini tidak merengek nangis?" Tanya Debby, tersenyum jail.
__ADS_1
"Aku sebenarnya tidak mau di tinggal juga. Cuman aku mikir lagi, aku laki-laki. Apalagi ada satu teman yang usia Beliau lebih tua dua tahun dari ku, selama beberapa hari aku di sana tuh menjadi teman yang lumayan akrab. Jadi kaya mikir, nggak masalah kalau di tinggal. Akhirnya jadi deh, aku setuju untuk di sana. Sekolah di sana juga selama beberapa bulan. Tapi ya itu lah... Aku mulai sering sakit, kalau lagi kangen Umma. Jadi kaya Umma sering ke Magelang nengok aku, dan hebatnya langsung sembuh."
"Ya ampun sampai segitunya?"
"Aku juga nggak tahu, Dek. Tapi memang seperti itu. Aku kalau jauh dari Umma selama lebih dari dua Minggu pasti sakit. Nggak tahu kenapa?" Rumi terkekeh, ia pun menggenggam tangan Debby. "Tapi Alhamdulillah, saat Umma tidak ada, aku hanya sakit beberapa kali."
"Hah! Sakit beberapa kali? Kapan? Kok aku tidak tahu?"
"Dua hari setelah kepergian Umma, satu Minggu, dan satu bulan." Rumi menjawab sembari tersenyum.
"Iihh, kok aku tidak tahu sih? Yang ku tahu kak Rumi itu ngediemin aku." Debby bersungut, ketika mengingat masa-masa itu.
"Ya itu aku lagi nahan tubuh ku yang tidak enak, Dek. Makanya aku banyak tidur, kan?"
"Tapi curang, kenapa nggak ngomong sama aku!"
"Bukan aku nggak mau ngomong. Cuma pikiran serta suasana hati pada saat itu sedang tidak kondusif. Kalau ingat jadi merasa bersalah lagi sama kamu. Maaf ya sayang."
"Huhuhu, sumpah! Kamu ya, tega sekali pada saat itu."
Rumi terkekeh, lalu mengusap kepala Debby. "Maaf sayang."
"Ku maafkan, karena kamu sekarang sudah menjelma menjadi suami baik hati."
"Masa iya? Kok aku baru sadarnya sekarang?" Debby terkekeh saat Rumi menarik pipinya, gemas. Hingga tak lama terdengar suara mobil Bibi Maryam. Sehingga membuat Debby melepaskan lengan Rumi yang sedari tadi ia peluk.
Keduanya pun beranjak, Rumi mengantarkan Debby hingga ke pintu pagar. Menyapa Bibi Maryam lalu menitipkan Debby pada wanita berusia tiga puluh dua tahun tersebut.
Sebelum Debby pergi, Rumi berpesan pada istrinya itu untuk bersikap baik dan tidak pulang sebelum pukul empat sore. Debby yang sudah paham langsung mengangguk, lalu mengecup punggung tangan sang suami.
Kedua wanita itu langsung masuk ke dalam mobilnya, membunyikan klakson hanya untuk berpamitan lalu mobil pun melaju, pergi.
Rumi yang masih berdiri di depan pagar mengamati mobil tersebut hingga menghilang. Lalu menghela nafas, dan masuk lagi ke dalam rumah.
Karena hari ini masih ada pekerjaan yang harus ia kirim sore nanti, ia pun bergegas masuk ke dalam rumahnya.
***
Di salah satu mall.
Debby dan Maryam berjalan bersama. Sebelum sampai pada tempat tujuan mereka, keduanya melewati pintu area supermarket.
__ADS_1
"Debby–" suara seorang wanita membuat Debby dan Maryam menoleh ke belakang.
"MashaAllah Mbak Shafa?" Nampak sumringah Debby melihat Shafa di sana. Ia pun menghampiri gadis yang sudah tersenyum lebar, berdiri di sisi seorang wanita paruh baya yang masih sedikit nampak muda Dialah Aida.
Debby bersalaman, lalu berpelukan dengan wanita berhijab pajang yang ia kenal itu. "Ya Allah Mbak Shafa apa kabar? Aku kangen."
"Alhamdulillah baik, kalau kangen kenapa tidak pernah main?"
"Hehe," Debby hanya terkekeh. Karena ia pernah sekali main ke rumahnya, pada saat itu Shafa tidak di rumah dan hanya bertemu dengan Aida saja. Namun bukannya sebuah sambutan atau apapun, Dia malah mendapat perlakuan tidak baik dari ibu dua anak itu.
"Main ya besok-besok ke rumah ku." Tutur Shafa sembari melepaskan pelukannya, lalu menjabat tangan Maryam dengan sopan.
Sementara Debby melirik sekilas ke arah ibu dari Shafa, terlihat tatapan tidak suka masih saja tersorot dari kedua mata ibu dua anak itu.
"inshaAllah Mbak, kapan-kapan aku akan coba main. Soalnya takut mengganggu mbak Shafa juga, yang sedang kuliah lagi."
"Ya ampun, nggak juga loh. Pokoknya jika Rumi sedang di Bandung, kamu main ke rumah ku ya. Chat aku saja."
"I... Iya mbak." Debby menjawab dengan perasaan tidak enak hati, perlahan ia mencoba mengarahkan tangannya, mengajak Aida untuk jabat tangan. Namun wanita paruh baya itu malah mengalihkan tangannya, seolah tidak ingin tersentuh tangan Debby.
"Shafa, yuk. Qonni sudah menelepon ibu nih." Beliau jalan lebih dulu meninggalkan tiga wanita di sana. Debby sedikit tercengang, lalu menggenggam tangannya pelan sembari menurunkannya.
Nampak Shafa bergumam istighfar, ia pun menoleh kearah Debby. "Deb, maaf ya. Ibu ku agak sedikit lelah. Jadi dia buru-buru."
"Nggak papa Mbak." Debby tersenyum.
"Pokoknya, kalau sedang sendirian di rumah main saja ya ke tempat ku." Shafa memeluk tubuh Debby lalu setelahnya menjabat tangan Maryam lagi, berpamitan. "Assalamualaikum, aku pergi dulu ya."
"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Debby dan Maryam hampir bersamaan.
"Itu ibunya Dia ya?" Tanya Maryam.
"Iya, Tante."
"Sikapnya memang begitu, atau benar karena terburu-buru?"
"Mungkin karena memang terburu-buru, biasanya dia ramah sekali."
"Begitu ya?"
Debby tersenyum, sembari mengangguk. "yuk lah– Kita jalan."
__ADS_1
"Iya," jawab Maryam. Keduanya lantas melanjutkan langkahnya menuju tempat yang di tuju.