Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
cinta sesurga ku.


__ADS_3

Waktu sudah semakin sore,


Dimana sang swastamita mulai menampakkan keindahannya, pertanda sang raja akan kembali pada tempat peraduannya. Sebelum beralih pada kegelapan, yang akan di temani sinar cantik sang rembulan.


Di bawah sinar jingga ini lah, dengan kecepatan sedang, Ustadz Irsyad membawa laju mobilnya kembali kerumah mereka, sebelum tiba waktu Magrib.


Sepanjang jalan, Ustadz sesekali meraih tangan Rahma, mengusap itu lembut, dan di kecupnya kemudian.


Berbarengan dengan senandung-senandung lirih, sebuah kidung cinta yang gumamkan sang ustadz untuk istrinya. Menandakan bahwa dia benar-benar menyayangi sosok Rahma, tanpa melihat perubahan fisiknya yang sekarang.


Ya... Usia memang sudah tak lagi muda, bahkan ketampanan ataupun kecantikan sudah mulai memudar, setiap tahunnya.


Namun, jika sudah membicarakan soal cinta?


Hal itu sepertinya tidak pernah berkurang bagi sang ustadz. Berbeda dengan Rahma yang masih saja merasa rendah diri di hadapan suaminya, walaupun cinta kepada sang suaminya amatlah besar. Tapi sepertinya terkalahkan dengan rasa tidak percaya dirinya.


'aku sudah semakin tua, dia masih tampan. Dia masih sehat, sementara aku sakit dan tidak berguna.' itu yang ada di pikiran Rahma saat ini.


Ustadz Irsyad Melepaskan tangannya sejenak, lalu menyentuh tuas gigi mobil di sebelahnya, dan berhenti ketika dihadapkan dengan lampu lalu lintas yang berwarna merah.


Beliau menatap ke arah angka digital di atas lampu itu. Masih ada sekitar seratus detikan, kurang lebihnya. Beliaupun menghela nafas lalu menoleh kearah Rahma, membelai lembut kepala sang istri seraya tersenyum, lalu menurunkan tangannya menyusup masuk kedalam cadar sang istri, mengusap-usap pipi Rahma dengan punggung jarinya lalu mencubit pelan pipi itu, gemas.


"kita, Mau beli apa dulu, sayang?" Tanya Ustadz Irsyad, lembut.


Rahma hanya menyipitkan matanya pelan, tanda dia tersenyum namun seperti di paksakan.


"Beli apa?" Ujar Rahma, balik bertanya. Jujur saja, sebenarnya Umma Rahma masih merasa sedih ketika bertemu dengan wanita tadi. Namun jika menyadari kondisinya? Dia tidak mungkin ngambek, seperti biasanya ketika beliau masih sehat.


"Ya apa saja... Buat camilan di rumah, martabak? Atau kue." Jawab Ustadz Irsyad.


"Rumi tadi buat puding, Bi." Jawab Rahma kemudian, dia sebenarnya sedang tidak bernafsu makan apapun.


"Oh... Iya kah? Kok mas tidak tahu? Enak nggak?" Tanya Ustadz lembut, sentuhnya berpindah ke bibir.


"Enak, tapi kurang manis." Rahma terkekeh.


"Kalau kurang manis, makannya sambil lihat mas ya." Ledek Ustadz Irsyad.

__ADS_1


"Makin sepah dong kalau lihat mas." Rahma menanggapi sembari terkekeh, sama juga dengan Ustadz Irsyad.


"Ya nggak sepah dong, masa sepah si? Kamu tuh, Suka bener kalo ngomong." Jawab Ustadz Irsyad, yang seketika membuat Rahma tertawa. Ustadz Irsyad tersenyum bahagia, semua sebeb melihat sang istri tertawa lepas seperti saat ini.


'khumairah, MashaAllah. sungguh aku rindu tawa mu ini.' batin sang ustadz.


Di depan, lampu sudah berubah hijau, Ustadz pun kembali membawa laju mobilnya. "Emmm, sayang, Kemarin? mas periksa kadar gula darah."


"Oh ya? Terus, hasilnya mas?" Tanya Rahma.


"Katanya normal," jawab Ustadz Irsyad, masih fokus dengan setirnya.


"Alhamdulillah..." Gumam Rahma, "tapi tumben sih, mas sampai periksa kadar gula darah begitu?" Tanya Rahma kemudian.


