
Sudah lewat sepuluh bulan dari hari di mana Abi Irsyad menemui mereka di Bandung.
Kala itu bayi merah Alzah masih banyak memejamkan matanya. Namun berbeda dengan saat ini, anak itu sudah nampak lebih gembul dengan tubuh yang lumayan gemuk.
Kini mereka sudah tidak lagi tinggal di rumah orang tua Debby, terhitung sudah berjalan lima bulan ia bekerja di Jakarta karena kepercayaan Tuan Felix dan juga Justin untuk memegang devisi di cabang baru mereka, yang berada di daerah Rawamangun. Membuat Rumi merasa lebih senang, bagaimana pun juga mereka jadi bisa kembali menempati Rumah Abi Irsyad. Walaupun suasananya berubah, Karena tidak ada Abi, rumah jadi lebih hening.
Itu yang selalu ada di benak Rumi. Namun, masih lebih baik. Ketika ia masih bisa melakukan panggilan video hampir setiap harinya menghalau rindu yang masih saja menguasai jiwa.
Debby dengan rambut sebatas bahunya keluar dari kamar, menangkap sang suami yang tengah memangku Alzah yang masih berusia sepuluh bulan, di sofa dekat tangga. Dengan laptop yang masih terbuka ia baru saja selesai melakukan panggilan video dengan Abinya di sebrang.
Ia melangkah mendekati dan duduk di sebelah pria yang masih fokus pada layar ponsel di tangannya. Meraih balita aktif yang sudah merentangkan kedua tangan sembari merengek minta di gendong oleh sang ibu.
"Alzah, habis telfon Kakek ya?" Mencium pipi tembem Alzah, dengan gemas. Sementara Rumi hanya tersenyum, ia mengusap kepala sang anak lembut.
"Tadi anak ini banyak mengoceh nggak jelas, Abi jadi rindu katanya," ujar Rumi, seraya terkekeh.
"Ya Allah... Ngomong-ngomong sudah lama tidak ketemu kakek ya, Dek?" Debby menimpali, tatkala mendengar ocehan Alzah yang membuat keduanya tertawa, sebab ocehan itu seperti sebuah jawaban dari pertanyaan sang ibu.
"Iya? Kakek juga semakin sibuk, jadi belum sempat ke-Jakarta lagi." Rumi menyematkan rambut sang istri ke kedua telinganya, lalu membelai rambut kepala Debby lembut.
"Kalau begitu kita saja yang kesana? Aku belum pernah ke Magelang." Wanita berparas cantik dengan tubuh mungilnya mengulas senyum penuh semangat.
"Oh iya... kamu belum pernah kesana ya?"
"Iya... aku penasaran. Pasti tempatnya sejuk dan indah. Seperti di Bandung nggak?"
"Tempat tinggal Abi termasuk dataran tinggi. Jadi lebih sejuk dan asri."
"Seperti puncak Bogor?"
"Hampir, kurang lebihnya Dek."
"Huhu... Waaaah– Kapan Abi ajak kita berdua kerumah Kakek, nih?" Tanya Debby sembari menggerakkan kedua tangan gempal Alzah.
"Pengen sih secepatnya. Tapi– Abinya juga belum ada libur. Ke Magelang kalau cuma menginap satu malam kasian Adek Alzah juga," jawab Rumi.
__ADS_1
Debby pun manggut-manggut, anak dalam dekapannya mulai banyak tingkah, berguling-guling bahkan hampir menurunkan tubuhnya ke bawah. "Ya ampun, Adek nanti jatuh." Debby membenarkan posisi sang anak. Di lihat sang anak sudah menyentuh bagian dada ibunya. Karena ini sudah masuk waktunya menyusu, terlihat sedikit anak itu mulai merengek.
"Haus sepertinya." Rumi mengecup kepala sang anak.
"Iya, aku susui dulu ya."
"Iya, Dek. Aku juga mau selesaikan pekerjaan ku. Nanti aku menyusul ke kamar, gantian sama Alzah." Rumi senyum-senyum menangkap tatapan wajah yang tengah tersenyum sipu padanya.
"Apaan sih... Gantian? Bahasanya ya Allah–"
"Loh benar kan? Gantian aku yang di manjain. Memang kamu mikir gantian yang mana?" Rumi mencolek dagu sang istri. "Sudah ada semingguan loh ini, belum dapat." Rumi menaik-turunkan alisnya, menggoda.
"Ya Allah–" Debby melirik ngeri, namun terkekeh kemudian. Sang anak sudah merengek tidak sabaran sehingga membuat Debby membuka resleting di bagian dadanya.
