
Pukul 16:26
Sandyakala yang mulai menguning, dengan sinar mentari yang masih sedikit nampak, mulai meredup seiring kembalinya sang raja ke tempat peraduannya.
suasana sunyi di kamar yang dingin ber-AC itu, terdapat seorang ibu muda beranak satu tengah menyisir rambutnya yang sudah panjang sepinggang, ia baru saja selesai mandi.
karena mumpung Ziya tengah tidur, sehingga menjadikan itu sebagai kesempatannya untuk memanjakan diri, walaupun harus buru-buru juga.
Ia bahkan tidak berani menyalakan keran air takut-takut jika Ziya nangis dan Nuha tak mendengarnya. Itu adalah gambaran sehari-hari, seorang ibu yang sudah memiliki anak lalu memilih untuk mengurusnya sendiri. Jadi dia harus memanfaatkan waktu tidur anak untuk dirinya melakoni pekerjaan di rumah itu, termasuk dalam hal makan ataupun mandi. Selama A'a di toko dan mengajar di rumah Tafiz.
Ya... Semenjak adanya Ziya, gadis itu sudah tidak mengajar lagi di rumah Tafiz, dia pun lumayan jarang membantu A' Faqih di tokonya. Terkecuali jika di bulan ramadhan, karena toko jadi jauh lebih ramai saja. Jadi mau tidak mau, Ziya akan ia titipkan di rumah Umma Hasna, yang dengan senang hati menyambutnya.
Ting... Sebuah pesan chat masuk. Dan dengan segera ia membukanya.
(Ya Hilwah.... A'a mau jalan pulang, neng mau di beliin apa?) Begitu isi pesannya. Nuha pun tersenyum.
(Apa saja, A'a kesayangan.) Jawab Nuha dengan emoticon kecup, yang ia sematkan juga. Hingga tak lama balasan kembali masuk, dimana A'a mengirim striker oke serta gambar hati berwarna merah yang besar.
Nuha pun kembali meletakkan ponsel itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Lalu dengan semangat ia meraih krim pelembab wajah, dengan wangi yang segar dan tidak lengket di kulit. Ia mengaplikasikannya secara menyeluruh di permukaan wajahnya yang sudah halus itu, tak lupa lipstick berwarna nude yang tidak terlalu merah namun tidak gelap juga. Sedikit kalem namun tetap memberikan warna yang terkesan segar di bibirnya.
Ia sedikit mempertebal alis dengan pensil alis berwarna brown, agar lebih manis saja.
Nuha biasa melakukan itu, setiap kali sang suami hendak pulang. Berusaha untuk merias diri, sebelum menyambut sang suami. Bukankah itu kebiasaan Sayidah Aisyah saat tahu Rosulullah akan mengunjunginya? Itulah yang di terapkan Nuha untuk A' Faqih, berusaha menyenangkan hati suami dengan penampilannya yang menarik.
Nuha meraih body parfum yang ia aplikasikan ke seluruh tangan kaki hingga bagian lehernya. A'a sangat suka aroma itu, yang menurutnya membuat ia betah memeluk tubuh Nuha. Hihihi.
Terakhir ia pun menyemprotkan parfum di bajunya. baru lah setelah itu hanya tinggal menunggu A' Faqih pulang saja.
Seraya menunggu, Nuha duduk di bibir ranjang, bersebelahan dengan Ziya yang masih tertidur pulas. Dengan buku novel di tangannya, ia membaca dengan serius karena buku itu benar-benar bagus menurutnya.
Hingga tak lama, suara motor terdengar. Ia segera meletakkan Bukunya di atas meja, mencium Ziya sejenak lalu turun dari ranjang itu dengan hati-hati. Agar sang anak tidak terjaga.
Nuha berjalan keluar setelah meranggai kain hijab yang tergantung di pintu kamar memakainya seraya berjalan keluar. Rumah itu memang hanya satu lantai, namun interior yang rapi dan modern membuat rumah itu tetap terlihat elegan walaupun minimalis.
Di tambah penataan ruangan yang pas sehingga nampak luas.
Nuha membuka pintu rumah itu dengan senyum yang mengembang, karena rindu setelah seharian tidak bertemu. (Tidak heran kan, kalau suami kerja? kita akan merindukannya seolah tidak bertemu berminggu-minggu. Hehehe)
di sana ia melihat A'a sudah berjalan pelan mendekati pintu rumah mereka dengan senyum tipisnya. Wajah itu terlihat lelah sekali sepertinya, membuat Nuha merasa kasihan melihatnya.
"Assalamualaikum." Faqih mengulurkan tangannya pada Nuha yang langsung meraihnya sembari menjawab salam itu.
"A'a mau apa? Teh apa kopi?" Nuha langsung menawarkan minuman untuk sang suami, setelah mencium punggung tangan itu.
__ADS_1
"A'a mau ini." Menepuk-nepuk pipinya dengan jari telunjuk. Nuha pun terkekeh.
"Masih di luar, malu." Jawab Nuha malu-malu.
"Kalau di dalam? lebih nanti A'a mintanya." Tertawa tanpa suara, sembari menghindari pukulan gemas dari Nuha di bahunya. Keduanya pun masuk ke rumah itu.
A'a menutup pintunya, lalu menarik lengan Nuha, untuk duduk di sofa yang tak jauh dari pintu masuk. Dimana posisi Nuha berada di pangkuannya, dengan kedua tangan melingkar di pinggang Nuha. Faqih langsung menciumi pundak sang istri.
