Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
sambungan kisah Merry


__ADS_3

Esok harinya...


Malam yang panjang bagi Maryam yang tidak bisa tidur semalaman.


Fikiranya benar-benar penuh dengan sang suami di dalam kamar pengantin mereka.


Pagi ini saja, dia terjaga dengan Kepala yang amat pening, serta pandangan mata yang buram. Semalaman suntuk dia menangis di atas ranjangnya sendirian, dan menulis itu adalah omong kosongnya sebenarnya. Cara dia untuk segera menjauh dari pemandangan yang menyayat hati tadi malam.


Kata siapa ikhlas itu mudah, dia sendiri tidak munafik. Siapa yang mau di madu? namun jika itu adalah sebuah jalan terakhir yang harus ia tempuh, apa dia mampu menentang tekanan sosial demi sebuah keegoisan?


Maryam beranjak pelan, ia melihat pintu kamarnya masih tertutup, bang Akhri pun tak nampak, biasanya bang Akhri akan membangunkan dirinya. Namun ternyata tidak untuk pagi ini.


'apa aku kepagian?' begitu pikir Maryam, tapi sepertinya tidak, karena suara adzan subuh masih terdengar di telinganya. Ahhh, dia lupa jika ini adalah malam pertama suaminya itu dengan istri keduanya.


Segera ia bangun, dan berjalan menuju tandas untuk mandi dan mempersiapkan diri, solat subuh di ruang solat bersama suami dan madunya itu.


–––


Maryam masih sangat berusaha menguatkan hati. Ketika ia turun dari kamarnya, dan berjalan mendekati ruang solat yang harus melalui dulu kamar suaminya dan Kania.


Cklak... Pintu itu terbuka, dan sang suami pun keluar. Akhri sempat terkejut, karena di hadapannya sudah ada Maryam, padahal niat hati ia ingin menengok istri pertamanya itu lebih dulu.


"Dik, sudah bangun?" Akhri tersenyum sangat berat.

__ADS_1


Maryam mengangguk, ia melihat rambut suaminya basah, bersamaan dengan itu. Kania yang di belakangnya pun sama. Rambutnya setengah basah, tergerai se batas punggung, dengan kedua telapak tangan masih melingkar di lengan sang suami.


'mereka sudah berjima ya?' batin Maryam, berusaha tersenyum. Bagaikan hantaman yang terus saja menghujani dadanya. Terasa sesak dan berat, namun memang seperti itu lah kenyataan yang harus ia terima saat memintanya untuk menikah lagi.


"Aku jalan duluan ya, Bang." Ucap Maryam, yang menyempatkan diri untuk senyum kepada Nia, lalu memutuskan berjalan lebih dulu. Karena dia sadar, Kania Sepertinya masih ingin bermanja ria dengan suaminya itu. Sementara itu sang suami hanya bisa menatapnya dengan perasaan bersalah.


Hari-hari terus dilalui, bahkan bulan serta tahun pun berganti. Pada awalnya semua baik-baik saja, bang Akhir masih membagi waktu kebersamaan mereka dengan adil, sampai ketika sang istri keduanya hamil, manjanya Kania sering kali menahan Akhri untuk sering-sering kerumah Maryam.


Maryam pun selalu terus berusaha bersabar dari semua ini. ia memahami sikap seorang wanita hamil yang ingin terus ditunggui sang suami. Walaupun dia tetap mendapatkan jatah menginapnya bang Akhri yang hanya dua Minggu sekali, itu saja hanya dua malam, dan hampir setiap malamnya yang singkat itu, selalu di telfon istri keduanya itu berkali-kali, hingga tak jarang membuat Akhri memutuskan untuk tidak jadi menginap karena kondisi Kania yang mendadak ngedrop dan sebagainya.


Kadang Akhri pun sampai bersimpuh meminta ampun, sebab dia jadi lebih sering mengabaikan Maryam.


Hingga sampailah pada puncaknya, ketika sang Istri kedua sudah melahirkan buah cinta mereka.


Banyak hal yang terjadi setelahnya, sebuah ketidakadilan yang dirasakan Maryam, juga ucapan yang tidak baik bahkan ia dengar dari mulut Nia, membuat dia akhirnya memutuskan untuk menyerah. Dan pada saat itu pulalah, dia meminta Akhri untuk melepaskannya, karena dia sudah tidak bisa bertahan lagi dengan kondisi seperti ini. Dimana Akhri hanya akan mengunjunginya sebulan sekali.


(Flashback is off)


Ya... Perjalanan hidup memang kadang tidak selaras dengan apa yang kita harapkan. Menaruh harap pada seseorang yang kita cintai terkadang memaksa kita meyakini, bahwa dialah yang akan menjadi bahu paling kokoh untuk kita bersandar, dan bergantung hidup.


Buta-nya cinta, terkadang membuat kita terbuai. Padahal cinta yang di awali oleh fisik bukan karena keimanan akan mudah runtuh dalam waktu yang tak lama.


Kita tidak pernah tahu, Seperti apa hatinya nanti, di tahun ini... Kita mungkin masih di pujinya, di eluh-eluhkan, bahkan setiap kekurangan yang kita miliki, tak pernah nampak baginya.

__ADS_1


Namun lihat di Kemudian hari, ketika tahun berganti semakin lama, serta bunga lain yang ia temui lebih sempurna. Maka kita akan tahu, seperti apa? cinta sejati itu.


Ada yang mampu membawanya sampai kejannah. Ada pula yang saling menuntut di hari kebangkitan akibat tidak baiknya semasa menjalin hubungan bersama di bawah naungan Ikrar cinta mereka di dunia.


Karena tidak semua bisa bertahan saling menggenggam hati masing-masing, demi sebuah surga yang selalu di rindukan setiap insan yang berpasang-pasangan.


Dan seperti itu lah sepenggal gambaran kehidupan Maryam paska pernikahannya, yang tidak pernah ia tahu perjalanannya di masa yang akan datang.


Bahkan Maryam tidak pernah sekalipun menaruh keraguan pada Ustadz Akhri, pria yang pernah membimbingnya dalam Islam, membuatnya bersyahadat, lalu masuk lebih dalam membina rumah tangga dengan penuh syariat, dan mengakhiri hubungan dengan meninggalkan sebuah pelajaran hidup penuh dengan sisa luka yang entah sampai kapan akan mengering.


🥀


🥀


🥀


Hari itu, Debby benar-benar menepati janjinya sendiri.


Ia melamun dengan ponsel di tangannya, memandang nomor telepon Rumi di layar. Banyak hal yang tengah ia lamunkan saat ini, yang entah apa.


Namun ia pun akhirnya menekan tombol delete, setelah berjam-jam memandanginya, lalu menghela nafas kemudian.


"Jika kau jodoh ku, kita akan di pertemukan lagi, dengan kondisi yang berbeda." Gumam Debora tersenyum ceria.

__ADS_1


Sebuah pintu pun di ketuk, membuat dia menoleh.


"Yuk, katanya mau belajar baca iqra." Ajak Bi Maryam yang masih mengenakan mukena. Debby mengangguk semangat lalu beranjak dari ranjang itu.


__ADS_2