"Iya... soalnya, Mas itu? Sering merasa khawatir. Karena setiap hari liat kamu, dek. Tapi herannya kok bisa normal, ya?" Ustadz Irsyad berlagak tengah berfikir dengan serius.


"Maksudnya? Emang apa hubungannya dengan lihat Rahma?"


"Ya... Gimana ya ngomongnya?" Ustadz Irsyad melirik sejenak, dan menangkap mata Rahma. "Astagfirullah al'azim..." gumamnya, seraya geleng-geleng kepala.


"Kenapa mas?" Tanya Rahma.


"Apanya?"


"Mata mu..." Jawab Ustadz Irsyad Kemudian, lalu tertawa saat Rahma menghela nafas.


"Ya Allah... Sliramu mas... Mas..." Rahma geleng-geleng kepala, tapi dia masih tertawa, sama halnya dengan ustadz Irsyad yang merasa lucu ketika Rahma memanggilnya dengan bahasa Jawa.


"Aku? Opo dek? Manis juga kah?"


"Nggak... Tapi, gombal mu kebangetan. Sampai lupa kalau sudah jadi kakek yang punya satu cucu." Tukas Rahma, membuat Irsyad tergelak.


"Satu cucu itu kalau ada Ziya... Kalau lagi berdua begini, kita itu masih remaja. Iya nggak?" Tutur Ustadz Irsyad dengan alis yang beliau naik turun kan.


Rahma yang melihat itu hanya mengernyit kan keningnya, lalu memalingkan wajah seraya terkekeh-kekeh. "Bisa aja kamu ya."


"Bisa dong. Untung lagi di jalan."

__ADS_1


"Memang kenapa kalau lagi di jalan?" Menoleh lagi


"Ya nggak... Hehehe, nanti saja di tempat peraduan kita."


"Ihhh apa sih mas...." Rahma menutup mulutnya, tidak bisa menahan tawa. Kalau tangannya tidak berat, mungkin dia akan memukul bahu Irsyad dengan manja.


"Apa? Memang mau apa?"


"Ya tadi? Ngomongnya tempat peraduan."


"Hehehe... Mikir yang nggak-nggak pasti nih, nenek satu ini." Ledek Ustadz Irsyad.


"Enggak kok."


"Ngaku..." Ustad Irsyad memancing.


"Nggak mas... Ya Allah. Sudah fokus saja nyetirnya, sudah mau sampai loh."


"Hehehe..." Ustadz Irsyad terkekeh seraya mengusap kepala Rahma. Lalu melanjutkan perjalanan mereka yang sudah tinggal sedikit lagi masuk ke kawasan perumahan.


–––


Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Rahma dan Irsyad sudah kembali ke rumah mereka.


Di sana keduanya di sambut oleh Nuha yang baru saja tiba.


Dengan senyum ceria, Rahma mengecup bayi mungil yang di dekatkan ke arahnya oleh Nuha.


"Ziya... Berapa hari tidak datang, tahu-tahu sudah gemuk. Nenek kangen loh." Tutur Rahma, yang di sambut kekehan semuanya.


"Iya Umma... Alhamdulillah. Mimi susunya lumayan banyak. Apalagi kalau malam, Nuha sampai kurang tidur." Jawab Nuha. Sementara Faqih hanya tersenyum, seraya masuk kedalam menghampiri mertuanya, setelah membantu menutup pintu mobil mereka.


"Nggak papa... Dulu Umma juga gitu. Namanya juga perempuan. Oh... Kalian baru datang? Atau sudah dari tadi?"


"Baru Umma..." Jawab Faqih, terlihat dari tas bayi yang ia gendong, seolah membuktikan kalau Nuha dan Faqih serta anak mereka? Benar-benar baru saja tiba.


"Ya sudah, istirahat dulu, gih. Nanti bawa Ziya ke kamar Umma ya." Titah Rahma, pada Nuha yang langsung mengangguk.

__ADS_1


"Nah... Ngobrolnya sudah. Sekarang tinggal masuk yuk, sudah mau magrib ini." Ajak Ustadz Irsyad yang langsung mendorong kursi roda itu masuk ke dalam rumah mereka.


Bersamaan dengan itu Faqih menutup pintu rumah tersebut, lalu melingkari tangannya di bahu Nuha yang tengah menggendong bayi mereka. Keduanya lantas turut berjalan masuk menuju tangga untuk kembali ke kamar yang berada dilantai atas.


__ADS_2