Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
pilihan Abi


__ADS_3

Dua tahu berlalu...


Kondisi Rahma sudah mulai membaik, beliau pun sudah mulai bisa berjalan menggunakan alat bantu berjalannya berupa tongkat.


Dibawah sinar senja ini. Rahma duduk di atas dipan Gazebo yang berada di depan rumahnya, bersamaan dengan Rumi yang turut duduk di sebelahnya, menyuapi potongan buah apel yang sudah dia kupas.


"Sudah, kak... Umma kenyang loh." Tutur Rahma menolak potongan kelima dari tangan Rumi.


"Satu lagi, Umma."


"Nggak, sudah. Sudah kenyang beneran nih."


"Iya deh." Rumi meletakkan piring di tangannya ke sebelah kanan, setelahnya meraih tissue lalu mengusap lembut bibir Ibunya.


Rahma terkekeh. "Berasa sudah nenek-nenek sekali sih."


"Nggak lah Umma. Umma ku masih cantik, masih muda."


"Bohong sekali, bilang Umma masih muda."


"Serius Umma." Rumi menjawab dengan senyuman tulus, karena apa yang dia ucapkan memang benar, Ummanya masih cantik.


Rahma menghela nafas. "Kamu kapan berangkat lagi kuliahnya? Masa iya sih, mau cuti sampai bertahun-tahun?" Tutur Rahma.


"Emmm, Rumi belum ada keinginan untuk menyambung kuliah Umma."


"Kenapa? Kamu tidak kasihan sama Abi yang sudah membiayai mu. Jangan gitu dong sayang, Umma kan sudah baik-baik saja."


"Rumi kasian sama Abi, tapi? Rumi lebih kasian sama Umma. lagi pula, Rumi kan sudah lulus S1, masih bisa lah untuk mencari pekerjaan. Yang penting sekarang prioritas Rumi itu adalah Umma."


"Jangan dong kakak... Kakak kan nanti harus membiayai istri dan anak mu. Seorang istri itu menyukai laki-laki yang bertanggung jawab sepenuhnya loh. Gigih juga dalam bekerja, kamu harus semangat menempuh pendidikan tinggi, demi kesejahteraan keluarga mu kelak, Rumi."


Rumi terkekeh. "Umma, sama Abi nih. Ngomonginnya kesitu terus ya?"


"Kesitu terus, apa?"


"Ya tentang jodoh lah, pernikahan lah. Rumi tuh belum pengen menikah."


"Jangan gitu dong kakak... Kalau ternyata ada gadis yang menyukai mu bagaimana? Kan kasian nunggu terus." Ledek Rahma.


"Suka? Umma ini bicara apa. Laki-laki pengangguran kaya Rumi mana ada yang suka sih." Tertawa.


"Hehehe..." Rahma pun turut terkekeh, hingga keduanya pun masuk kedalam rumah, setelah Rumi mengajak ibunya untuk masuk saja karena sore semakin memunculkan sinar temaramnya.


.


.


.


Malam berikutnya, Rumi duduk di sebelah Abi Irsyad setelah selesai berzikir di ruangan solat tersebut.

__ADS_1


Karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan katanya. Rumi menunggu itu dan mendengarkannya dengan seksama.


"Rumi, masih ingat ucapan Abi tentang Shafa?" Tanya Abi Irsyad.


"Yang kapan Bi?"


"Waktu lebaran tiga tahun yang lalu."


"Emmm?" Rumi Berfikir keras, mengingatnya.


"Tentang tawaran Abi mengkhitbah Shafa."


"Oh..." Gumamnya lirih, dia baru ingat.


"Bagaimana?"


"Emmm, Rumi belum ada niatan Bi."


"Kenapa? Tiga tahun loh sudah Abi kasih kesempatan, untuk berfikir."


"Tapi Rumi belum ada pikiran untuk menikah, sementara Rumi belum memiliki pekerjaan. Bagaimana cara Rumi Menghidupi kebutuhan sehari-hari untuk anak dan istri Rumi?"


"Abi mau tanya, sebesar apa rasa bergantung mu pada Rabb-mu?"


"Yang pasti tanpa batasan Bi." Jawab Rumi.


"Kalau tanpa batasan, kenapa masih ragu. Menikah itu menyempurnakan iman, masalah rezeki sudah pasti mengikuti. Selama kamu berikhtiar, tidak malas? Allah tidak akan membiarkan kau, istri dan anak mu kelaparan."


