
Debby kembali ke Kamar...
Berjalan mendekati ranjang sembari melepas ikat rambutnya. Ia pun meraih ponsel yang tergeletak di sana.
Melihat satu pesan chat dari sang suami.
(Sudah tidur ya?) Begitulah isi pesannya. Karena sebelumnya terdapat tiga panggilan tak terjawab.
Debby tersenyum, ia pun menghubungi lagi nomor sang suami. Tak perlu menunggu lama, panggilan itu sudah di terima Rumi.
"Assalamualaikum, dek." Sapa sang suami dari sebrang membuat Debby tersenyum, ia pun duduk menyandar di ranjangnya sembari memeluk bantal.
"Walaikumsalam. Maaf ya kak, tadi aku dari bawah terus mengobrol sebentar sama Abi."
"Oh... gobrol apa?"
"Nggak banyak, hanya sekedar charger iman."
"Begitu ya, Sekarang bagaimana?"
"Ya... Sudah lebih baik. Besok Abi ngajak aku loh buat ikut tabligh."
Rumi yang di sebrang tersenyum, posisi beliau saat ini tengah tidur terlentang, dengan lengan kiri ia jadikan bantalan kepalanya. Sementara matanya mengarah ke langit-langit kamar.
"MashaAllah, di daerah mana Dek?"
"Nggak tahu, Abi belum ngasih tahu."
"Jam berapa?"
"Jam sepuluh."
Rumi berfikir sejenak, "oh... Kirain sore. Jadi aku bisa jemput terus kita jalan-jalan pulangnya."
"Jalan-jalan?"
"Iya, pakai motor."
"Memang tidak lelah, semisal langsung jalan lagi, gitu?"
"Nggak lah. Soalnya kalau sudah ketemu kamu? lelah ku jadi hilang."
"Iiih... Kak Rumi ngomongnya gitu." Merengek.
"Loh, memang ada yang salah ya?" Rumi senyum-senyum.
"Ya nggak, tapi kan jadi pengen di peluk."
Rumi terkekeh. "Oh pengen di peluk ya? Sini... Sini ku peluk."
"Kan... iih, mancing nih sukanya."
__ADS_1
"Apaan enggak dek. Kan serius, katanya pengen di peluk. Sini aku peluk."
"Ya gimana? 'kan jauh," Debby semakin memeluk erat bantal di pangkuannya. Karena rindu yang teramat, padahal baru malam ini Rumi tidak tidur di sebelahnya. Dia sudah merasakan rindu akan pelukan sang suami.
"Pakai kekuatan hati, pejamkan deh mata mu."
"Ngaruh gitu? Kalau aku memejamkan mata."
"Ya ngaruh lah, coba dulu tutup matanya."
"Beneran ya... Awas aja kalau nggak ngaruh." Debby memejamkan matanya.
"Kamu kerasa nggak?"
"Enggak..."
"Bohong, ini aku peluk kamu loh. Masa nggak kerasa."
"Enggak kerasa, beneran kak. Memang apa yang kakak peluk?" Kembali membuka matanya karena sadar itu adalah hal konyol.
"Bantal guling," jawab Rumi sembari terkekeh.
"Hemmmm," mendengus.
"Tapi guling ini, kecil kaya kamu. Berasa meluk kamu jadinya," kata Rumi tertawa.
"Iiiihhh aku di samain loh sama guling, parah banget ya?"
"Kak Rumi nih ya."
"Hehehe... Kangen, Dek."
Debby tersenyum. "Sama kak," jawab Debby dengan sedikit rengekan.
"Duh Gusti... Tambah kangen aku jadinya."
"Hehehe, semalam saja ya nggak pulangnya."
"Iya, mudah-mudahan cuma semalam." Rumi melirik kearah jam dinding. "Sudah jam sepuluh lewat Dek. Tidur gih..."
"Nggak bisa tidur. Sekarang nggak ngantuk."
"Tapi di paksain."
"Nggak bisa, kan biasanya di bacakan sholawat nabi sama kakak."
"Iya deh, ku bacain dari sini ya."
"Iya," Debby merebahkan tubuhnya, lantas menekan tombol pengeras suara.
"Berdoa dulu,"
__ADS_1
"Sudah."
"Kapan?"
"Baru saja dalam hati." Terkekeh. "Kak Rumi doain aku."
"Kan aku sering doain kamu Dek, setiap kali aku menyentuh kepala mu sebelum tidur, dan ku kecup kening mu. Itu aku berdoa untuk mu."
"Itu doa sebelum berjima."
"Beda dong sayang... Ini doa meminta kebaikan. Seperti yang Rosulullah bacakan untuk Aisyah."
"Benarkah?"
"Iya. Aku mau cerita sedikit boleh?"
"Boleh banget, aku suka di ceritain." Debby bersemangat, ia menunggu kisah romantis yang selalu Rumi ceritakan sebelum tidur.
"Iya... jadi Aisyah Radhiyallahu Anhu pernah meminta untuk di doakan oleh Rosulullah Saw. Lalu beliau dengan sepenuh hati mengangkat kedua tangannya, bermunajat.
'Allohummaghfir li ‘aa-isyata ma taqoddama min zanbihaa wa maa ta-akhkhoro wa maa asarrot wa maa a’lanat.’ hingga selesai, Aisyah pun tertawa bahkan hingga menurunkan kepalanya sampai terjatuh ke pangkuan Baginda Nabi Muhammad Saw. Saking senangnya."
"MashaAllah... Lalu?"
"Setelah itu, Rosulullah Saw, bertanya kepada Aisyah. 'Apakah doaku membuatmu senang?' dan Aisyah menjawab lagi. 'bagaimana aku tidak senang dengan doa mu itu?' melihat tingkah manja Aisyah Rosulullah tersenyum."
"Memang apa artinya?"
"Artinya? 'Ya Allah, ampuni dosa Aisyah yang dahulu dan yang kemudian, yang sembunyi dan yang terang-terangan.' nah kalau untuk istri ku, ku ubah namanya. Gitu."
"MashaAllah, Rosulullah Saw sayang banget ya sama Aisyah?"
"Sebenarnya sayang sama semua istrinya, namun ia seperti lebih memperhatikan Putri Abu bakar Ash-Shiddiq. Karena pada saat di nikahi Rosulullah Saw usianya masih sembilan tahun."
"Kok masih muda sekali, malah terbilang masih belia, 'kan?"
"Entah lah, itu kan orang-orang jaman dahulu dek. Mungkin usia segitu sudah terbilang cukup."
"Oh..."
"Ya sudah, sekarang lebih baik tidur, Dek..."
"Iya aku tidur, tapi bacakan doa yang seperti biasa."
"MashaAllah iya deh." Rumi pun membacakan doa untuk sang istri, lalu mulai bersholawat walaupun via telepon seluler, namun Debby sepertinya merasakan kenyamanan itu, terlebih suara Rumi yang terdengar lembut.
Hingga hampir satu jam Rumi bersholawat, bahkan ia sendiri pun juga turut mengantuk.
"Dek, Sudah tidur?" Rumi memastikan, dari sebrang tidak ada sahutan. "Alhamdulillah, aku matikan ya. Selamat malam ya Zaujatti."
PIK... Panggilan pun di matikan, di mana Rumi langsung meletakkannya di atas meja, sementara ia sendiri mulai memejamkan matanya hingga terlelap.
__ADS_1
Bersambung...