Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
curahan hati Rumi pada Abi Irsyad.


__ADS_3

Dalam suasana hening, karena ustadz Irsyad tengah membaca buku tentang Fiqih yang amat tebal di tangannya, Rumi mendekat, dan duduk di sebelah beliau. Ia sudah memutuskan untuk menceritakan segala kegundahannya sejak kepulangannya kemarin pada Abi Irsyad. Yang menurutnya amat mengganggu.


"Abi, Rumi mau bicara. Boleh?"


Abi Irsyad lantas menutup bukunya, lalu melepaskan kacamata beliau.


"Boleh, mau bicara apa?" Tanya Ustadz Irsyad, sembari tersenyum.


"Rumi bingung, ingin memulainya dari mana. Sebab ini soal hati yang sedang goyah."


"Astagfirullah al'azim," bergumam lirih, ustadz Irsyad sepertinya menangkap inti dari bahasan anaknya itu. "Di mana istri mu?"


"Di kamar sedang tidur."


"Yakin dia sudah tidur?"


"Iya Bi, dari satu jam yang lalu karena Debby masih merasa tidak enak badan. Makanya, Rumi memilih untuk berbicara Sekarang."


Ustadz Irsyad terdiam ia menunggu Rumi untuk berbicara. Walaupun nampak ragu namun akhirnya, Rumi pun membuka suara.


"Ada seorang gadis, yang membuat Rumi berdebar setiap kali bertemu Bi. Gadis itu anak seorang ulama di Bandung. Pemilik TPQ yang tidak begitu besar."


"Lalu?"


"Entah karena kemarin Rumi benar-benar bertatap muka dengan jarak yang amat dekat atau apa? Wajah dan senyumnya, membuat Rumi tidak bisa menahan gejolak di dada." Rumi menyentuh dadanya sendiri. Ia pun menunduk. "Rumi bersalah Bi, padahal Rumi sudah punya istri, tolong maafkan Rumi."


"Itulah ujian perasaan. Seperti yang kamu rasakan itu, dimana ada rasa tertarik pada lawan jenis. Nah... Ujian perasaan itu, tidak hanya di rasakan oleh pemuda yang masih lajang saja, namun kamu yang sudah menikah, bahkan Abi yang sudah uzur ini pun masih bisa memiliki sebuah rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Rumi tahu kan, ujian itu ada tiga?" Tanya Abi Irsyad.


"Iya Abi."


"Apa saja?"


"Ujian fisik, ujian harta, dan ujian perasaan."


"Alhamdulillah kalau kamu masih ingat, ujian perasaan itu pula banyak. Seperti perasaan tidak nyaman ketika kita di zolimi, ketika kita di khianati, ketika kita di remehkan dan lain-lain salah satunya lagi yaitu ketika kita punya rasa tertarik pada lawan jenis kita. Dan yang di garis bawahi disini adalah, ketika kita yang sudah mempunyai pasangan namun tiba-tiba muncul hasrat terhadap lawan jenis yang lain."


Bersamaan dengan ucapan ustadz Irsyad, Debby kini sudah berada di ujung tangga lantai dasar. Ia terjaga saat menyadari Rumi tidak ada di sisinya. Dan Karena jarak ruang tengah lumayan dekat dengan tangga, Debby masih bisa mendengar suara pelan ustadz Irsyad di ruang tamu.


"Bukan berarti nih, mentang-mentang kita yang kata orang paham agama? atau mungkin di sebut juga sebagai seorang ulama lantas tidak akan pernah merasakan ujian perasaan seperti rasa tertarik dengan orang lain. Manusiawi, kita ini masih awam, bukan Nabi, bukan tabi'in, bukan wali sudah pasti lah ada rasa tertarik terhadap lawan jenis, padahal kita sudah memiliki pasangan."


Debby tertegun, mendengarkan. Awalnya ia tidak mengerti kenapa Abi membahas itu bersama Rumi. Atau jangan-jangan ada sesuatu yang sedang Rumi rasakan yang tidak ia ketahui, di belakang.


