
Di kamar...
Debby masih duduk membelakangi pintu, menatap kearah jendela kaca dengan air mata masih berderai-derai akibat mengingat semua masalahnya yang datang silih berganti, lebih-lebih sikap Rumi yang mengabaikannya. Sehingga membuat Debby merasa sedih ketika satu-satunya mahluk yang ia harapkan bisa menjadi sandaran hati malah justru turut menambahkan luka.
Dengan tatapan sendu ia sebenarnya hanya ingin merasakan kasih sayang Rumi lagi. Apakah itu salah? Dia bukan tidak memahami kondisi sang suami yang masih merasakan kehilangan. Namun dengan perhatiaan Rumi setidaknya mampu membuatnya kuat juga atau sama-sama menjadi penguat antar satu sama lain untuk menghadapi segala masalah dalam hidup. Bukankah itu definisi berumah tangga, saling menyampaikan masalah dan menyelesaikannya secara bersamaan?
Sebaliknya, jika seperti ini? hidup satu atap namun dengan Rumi yang menjadi lebih pendiam dari biasanya. Bahkan nafkah batin pun tak ia dapatkan hingga dua Minggu lebih lamanya. Ini sudah kelewatan untuk seorang pria yang paham agama.
Pintu kamar itu terbuka, Debby menoleh sekilas kebelakang lalu kembali memalingkan wajah sembari menghapus air mata. Menatap ke arah jendela di hadapannya. Percuma juga, jika dia menangis. Rumi hanya akan merebahkan tubuhnya lalu tidur, dalam posisi memunggungi tanpa memperdulikan kesedihannya. Atau mungkin hanya sebatas duduk lalu membaca buku atau Al Qur'an. Sama seperti hari-hari dan malam-malam sebelumnya. Jadi dia memilih untuk diam saja. Memang hanya Rumi yang memiliki ego untuk mendiamkannya? Dia juga bisa. Begitu pikirnya.
Rumi naik ke atas ranjang itu, ia menghela nafas sejenak. Duduk dalam posisi bersila di belakang Debby sembari menunduk.
"Dek?" Panggilanya. Baru saja di panggil dek, mata Debby sudah menggenang lagi. "Makanannya belum di makan?" Tanya Rumi yang melihat nampan itu masih pada posisi sama persis saat dia meletakkan tadi, bahkan nasi dan lauk pauknya pun masih utuh.
"Aku suapi ya."
"Nggak perlu..!" Debby memotong. Rumi pun menghela nafas.
"Maaf ya... Aku sudah melukai mu."
Ucapan Rumi sukses membuat air mata yang tertampung itu kembali terjatuh. Namun ia masih pada posisinya, membelakangi Rumi, dan dengan cepat menyeka air matanya.
__ADS_1
"Iya...? Setiap rumah tangga, pasti akan ada ujiannya. Mungkin aku sedang menjadi ujian untuk mu. Jadi, ku harap kamu bisa memaafkan aku dan lebih bersabar lagi menghadapi ku." Tutur Rumi, Debby yang di sana masih diam saja. Tangannya mengusap air mata yang kembali menetes dengan pelan.
Membuat Rumi bergeser, duduk di belakang Debby. Dengan kedua tangan melingkar di perut sang istri. Mencium bahu Debby Kemudian.
"Dek, Maafkan aku ya." Gumam Rumi dengan bibir masih menempel di bahu.
"Mungkin, seharusnya kak Rumi tidak menjadikan ku istri. Karena aku bukan istri yang Soleha." Ucap Debby, membuat Rumi menggeleng.
"Enggak, kamu Soleha sayang. Kamu sudah cukup bersabar menghadapi ku yang menjadi kaku ini. Maaf... Maaf sayang. Maaf ya."
Air mata Debby semakin menderas, ia menatap lurus dengan pandangan kosong.
"Hati ku sakit, ketika aku di abaikan Keluarga ku. Aku bahkan baru saja kehilangan pekerjaan ku hari ini." Tutur Debby.
"Tidak penting untuk mu, kan? Saat aku mengatakan ini." Tanya Debby.
