
Masih di saat Maryam baru saja pergi, Yohan menoleh sejenak. Lalu duduk dengan lemas di kursinya.
"Pah... Kenapa papah bicara seperti itu? Walaupun anak itu sudah kita keluarkan dari keluarga, tapi aku tidak tega Debby menikah dengan pria yang agamanya tinggi. Bisa jadi dia bernasib sama dengan Merry." Tutur sang istri, sembari memegangi lengan suaminya.
"Tidak semua orang sama nasibnya." Gumam beliau.
"Apa? Maksudnya?" Tanya, Nyonya Brigitta tidak mengerti.
"Debby butuh seseorang, yang bisa menguatkan dia, setelah kita mengasingkan dia." Gumam Tuan Yohan. Yang tengah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya pun terpejam.
"Tunggu, aku masih tidak mengerti?"
"Kau tidak dengar? Tadi Merry bilang apa?" Tanya Tuan Yohan. Kening Nyonya Brigitta berkerut. "Debby menyukai pria itu. Saat ini, yang dia butuhkan adalah kekuatan. Aku hanya berharap dia bisa mendapatkan itu, dari suaminya."
Nyonya Brigitta tercengang. "Jadi papah setuju?"
"Entahlah, mungkin karena aku sudah tidak peduli lagi dengan anak itu. Sekarang aku hanya ingin melupakan sejenak tentang masalah ini. Jadi, berhenti berbicara soal dia. Aku sudah cukup stress memikirkan keputusannya yang tahu-tahu, sudah berpindah keyakinan." Beliau beranjak dari sana dan berjalan masuk. Sementara Nyonya Brigitta hanya diam saja. Menatap punggung sang suami yang mulai menghilang dari pandangannya.
Sejenak ia menoleh kearah meja kecil di sudut ruangan, tepatnya di samping sofa yang ia duduki. Nyonya Brigitta meraih salah satu bingkai yang tertengger di meja itu.
Ia pun kembali menangis, saat menatap foto gadis kecilnya dengan pose tengah di cium oleh Nyonya Brigitta dan Tuan Yohan, di hari ulang tahun Debby dulu. Saat usia anak itu masih sekitar enam tahun.
"Aku merindukannya. Putri ku... Semoga hidup mu selalu di berkati, dan kau selalu bahagia nak." Gumam beliau masih terisak, lalu mengecup potret Debby, dan memeluk bingkai itu kemudian.
Sementara itu, di sisi lain. Tuan Yohan masih berdiri di samping pintu menyandar di tembok. Dia pun mengusap matanya yang basah. Keputusannya memang sangat lah tidak bijaksana. Mengingat Debby adalah putri kandungnya sendiri. Namun kekecewaannya itu terhadap gadis kecilnya, sangat lah besar. Sehingga mengalahkan hati nuraninya untuk bisa menerima langkah besar yang di ambil sang putri. Tuan Yohan menggeleng beliau lantas kembali masuk menuju kamarnya.
__ADS_1
***
Kembali ke masjid di Jakarta.
Maryam mengusap wajahnya setelah bergumam Aamiin, mengakhiri doanya.
Tak lupa juga menyeka air matanya yang sedari tadi berderai-derai.
Dia pun beranjak lalu berjalan keluar dari tirai hijau, yang hanya tinggal ia sendiri di ruangan khusus wanita itu.
Bersamaan dengan itu pula, seorang pria yang melintas bersama salah satu pria di sampingnya tidak sengaja menabrak wanita yang tengah berjalan menuju pintu keluar masjid.
Praaaakkkk... Sebuah tasbih yang di pegang Maryam terjatuh.
"Tidak apa, saya yang tidak hati-hati. Berbelok namun tidak melihat-lihat lebih dulu."
Pria itu tersenyum tipis. "Kalau begitu saya permisi. Mari, assalamualaikum." Tutur beliau.
"Walaikumsalam warahmatullah."
"Habib–" seru pria yang berpapasan dengan beliau di depan pintu, Maryam menoleh sejenak. Lalu menunduk lagi. "MashaAllah senang bisa bertemu habib Bilal di sini."
"Iya, habis ada acara. Maaf ya... Saya duluan. Assalamualaikum."
"Iya Bib, walaikumsalam warahmatullah." Pria itu memberi jalan pada dua orang di hadapannya. Dengan bibir tersenyum senang. Sepertinya dia menangkap ekspresi kelelahan di wajah habib Bilal, sehingga membuat dia memahami kondisi itu. lalu Setelahnya dia pun masuk kedalam masjid tersebut.
__ADS_1
Sementara Maryam masih berdiri di sana. Dia menghela nafas. "Habib? Masih muda sekali. Jangan-jangan pemuda itu juga yang tadi mengimami di sini. Suaranya indah sekali." Gumam Maryam, dia pun segera beristighfar lalu berjalan keluar setelah memastikan pria bergelar habib itu sudah berjalan lebih jauh.
–––
Pukul 18:45
Maryam baru saja tiba, ia mengucap salam yang langsung di sambut oleh Debby.
"Tante?" Debora meraih tangan Maryam lantas mengecup punggung tangannya. "Tante, sudah makan?" Tanya Debby.
Dia tidak menanyakan tentang tanggapan ayahnya langsung, melainkan hal lain. Menunggu bibinya hilang rasa lelahnya lebih dulu.
"Belum, tapi Tante bawa makanan." Tersenyum, yang langsung di sambut dengan senyum Debby juga.
"Apa ini?" Meraih bungkusan yang berada di tangan kiri Maryam, mengintipnya.
"Hanya pecel ayam.... Sama cah kangkung."
"wah... enak ini, Debby niatnya mau delivery tadi."
"Hehe, ya sudah ayo makan. ehh...? tapi Tante mandi dulu ya. Kamu yang siapin." Tutur beliau, Debby pun mengangguk.
Keduanya lantas berjalan bersama, menuju ruangan paling belakang.
Debby Menyiapkan beberapa piring, sementara bibinya langsung masuk ke dalam kamarnya. Guna membasuh sebentar tubuhnya itu.
__ADS_1