"Rumi merasa, semakin tidak bisa menahan untuk tidak bertemu dengan Dia. Itu yang membuat Rumi merasa tidak nyaman, bahkan ada rasa cemburu saat salah satu teman Rumi berbicara jika dia pun mengagumi gadis itu."


Debby yang mendengar itu hanya mematung. Matanya sedikit mengembun. 'aku pasti salah dengar?'


"Yang kamu rasakan sebatas apa? Kagum kah? Atau yang lain?"


"Mungkin masih berada dalam tahap rasa kagum, Bi. Tapi Rumi selalu berusaha untuk menepis perasaan itu."

__ADS_1


"Minta maaflah pada istri mu, lalu cerita saja apa yang sedang kamu rasakan pelan-pelan."


"Kalau Rumi cerita, Debby pasti marah."


Abi Irsyad tersenyum... "Abi pernah ada pada masalah yang sama, muncul rasa kagum pada wanita lain, tapi Abi memilih untuk cerita dan meminta maaf pada Umma."


"Bagaimana respon Umma?" Tanya Rumi penasaran.


"Marah.... Jelas Umma marah dan kecewa sama Abi. Bahkan sampai bersimpuh meminta untuk menjadikannya istri satu-satunya Abi. Atau mungkin pilihan kedua, menceraikan Dia."


Rumi menunduk. "Rumi pun takut Debby akan melakukan hal yang sama. kalau sampai Rumi bercerita, masalah ini."


Debby yang hanya menunduk memutuskan untuk beranjak lalu kembali ke kamarnya. Meninggalkan mereka yang masih saling mengobrol, lalu memilih untuk berbicara lagi nanti, setelah suasana hatinya sendiri membaik.


Sementara itu, Rumi masih belum menyadari jika sang istri terjaga lantas mendengarkan pembicaraan dirinya dan sang ayah.


"paling tidak perasaan mu akan membaik, dan berangsur-angsur menghilang. Itu kan hasutan setan untuk menghancurkan rumah tangga manusia. Tahu kan? bahwa ketika kita belum menikah ibarat setan yang menggoda kita itu hanya sepuluh. Lalu ketika ijab qobul sudah di langsungkan maka ratusan ribu setan akan bergantian menghasut, menggoda, membujuk kita agar apa? Kita bisa sampai pada titik perceraian. Iya... Karena prestasi tertinggi setan yang di berikan mahkota oleh iblis adalah ketika bisa memisahkan pasangan suami istri."


"Astagfirullah al'azim..." Rumi beristighfar berkali-kali.


"Makanya kita harus sering-sering, berta'awudz ketika bertemu dengan wanita, tundukkan pandangan. Menghindar sebisa mungkin dari dia yang sekiranya bisa menimbulkan hasrat pada diri mu. Dan satu lagi, selalu datangi istri mu, ketika hasrat itu timbul, karena apa yang di miliki wanita itu, ada juga pada istri mu."


"Iya Bi."


"Rumi, poligami memang tidak dilarang. Karena pria bisa memiliki hasrat dengan beberapa wanita berbeda dengan wanita itu sendiri. Tapi... melakoni poligami itu tidak mudah. Jadi lebih baik memiliki satu istri, asalkan dia benar-benar bisa kau didik ahlaknya, itu sudah cukup membuat mu bahagia hingga tua. Paham kan?"


"Sama-sama... Kalau waktunya pas, ceritakan pada Debby, dengan hati-hati. Tapi? kalau sekiranya dengan cara menghindar saja sudah bisa memudarkan rasa tertarik mu dengan wanita itu ya sudah, tidak perlu menceritakannya lagi."


"Iya Bi."


"Oh... mungkin kamu memang seharusnya membawa Debby ke Bandung, atau mungkin lebih baik kalian membeli rumah di sana, dan tinggal di sana."


"Tinggal di Bandung...? Itu tidak mungkin sih Bi."


"Kenapa?"


