
Hari demi hari berganti, bahkan tahun pun berlalu.
waktu memang cepat sekali berputar, seolah seperti roda kendaraan yang membawa laju kita dari satu tempat ke tempat yang lain.
Mengayuh waktu hingga bertemu dengan masa depan, yang tidak pernah bisa kita duga kondisinya saat itu. Kita bahkan tidak pernah menyadarinya, jika sudah melewati masa itu, yang tadinya indah dan penuh dengan semangat, kini berubah menjadi kesedihan serta kepasrahan.
Seperti sekarang, dengan keadaan Rahma yang masih sama, setelah di vonis mengidap jantung koroner.
Sepertinya kondisi fisik Rahma menjadi semakin lemah, setiap harinya.
Ibu dua anak itu selalu saja dirundung kesedihan. Belum lagi rasa tidak bergunanya dia, ketika harus menjadi beban untuk suami dan anak-anak.
Kadang perasaan untuk secepatnya kembali kepada sang maha kuasa Seperti terus tercuat dalam hatinya.
Dan bahkan itu menjadi doanya yang paling sering dia ucapkan, terbebas dari ini semua dengan cara meninggalkan dunia ini.
Praaaaang....
Sebuah gelas jatuh dari meja sebelah ranjangnya. Rahma mendesah, pipinya basah karena tangan itu masih saja kaku hanya untuk menyentuh gelas saja.
Dia hanya ingin minum. Namun, sulitnya minta ampun. Sementara itu... Pintu kamar terbuka, dia langsung memasang senyum pada Rumi. Putra sulungnya itu.
"Umma?" Rumi berlari cepat masuk, menghampiri Umma nya yang duduk dengan posisi menyandar di ranjang. "Umma, maaf ya? Rumi habis sholat. Umma mau minum?" Tanya Rumi halus. Segera ia bereskan pecahan gelas itu.
"Iya, Umma mau minum. Umma pikir tangan ini sudah bisa memegang gelas. Ternyata belum." Terkekeh sesak.
"Umma, jangan terlalu di paksa. Bentar ya? Rumi ambil gelas baru." Anak itu mengecup pipi ibunya, dan berjalan keluar.
Dan saat Rumi sudah menghilang dari pandangannya, keluar dari kamar itu. Rahma kembali murung, entah sampai kapan dia seperti ini?
Yang pasti kondisinya benar-benar membuat jiwanya merasa tidak hidup lagi sekarang.
Selang beberapa menit kemudian, Rumi datang dengan gelas baru di tangan kirinya, dan sepiring puding di tangan kanannya. Di sana Rahma kembali menghela nafas, memancarkan ekspresi wajah biasa, tanpa kesedihan. Karena dia hanya menyembunyikan itu di hatinya.
"Umma, sekalian makan puding buatan Rumi ya." Rumi meletakkan puding itu di atas meja, lalu meraih botol air dan menuangkan isinya ke dalam gelas yang ia pegang.
"kamu buat puding?" Rahma terkesan.
"Iya, puding coklat. Walaupun kakak ini laki-laki, tapi kakak itu seperti Abi loh, padai buat hidangan." Membanggakan diri, hanya bercanda sih. Dia pun mendekatkan bibir gelas air mineral itu pada ibunya yang langsung menyambutnya, serta meminum isinya.
"Hmmm, jadi... Kepala chef di sini ada dua, ya?" Ucap Rahma setelah selesai minum.
"Hehehe iya dong, tapi lebih enak buatan Rumi... Cobain Umma. Ini pakai vla vanila juga."
"Pasti nggak manis deh."
"Sedikit kok. Tapi tetep enak." Rumi memotong sedikit dengan sendok puding lalu menyerahkannya kepada Rahma. "Enak kan?"
Rahma mengunyah pelan seraya tersenyum, lalu mengangguk.
__ADS_1
"Lagi Umma... Yang banyak biar seger."
"Iya... Kamu mau Umma tambah gemuk apa?"
"Maunya sehat sih..." Rumi mengecup pipi sang ibu, sementara Rahma hanya tersenyum.
"Mendekat sini. Umma juga mau cium."
"Haha, MashaAllah. Yang banyak Uma ciumnya." Rumi mendekatkan pipinya pada Rahma yang sedang terkekeh, dan langsung menyambut itu dengan kecupan kasih sayang sebanyak tiga kali.
"Anak Umma yang Soleh." Mata Rahma berkaca-kaca.
"Cepat sehat ya Umma. Jangan sakit."
"inshaAllah sayang."
Beberapa menit berlalu, Rahma sudah merasa kenyang dengan lima sendok puding dari suapan putra sulungnya itu.
Hingga mereka pun memutuskan untuk mengobrol. Yang entah apa sih... Intinya banyak hal, termasuk tentang wanita untuk Rumi.
Rumi pun bercerita, jika dia belum ada pikiran untuk menikah, dan ingin fokus merawat ibunya. Bahkan saat semenjak Rahma sakit, Rumi pun memutuskan untuk cuti kuliahnya.
Dia tidak ingin menyia-nyiakan sedikit waktu pun untuk ibunya itu.
Hingga perlahan tubuh wanita paruh baya itu, sudah mulai tenang dengan mata yang terpejam, Rahma tertidur. Sementara Rumi masih saja mengusap-usap kening ibunya, sembari bersolawat.
