Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
turunnya iman


__ADS_3

Beralih ke Jakarta...


Debby menghela nafas, merasakan sepi karena tidak ada yang bisa ia tunggu seperti biasanya ketika Rumi sedang keluar kota.


Ia pun merebahkan sejenak tubuhnya, sembari bermain ponsel melihat-lihat postingan orang di reelsnya.


Merasa asik dengan beberapa video menarik yang ia tonton, hingga sayup-sayup terdengar suara adzan Isya. Debby masih belum mau beranjak dari posisi tidurnya. Entah mengapa akhir-akhir ini seolah imannya tengah turun. Ia jadi lebih sering menunda ibadah. Apa lagi jika Rumi sedang tidak ada di rumah, seperti tidak ada yang menegur membuatnya lebih ngaret lagi untuk beribadah tepat waktu.


Suara adzan perlahan mulai berkurang, berganti kidung puji-pujian sembari menanti imam mereka, lantas Iqamah pun terdengar dari satu masjid ke masjid yang lainnya. Hingga sunyi pun kembali datang, menemani waktu istirahat para umat manusia di bumi. Sama halnya dengan Debby, yang malah justru ketiduran dengan ponsel masih menyala, ketika ia memutuskan untuk membuka aplikasi Video berwarna merah.


Video masih di putar sampai habis lantas berganti video lainnya, karena ia menggunakan mode lanjut otomatis. Bahkan sampai hampir dua jam dalam posisi seperti itu.


Riiiiiiing....


Suara panggilan membuat Debby terkesiap, ia menoleh kearah ponsel yang menyala.


Ada panggilan masuk dari Rumi.


"Astagfirullah al'azim, aku ketiduran." Segera Debby menerima panggilan itu. "Assalamualaikum, kak?"


"Walaikumsalam warahmatullah. Kamu sedang apa? Tidur ya? Suara mu terdengar serak."


"Iya," menguap sejenak, "aku ketiduran. Aku bahkan belum sholat isya."


"Astagfirullah, kamu kecapean ya hari ini? Sekarang sholat dulu sana, nanti telfon aku balik kalau sudah selesai."


"Emmm." jawab Debby lirih, dengan Mata masih terpejam, karena mengantuk.


"Dek?"


"Iya?"


"Bangun sayang. Sholat dulu, nanti tidur lagi."


"Bentar kak. Tubuh ku masih berat," rengek Debby membuat yang di sana menunda mematikan panggilannya, dan menunggu beberapa menit.


"Sudah kan?" Tanya Rumi, namun yang di seberang diam saja. "Adek...?"


"Iya... Iya..."


"Kamu jangan tiduran terus. Bangun, dan duduk dulu."


"Iya ini udah duduk." Debby beranjak duduk.


"Ya udah baca istighfar tiga kali, lalu usap mata mu itu." Titah Rumi yang langsung lakukan oleh Debby. "Bangun, ambil air wudhu, habis itu ilang ngantuk-nya, pasti."


"Iya... Ya sudah ku matikan telefonnya ya?"


"Janji jangan tidur lagi ya. Sekitar tiga puluh menit-an. Aku telfon lagi loh."


"Iya. Ya sudah assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah."


Panggilan telepon terputus, Debby beranjak dengan tubuh sedikit sempoyongan.


Berjalan menuju tandas, untuk mengambil air wudhu sebelum menjalankan ibadah shalat.

__ADS_1


–––


Beberapa menit kemudian,


setelah selesai empat rakaat itu di jalankan. Debby terdiam, ia menyandarkan kepalanya ke samping ranjang. Rasa kantuk masih saja merasuki, membuat dia enggan untuk berzikir serta membaca surat Al Mulk pada malam ini.


"Ternyata, mempertahankan keta'atan itu lelah. Dulu kalau ngantuk, tinggal tidur saja. Kalau sekarang seperti ada hutang," gumam Debby sembari menguap, ia pun menghela nafas setelahnya dan istighfar. Lalu melepaskan mukenanya, melipat, dan beranjak dari alas sujud itu.


