Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
aku sudah baik-baik saja


__ADS_3

Wahai Rabb ku, Engkau lah sebaik-baiknya penyembuh luka di hati ku. Tiada cinta yang lebih besar selain cinta Mu terhadap ku. Tuhan semesta Alam, Kau tidak akan pernah mengecewakan hambaMu, walaupun terkadang apa yang kau garis kan tidak sesuai dengan pengharapan ku.


Namun aku tetap yakin, Engkau adalah sebaik-baiknya penulis skenario dalam kehidupan manusia. Dan aku percaya, Kau tidak mungkin memberikan kesakitan itu tanpa obatnya....


- Baitus Shafa -


🌸


🌸


🌸


Satu Minggu sebelum pernikahan Rumi....


Shafa menutup buku catatannya dia masih berada di pelataran masjid, setelah mengikuti kajian di sana. Kaki yang tertutup rok panjang berwarna hitam, serta kaos kaki yang membalut kakinya hingga ke betis, ia luruskan. Bergoyang-goyang sedikit menikmati hembusan angin siang hari, yang menurutnya sangat sejuk itu, dengan buku yang masih berada di pangkuannya.


Bibirnya mengembangkan senyum yang benar-benar manis. Dia menatap langit di atas yang sangat lah cerah, secerah hatinya saat ini.


Ya walau pun pekan depan adalah pernikahan Rumi dan Debby, namun dia sepertinya benar-benar sudah ikhlas. Seperti itulah manusia, ketika merasa yakin kita serahkan segala beban kesedihan kita pada Allah SWT, maka hati akan terasa cepat pulih dari luka itu. Saat ini contohnya, dia sudah tidak sesak sejak sebulan yang lalu, tidak? Mungkin lebih dari itu.


Shafa meraih ponselnya yang berdering. Lalu menggulirkan layar itu naik, tepat di logo hijaunya.


"Assalamualaikum, Bu?" Sapa gadis itu, seraya tangannya bekerja memasukkan buku catatan kedalam tas gendongnya, menutup resleting, lalu memakainya dengan satu tali menjuntai begitu saja. Karena dia tidak menggendong langsung, hanya di satu sisi bahunya saja. Shafa beranjak, dia pun memakai sepatunya sembari berbicara dengan seseorang di sebrang. Hingga tiba-tiba pandangan berfokus pada seorang pria yang sepertinya berlari ke arahnya.


'dia kesini?' batin Shafa mulai tidak fokus dengan ponselnya itu.


"Hallo, Shafa?" Panggil Aida.


"Emmm, nanti ku telfon lagi ya, Bu. Assalamualaikum." Shafa mematikan panggilan telefonnya. Karena yakin pria itu semakin mendekat kearahnya.


"Tolong saya, mbak." Pria itu tiba-tiba saja meraih lengan Shafa dan menariknya ke suatu tempat.


Dan tidak ada pilihan selain mengikuti, walaupun Shafa sempat terkejut. Mereka berlari masuk ke dalam ruangan wudhu khusus wanita.

__ADS_1


Untungnya kondisi di sana sepi, sehingga mereka aman-aman saja. Safa yang sadar langsung menjauh.


"Hei...! Apa yang kamu lakukan?" Teriak Shafa.


"Sssssttt, kecilkan suara mu." Pria itu hendak membungkam mulut gadis di depannya namun secepatnya Shafa menghindar.


"Jangan sentuh saya...! Kamu siapa sih?"


"Sssssttt... Ku bilang kecilkan suara mu" pria itu meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Nanti ku jelaskan. Tapi tolong pinjami saya apa gitu untuk bersembunyi." Pria itu berbicara setengah berbisik.


"Maksudnya?" Shafa mengernyitkan keningnya, bingung. Hingga tak lama riuh suara di luar, terdengar. Seperti suara para gadis.


"Sial...! Tolong dong, tolong saya. Pinjami saya kerudung mu. Cepetan!" Bolak balik pria itu menatap kedepan.


"Saya tidak ada kerudung selain yang saya pakai ini. Anda ini siapa sih? Maling ya?"