"Memang harusnya seperti itu kan? Sebelum halal jangan dulu menaruh hati, dan taruhlah setelah Ikrar mu terucap."


"Masalahnya bukan itu."


"Lantas apa?" Tanya Abi Irsyad.


"Hati Rumi?" Ucapannya terpotong. "Ah... Tidak bi."


"Begini saja. Besok, kita bertemu dengan keluarga paman Ulum, mengobrol lah kalian. Jika ada kecocokan, maka berta'aruflah."


"Tapi bi, apa itu tidak terburu-buru ya?" Rumi merasa khawatir."


"Semakin cepat semakin baik Rumi." Ucap Ustadz Irsyad sembari beranjak.


"Bi...? Izinkan Rumi untuk berfikir lagi." Pinta dia, menahan Abinya.


"Baik lah, satu Minggu. Solat malam lalu putuskan lah." Ucap Abi Irsyad setelahnya, sembari berlalu kemudian.


Rumi menghela nafas, 'duh, kok sama Shafa? Dia udah bener-bener nggak bisa lebih dari saudara untuk ku.' batin Rumi, namun demi menghormati Abinya, dia pun menuruti. Untuk shalat istikharah nanti malam.


***


Satu Minggu Kemudian, Abi Irsyad kembali menanyakan keputusan Rumi. Sebenarnya Rumi belum mendapatkan jawabannya namun dia pun memutuskan, untuk mempercayai semuanya kepada Abinya. Hingga Abi Irsyad pun tersenyum, segeralah dia menghampiri Ulum selepas Dzuhur di salah satu masjid dekat tempat Ulum mengajar, untuk menyampaikan kabar bahwa keluarganya akan bersilaturahmi dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


Ulum yang menyambut itu dengan suka cita pun menerimanya.


Bahkan ia sendiri tidak sabar untuk mengabarkan kabar baik ini pada istrinya, serta Shafa itu sendiri.


–––


Di malam harinya...


Shafa baru saja menjalankan ibadah shalat isya.


Dia pun menutup Al Qur'an-nya yang baru saja ia baca. Ketika mendengar seruan suara sang ayah, tengah mengucap salam setelah kembali dari masjid.


Gadis itu keluar, karena dia di titipi amanah dari ibunya yang sedang keluar bersama Qoni, beberapa waktu yang lalu.


"Yah...?" Shafa mendekati, diraihnya tangan sang ayah yang masih gagah lalu mengecup punggung tangan itu.


"Ibu mana?" Tanya Ulum, melepaskan kopiahnya.


"Lagi keluar, cari jajanan mungkin."


"Dari kapan?"


"Sebelum isya tadi."


"Ya Allah, kok belum pulang?"


"Mungkin sebentar lagi yah." Jawab Shafa. Ulum pun mengiyakan, hingga sebuah senyuman tersungging saat dia mengingat ucapan Ustadz Irsyad tadi siang kala menemui dirinya di madrasah.


"Ayah kenapa senyum-senyum?" Tanya Shafa heran.


"Hehe... Duduk yuk. Ayah mau bicara."


"Apa?" Shafa tersenyum, karena sepertinya sebuah kabar yang baik. Semua tergambar jelas dari ekspresi berbinar sang ayah itu.


Shafa duduk tepat di sebelah Ulum, beliau mengusap kepala gadis itu lembut.


"Ayah mau tanya nih. Apakah kamu? Sudah siap menikah?" Tanya Ulum.


"Eh..." Pertanyaan itu sukses membuat Shafa terkejut. "Me... Menikah? Maksudnya, bagaimana?"


"Iya, ayah itu tanya. Kamu sudah siap menikah belum? Karena ada seorang pemuda dan keluarganya, yang akan datang bersilaturahmi kerumah kita."


"Pemuda? Ya Allah, siapa yah?" Tanya Shafa mendadak gemetaran, dia sebenarnya tidak berharap menikah cepat. Terlebih dengan pria yang belum dia kenal.


Ulum pun tersenyum, dia urung memberitahu.


"Intinya Ahad besok, bersiap-siap saja ya, akan ada sesuatu yang mudah-mudahan membuat mu bahagia setelah tahu, siapa laki-laki itu." Ucap Ulum kemudian.


Sungguh ucapan ayahnya membuat dia penasaran, namun juga berdebar. Sehingga munculah rasa bahagia yang entah dari mana. Padahal dia sendiri belum tahu, siapa pemuda itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2