Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
teguran Abi


__ADS_3

Di Bandung...


Seorang wanita paruh baya terus saja memandangi layar ponsel, ia ingin sekali menghubungi putrinya namun berat.


Ketika ego tak berpihak dengan keinginan hati wanita itu.


Sang suami baru saja kembali dari salah satu acara perkumpulan.


"Kau tidak langsung menawarkan ku minuman?" Tanya Tuan Yohan. Sang istri pun hanya menitikkan air matanya, tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan. "Ada apa?"


"Hati ku tiba-tiba tersayat... Aku merindukannya." Cukup hanya mengatakan itu, Tuan Yohan sudah paham. Beliau beranjak tanpa mengeluarkan sepatah katapun lagi. "Apa tidak ada rasa rindu di hati mu?"


Langkah Tuan Yohan terhenti di depan pintu.


"Apakah hati mu benar-benar sudah mati? Dia tetap darah daging mu... Aku yang melahirkannya, menyusui. Hati ku masih susah untuk benar-benar tidak menganggapnya anak." Isak nyonya Brigitta. Sementara Tuan Yohan hanya masuk saja, tidak menggubris. "Hiks... Dasar keras kepala." Runtuknya pada sang suami.


Selama ini, mereka sebenarnya membaca setiap pesan yang di kirim gadis itu. Namun karena menggunakan pengaturan, sehingga dua centang itu tetap menjadi abu-abu walaupun sudah di bukanya.


Nyonya Brigitta bahkan sudah gatal, ingin sekali dia membalas setiap sapaan sang anak dari pesan chattingnya. Namun dia harus mentaati kemauan sang suami, demi memberikan pelajaran pada anak itu. Bahwa kata-katanya yang sudah tak menganggapnya anak itu adalah sungguh-sungguh.


Dan berharap Debby akan berubah pikiran lalu kembali memeluk agama mereka. Dan tentang suaminya? Itu bisa menjadi hal belakangan yang akan mereka pikirkan, walaupun harus berujung pada sebuah perpisahan.


***


Kembali ke kediaman ustadz Irsyad...


Sebenarnya ustadz tidak berniat pulang cepat, namun karena urusan kampus sudah selesai. Beliau pun memutuskan untuk pulang, lebih-lebih karena kepalanya merasakan sedikit pening dan sore nanti ada tausiyah rutin di majelis taklim yang di pimpin Isti. Beliau pun memutuskan untuk beristirahat saja di rumah.


Sudah masuk ke kompleks perumahannya, mobil ustadz Irsyad tiba-tiba mogok, padahal hanya tinggal melewati lima rumah lagi. Beliau lantas memutuskan untuk turun dari mobilnya, lalu melanjutkan tujuannya dengan cara jalan kaki. Mobil itu biar nanti orang bengkel yang mengurus.


Sembari memijat batang hidungnya di dekat kening, ustadz Irsyad terus melangkahkan kaki. Sampailah beliau di pelataran rumah, dan berhenti di depan teras. Ketika seruan Debby terdengar.


"Astagfirullah al'azim... Ada apa dengan anak-anak ku?" Ustadz Irsyad membatalkan niatnya untuk masuk, beliau pun putar haluan berniat untuk rebahan di gazebo saja. Namun sekilas ia mendengar tentang nafkah batin dari dalam. Ia menoleh cepat. "Aku tidak salah dengar kan?"


Suara yang beliau dengar hanya tentang permintaan maaf Rumi saja sekarang... Beliau pun menggeleng cepat, lalu melanjutkan langkahnya menuju gazebo di sisi kanan halaman.

__ADS_1


Duduk di sana, mengeluarkan air mineral dari dalam tasnya. Beliau meminum itu setelah membaca basmalah sebelumnya dan hamdalah sesudahnya.


"Ya Allah, Rumi... Apa yang kau lakukan?" Gumam Ustadz Irsyad dengan tatapan mengarah kepintu, beliau menunggu sejenak. Membiarkan kedua anak itu menyelesaikan masalah mereka. Andai saja mobilnya tidak mogok, mungkin ustadz Irsyad akan memilih untuk pergi lagi.


Beliau menilik ke arah jam tangan. Empat puluh lima menit lagi masuk waktu shalat zhuhur. Beliau pun memutuskan untuk beranjak dan berjalan menuju masjid saja menunggu waktu salat di sana.


🍁


🍁


🍁


Pukul dua siang, ustadz Irsyad kembali kerumahnya.


Di sana suasana rumah sudah hening. Berharap semuanya sudah mencair, beliau pun menyerukan salam lalu masuk ke dalam rumahnya.