"Hahaha... Kenapa? Alzah akhir-akhir ini bobonya malam, sih? Abinya jadi ngalah terus." Ledek Rumi yang semakin membuat Debby tergelak, ia sudah mengeluarkan salah satu dadanya yang kini tengah di hisap sang anak.
"Abi? Ngomong apa sih?" Kedua pipi Debby kini memerah, tertawa malu-malu.
"Hehehe..." Rumi mencium pipi Debby gemas. Lalu membantu meluruskan kaki istrinya, dan meletakkan bantal di bagian punggung agar lebih nyaman saat menyusui anak mereka di sofa. Sementara Rumi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Perlahan, di raihnya tubuh sang anak di dalam dekapan Debora. Hingga sedikit terkesiap membuat Debby membuka matanya. Rumi kini tengah berjalan ke kamar yang terbuka, memasukkan Alzah ke dalam ranjang bayi mereka. Setelah itu menemui istrinya lagi yang masih seperti orang bingung karena baru saja terjaga dari tidur singkatnya.
Rumi menopang kepalanya, duduk menghadap Debby dengan senyum merekah di bibirnya. Wanita itu menguap sejenak sebelum terkekeh kemudian. Ia menutupi mata sang suami dengan tangan satunya.
"Apa sih, ngeliatin seperti itu."
"Ayo–"
"Ayo apa?"
"Hemmm..." Rumi menurunkan kepalanya, memeluk lingkar pinggang sang istri uyel-uyel di sana.
"Ya ampun, Kak Rumi geli. Kaya kucing gemesin, kamunya kalau kaya gini." Debby mengusap rambut di kepala suaminya.
Rumi mendongak dengan rambut yang sudah sedikit acak-acakan hingga menutup sebagian matanya.
__ADS_1
"Ayo, Dek." ajaknya lagi.
"Kemana?" Debby terkekeh.
"Ke surganya aku. Yuk... Yuk... Ku gendong nih."
"Jangan, aku jalan sendiri saja." Debby menepis tangan Rumi yang hendak membopong tubuhnya.
"Kenapa nggak pernah mau di gendong?" Mendekap lagi tubuh mungil Debby.
Debby tersenyum, menyentuh pipi suaminya. "Alasan pasti, takut jatuh."
"Meremehkan ya? Kamu pikir aku nggak kuat?"
"Bukan meremehkan, jaga-jaga."
"Emmm..." Rumi tak menjawab lagi, ia langsung saja mengangkat tubuh sang istri, membuat Debby sedikit berteriak namun segera menahannya. Ia melingkari leher Rumi sembari sama-sama tertawa. "Kuat kan, Aku?"
"Iya... Iya... Tapi tetap takut. Memang akunya nggak berat?" Debby mencium pipi Rumi.
"Enggak– ini kan semacam hadiah, lelahnya kamu karena seharian ini ngurus Alzah."
"Ya ampun– tapi kan aku di bantu Bu Rini."
"Tetap aja, Bu Rini kerjanya nggak sampai malam. Karena sore pulang, sementara kamu dua puluh empat jam. Jadi aku mau manjain kamu sekarang."
"Manjain apa bikin aku semakin lelah? Karena tinggal melayani bayi besar ku." Debby semakin memperkuat pegangannya saat Rumi mulai melangkah masuk ke dalam kamar mereka.
"Kan nggak setiap malam," jawab Rumi yang sudah semakin masuk kedalam kamar, lantas meletakkan pelan tubuh Debby di atas ranjang. Pria itu kembali mendekati pintu menutupnya.
Patzz... Lampu kamar di padamkan, hingga menyisakan penerangan di lampu tidur dekat ranjang Alzah. Rumi kembali mendekati sang istri yang sudah duduk di ranjang mereka. Menempelkan telapak tangannya di bagian ubun-ubun sembari bergumam doa, sementara sang istri menengadahkan kedua tangannya mengamini. Setelah selesai Rumi pun tersenyum, saling pandang untuk beberapa saat.
"Khadijah ku... Aku mencintaimu. Terimakasih sudah mau mendampingi ku hingga saat ini. Terimakasih sudah mau mengorbankan tubuh mu untuk melayani ku, setiap kali aku meminta hasrat ku untuk di salurkan." ucap Rumi, yang semakin membuat Debby tersipu.
"Aku yang harusnya berterimakasih, karena kamu sudah memilih ku. Dan selalu sabar menghadapi perangai ku," balas Debby, yang langsung membuatnya menerima sebuah kecupan lembut di kening, lantas turun ke kedua pipinya, dan terakhir di bibir dari sang suami.
__ADS_1
Lantas Rumi pun merebahkan tubuh Debby ke ranjang mereka dengan perlahan. Malam penuh cinta pun di lalui keduanya, beradu kasih di bawah selimut tidur mereka, yang bertemankan langit berbintang di luar.