"Rumi tidak mungkin tega, meninggalkan Abi sendirian di sini."


Abi Irsyad terkekeh. "Abi kan masih sehat. Masih bekerja juga, masalah makan pun bisa Abi masak sendiri, atau beli. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan Abi."


"Nggak Bi, nggak bisa begitu. Intinya Rumi nggak mau meninggalkan Abi di rumah sendirian. Rumi akan merasa berdosa kalau sampai melakukan itu."


"Le... Abi kan yang minta. Lagi pula, untuk kenyamanan menantu Abi juga."


"Nggak Bi. Pokoknya, selagi Abi belum ada pasangan hidup yang menemani Abi. Tidak akan Rumi pergi dari rumah ini."


Abi Irsyad terdiam. Ia mengingat tentang ucapan pak Huda, yang mencoba untuk menjodohkan beliau lagi dengan Isti.


"Rumi mau menemani Abi, sampai kapanpun." Tutur Rumi lagi.

__ADS_1


"Ya sudah, sana istirahat." Titah Abi Irsyad.


"Iya Bi... Kalau begitu Rumi naik dulu. Abi jangan lupa istirahat."


"Iya ini Abi juga mau tidur," jawab Abi Irsyad sembari terkekeh, ringan. Bersamaan dengan itu Rumi tersenyum, ia pun beranjak meninggalkan Abi Irsyad.


–––


Di kamar, Debby merebahkan tubuhnya. Ia merasakan kesedihan yang tidak bisa ia jelaskan. Kalau benar hati Rumi mulai goyah? Lantas dengan cara apa dia menahan sang suami?


Dia saja belum memberikan keturunan untuk suaminya itu.


Debby memilih untuk beranjak, karena tiba-tiba ada perasaan ingin buang air kecil. Dan di saat ia berjalan masuk ke dalam tandas, ada sisa sabun cair yang mungkin tercecer di lantai hingga membuat permukaan lantai itu licin.


"Aaaaaaaaaa...." Ia terjatuh cukup keras dengan posisi duduk. "Ya Allah... Sakit."


"Dek? Kenapa?" Rumi mendengar suara Debby membuatnya setengah berlari menghampiri.


"Aku kepleset. Tapi perut ku kok sakit ya jadinya. Aku sampai nggak kuat berdiri." Debby meremas lengan sang suami menahan sakit.


"Ya Allah... Coba ku bantu berdiri."


"Aaaaaa..... Nggak bisa! Aku bilang nggak bisa ya nggak bisa...!" Hentak Debby yang masih sedikit kesal, namun menahan sakitnya juga. Hingga Rumi pun memutuskan untuk menggendong Debby, membawanya ke ranjang mereka.


Posisi Debby meringkuk, karena ia tidak kuasa menahan sakit di perutnya. Suara tangis Debby bahkan terdengar sampai ke telinga ustadz Irsyad, membuat beliau lantas menghampiri mereka berdua.


"Ada apa?" Tanya Ustadz Irsyad setelah mengetuk pintu kamar Rumi yang terbuka.


"Debby kepeleset di kamar mandi, Bi. Tapi katanya perutnya sakit." Rumi masih memegangi tangan Debby yang sedang meremas erat tangan Rumi.


"Ini apa?" Tanya Ustadz Irsyad yang melihat bercak darah di kain seprai. "Kamu lagi menstruasi?"


Debby menggeleng, pelan.


"Jangan-jangan? Rumi, siap-siap! kita lebih baik bawa Debby ke rumah sakit." Ustadz Irsyad bergegas keluar dari kamar itu lantas menyiapkan mobilnya. Sementara Rumi menoleh kearah sang istri.


"Dek? Kamu?"


"Aku nggak tahu... Aku nggak tahu... Sakit–" Debby semakin terisak. Rumi bergegas mengangkat tubuh sang istri lalu membawanya keluar.


Bersambung....


.


.


.


# tenang teman-teman, inshaAllah aku besok up lagi. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2