Nampak Rumi sedang membawakan nampan berisi nasi dan air mineral. Ia sedikit terkejut, karena tak mendengar suara mobil namun abinya sudah kembali.


"Assalamualaikum." Sapa Abi Irsyad.


"Walaikumsalam warahmatullah, Abi sudah pulang?" Tanya Rumi.


"Emmm... Iya Bi, tapi Rumi antar makanan ke ini dulu untuk istri Rumi."


"Ada apa dengan istri mu? Apa dia sakit, seharusnya ini jam kerjanya dia kan?"


Rumi terdiam, sejenak. "Emmm, iya Bi. Sebentar ya Bi."


Pria jangkung itu berjalan menaiki anak tangga, sementara ustadz Irsyad masuk kedalam kamarnya hanya untuk meletakkan tas saja. Beliau pun kembali keluar duduk di ruang tengah menunggu anaknya.


Hingga tak lama Rumi kembali, dia pun duduk di kursi satunya. Menunggu apa yang hendak di bicarakan oleh sang ayah.


"Bagaimana sikap mu pada istri mu?" Tanya Abi Irsyad. Anak itu pun hanya terdiam. "Apakah kau sudah memperlakukannya dengan baik?"


Rumi hanya diam saja. Tak berani menjawab apapun.

__ADS_1


"Abi tidak sengaja mendengarkan pertengkaran kalian tadi sebelum Dzuhur."


Deg...! Rumi menunduk.


"Maafkan Rumi Bi."


"Kenapa minta maaf?" Tanya Ustadz Irsyad tegas.


"Rumi telah melakukan kesalahan. Hingga istri Rumi menjadi murka."


"Kesalahan apa?"


"Emmmm?" Rumi ragu untuk mengatakannya.


"Abi sebenarnya tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga mu. Namun karena Abi mendengar Debby mengungkit masalah nafkah batin, jadi Abi mau bertanya pada mu." Abi Irsyad mencondongkan tubuhnya menatap lurus ke arah sang anak. "Kau memberikan haknya dengan baik kan?"


Rumi tertohok... Bagaimana dia bisa menjelaskan. Karena kesedihannya itu, membuat dia tidak ada gairah untuk memanjakan sang istri.


Pria itu hanya menunduk saja, tidak berani menjawab.


Ustadz Irsyad menghela nafas, kembali menyandar.


"Seperti itu kah, tujuan mu menikahi gadis itu? Hanya untuk menambahkan luka di hatinya?" Hunus ustadz Irsyad dengan matanya yang merah nanar menahan geram.


Dimana Rumi masih saja diam sembari menunduk, tidak ada bantahan apalagi pembelaan diri karena dia mengakui kesalahannya. "Kau telah menzoliminya, Rumi."


"Maafkan Rumi Bi. Rumi hanya merasakan kesedihan karena kehilangan Umma..."


"Kamu sedih? bahkan sampai seperti ini meratapi... Tanpa peduli bagaimana perasaan wanita yang masih mendampingi mu. Astagfirullah al'azim Rumi. Apa itu bisa di sebut pria beriman? Abi kurang mendidik mu kah? Apa kau tidak bisa mencontoh? Bagaimana sikap Abi pada Umma?? Dia di sini ikut siapa? Kalau bukan ikut kamu... Tapi apa yang suaminya lakukan? Kamu mengabaikannya? Bahkan sampai?" Ustadz Irsyad tidak melanjutkan ucapannya, beliau hanya beristighfar berkali-kali.


"Rumi salah... Rumi terlalu merasakan kehilangan, Bi. Rumi salah." Rumi mengepalkan tangannya merasa geram pada diri sendiri.


"abi tahu kamu mencintai Umma, kamu merasa kehilangan sekali. Tapi jangan pernah Rumi! Wallahi...! Jangan pernah kau menyia-nyiakan dia yang masih ada, mendampingi mu. Karena perasaan kehilangan mu itu...!"


"Jangan pernah, kau kecewakan hati yang sepenuhnya ikhlas memilih untuk hidup bersama mu. Karena dia juga bisa lelah. Jangan sampai kau kehilangan satu wanita paling berarti dalam hidup mu, untuk kedua kalinya." Ustadz Irsyad beranjak, dengan tatapan penuh kekecewaan, sementara Rumi hanya beristighfar.

__ADS_1


Iya... Dia salah, dia telah mengabaikan Debby selama beberapa hari bahkan Minggu. Rumi pun beranjak berjalan menuju lantai dua menghampiri Debby.


Bersambung.....


__ADS_2