
Hari yang terus bergulir, menuliskan rentetan peristiwa-peristiwa baru dalam kehidupan Debby dan Rumi.
Kegiatan yang akan terus di jalani, dengan urutan yang sama. Bangun pagi, mandi, beribadah, lantas kegiatan yang rutin ia lakoni setiap harinya.
Dengan wajah masih sedikit pucat, Debby menyiapkan menu sarapan pagi.
Bukan hidangan istimewa, hanya makanan sederhana yang di sukai keluarga itu.
Terdengar sampai dalam sebuah obrolan kecil di luar, antara Abi Irsyad dan Rumi yang baru saja pulang dari masjid, memasuki rumah itu dengan sesekali terkekeh pelan. Debby pun tersenyum, karena semua hidangan sudah selesai diolah dan ia tata.
"Harumnya sampai luar... MashaAllah." Puji Abi Irsyad, yang masuk kedalam ruangan dapur bersama Rumi.
"Masa sih, Bi?" Debby tersipu. Ia meraih tangan Rumi yang terulur kepadanya, lantas mengecup punggung tangan sang suami.
"Seriusan. Kamu sudah sehat nduk?" Tanya Abi Irsyad, seraya melepaskan sajadahnya, menggantungkan di sandaran kursi makan, lalu duduk di kursi tersebut.
"Alhamdulillah Bi," jawab Debby seraya tersenyum.
"Syukurlah..." jawab Abi Irsyad, meraih gelas kosong yang tertelungkup di nampan bersamaan dengan teko berisikan air mineral di sebelahnya. Menuangnya dengan pelan lalu meminumnya. "Alhamdulillah..."
"Mau sarapan sekarang, Bi?" Tanya Debby.
"Boleh, soalnya habis ini Abi ada kuliah pagi. Jadi harus segera berangkat."
"Begitu ya, ini piring Abi."
"Terimakasih, Nduk."
"Sama-sama." Tersenyum simpul, lalu menoleh ke arah Rumi yang juga sudah duduk. "Mau sekalian sarapan, Kak?"
"Iya," jawab Rumi. Ia melihat di meja makan itu tidak ada sayur tahu yang di campur tauge, ataupun tumis tauge lainnya seperti hari-hari sebelumnya.
"Ada apa? Kak Rumi mau menu yang lain?"
"Enggak sih, sepertinya ada yang ilang dari menu keseharian."
"Oh... Iya, aku nggak nggak masak tauge hari ini," jawab Debby lirih sembari meletakkan piring berisi dua centong nasi, lalu meletakkannya di hadapan Rumi.
"Kenapa?"
"Nggak papa, takut bosan saja."
"Aku nggak bosan sih, Dek. Malah aku jadi suka." Menjawabnya dengan sedikit berbohong, agar semangat Debby kembali. Padahal ia sendiri benar-benar sudah sangat tidak ingin menyantap sayur itu.
Debby hanya tersenyum, ia pun meraih sajadah Rumi yang tergeletak di sandaran kursi, lalu meraih milik ustadz Irsyad pula. Setelahnya berjalan pelan menuju ruang sholat.
Abi Irsyad berdeham, menatap Rumi yang sempat memutarkan kepalanya memandangi Debby.
__ADS_1
"Rumi, dia baik-baik saja 'kan?"
Rumi menoleh. "Emmm... Iya Bi."
"Nggak ada masalah 'kan?"
Rumi terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.
"Syukurlah, Abi cuma khawatir dia merasa lelah. Karena mengerjakan pekerjaan rumah disini. Ya walaupun tetap kita bantu, tapi dia pasti butuh hal lain. Coba ajak dia jalan-jalan. Pekerjaan mu tidak banyak kan hari ini?"
"Tidak sih... Karena belum ada email baru dari atasan."
"Nah kalau begitu, ajak saja dia pergi. Pagi ini. Kemana gitu."
Rumi pun mengiyakan, ia tersenyum tipis menyetujui saran dari Abinya.
***
Pukul sembilan, selepas sholat Dhuha. Keduanya berjalan-jalan santai di taman. Lokasi yang belum begitu ramai pengunjung, namun tetap ada segelintir orang yang tengah menikmati waktu pagi yang belum begitu terik.
Debby menatap salah satu danau, yang tenang.
Kicau burung bahkan masih terdengar, lumayan menenangkan jiwa yang sedang di selimuti sedikit perasaan gundah gulana.
"Dek, mau jajan?" Tanya Rumi. Debby menggeleng pelan. "Mau minum?" Tanyanya kemudian pada Debby yang kini menoleh, lalu menggeleng lagi.
"Kalau punya anak pasti sangat menyenangkan."
"Sama saja kok."
