
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Tamu di sana masih ramai dengan keseruan mereka masing-masing.
Debby melihat sang suami sudah amat mengantuk. Namun dia diam saja duduk di ruang tengah sendirian, tangannya bekerja menggulirkan tasbih kecil yang ia selipkan di lengan yang sedang ia silang di depan dada.
Bibirnya bergumam zikir tanpa henti, walaupun nyanyian rohani mulai terdengar bersahut-sahutan memenuhi telinganya karena ayah Debby dan adik-adiknya serta ibu dan kakak dari Debby itu sedang melakukan ibadah bersama di salah satu ruangan khusus.
Debby mengusap lengan sang suami lembut. Membuat Rumi yang tengah memejamkan matanya khusyuk dalam berzikir terkesiap, lalu menoleh.
"Kita pulang saja yuk. Kak Rumi ngantuk kan?"
"Jam berapa memangnya?" Dia tidak sadar. Karena tadi habis di tinggal sebentar oleh sang istri yang tengah mengobrol bersama salah satu sepupunya yang masih bersedia untuk berbicara dengannya.
"Jam sepuluh."
"Ya ampun." Rumi menoleh ke arah ruangan itu. "Mama dan Papa belum selesai ibadah ya?"
"Sepertinya agak lama. Karena biasanya kalau Papa yang mimpin doanya suka lama."
"Owh... Jadi bagaimana?"
"Kita pulang saja ke hotel," jawab Debby.
"Masa iya kita tidak pamit sayang?"
"Nggak papa, Mama paham kok. Lebih baik kita pulang saja," ajak Debby, yang di jawab dengan anggukan serta senyum hangat sang suami.
Ia beranjak setelah bergandengan tangan keluar dari ruangan itu.
"Ci, mau kemana?" Tanya Ivana.
"Aku harus kembali ke penginapan."
"Kenapa tidak menginap di sini saja?"
Debby tersenyum. "Barang kami semua di hotel, jadi kami harus kembali. Emmm... Tolong sampaikan pada Mama kalau kami pulang duluan."
"Iya, Ci. Hati-hati ya."
"Iya Ivana. Terimakasih sudah mau berkunjung kesini."
"Sama-sama Ci." Ivana mengangguk sekali pada Rumi, tanda dia memberi salam yang lantas di balas oleh anggukan sekali juga dari Rumi.
__ADS_1
Keduanya berjalan keluar dari rumah tersebut, melewati ruang tamu dimana para sepupunya tengah mengobrol kesana-kemari membahas banyak hal yang entah apa.
Debby melirik sekilas pada Lusiana, lalu membuang muka seraya terus melangkah.
"Cih... Dasar bodoh, menolak Justin buat laki-laki yang sama sekali nggak tampan," menggerutu, lalu menenggak minumannya.
***
Di penginapan...
Debby yang sudah mengganti pakaian tidurnya tengah duduk di ranjang sembari berbalas pesan chat dengan sang ibu.
Senyum di bibirnya tersungging ceria. Matanya yang basah tanda dia bersyukur hubungan antara dirinya dan sang ibu sudah mulai normal. Hanya tinggal ayah dan kakaknya, dan semoga saja mereka segera menyusul menerimanya juga, maka akan lengkap lah kebahagiaan dia.
Tak lama Rumi yang duduk di samping Debby mencium Al Qur'an di tangan, setelah selesai membaca surat Al Mulk. Lalu meletakkan Al Qur'an kecil tersebut di atas meja samping ranjang.
Debby meletakkan juga ponsel di tangannya, ia memutar sedikit tubuhnya, duduk bersila menghadap Rumi.
Rumi tersenyum, sang istri sudah paham hingga sebuah sentuhan di kepala membuat Debby memejamkan matanya, dengan kedua tangan ia tadahkan mengamini setiap doa yang di panjatkan sang suami untuknya.
"Aamiin." Rumi mencium kening istrinya lembut. "Kamu lelah, tidak?"
"Emmm...?" Menggeleng.
"Apa?" Menutup mulutnya malu-malu.
"Minta di temenin bobo."
"Hehe..." Terkekeh lalu mencium pipi suaminya, dan setelahnya merebahkan kepalanya di atas bantal. Rumi yang merasa gemas mulai menghujani kecupan demi kecupan di wajah sang istri.
"Kak Rumi, maaf ya."
"Maaf untuk apa?" Tanya Rumi, masih menciumi istrinya.
"Tadi aku menggebrak meja di sebelah mu. Itu pasti kasar sekali."
"Hehehe," terkekeh, ia menghentikan kecupan lalu menatap mata yang mulai sayu di hadapannya, serta punggung jari-jarinya yang bekerja mengusap lembut pipi itu dengan penuh cinta. "Aku tahu karakter kamu dek, tapi kalau bisa lebih di tahan lagi. Jangan kaya tadi aku sampe kaget loh."