"Penting Sayang... Penting, aku memang harus tahu masalah mu. maaf ya aku merasa bersalah sudah berbuat seperti ini. Aku sudah menzolimi mu."
Gadis itu mendesah. "Andai aku tidak lepas kontrol tadi, aku rasa kamu tidak akan pernah paham, kalau kamu sudah menyakiti ku Kak.."
Rumi menunduk, kembali mengecup bahu Debora lembut. Semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"Dua hal tadi memang membuat ku terluka, tapi yang lebih membuat ku tak bisa menahannya? Yaitu ketika aku kembali kerumah ini dan aku ingat, jika di sini pun? Aku tengah berada pada masalah lain. Dimana aku tinggal satu atap dengan seorang pria yang akhir-akhir ini tidak pernah menatap ku dengan cinta, yang bahkan tidur pun dia memunggungi ku, membuat ku tetap kedinginan." Debby menitikkan air matanya. Sementara Rumi semakin memeluknya erat, terdengar suara gumaman istighfar di bibir Rumi, serta kata maaf yang tak henti-hentinya di ucapkan. Ia benar-benar menyesali perbuatannya itu.
"Bagaimana bisa ada pria yang berstatus suami di sebelah ku, namun dia asing untuk ku? Padahal Dia sendiri yang berjanji akan membuat ku bahagia. Apa semua laki-laki jika sudah memperistri seorang wanita akan bersikap sama? Akan acuh pada sang istri, setelah mendapatkannya, dan hanya mendatangi ketika ia butuh untuk di layani hasratnya? Aku bukan piala yang kau perjuangkan untuk di dapati, namun setelah sudah kau miliki. Kau hanya memanjang ku begitu saja. Parahnya, kau bahkan tidak memberikan hak ku..!" Bibir itu semakin bergetar mengucapkan semua uneg-uneg di hati.
"Ya Allah... Astagfirullah al'azim... Astagfirullah al'azim... Sungguh aku berdosa sekali dek, pada mu. Aku benar-benar minta maaf telah menzolimi mu." Rumi terus bergumam. Dia tidak tahu ingin menjawab apa. Selain kata maaf Sebagai tanda penyesalannya.
"Haruskah? Aku meminta untuk di lepaskan saja?"
Deg...! Rumi menggeleng cepat.
"Kamu bicara apa sih? Nggak dek, aku benar-benar minta maaf. Aku salah... Aku bersalah."
Debby menyeka kasar air mata yang kembali menderas. "Tolonglah... Jika kau belum bisa membahagiakan ku secara materi, paling tidak. Bahagiakan batin ku, dengan cinta dan kasih sayang mu. Apa tuntutan ku terlalu tinggi untuk kau wujudkan?"
"Ya Allah, Dek... Iya aku minta maaf, kesedihan ku saat kehilangan Umma sudah membuat ku lupa, jika aku punya wanita kedua yang sangat aku cintai, beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri ya. Aku akan bertanggung jawab lebih setelah ini. Aku janji."
Debby mendesah, sinis. "Bisakah kau memegang janji mu? Sementara baru sebentar saja kita menikah, kau sudah bosan dengan ku."
"Aku nggak bosan, dek... Aku juga tidak pernah memikirkan apa-apa. Aku hanya merasa kehilangan seorang ibu. Yang seolah membuat hati dan prasaan ku turut mati. Tapi aku sedang berusaha menghidupkannya lagi, ku akui aku terlalu manja aku terlalu lemah sebagai seorang pria. Jadi tolong maafkan aku ya... Aku mohon, kamu satu-satunya yang kini bisa menjadi penguat ku. Sungguh sayang."
Debby hanya diam saja, air matanya menderas.
__ADS_1
'tidak hanya kau yang merasakan hidup ini seolah hampa karena di tinggal seorang ibu. Paling tidak perginya Umma, tak meninggalkan jejak kebencian di hatinya. Sementara aku? Kedua orang tua ku masih ada, namun aku tetap merasakan sebatang kara.' batin Debby, ketika mengingat nasibnya. Yang jauh lebih butuh kekuatan dari pasangan hidupnya.