Debby yang niatnya hendak tidur lagi pun urung. Akibat rasa haus yang ia rasakan membuat dia memutuskan untuk keluar, sembari menengok Abi Irsyad.


Di dapur...


Debby mendengar suara sendok dan garpu, sepertinya Abi Irsyad sedang makan.


Ia pun melangkah masuk seraya mengucapkan salam pada ayah mertuanya, yang langsung di jawab oleh ustadz Irsyad.


"Walaikumsalam... Makan Nduk? Sudah makan, belum?" tanya Abi Irsyad menawarkan.


"Silahkan Bi, Debby belum lapar." Debby menjawab dengan sopan sembari berjalan menuju kulkas.


"Kenapa? Nunggu Rumi ya? Rumi belum pulang, kah?"


Debby mengeluarkan sebotol air dingin lalu membawanya ke meja makan. Ia pun duduk di depan Abi Irsyad.


"Kak Rumi, nggak pulang hari ini."


"Oh, tumben? Mungkinkah dia ada pekerjaan tambahan?"


"Katanya iya. Besok harus meeting jadi nggak bisa pulang deh," jawab Debby, lantas meminum air yang sudah ia tuang ke dalam gelas.


"MashaAllah, masakan mu membuat Abi tambah gendut ini." puji ustadz Irsyad, membuat Debby terkekeh senang.


"Masa sih, Bi?"


"Iya... Kamu memang bakat masak ya?"


"Debby suka masak sih sebenarnya. Cuman, kadang tuh nggak di bolehin Mama."


"Tapi di sini malah jadi masak terus ya?"


"Nggak gitu kok Bi, Debby suka. Beneran."


"MashaAllah... Ya sudah kamu makan juga Nduk."


"Nanti saja Bi, belum lapar."


"Oh... Ya sudah." Ustadz Irsyad beranjak sembari membawa piring dan gelasnya.


"Abi, biar Debby saja yang cuci piringnya."


"Nggak usah, Abi saja. Orang ini cuma satu piring, satu sendok, sama gelas kok. Bisa Abi cuci sendiri." Tutur beliau sembari terkekeh renyah, dimana ia langsung menyalakan keran air setelah sampai di wastafel.


Debby terdiam melihat Abi Irsyad, ingin rasanya ia lebih dekat dengan ayah mertuanya itu, agar tidak merasakan kesepian. Namun mau bagaimana pun juga, hubungan antara menantu wanita dengan mertua laki-laki? Di mana-mana pasti akan merasa lebih canggung. Sama halnya Debora, tawa Abi Irsyad tidak seceria dulu. Bahkan candaan Abi seperti yang dulu terhadap Umma Rahma sudah tidak nampak lagi.


"Abi, Debby boleh curhat masalah agama tidak?" Tanya dia ketika mengingat suatu masalahnya. Abi Irsyad menoleh setelah meletakkan piringnya di rak.


"MashaAllah, jelas boleh Nduk. Apa yang ingin kamu tanyakan? inshaAllah kalau Abi bisa jawab, pasti Abi jawab." Ustadz Irsyad kembali duduk.

__ADS_1


"Masalah iman, sepertinya iman Debby lemah sekali. Dan lagi, maaf Bi." Debby agak sedikit takut untuk mengutarakannya.


"Katakan saja."


"Tapi, Debby jangan di marahin ya. Dan jangan pula, Abi jadi meragukan Debby."


"Hahaha... inshaAllah enggak. Coba katakan sama Abi, apa yang mengganjal di hati mu."


"Masalah keta'atan, yang kadang membuat ku lelah. Maaf Bi, demi Allah maaf."


"MashaAllah, tidak apa-apa. Itu pertanyaan bagus." Kata ustadz Irsyad, Debby pun tersenyum lega. "Beginilah dunia, yang memang tempatnya lelah. Kamu mau ibadah banyak, atau nggak banyak? Lelah. Mau nggak ibadah? Lelah, mau yang bisanya cuma tidur doang? Juga lelah. Intinya rasa lelah itu memang sifatnya dunia. Tapi dari lelah itu, kita bisa memilih. Mana lelah yang bermanfaat, mana lelah yang menjadi sia-sia." Abi Irsyad menuturkan dengan bahasa yang lembut.


