
Selepas berbincang, Rumi kembali masuk ke dalam kamar dengan kondisi lesu.
Debby menangkap raut kesedihan, serta sisa-sisa tangis sepertinya. ada apa, ya?
Bertanya-tanya dalam benaknya. Sedikit ia mendengar tangisan Nuha di bawah, serta ucapannya dengan nada yang sedikit meninggi. Walau tak bermaksud menguping, ia hanya keluar sebentar, sampai ke dekat tangga hanya untuk mengambil air di dispenser yang tersedia di samping sofa.
Kak Rumi duduk sembari menghela nafas panjang, lantas melamun. Dengan hati-hati sembari memegangi perutnya yang semakin nampak buncit, Debby menyeret tubuhnya bergeser.
Menyentuh bahu sang suami yang sedang menunduk sembari menghapus bulir bening di ke-dua matanya.
"Kak," panggilnya hati-hati. Rumi menoleh, ia tak mampu menjawab panggilan itu selain langsung mendekap erat tubuh istrinya. Bahunya berguncang, pria itu menangis dengan posisi wajah terbenam di bahu sang istri.
"Kak Rumi kenapa, ada apa?" Debby bertanya amat lembut.
Sedangkan Rumi memilih untuk tak menjawab, selain Isak lirih suaminya yang terdengar cukup menyayat hati, bahkan Debby pun jadi turut ingin menangis. Ia mengusap-usap punggung Rumi pelan.
Membiarkan sejenak sang suami melepaskan kesedihannya. Tatkala dekapan yang semakin terasa mengerat.
Hingga beberapa menit berlalu... Rumi sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia melepaskan pelukannya, Debby pun tersenyum sembari menyeka air mata yang masih tersisa di kedua mata Rumi. Kini wajah itu nampak memerah akibat tangisnya tadi yang sampai sesenggukan, ini kali kedua selama hidup bersama Rumi ia melihat pria itu menangis sampai seperti ini, terakhir ia melihat saat Umma berpulang.
Sigap Debby, langsung memberikan segelas air putih untuk sang suami. Rumi menerima itu lalu mengusap kepala Debby sejenak sebelum meminumnya.
Walaupun dalam posisi kalut, Rumi tetap tidak meninggalkan sunah Nabi yang melakukan tiga kali nafas, mengucap basmallah sebelum meminum satu tegukan dan mengucap hamdallah setelahnya hingga tiga kali, barulah beliau menghabiskannya.
Rumi masih mencoba menghilangkan kesedihannya, ia menunduk sembari meremas gelas kosong dengan kedua tangan.
Perlahan tangan Debby menyentuhnya, meraih satu tangan Rumi membawanya semakin mendekat lalu menempelkannya di perut.
"Abi kenapa? Ayo cerita sama Umma." Debby berbicara dengan suara yang di buat seperti anak-anak. Rumi yang memandangnya dengan tatapan dalam mengandung kesedihan, ia tersenyum tipis, menurunkan kepalanya lalu mencium perut Debby cukup lama.
Usapan lembut di berikan sang istri, tepat di kepala sang suami yang masih betah menempelkan bibirnya di sana.
Rumi kembali mengangkat kepalanya, lalu menyentuh pipi sang istri.
"Aku terlalu lemah ya?" Tanya Rumi, suaranya masih serak terdengar. Debby menggeleng pelan, ia penasaran sebenarnya dengan apa yang di bicarakan ayah mertua pada Nuha dan Rumi hingga sampai menghadirkan tangis yang benar-benar menyayat hati.
"Apa yang terjadi? Kenapa kak Rumi menangis sampai seperti ini?"
"Abi–" Rumi masih menahan, agar tangisnya tidak lagi keluar.
__ADS_1
"Abi? Ada apa dengan Abi?"
"Abi mau hijrah ke Magelang."
"Magelang?" Lirih terdengar suara Debby yang bertanya. Hatinya turut sedih saat melontarkan pertanyaan mengenai alasan Abinya memilih untuk hijrah ke desa.
Rumi menuturkan semuanya, apa yang di sampaikan Abi Irsyad tadi di bawah. Padahal dia tadi nampak tegar, namun setelah sampai di kamar, ia malah justru menangis sampai seperti itu. Debby yang sudah meneteskan bulir beningnya nampak turut merasakan berat hati.
"Apa harus Abi ke Magelang? Apa memang di sana benar-benar tidak ada yang mengurus pondok?"
