Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
tanda tangan Maryam.


__ADS_3

Murottal surat An-Nisa sudah selesai di bacakan.


Serta kajian singkat dari ustadz Akhri, guna membacakan kandungan dari ayat yang beliau baca pun sudah di sampaikan.


Setelahnya tibalah ke acara inti, yaitu saat ustadz Irsyad duduk di kursinya.


Senyum cerah terpancar dari bibir ustadz yang usainya sudah tidak lagi muda itu. Beliau pun mengucap salam, membaca doa pembuka majelis ilmu yang akan ia pimpin.


"Robbisrohli Sodri wayassirli amri wahlul 'uqdatanmillisani yafqohu qouli." Gumam Ustadz Irsyad, membaca doa yang kerap di bacakan nabi Musa as saat hendak berdakwah, agar segala urusannya di beri kelancaran, dan lisannya di permudah mengutarakan hal baik yang hendak beliau sampaikan. Sebagai cara Beliau mengahalau gugup juga.


"Ya ayyuhallazina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun.


Alhamdulillah... Alhamdulillah... Hamdan Katsiran Thayyiban Mubarakan Fihi."


Ustadz Irsyad membuka penutup gelas air mineral di hadapannya, sejenak.


"MashaAllah, sepertinya panitia harus menyiapkan air cukup banyak." Kata ustadz Irsyad, membaca basmalah lalu menengguk airnya. "Bukan karena cuaca panas, lebih tepatnya karena saya gugup... Jamaahnya banyak sekali, kaya mau tawuran."


Beliau terkekeh, membuat para jamaah turut tertawa. Lalu meminum air mineralnya sekali lagi.


"MashaAllah, Alhamdulillah... Barakallahu Fiikum, jamaah Rahimakumullah."


Ustadz Irsyad membuka tabletnya, melihat ulang materi yang akan beliau bawakan.


"Di sini kalau ngomong soal rezeki, saya mau tanya? Kira-kira rezeki itu gampang mana? mendapatkan yang halal atau yang haram?" Tanya Ustadz Irsyad, sebagian dari mereka menjawab yang halal, ada pula yang haram.


"Khawatir dengan yang menjawab gampang yang haram, tuh." Terkekeh.


"Kira-kira, orang jaman sekarang itu kalau ikhtiar raganya aja atau sama hatinya?" Pandangan ustadz Irsyad memburu. "Allahu Rabbi.... Nggak ada yang jawab?"


"kadang-kadang orang jaman sekarang itu tidak percaya bahwa yang kasih rezeki itu Allah. Bener nggak?" Ustadz Irsyad menunjuk salah satu pria di hadapannya. "Antum percaya nggak kalau yang kasih rezeki itu Allah?"


Jamaah yang di tunjuk itu hanya senyum-senyum.


"MashaAllah, pada nggak berani jawab. Apa nggak ada yang percaya ini?"


"Percaya Tadz..." Tertawa.

__ADS_1


"gini. Kadang manusia suka keliru.


Di mana seharusnya yang ikhtiar itu cukup raganya. Batinnya pasrah aja gitu, jangan malah kebalikannya. Yang ikhtiar pikirannya, pusing mikir bayar ini bayar itu, tapi raganya pasrah. Ya nggak ketemu."


"Rezeki itu ada dua tipe, satu mengejar, satunya di kejar. Kalau yang nggak di kejar, ia akan datang dengan sendirinya, entah itu dapat hadiah, warisan dan sebagainya. Beda sama yang di kejar ya. Kita memang harus mencari rezeki yang di niatkan untuk mencukupi hidup, bukan mencukupi gaya hidup. Sampai-sampai punya pikiran, begini?


Nyari rezeki yang haram saja sulit apalagi yang halal? Sampai akhirnya mereka memilih untuk menutup satu mata mereka, dengan alasan. Jaman sekarang mah... Udah lah, yang penting dapur ngebul. Akhirnya apa? Karena nggak percaya rezeki Allah, pakai lah jalan-jalan pintas, benar-benar bagaikan mencampurkan air dengan minyak. Maka nggak akan bersatu. Apa lagi seorang pedagang yang percaya jin penglaris, nauzubillah."


"Memang sejatinya hidup manusia itu penuh dengan hawa *****, penuh dengan sifat panas, penuh dengan sifat saling bersaing. Bersaing kalau dalam hal keta'atan baik ya, nah ini? Bersaing dalam hal gaya hidup."


"Intinya, jadilah manusia yang pandai bersyukur. Agar seberapa pun rezeki yang kita punya itu menjadi berkah. Paham berkah itu ya? Yaitu ketika kita butuh banyak maka rezeki pun datang banyak, ketika rezeki tengah sedikit atau bisa di bilang pas-pasan. Ya tetap Alhamdulillah, karena memang yang kita butuhkan hanya sedikit."


