
Memulai hidup baru yang sangat indah. Itulah yang di rasakan Debby saat ini. Memang benar, hidup tak selamanya senang namun tak selamanya susah. Ada luka pasti akan ada obatnya juga, ada kesedihan tapi ada juga kebahagiaan yang harus ia syukuri.
Seperti dirinya yang merasa bersyukur ketika menikah dengan Rumi. Apapun kata orang, karena yang menjalani adalah kita bukan orang itu. Jadi fokus lah menata hidup menjadi lebih baik lagi.
Saat ini, mereka sedang berada di dalam mobil, melakukan perjalanan yang tak begitu jauh. Menuju rumah Rumi setelah berpamitan dengan Tante Maryam sebelum beliau pergi mengunjungi acara seminar di daerah Senayan.
Jari-jarinya bekerja mengetik sesuatu di aplikasi chatting berwarna hijau.
Ia mengucapkan selamat siang, serta bertanya kabar pada tiga orang yang ia sayangi di Bandung
Iya... Papah, mamah, dan kak Gallen. Hal itu rutin Debby lakukan, demi tetap menjaga kepercayaan bahwa dia tidak akan pernah melupakan mereka, dengan cara mengirim pesan menyematkan doa agar mereka tetap di berkati Tuhan. Walaupun sudah puluhan pesan yang ia kirim selama beberapa bulan ini tak pernah ada satupun yang di balas, bahkan dua centang abu-abu itu pun belum ada yang berubah biru satupun.
Entahlah, mungkin pesannya akan langsung di hapus. Debby kembali tersenyum, tidak apa pikirnya. Yang penting dia masih memberikan kode, bahwa ia masih mencintai keluarganya itu.
–––
Sampailah Keduanya di pelataran rumah yang tertata sangat rapi. Iya... Rumah ustadz Irsyad.
Rumi membuka pintu mobilnya, dimana Umma Rahma dan Abi Irsyad sedang duduk di gazebo itu. Menyambut kedatangan sepasang pengantin baru, yang baru saja tiba. Adat Rahma memang seperti itu, ketika tahu anaknya akan datang pasti ia akan menyambut dengan suka cita di luar rumah.
"Assalamualaikum," sapa Debby dan Rumi. Tangan mereka masih saling bertaut berjalan mendekati Abi dan Umma.
Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Abi Irsyad, dan Rahma. Bersalaman lalu memeluk tubuh Rumi, sementara Rahma juga melakukan hal yang sama pada Debby.
"Cantik... Yang di tunggu akhirnya datang juga." Ucap Umma Rahma.
"Benarkah Umma sudah menunggu, Debby?" Bersemangat.
"Iya dong, kamu sudah makan siang?"
"Belum, Umma... Tadi kata kak Rumi masakan Umma Rahma enak, jadi kita makan di rumah saja."
__ADS_1
"Oh ya...? Rumi pintar berbual ya sekarang... padahal dia mau irit itu." Jawab Rahma. mereka pun tertawa mendengar ucapan Rahma. "tapi Umma pernah dengar kamu suka sayur lodeh kan? Jadi hari ini Umma sengaja masak sayur lodeh sama Abi loh. Banyakan Umma sih yang masak, Abi cuma crewetin doang." Tutur Rahma mengundang gelak tawa lagi.
"Bohong sekali sih." Ustadz Irsyad menanggapi.
"Ah... Umma, kok baik banget sih? Repot-repot deh. Debby mau langsung makan langsung ya, pengen cicipin masakan Umma."
"Wah... Wah... Yuk lah langsung masuk. Kita makan sama-sama." Umma Rahma beranjak dari posisinya, dengan di bantu Debby yang langsung memegangi lengan Rahma. Keduanya berjalan perlahan dengan perbincangan basa basi mereka, dimana Debby yang lebih banyak menanggapi dengan nada cerianya itu.
Ustadz Irsyad dan Rumi yang masih di sana pun saling tatap, lalu ke-duanya tersenyum.
"Mudah-mudahan bisa terus seperti ini." Ucap Abi Irsyad, penuh harap.
"Aamiin Bi." Jawab Rumi, dengan tangan masih menjinjing koper milik Debby.
"Ya sudah yuk masuk. Kita makan siang sama-sama." Ajak beliau, yang di iyakan oleh Rumi.
–––
Umma Rahma sudah sibuk meletakkan nasi ke piring mereka.
"Umma, ini banyak sekali." Ucap Debby.
"Nggak papa, kamu itu terlalu kecil jadi harus di isi lebih banyak."
"Ini langsing Umma," Debby menimpali.
"Jangan terlalu langsing. Biar Umma ada temannya." Terkekeh.
"Oh begitu ya?" Jawab Debby. Dua laki-laki di meja makan itu hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum. Mendengar setiap celotehan mereka yang tiada henti. Debby dan Rahma sama-sama suka berbicara, Sehingga meja makan itu terlihat lebih ramai saja. Belum lagi dengan tawa renyah Debby dan Rahma. Jadi tidak kebayang jika Nuha juga ada di sana, soalnya Debby lumayan memiliki sikap seperti Nuha yang ceria. Atau mungkin lebih dari pada Nuha.
"Debby disini yang betah ya... Soalnya Umma sedikit rewel orangnya." Ucap Rahma, setelah mereka selesai menyantap hidangan itu.
__ADS_1
"Debby juga rewel, Debby juga ngambekan. Tapi nggak lama kok Umma. Cepet sembuhnya mah..." Terkekeh.
"Gimana masakan Umma?" Tanya Rahma lagi
"Enak sekali. Debby mau belajar ya Umma. Debby belum bisa masak."
"Tenang-tenang chef-nya kan ada dua." Umma Rahma mengarahkan pandangannya pada dua pria yang hanya menjadi pendengar mereka. Ustadz Irsyad menghela nafas, Sementara Rumi hanya terkekeh tanpa suara.
"Oh... Jadi kita kerjanya apa Umma?"
"Kita santai saja." Tertawa.
"Tapi Abi yakin sih, Debby nggak ngeyel kaya Umma kalo di ajarin." Tutur ustadz Irsyad.
"Memang Umma ngeyel ya?"
"Banget. Buktinya tadi sayur lodeh mau Umma kasih asam Jawa. Mentang-mentang ada asam Jawa."
"Kan bahannya kaya sayur asam. Umma itu lupa tadi bi." Terkekeh.
"Nah ketahuan kan, nduk? Siapa yang masak? Umma apa Abi?" Tutur Ustadz Irsyad. Debby dan Rumi pun tertawa.
"Kalian berdua hebat kok." Jawab Debby, yang langsung membuat senyum mereka semakin melebar.
Awalan yang baik, Debby pun sepertinya merasa senang. Ia berharap akan betah, walaupun kata orang hidup bersama mertua pasti akan ada cekcok sedikit. Namanya juga manusia kan? Namun ia tetap berusaha untuk tidak seapa-apanya di masukan kehati. Menurutnya, keluarga Rumi lumayan asik, sehingga membuatnya merasa nyaman, tidak canggung seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
Rumi meraih tangan Debby, menggenggamnya di bawah meja. Intinya dia senang, istrinya bisa beradaptasi di sana. Dan berharap semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Hanya tinggal dirinya, berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan orang tua dari Debby di Bandung. Serta mempererat lagi hubungan antara keluarganya dan keluarga Debby.
Walaupun pasti akan banyak rintangan, namun ia sudah siap. Se-siap dirinya saat meminang gadis itu.
Bersambung...
__ADS_1