"Apanya yang sama? Pasti beda lah, hidup jadi lebih berwarna. Karena sebagai seorang wanita, ia akan lebih sempurna jika bisa memberikan anak untuk suaminya." Debby menjawab dengan pandangan lurus ke arah danau.
"Jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan serta ketakutan yang tak seharusnya kamu pikirkan secara berlebihan Dek," kata Rumi, menatap serius kearah sang istri. Ia pun menggandeng tangan Debby membawanya ke tempat lain, mencari kursi kosong untuk mereka duduk. Angin berhembus sepoi-sepoi, sehingga sedikit membuat hijab Debby berkibar pelan.
Keduanya kembali terdiam, dalam ruang lingkup alam yang tenang. Debby mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam tasnya.
Ia mengguratkan kata-kata bertuliskan 'harapan...' setelah itu terdiam, menyeka bulir bening yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Rumi pun meraihnya, membuat Debby sedikit terkejut. Ia menuliskan sebuah tulisan Arab di bawah sepenggal kata yang belum sempat di lanjutkan oleh Debby.
"Baca..." Rumi menyerahkan buku itu pada Debby lagi. Wanita itu meraihnya pelan. Lalu mencoba untuk membacanya.
"Wa la tahinu wa la tahzanu wa antumul-a'launa ing kuntum mu`minin." ia menaikan bola matanya melirik kearah Rumi.
"Mau tahu itu penggalan surat apa?"
"Surat apa?"
"Ali Imran ayat seratus tiga puluh sembilan," jawab Rumi, ia pun meraih lagi buku di tangan Debby lalu mencatatkan sesuatu di bawahnya. Setelah itu memberikan lagi pada Debby. "Baca lagi, coba. Yang lumayan agak keras, biar aku bisa dengar."
__ADS_1
Perintah Rumi itu langsung di indahkan, ia pun membacakannya.
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman." Debby terdiam, matanya masih tertuju pada tulisan tangan Rumi itu.
"Menjadi orang yang sabar, adalah salah satu sifat orang yang beriman." Tutur Rumi, sembari membelai kepala sang istri lembut.
"Mungkin memang benar, aku kurang sabar. Aku hanya khawatir, memang kak Rumi sendiri, tidak ingin punya keturunan?" Debby menjawab lirih.
"Siapa yang tidak menginginkan keturunan dari pasangannya? Semua pria yang sudah menikah pasti mengharapkan itu. Tapi, apa terlihat dari diri ku. Kalau aku menuntutnya dengan cara terburu-buru dari mu?" Kata-kata Rumi membuat Debby mendongakkan kepalanya, ia pun menitikkan Air mata. "Tidak 'kan? Aku akan sabar Dek, kapanpun di kasihnya."
"Tapi kan? Kalau ternyata aku?"
"Apa? Mau berkata apa? Sebenarnya apa sih yang Ade takuti?"
"Aku takut mengecewakan Abi, dan kamu pastinya."
"Dek?"
"Nuha sudah mau memberikan 3 cucu. Sementara aku? Kapan aku membahagiakan Abi kamu?" Debby menyela.
"Abi sudah cukup bahagia dan bersyukur, ketika punya menantu sebaik kamu, Dek."
"Bohong, tetap saja Abi pasti bakal kecewa." Debby memalingkan wajahnya, sembari mengusap air mata.
"Dek?" Rumi menggenggam tangan Debora. "Abi tidak pernah bilang ia ingin buru-buru punya cucu dari kita. Sedikasihnya, dan Abi pun juga selalu bilang pada ku juga untuk bersabar. Momongan itu rezeki, yang entah kapan datangnya. Jadi bersabarlah, jangan patah semangat."
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Apanya?"
"Kalau sampai aku tidak bisa punya anak?"
"Astagfirullah al'azim... Boleh jujur nggak sih? Aku tuh sebenernya marah loh sama kamu, Dek. Setiap kali kamu bilang begitu, itu kan sama saja dengan doa."
"Jawab aja kenapa sih?" Debby menggoyang-goyangkan tangan Rumi, dan berbicara dengan suara yang sedikit tertahan.
Rumi menghela nafas. "Kamu mau aku jawab yang bagaimana lagi? Tadi kan sudah aku jawab, aku tidak menuntut harus cepat-cepat."
"Ya jawaban yang lain. Biar aku tenang." Bersungut.
"Astagfirullah al'azim..." Rumi geleng-geleng kepala.
"Kan nggak bisa jawab. Padahal gampang aja, aku cuma nggak mau ngasih pilihan ke kamu. Dan bernasib sama seperti Tante Maryam, menjadi janda di usia muda."
"Allahu Rabbi... Mikir mu kok jauh sekali."
"Ya mau gimana lagi, ini kan masalah kritis." Tuturnya bernada sedikit ketus. Hingga membuat suasana yang tadinya adem ayem kini mendadak panas.
__ADS_1