"Ada, Mbah Sarowi. Adiknya almarhum Mbah Kakung. Sama satu anaknya, sementara yang satunya lagi sekarang sudah tinggal di Purworejo. Jadi tinggal dua orang, Mbah Sarowi itu sudah sepuh, jadi Beliau bilang ingin pensiun walau tetap kadang masih ngajar kitab, tapi ya agak jarang."
Debby mengusap air matanya sendiri. Abi Irsyad memanglah hanya berstatus mertua. Namun beliau benar-benar menganggapnya anak, tak jarang bahkan terbilang sering, Abi memberikannya uang jajan dengan nominal yang tak sedikit. Padahal, setiap Abi pulang dari manapun, tidak pernah tangan kosong. Selalu membawa apa saja, entah martabak, donat ataupun roti dari brand terkenal.
katanya?
kalau tidak membeli apa-apa itu, Abi seperti merasa ada yang kurang, Nduk. tutur beliau tempo hari.
Lebih-lebih sosok Debby adalah anak yang sangat antusias jika di bawakan oleh-oleh, apapun itu. Ia akan langsung bersemangat membukanya serta mencicipinya, itulah kenapa Abi Irsyad gemar membawakan oleh-oleh untuk sang menantu setiap habis bepergian.
Tak lupa pula, beliau selalu belanja sayuran dan bahan-bahan makanan segar setiap harinya di fresh market, semua demi sang menantu agar tidak perlu berbelanja lagi.
"Dan Abi bilang, jika kita lebih baik tinggal di Bandung. Ade, setuju nggak? Kalau kita pindah ke Bandung saja?" Tanya Rumi.
"Bandung?"
"Iya, kita pindah ke sana."
"Kenapa harus pindah, memang kenapa kalau kita tetap di sini?" Tanya Debby bingung.
"Nggak masalah sih, cuman? kandungan mu kan semakin mendekati bulan kelahiran, dan Kata sebagian orang. Seorang istri akan lebih nyaman jika lahirannya dekat dengan ibunya."
Debby menggeleng. "Nggak semuanya, aku senang jika ada Mama di sisiku. Namun setelah melahirkan walaupun hanya ada kamu aku tidak apa-apa kak. Dan kalau kita ke Bandung? Rumah ini benar-benar kosong. Tidak terawat sayang, 'kan?"
Rumi terdiam karena apa yang di katakan Debby ada benarnya.
"Jadi kamu nggak papa kalau kita tetap tinggal di sini?"
"Nggak papa."
__ADS_1
"Walaupun aku harus di Bandung?"
"Emmmm...?" Debby terdiam sejenak, sepasang mata itu masih membalas tatapan sang suami di hadapannya. Sebenarnya dia tidak mau jika terus-menerus berjauhan dari Rumi. Sebuah dering ponsel terdengar, ia melihat nama sang manager didevisinya di layar tersebut.
Sebelumnya Rumi meminta izin untuk menerima panggilan teleponnya lalu berbicara sebentar, tak berselang lama telfon itu pun tertutup.
"Apa katanya?"
"Besok, ada meeting dari pusat. Jadi semuanya harus berkumpul."
"Kenapa tidak sekalian kemarin? Kamu besok ke Bandung lagi dong?"
"Namanya juga kerja, Dek. Mau bagaimana lagi."
"Aku ikut lagi?"
"Dek, untuk hari ini jangan ya."
"Kenapa?"
"Riskan, baru Minggu kemarin kita pulang dari Bandung."
"Tapi kamu nggak nginep kan?"
"inshaAllah enggak." Usap-usap pipi yang sedikit cabi itu. "Nggak papa ya?"
Debby menggembungkan pipinya lalu mengangguk pelan.
"Kita istirahat."
"Kamu sudah tidak sedih lagi, 'kan?"
Rumi menatap hangat wajah yang nampak lebih pucat dari biasanya, karena Debby benar-benar anti menggunakan riasan akhir-akhir ini.
"Sedikit tapi nggak papa. Aku lebih baik. Entah nanti, saat Abi jalan."
Debby memeluk lingkar leher sang suami. Menciumi pipi yang tirus itu.
"Ada aku, dan anak mu. Jangan sedih ya, inshaAllah semua akan berjalan dengan baik. Ketika Abi sudah di Magelang."
__ADS_1
Rumi tersenyum, lalu menyentuh bibir ranum itu dengan lembut. Memberikan kecupan yang lumayan menggairahkan, walau hanya bercumbu, ia tak melewati batas. Karena semenjak kehamilan sang istri Rumi jadi mulai membatasi berhubungan badan dengannya, ya– hanya sebatas khawatir, jadi Dia lebih memilih untuk menahan hasratnya.