Ustadz Irsyad masih melanjutkan tausiyahnya hingga selesai lima belas menit sebelum waktu Dzuhur.


***


Selepas sholat zhuhur...


Maryam dan Debby berjalan keluar, bersamaan dengan para rombongan jamaah wanita lainnya. Melangkah bersama hingga ke parkiran mobil.


Keduanya mengobrol, sembari menunggu ustadz Irsyad. Karena sepertinya agak lama menunggu beliau dan para rekan-rekan sesama pendakwah yang sedang berbincang di ruangan mereka.


"Salam saja untuk Uwa mu yang gendut itu." Tutur ustadz Irsyad sembari terkekeh, yang di maksud adalah pak Huda. Karena Bilal adalah keponakan beliau. (Masih ingat ya, kalau Isti itu adik iparnya pak Huda. Pernah ku tulis di novel Ikrar cinta Ustadz Irsyad.)


"inshaAllah, Pak ustadz." Tersenyum tipis, setelahnya beliau yang melihat Maryam pun langsung terdiam. "Dia itu, penulis buku ya?" bergumam, yang masih bisa di dengar ustadz Irsyad.


"yang mana? yang di sebelah menantu saya kah?" tanya ustadz Irsyad.


"iya, pak."


"oh, dia tantenya menantu saya."


"Oh..." bilal manggut-manggut lalu menelungkup kan kedua telapak tangannya di depan dada pada Maryam dan Debby dengan sopan. Sama halnya dengan dua wanita itu.


"Afwan, saya baru inget sesuatu. boleh meminta tolong, tidak?" Bilal berbicara pada Maryam.


"Boleh, jika saya bisa membantu. Maka akan saya bantu," jawab Maryam ramah.

__ADS_1


Habib Bilal pun tersenyum, "tunggu sebentar ya."


Pria yang mengenakan Koko gamis berwarna abu-abu itu berjalan cepat menuju mobilnya, membuat Maryam dan Debby saling pandang sejenak.


Beliau yang sudah membuka pintu mobilnya. Lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag yang tergeletak di kursi sebelah kemudi. Ia bergegas membuka dasboardnya juga mencari pena, setelah ketemu kembali lah dia menghampiri Maryam.


"Saya punya adik perempuan, suka sekali dengan buku-buku Anda. Waktu itu saat dia tahu, saya ada seminar bersama Anda. Dia merasa kecewa karena tidak turut hadir untuk bertemu Cece. Jadi, karena hari ini kebetulan ketemu lagi, dan pas saya habis membelikan buku untuknya, sekalian saja. Tolong tanda tangani buku ini, jika anda berkenan." Bilal menyerahkan buku tersebut dengan sopan. Membuat Maryam tersenyum ramah, ia pun meraihnya.


Perlahan ia buka halaman paling depan, lalu mengguratkan tanda tangannya. Setelah itu menyerahkan lagi bukunya pada Bilal.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak ukhti."


"Sama-sama, salam untuk adiknya ya."


Bilal tersenyum, lalu mengangguk pelan. Ia pun menoleh ke arah ustadz Irsyad. "Saya permisi pamit dulu pak ustadz. Terimakasih atas waktunya."


"Sama-sama, hati-hati ya."


"Iya ustadz, assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Beliau menoleh kearah Debby, setelah habib Bilal berjalan semakin menjauh mendekati mobil miliknya. "Ayo pulang Nduk, atau mau sama tantenya?"


"Debby pulang sama Abi." Nyengir.


"Ya sudah, yuk. Cece, kami pamit dulu ya. Terimakasih sudah berkenan datang di acara tabligh Akbar ini."


"Sama-sama, ustadz."


Ustadz Irsyad tersenyum, mengucap salam lalu masuk kedalam mobilnya. Debby memeluk tantenya lebih dulu.


"Habib itu ganteng ya." Bisik Debby menggoda.


"Astagfirullah, kamu bicara apa sih? Inget Rumi."


"Ih... Bukan buat aku. Tapi buat Tante."


"Eh... Apa-apaan sih. Jangan macem-macem."

__ADS_1


"Musim brondong, jadi nggak masalah. Tante ku masih cantik dan awet muda kok. Cocok sama habib tadi." Debby mengacungkan kedua ibu jarinya. Di mana ia langsung tertawa saat Maryam melotot kearahnya. Gadis itu pun melambaikan tangannya sembari masuk ke dalam mobil. Hingga mobil itu pun melaju pergi. Di mana Maryam hanya menghela nafas sembari geleng-geleng kepala. Lantas masuk ke dalam mobilnya sendiri.


__ADS_2