Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
guncangan Hati Rumi


__ADS_3

Setelah selesai berbicara di luar dengan sang istri, Rumi melihat pak Kyai amat asik berbincang dengan Jimmy.


Pria yang pawakannya mungkin lebih pendek lima sentimeter dari Rumi, namun lebih sedikit banyak berargumen ketimbang Rumi yang lebih banyak menjawab ketimbang bertanya pada lawan bicaranya.


Terdengar pula kekehan pak kyai saat menanggapi Jimmy yang sedang bercerita.


"Itulah kenapa saya jadi belum menikah." Kata Jimmy, saat Rumi sudah duduk di sebelahnya.


"Semoga bisa dapat penggantinya ya. Hebat kamu mah. Bisa bertahan sendirian, dan lebih mempertahankan berhijrahnya."


"Tapi tetap saja, iman saya naik-turun pak Kyai."


"Loh, namanya juga manusia. Wajar kalau imannya naik turun. Pernah dengar kisah sahabat Nabi yang merasa sedih ketika ia menganggap dirinya sendiri munafik? Karena merasa ketika sedang dekat dengan Rosulullah Saw, iman mereka naik. Namun ketika sedang jauh, imannya turun. Dan apa jawaban Nabi Muhammad Saw? – jika iman kalian bisa naik terus tidak pernah turun, maka kalian akan dapat berjabat tangan dengan malaikat.– tidak ada manusia yang imannya naik terus. Pasti bakal turun, atau paling tidak stabil, itupun kadang ada masanya turun walaupun tahapannya tidak begitu kebawah. Hal lumrah itu." Tutur pak Kyai.


"Iya sih... Berharap bisa menjadi lebih baik lagi. Seperti beliau ini." Jimmy menunjuk Rumi dengan ibu jarinya ke samping.


"Saya juga imannya nggak stabil Jim."


"Tapi mending, dari pada saya."


"Sawang sinawang itu mah kalau kata Abi saya. Apa yang kamu lihat, tidak seperti apa yang saya rasakan. Tidak jauh berbeda, cuma berusaha saja menstabilkan."


"Nah itu, mudah-mudahan saya bisa seperti itu."


"Aamiin..." Jawab Rumi dan pak kyai hampir bersamaan. Pak kyai melihat Meida memberikan kode bahwa makanan telah siap.


"Yuk lah masuk... Kita makan sama-sama." Ajak pak kyai sembari beranjak, mempersilahkan Rumi dan Jimmy. Mereka pula berdiri lalu mengikuti langkah kaki Kyai tersebut.


***


Di Jakarta...


Rumi baru saja tiba. Ia langsung mematikan mesin motornya dan mengucap Hamdallah. Rasa lelah akibat berkendara membuatnya sedikit melakukan perenggangan di atas motornya, setelah itu turun. Sembari melepaskan sarung tangannya ia beberapa kali menghembuskan nafas menghalau rasa cape yang mendera.


Tok... Tok... Rumi mengetuk pintu rumah. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat.


Ia bahkan sesekali memijat-mijat tengkuknya yang pegal.


"Ya Allah... Rasanya semakin kesini semakin nggak kuat bolak-balik Bandung." Gumam Rumi sembari sesekali mengetuk pintu tersebut.


Hingga tak lama suara kunci pintu terdengar.

__ADS_1


Dan di lihat Abi Irsyad dengan mata yang sedikit menyipit karena baru bangun.


"Assalamualaikum, Abi."


"Walaikumsalam warahmatullah. Kamu baru pulang?"


"Iya," jawab Rumi setelah mengecup punggung tangan Abinya. Tangan Abi Irsyad mengusap lembut bahu Rumi.


"Kamu kalau ke Bandung menginap saja. Abi tidak tega melihat kamu seperti ini."


"Kalau nginap kasian Debby, Bi."


"Kalau nggak ya ajak istri mu."


"Nggak perlu lah Bi, Rumi masih sanggup. Lagian pekerjaan Rumi nggak banyak di kantor. Kalaupun di bawa tetap besok pulang lagi. Malah yang ada Debby-nya kecapaian," jawab Rumi. Keduanya berjalan pelan bersama setelah Abi Irsyad mengunci pintu utama. Dan berhenti di depan tangga.


"Ya sudah kalau begitu, istirahat sana."


"Iya Bi. Abi juga," jawab Rumi sembari melenggang pergi. Sementara Abi Irsyad kembali ke kamar beliau.