"Sembarangan! Mana ada maling tampan kaya saya. Kalau begitu mukenah... Jangan tanya-tanya dulu, nanti saya jelaskan." Pria itu memohon.


"Tapi?"


"Ini." Ia menyerahkan kepada pria asing itu.


"Makasih." Hendak meraihnya, namun tangannya sedikit hendak menyentuh kulit tangan Shafa. Membuat gadis itu menjauhkan tangannya.


"Jangan sentuh saya!"


"Apa sih? Saya mau ambil mukenahnya, bukan tangan kamu ya! Geer banget jadi cewe!" Ia merebut mukenah itu sedikit kasar, tanpa menyentuh tangan Shafa, lalu memakainya. "Nih, bawahannya nggak saya butuhkan. Saya butuh atasannya saja." Melemparkan begitu saja, hingga membuat gelagapan Shafa menangkapnya.


Pria itu pun berjalan lebih dulu merindik, mengintip sejenak. Ia pun kembali masuk.


"Banyak banget, lagi." Gerutunya. Sementara Shafa hanya geleng-geleng kepala, merasa aneh saja melihat pria itu, bisa sampai di kejar masa Seperti itu. Dia pun kembali berjalan santai setelah memasukkan bawahan mukenanya kedalam tas lalu keluar, melewati pria itu.


"Tunggu! Aku ikut jalan di belakang mu."

__ADS_1


"Eh..." Shafa sedikit menjauh saat pria itu sudah bersembunyi di balik tubuhnya. "Jangan gini, saya nggak bisa ada laki-laki di belakang tubuh saya."


"Alahhh... Sebentar saja. Cepetan jalan." Titah pria itu dalam posisi membungkuk di belakang Shafa.


"Tapi...?"


"Cepet ku bilang...!"


Shafa pun mendesah, ia menuruti kemauan pria asing itu. Herannya dia mau-mau saja. Hingga salah satu dari para wanita itu menyadari, ada seseorang yang aneh tengah berjalan melewati mereka. Pria itu pun berpaling wajah. Ia mulai khawatir kalau gadis itu sepertinya paham.


Dan kekhawatiran pria itu benar, karena gadis itu melihat celana jeans yang di pakai, serta sepatu mahal yang di pakai orang itu. Walaupun memakai mukenah tapi sepertinya dia seorang pria.


"Kak Afin–" seru wanita itu saat jarak mereka sudah lumayan jauh.


'aduuuuhhh...' gumam pria itu dalam hati. Shafa menoleh kebelakang, beberapa gadis mulai menatap ke arah mereka berdua.


"Iya bener... Itu kak Afin...!"


"Aaarrggghhh sial...! Tidak ada pilihan lain." Pria itu kembali meraih pergelangan tangan Shafa dan menariknya sebelum akhirnya mengambil langkah seribu. Kabur dari tempat itu.


"Kak Afiiiiiiiinnn–" teriak mereka serentak yang langsung mengejar dia orang itu.


"Hei cewek...! Larinya cepetan!" teriak pria itu, terus saja berlari tanpa menghiraukan gadis yang malah justru turut panik karena tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja turut di kejar masa sebanyak ini. Terlebih cengkraman pria itu kuat sekali, dia sendiri sampai tidak kuasa melepaskan pegangannya itu.


"Abang... Atau mas... Kenapa saya turut di bawa, lepaskan saya."


"Diem...! Diem...! Mereka itu brutal... Kamu bisa kena juga."


"Eh... Tapi saya kan nggak tahu apa-apa."


"Nggak usah banyak ngomong! Yang penting kabur dulu... Kabur dari mereka."


"Tapi?" Shafa makin ngos-ngosan.

__ADS_1


"Diem!" Potong pria itu yang juga turut ngos-ngosan karena keduanya masih berlari sejauh mungkin, masuk ke kerumunan, lalu keluar. Belok ke kiri, dan keluar juga dari jalan lain.


'ni orang mau kemana sih?' Shafa mengumpat dalam hati karena dia benar-benar sudah lelah untuk lari lagi. Bahkan hijabnya pun mulai rusak. Satu tangannya berusaha keras mempertahankan bagian bawah dagunya agar tidak terlepas.


__ADS_2