Rumi mengecup kening Rahma, "sehat ya Umma. Rumi sayang Umma." Rumi mengusap air matanya. Sungguh dia takut, jika sampai ibunya itu kenapa-kenapa.
🍂
🍂
🍂
Sore ini...
Rahma melamun, di bawah sinar senja yang sudah mulai menguning, di atas kursi rodanya. Sendirian, karena Ustadz Irsyad tengah mengambil sesuatu di dalam mobilnya.
Ya... senja itu, Ustadz membawa sang istri ke sebuah taman Harapan Indah Bekasi yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
Angin yang berhembus cukup kencang, menggugurkan beberapa daun kering dari pohonnya. Dan salah satunya jatuh di atas kepala Rahma yang tertutup kain hijab panjang berwarna hitam.
Perlahan tangannya terangkat, karena memang masih agak berat, akibat stroke yang ia derita.
Air mata itu menetes, di salah satu sudut matanya. Begitu tidak bergunakah? Sampai mengambil daun saja dia tidak bisa.
Sebuah tangan lembut meraih daun itu dan membuangnya. Sang suami sudah kembali dengan senyum hangat tersungging di bibirnya.
Ustadz Irsyad menekuk satu kakinya, berjongkok di hadapan Rahma. Beliau membuka penutup botol air mineral yang ia bawa lalu menyibak sedikit cadar Rahma.
__ADS_1
"Minum dulu ya Khumairah." Ucap sang suami. Namun alih-alih Rahma membuka mulutnya, bibir itu malah masih saja rapat. Rahma memalingkan wajahnya dari hadapan Ustadz Irsyad.
'ya Allah... Istri ku pasti sedih lagi.' batin Ustadz Irsyad, sudah paham dengan suasana hati Rahma yang sekarang jadi lebih sering berubah-ubah itu.
"Khumairah? Tadi katanya mau minum."
"Rahma tidak jadi haus." Jawabnya ketus.
"Kenapa?" Tanya Ustadz Irsyad lembut. Rahma hanya menoleh sekilas dengan mata yang berkaca-kaca, lalu kembali memalingkan wajahnya. Ustadz Irsyad meraih tangan Rahma yang berada di pangkuannya, setelah meletakkan botol air mineral itu sejenak di atas rumput. "Dek? Sedih lagi?"
"Nggak." Jawab Rahma singkat.
"Adek mau mas ngapain? Kasih tau mas ya?"
Rahma mendesah, dia melirik lagi wajah sang suami yang kini tersenyum kepadanya.
"Mas, Rahma?" Ucapan itu tertahan ketika keduanya mendengar ucapan salam dari seorang wanita bercadar yang mendekati mereka.
"MashaAllah, Ustadz...? Bu..." Wanita itu menyapa keduanya.
"Walaikumsalam, Bilal? Isti?" Irsyad tersenyum pada keduanya, menjabat tangan Bilal lalu menelungkup kan kedua tangannya di depan dada pada Nur Istiqomah.
"Bu, bagaimana keadaannya?" suara wanita dari balik cadar itu dengan lembut. Sembari menyentuh tangan Rahma.
"Baik... Alhamdulillah." Jawab Rahma, dengan ramah.
"Syukur Alhamdulillah." Jawab Isti tersenyum ramah.
"Kalian dari mana?" Tanya Ustadz Irsyad. Tidak menyangka saja dua orang itu ada di taman ini.
"Habis berkunjung ke rumah kerabat, mendiang Abi. Tapi Ummi minta mampir ke sini. Eh ketemu pak ustadz Irsyad." Jawab Bilal.
"MashaAllah...." Ustadz Irshad mulai asik mengobrol dengan Isti dan Bilal. Sementara Rahma, dia sendiri sibuk mengamati tubuh wanita yang berdiri di hadapannya itu.
Tatapan mata wanita itu seolah terlihat, tengah memandang sang suami dengan kagum.
Ia kembali mengamati tubuh itu dari atas sampai bawah. Walaupun rapat, tapi sepertinya dia masih sangat cantik. Matanya saja belum nampak sedikit pun kerutan, kulitnya putih dan bersih, satu lagi tubuhnya yang masih langsing terlihat sempurna.
Rahma pun menunduk, mengangkat ke-dua tangannya pelan, mengamati itu dengan rasa sedih, belum lagi dengan kursi roda yang ia pakai. Sungguh, apa yang kini ada dirinya, sangatlah tidak menarik.
Dan dia merasa kalah dengan wanita dihadapannya itu.
Saat ini sungguh teringin rasanya dia menangis dan kabur dari sana. Namun tidak bisa, jadi mau tidak mau, dia harus tertahan mendengarkan sang suami yang tengah mengobrol dengan dua orang itu. Lebih-lebih sekarang, Isti tengah berbicara, ia meminta Ustadz Irsyad untuk mengisi kajian setiap akhir bulan di majelisnya.
Dan sepertinya sang suami menyanggupi, terlihat dari ucapannya yang selalu bilang 'inshaAllah di usahakan.'
Rahma yang di sana pun hanya diam saja. Soalnya... Dia merasa seperti seonggok batu yang tak terlihat di antara tiga orang itu.
Bersambung...
__ADS_1