–––


"Loh, belum tidur?" Tanya Rumi yang kini berjalan mendekati lalu duduk di sebelah Debby. Tidak ada jawaban dari Debby yang hanya memalingkan wajahnya saja. "Zaujatti–"


"Siapa?"


"Apanya?" Tanya Rumi bingung.


"Ck..."


"Ya Allah... Masih ingat mimpi tadi?"


"Rasanya nyata sekali. Aku kan sedih." Debby memeluk tubuh Rumi.


"Ya ampun, kan aku bilang jangan di pikirin. Yang ada malah mengusik jiwa mu sendiri."


Debby mengusap air matanya. "Nggak mau kak Rumi, aku benar-benar nggak mau kak Rumi menikah lagi."


"Kamu tuh abis baca apa? Atau mungkin habis nonton apa?"


"Film adaptasi buku novel sih, tentang suami yang diam-diam menikah lagi karena mau menolong seorang wanita yang hendak bunuh diri karena hamil di luar nikah."

__ADS_1


"Astagfirullah... Pantesan mimpi mu aneh."


"Ya tapi kan, bisa saja itu pertanda."


Rumi menggaruk keningnya dengan jari telunjuk. "Ya udah... Jangan di pikiran."


"Kak? Di Bandung, ada cewek cantik nggak sih?"


"Banyak lah... Kamu nanyanya gitu." Rumi terkekeh saat Debby mendorong tubuhnya, lalu meraih tubuh Debby lagi, memeluknya.


"Serius aku nanya."


"Ya aku jawabnya juga serius. Cewek cantik itu banyak. Cuman aku ingat aku punya istri, yaitu kamu." Rumi menjawab dengan rasa tidak nyaman, pasalnya ia selalu saja merasakan berdebar-debar saat melihat Meida. Namun ia tidak berani bercerita, cukup ia pendam saja dalam hati.


"Beneran ya, selalu ingat aku di saat kamu ada rasa sama wanita lain?"


"Astagfirullah... iya sayang."


Debby merasa sedikit lega, ia melepaskan pelukan Rumi. Lalu melepaskan tas yang masih di gendong suaminya.


"Mandi dulu sana.... Nanti langsung istirahat."


Rumi mengecup pipi Debby. Lalu beranjak dari ranjang tersebut dan berjalan menuju tandas untuk mandi.


Sehabis mandi, ia pun tidur di sebelah sang istri yang sudah terlelap lebih dulu.


Dalam posisi terlentang-nya ia menatap langit-langit. Pikirannya masih kosong namun tiba-tiba teringat senyum bulan sabit wanita itu, yang menyapa beberapa orang di sisi dekat masjid, serta beralih pada sapaannya tadi sehabis memberikan suguhan. Ia pun kembali menyentuh dadanya, debaran di dada benar-benar terasa bahkan sampai menimbulkan zulzilu* dalam sanubarinya.


*(ujian zilzal yang bisa di bilang guncangan di hati. Ujian ini membuat goyah hati seseorang.)


Memang, beberapakali ia sering mendatangi konter milik Meida jika sedang di sana. Seolah seperti magnet yang menariknya untuk tetap datang, rasa ingin bertemu setiap kali di Bandung lah yang membuat dia tidak pernah melewatkan kesempatan sekalipun. Apapun alasannya, seperti siang tadi sehabis Dzuhur. Dia pun menyempatkan mampir ke konter milik gadis itu sebelum makan siang, guna membeli paket data. Walaupun hanya sejenak, tapi dia senang bisa melihat gadis itu.


Padahal jika di lihat paket data Rumi masih banyak, tiga hari yang lalu pun baru saja ia isi di konter Meida juga.


Rumi mengusap wajahnya, ia beristighfar.


Sudah cukup membayangkan wajah itu, hal yang seharusnya tidak boleh ia resapi, walaupun tidak ada niat di hatinya untuk mengingat Meida. Hingga akhirnya Rumi menoleh ke arah Debby, ia menciumi sang istri berkali-kali dan membuat Debby terjaga.


"Apa? Aku ngantuk." Rengek Debby dengan mata yang masih terpejam, namun ia pasrah saja ketika cumbuan demi cumbuan terus saja terhujani padanya.


"Sebentar, Dek... Beberapa menit saja." Tutur Rumi, yang memilih untuk mengajak Debby berjima, demi menghalau zulzilu yang semakin membuatnya tidak bisa melepaskan bayang-bayang Meida.

__ADS_1


__ADS_2