"Tapi, Debby jadi takut. Takutnya rasa lelahnya malah berkelanjutan. Tapi Debby nggak ada pikiran untuk pindah lagi ke Katolik kok. Wallahi."


Abi Irsyad terkekeh. "Iya Nduk, Abi percaya. Kamu kan wanita Solehah. Lagi pula iman manusia itu sejatinya memang lemah, nggak ada yang bisa terus-terusan naik. Kecuali imannya para Rosul, dan Nabi. Makanya perbanyak istighfar. Kurangi kegiatan yang tidak berfaedah, datangi kajian, atau mungkin mendengarkan kajian di internet. Agar iman kita bisa terus terisi."


"Tapi?" gumam Debby, merasa tiba-tiba sedih.


"Semangat lah dalam ketaatan. Lantas terus berjuang untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Pesan Rosulullah Saw kepada para umatnya yaitu? 'ketika hijrah mu amat sulit, maka ingatlah aku yang akan kalian temui di telaga Kautsar.'


Jadikan itu penyemangat, karena yang kita perangi selain godaan setan adalah rasa malas kita sebagai manusia biasa. Ada kalanya kita bisa mengontrol diri, atau mungkin sebaliknya kalah dengan rasa malas untuk tetap beribadah. Rosulullah selalu menyemangati kita untuk terus beriman kepada Allah. Jangan pernah kalah sama yang namanya malas, dunia itu hanya sebentar, hanya berjarak dengan kematian. Setelah itu, tibalah kita pada pengadilan Allah, lalu Rosulullah pun berjanji akan menunggu kita di telaga Kautsar. Di mana Nabi Muhammad Saw akan memberikan kita minum dari telaga itu, di panasnya padang Masyar."


Debby menunduk, ia merasa malu pada Abinya. Dia belum lama menjadi seorang muslim namun sudah merasa condong lagi ke belakang.


"Debby malu sama Abi."


"Loh kok malu?"


"Sepertinya, Abi salah menerima Debby sebagai menantu. Keluarga ini sangat kental dengan agama, sementara Debby malah makin kesini semakin menurun imannya. Tidak seperti Abi, kak Rumi, dan Nuha yang sepertinya nggak pernah merasakan turunnya iman." Mata Debby berkaca-kaca.


Sebaliknya, Abi Irsyad yang mendengar itu malah justru terkekeh.


"Kata siapa nggak pernah? Tentu pernah nduk. Cuman, kita berusaha untuk tetap mencari cara agar iman itu tidak merosot lebih ke bawah."


"Begitu ya? Padahal Debby punya kak Rumi. Tapi tetap saja, susahnya untuk mempertahankan keimanan itu terasa sekali." gumamnya.


"Itu manusiawi, namanya juga masih belajar, kita semua masih belajar, jadi masih bisa di maklumi. Atau mungkin juga? Ruminya kurang memberikan mu kajian ya?"


Debby mengangkat kepalanya, lalu mengangguk.


"Ya Allah, maafkan Dia ya. Semoga kedepannya, Rumi bisa membagi waktu lebih baik lagi, antara kewajiban mencari nafkah dan kewajiban memberi pendidikan kepadamu."


Debby tersenyum. "Aamiin, Bi."


"Eh iya... Besok ada acara tidak?"


"Tidak ada Bi."


"Baguslah, ikut Abi ke pengajian, mau? Besok Abi ada tabligh di salah satu masjid."


"Wah... mau Bi, mau sekali." jawab Debby bersemangat.


"Alhamdulillah, besok jam sepuluh ya. Sekarang istirahat lah."


"Iya Bi. Debby ke kamar dulu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Ustadz Irsyad tersenyum pada menantunya itu, lantas beranjak kemudian.

__ADS_1


__ADS_2