
Tidak butuh waktu lama, mereka kini telah sampai di rumah sakit. Tepatnya di ruang UGD, beberapa perawat dan dokter mulai sibuk memberikan pertolongan pertama berupa sebuah suntikan pereda nyeri.
Setelah nyeri mulai mereda, dokter pun meminta Debby untuk menampung sedikit urine-nya ke dalam wadah yang sudah di siapkan, lantas Debby pun di pindahkan ke ruangan bersalin.
Rumi yang sudah duduk di sebelah Debby masih harap-harap cemas. Kalau benar ternyata istrinya hamil, dan terjadi apa-apa dengan bayi mereka bagaimana?
"Permisi mas, dari hasil tes urine mba Debby ini ternyata positif hamil."
"Ha– hamil? Hamil Dok?" Rumi terbata-bata saat bertanya, setengah tak percaya juga rasa khawatirnya yang semakin meningkat. Kedua matanya bahkan langsung mengembun menanti keterangan mengenai kondisi Debby dan calon anaknya itu.
"Iya mas... Tadi saya juga sudah bertanya kapan terakhir menstruasi, dan setelah di hitung-hitung rupanya kandungan mbaknya sudah jalan sepuluh Minggu jadi hampir tiga bulan ya."
"Ya Allah... Dek? Kok kamu hamil, nggak ngomong aku?" Rumi langsung menoleh ke arah Debby.
"Aku juga nggak tahu kalau aku hamil." Jawab Debby setengah bengong, namun tidak bisa menyembunyikan rasa terharunya, ia mengusap lembut perutnya sendiri. Sementara Rumi kembali menoleh ke arah sang dokter.
"Lalu– lalu? bagaimana keadaannya Dok? Sehat kan anak kami? Istri saya pendarahan soalnya." Rumi kembali panik.
"Kami akan melakukan USG sebentar lagi, untuk mengecek kondisi janinnya. Kalau masih bisa di selamatkan, maka kami akan melakukan penanganan agar pendarahannya bisa berhenti. Berdoa saja ya." Kata sang dokter, ia pun ijin keluar sejenak dari tirai tersebut untuk menangani pasien yang lain sembari menunggu persiapan untuk USG Debora.
"Dek?" Rumi menggenggam tangan Debby erat, sementara gadis yang sedang terbaring di ranjang itu hanya bisa terdiam.
"Beneran nih? Ada dedenya di sini?" Debby masih mengusap-usap perutnya sendiri. Di mana Rumi hanya terkekeh lalu mencium kening istrinya.
"Kenapa bisa kamu nggak tahu, kalau kamu hamil?" Tanya Rumi sembari mengusap-usap pipi sang istri.
"Aku sering nggak lancar haid, beberapa kali ngerasain nggak menstruasi terus aku cek hasilnya negatif. Jadi dua bulan ini aku nggak datang bulan ku anggap biasa, males periksanya, takut kecewa juga. Dan setelah tahu malah pendarahan, jadi aku khawatir." Tutur Debby, di mana Rumi langsung mengecup perut istrinya lantas membacakan doa.
"Semoga Dede baik-baik saja. Abi sama Umma sudah nunggu-nunggu loh." Tutur Rumi setelah berdoa, Debby pun tersenyum sembari mengaminkan, ia melupakan semua yang terjadi tadi karena saat ini fokusnya adalah keselamatan kandungannya sendiri.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu... Rumi keluar sebentar, ia menghampiri ustadz Irsyad yang sedang duduk di kursi tunggu.
Melihat Rumi keluar Abi Irsyad pun beranjak.
"Bagaimana?" Tanya beliau, cemas.
"Debby pendarahan karena sedang hamil sepuluh Minggu, Bi."
"Innalillah... Lalu bagaimana?"
"Ya cuma berharap semoga masih bisa di selamatkan. Kalau kata dokter pendarahannya nggak parah," jawab Rumi, yang lantas di peluk oleh ustadz Irsyad.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu tenang, inshaAllah pasti masih bisa di selamatkan."
"Iya Bi..."
Rumi melepaskan pelukannya. "Ada apa, Bi? Kok tiba-tiba?"
"Tadi Faqih telfon, mengabarkan kalau Nuha mengalami kontraksi sejak jam tujuh tadi. Namun ia harus menjalani operasi sesar. Karena salah satu bayinya terlilit tali pusar."
"Ya Allah, Dede–"
"Kita semua berdoa disini untuk Nuha dan Debby, kamu fokuskan pikiran mu terhadap istri mu intinya Abi titip Debby dulu. Kalau ada apa-apa hubungi Abi segera ya. Abi harus ke Asemka sekarang. Karena Nuha minta Abi kesana, mungkin dia sedikit takut karena ini kali pertamanya menjalankan operasi."
"Iya Abi. Hati-hati, salam untuk A' Faqih dan Nuha."
"Iya... Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Rumi menggeleng pelan, di saat seperti ini Abinya pasti merasa kebingungan karena harus memikirkan yang di sini maupun yang di sana. "Semoga semuanya baik-baik saja. Aamiin."
__ADS_1
Rumi bergegas kembali masuk, setelah seorang perawat memanggilnya karena Debby akan melakukan USG.
Di dalam...
Sang perawat memberikan gel ultrasonic ke perut Debby dibagian kiri bawah.
Sementara perawat satunya menyerahkan Doppler pada sang dokter tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim, kita cek ya mudah-mudahan detak jantungnya masih ada."
"Aamiin." Debby dan Rumi menjawab hampir bersamaan. Mata mereka tertuju pada layar besar di hadapannya, dimana sang dokter masih mencoba menggeser-geser alat Dopplernya mencari. Hingga sebuah suara membuat senyum sang dokter mengembang.
"Alhamdulillah– detak jantungnya masih ada, janin masih hidup."
"Alhamdulillah..." Rumi tersenyum haru, ia lantas mencium kening istrinya.
"Syukurlah, janin sehat. Tapi memang ada sedikit masalah sih, kita coba observasi dua puluh empat jam. Mencoba untuk meredakan pendarahannya ya. Kalau anak ini di takdirkan untuk hidup, dia pasti bertahan." Tutur sang dokter memberikan semangat kepada Rumi dan Debby.
"MashaAllah... Terimakasih Dok," ucap Rumi. Dokter itu lantas mengangguk.
"Setelah ini, mbaknya harus benar-benar Bedrest. Buang air kecil tetap di ranjang ya. Jangan mencoba untuk duduk apa lagi jalan-jalan. Usahakan tetap berbaring."
"Iya dokter," jawab Debby.
"Untuk Masnya. Boleh mengurus ruang rawat inapnya ya, agar segera di pindah."
"Iya Dokter. Terimakasih banyak."
"Sama-sama." Sang dokter pun keluar, meningggalakan dua perawat yang ada di sana membantu Debby untuk berpindah ranjang, sementara Rumi pun berpamitan sejenak untuk mengurus ruangan rawat inapnya.
__ADS_1