"Ziya tidur?" Tanya Faqih, uyel-uyel di punggung Nuha.
"Iya, dari habis Azhar tadi." Jawab Nuha menggeliat geli.
"Oh..., A'a mau mandi, neng." Kecup... Kecup...
"Ya sudah mandi sana. Nuha buatkan teh ya."
"Nanti saja, tapi mandinya temenin." Menyandar lagi di bahu Nuha. Gadis itu pun menoleh cepat.
"Temenin? Aku sudah mandi. Memang nggak ke cium udah wangi?"
"Emmm? Enggak... Ini mah aroma kamu, nggak mandi pun begini baunya."
"Memuji apa menghina?" Tanya Nuha, yang pasrah saja ketika hijabnya sudah di lepas A'a.
"Aku sudah mandi A', serius... Nggak mau mandi lagi."
Faqih terdiam sejenak. "Ya sudah lah, mau minum soda aja. Temenin A'a minum soda."
"Tumben?"
"Ayo udah temenin, jangan protes." Ajak Faqih lagi, dimana Nuha langsung beranjak, dan di susul A'a yang langsung menggandengnya masuk ke ruangan dapur.
Dan berhenti di dekat meja makan, A'a menarik keluar salah satu kursinya lalu duduk di sana. Sementara Nuha sudah berdiri di depan pintu lemari pendingin membukanya dan meraih satu botol besar cola yang masih baru.
"Neng?" Faqih memanggil tepat saat Nuha baru saja hendak membuka penutup botolnya. Membuat gadis itu langsung menoleh. "Sepertinya Ziya bangun. Cek dulu deh."
Terdiam sejenak, mencoba memastikan. "Nuha nggak denger suara Ziya nangis."
"Cek dulu aja. Itu botol taro dulu di meja." Titahnya, dengan wajah datar khas Faqih. Yang sedang bertopang dagu.
Nuha pun menuruti, ia meletakkan botol itu di atas meja lalu berjalan keluar dari dapur.
Sementara Faqih yang sudah tersenyum jail langsung beranjak ia memastikan lebih dulu, jika Nuha sudah benar-benar keluar dan langsung menyambar botol itu. Mengocok nya tanpa akhlak sekuat tenaganya, sepanjang waktu Nuha yang sedang masuk kedalam kamar mereka. Hingga saat bayangan Nuha kembali Faqih pun menghentikannya dan kembali meletakkan botol tersebut ke-posisi semula lantas kembali duduk. Dengan tangan mengeluarkan ponselnya langsung.
__ADS_1
"A'a salah dengar kali, Ziya nggak bangun kok." Gumamnya.
"Oh..." Ia melirik sejenak, dengan bibir mengulum menahan tawa. Karena Nuha langsung meraih botol itu lagi hendak membukanya, tanpa menyadari jika gelembung soda sudah naik sampai ke tutup botolnya.
Dan ketika botol itu di buka, semburan soda pun membuatnya terkejut, "Aaaaaaaaa..." Menjerit seketika.
Faqih yang menyaksikan itu langsung tertawa lepas. Karena sudah tidak bisa menahannya lagi, terlebih ketika melihat ekspresi Nuha yang mematung, dengan tangan masih memegangi botol, serta baju dan sebagai tubuh yang basah terkena semburan soda.
"Apa ini?" Nuha menatap penuh curiga. "A'a?"
"Apa?" Merendam tawanya.
"Kerjaan A'a pasti kan?" Gusar.
"Dih, memang neng lihat A'a ngapain? A'a kan duduk manis di sini." Memalingkan wajahnya, lalu menutup mulutnya dengan kepalan tangan, terkekeh.
"Nyebelin, lengket kan jadinya?"
"Mandi lah kalau lengket."
"Tapi Nuha udah mandi." Ia menghentakkan kakinya kesal. Seraya meletakkan botol cola tersebut ke atas meja.
Faqih pun tertawa, seraya mendekati. "Maaf A'a bercanda neng."
"Nggak lucu." Masih sedikit kesal. Ia menepis tangan Faqih yang hendak memeluknya.
"Maaf... Maaf... kamu kemaren bilang pengen yang romantis-romantisan kan? Nah sekarang kita romantis-romantisan jangan mau kalah sama pengantin baru." Tuturnya enteng, dengan kedua tangan sudah melingkar di dada Nuha, memeluknya dari belakang.
"Aku dah curiga A'a bakal isengin Nuha." Gerutunya, kesal.
"Tanda sayang kan? Dari pada di marahin... Kamu suka A'a yang kaku ya? Katanya takut kalo A'a seperti itu?"
"Tapi jangan begini. Liat lantainya juga jadi kotor kan?"
"Tidak usah mikirin lantai, nanti A'a yang bersihkan. Sekarang, bersihin yang ini dulu saja."
"Apa?"
"Ya kamu... Yuk mandi. Akhirnya jadi juga mandi di temenin." Faqih menggendong tubuh Nuha, yang langsung tersenyum. "Udah sedikit berat kamu ya."
"A'a aku nggak gemuk loh."
"Tahu... Kamu cuma berisi." Gumamnya sembari berjalan keluar dari ruangan dapur itu. Menuju kamar mereka untuk mandi, setelah memastikan Ziya masih tertidur pastinya. Emang dasar Abi tengil satu ini ya issssshhh... issssshhh... issssshhh... ðŸ¤
__ADS_1