"Huh... Aku itu sama Lusiana memang sering tidak cocok, tapi kadang ya? akur juga. Entahlah... Kami dekat tapi sering juga tuh bertengkar hanya karena masalah sepele. Dia itu nyinyir orangnya, kalo ngomong pedes. Makanya aku sering adu mulut sama dia, nggak suka aja gitu ngalah dari orang macam dia." Cerocos Debby tanpa henti, hingga membuat Rumi terkekeh gemas lalu membungkamnya dengan kecupan di bibir sebentar lalu melepaskannya lagi.
"Sudah lah jangan ngomongin orang."
"Kamu pasti nggak suka ya, sama perempuan yang kaya aku gini sikapnya nggak mau ngalah, dan sedikit kekanak-kanakan."
__ADS_1
"Nggak juga dek... Kamu tahu? Aku jadi ingat kisah Sayidah Aisyah Ra, dia pernah loh nglempar tepung ke mukanya Saudah, istri Rosul juga. Tepat di depan Rosulullah Saw karena kesal."
"Hah? Kok bisa? Memang apa penyebabnya?"
"Ya kamu tahu, diantara istri Nabi Muhammad Saw itu hanya Aisyah yang nggak bisa masak. Sementara yang lain bisa, dan yang paling pintar masak itu Ummu Salamah. Jadi pernah ada riwayat gini? Kalau Nabi Muhammad Saw sedang di datangi Aisyah yang sedang membawa makanan untuk beliau tapi tahu-tahu Ummu Salamah juga datang bawa makanan. Suka di tumpahin gitu aja sama Aisyah."
"Kok?" Debby terkekeh.
"Iya, karena kalo Ummu Salamah bawa makanan nanti makanan dia nggak dimakan. Jadi gitu lah cemburunya Aisyah ke Ummu Salamah."
"Hahaha. Ya Ampun..."
"Nah penyebab kenapa Aisyah ngelempar tepung ke mukanya Saudah itu karena dia habis bikin kue, di anterin ke Nabi. Nggak lama datang Saudah. Jadi Aisyah nawarin lah ke istri Nabi yang satu itu juga. Nah dia itu paham kue yang di bikin Aisyah keras dan nggak enak, jadi nolak gitu."
"Nolak? Hehe.... Terus-terus?" Debby semakin tertarik dengan cerita Rumi.
"Ya Aisyah maksa. Dia bilang gini. 'makan ayo makan, Rosul tadi juga makan, kata Rosul enak.' nyodorin lah. Tapi Saudah tetep nggak mau. Akhirnya Aisyah ngancem kalau dia nggak mau makan mau di lempari tepung. Saudah jawab dong. 'lepar aja, silahkan.' kata dia gitu. Ya udah akhirnya Aisyah ambil tepung ia lempari ke mukanya Saudah."
"Terus, apa Rosulullah Saw marah sama Aisyah?"
"Enggak, kamu tahu apa yang di lakukan Rosulullah Saw saat melihat itu. Saodah kan melirik tuh ke Baginda Nabi yang duduk di sebelah Aisyah, tapi Nabi Muhammad Saw malah kasih kode di diam-diam ke Saudah, pake gelengan kepala sekali. Maksudnya suruh dia ngebales gitu."
Debby tertawa lagi. "terus?"
"Ya... Karena sudah dapet restu akhirnya di ambil tuh segenggam tepung ia lemparkan lagi ke Aisyah. Dan melihat Saudah ngebales, Aisyah ngelirik ke Nabi karena beliau malah tertawa nonton dua Istrinya mukanya jadi putih semua kena tepung. Aisyah nggak tinggal diam, dia ngebales lagi, sama juga dengan Saudah. Akhirnya mereka saling lempar-lemparan tepung di hadapan Nabi Saw."
"Hahaha... Endingnya gimana?"
"Endingnya mereka stop karena mendengar suara Umar bin Khattab, berseru salam di luar pintu. Mereka berdua ngacir bareng-bareng tuh kedalam. Sementara Nabi semakin tertawa gara-gara kelakuan dua Istrinya tadi."
"Hahaha. Ya ampun, ada-ada saja."
Rumi tersenyum. Ia mencium pipi Debby. "Sudah, intinya wanita memang fitrahnya seperti itu. Tapi aku mau kamu lebih berusaha sabar dan lemah lembut lagi ya sayang."
"Iya." Membalas tatapan sang suami.
"Dek, sudah jam sebelas lebih. Kita tidur saja ya. Lanjut besok sayang."
"Nggak jadi nih minta jatah?" Ledek Debby.
"Emmm... Besok saja habis subuh. Biar nggak kesiangan, sayang." Mencium bibir Debby tiga kali lalu merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri memeluk tubuh itu sembari memejamkan matanya.
Debby yang masih terjaga menatap mata suaminya. Lalu membalas pelukan itu merasa bahagia, usel-usel sedikit di dada yang selalu sukses membuat Rumi terkekeh karena geli. Lalu keduanya kembali menyambung tidur mereka dengan hati yang tenang.
__ADS_1
Bersambung...