
Selepas mengaji, Debby menutup Al Qur'annya. Ia pun menyentuh-yentuh bibirnya sendiri.
"Kering ini," runtuknya sembari menoleh kearah sang suami. Di mana Rumi kini tengah melipat sajadahnya, ia tersenyum.
"Lebay."
"Nggak lebay, fakta nih... nih..."
"Hehe... Mau ku basahin?" Ledek Rumi yang langsung mendapat tinju di lengannya pelan. "Sakit, Dek. Tangan mu ringan sekali sih."
Gadis itu terkekeh. Ia menyentuh tangan kiri Rumi kemudian.
"Kakak, ngomong-ngomong kenapa sih? Nggak mau pakai cincin? Kaya aku nih." Menunjukkan cincin kawin sendiri yang melingkar di jari manisnya.
"Laki-laki kan nggak boleh pake emas, Dek." jawab Rumi, sembari menyematkan rambut Debby di telinga. Karena gadis itu sudah melepaskan mukenahnya.
"Emmm... Aku mau tahu, kenapa sih? Dalam Islam laki-laki di larang pakai emas? Ada alasannya nggak? Kenapa hanya perempuan yang boleh pakai?"
"Ada lah... Kamu tahu? Emas itu punya kandungan racun, yang berbahaya?"
"Emmm... Setahu aku iya."
"Nah racun itu akan bercampur dengan darah. Kalau wanita, dia 'kan punya siklus mentruasi setiap bulan. Jadi toxic dalam darah itu akan terbuang setiap kali kaum wanita menstruasi. Beda halnya dengan laki-laki. Yang akan numpuk di tubuh, karena tidak punya akses untuk membuangnya. Dan itu berbahaya dek."
"Oh... Begitu ya, jadi segala sesuatu yang di larang itu aslinya emang nggak baik buat kita. Sama halnya kenapa ada larangan makan Babi seperti yang kak Rumi bilang kandungan cacing pita di daging itu berkali-kali lipat lebih banyak dari pada daging yang lain."
"Pinter... Iya benar Dek. Tapi kalo hewan itu lebih ke tabiat alamiahnya sih. Dia akan butuh teman untuk merangsang si betina sebelum melakukan pembuahan. Kalau menurut guru ngaji ku begitu. Tapi, yang pasti banyak alasan lah, kenapa hewan itu di haramkan untuk di konsumsi." Rumi mengusap-usap kepala Debby lembut, di mana Debby hanya membulatkan bibirnya saja.
"Okay, nggak papa nggak pakai emas seenggaknya kamu bisa pakai cincin tembaga. Buat ngasih tahu ke orang kalo kamu sudah beristri."
"Ya ampun... Nggak perlu pakai cincin juga orang sudah tahu, kalau aku ini pria beristri."
"Iya bagi yang tahu, kalau yang nggak? Atau jangan-jangan sengaja ya, biar terlihat bujangan terus?"
"Ngomong apa sih kamu?" Rumi menarik pipi Debby akibat gemas. Dimana sang istri langsung meringis. Meminta ampun. "Aku itu kurang suka pakai perhiasan, walaupun itu bukan emas, Dek." sambungnya.
"Kenapa?"
"Ya nggak suka aja. Kurang nyaman," jawab Rumi.
"Ya... seenggaknya cincin aja Kak. Biar orang kantor mu tahu, kamu sudah menikah."
"Orang kantor tahu, aku sudah menikah."
"Tapi kan nggak semua."
"Hampir semuanya tahu, Dek." jawab Rumi tak mau kalah.
"Kalau nggak, saat ke kantor aja deh. Di pakai ya."
"Nanti aku pikir-pikir ya." Nyengir.
"Jangan pikir-pikir. Apa salahnya sih pakai sebentar aja."
"inshaAllah ya. Nggak janji juga. Beneran nggak nyaman soalnya." Di raihnya tangan sang istri lalu menciumnya tiga kali. Berusaha untuk meluluhkan karena dia tahu, ini adalah bibit awal sebelum sebuah prahara rumah tangga muncul.
Mendengar itu, Debby melirik sebal. Sedikit jengkel. "Terserah lah. Maunya di lirik cewe terus itu pasti. Makanya nggak mau pakai cincin kawin."
__ADS_1
"Astagfirullah al'azim, mikirnya gitu banget sih?" Rumi masih berusaha tersenyum, sembari menekan kedua pipi istrinya yang sedang bersungut-sungut itu.
"Iiisssh... Awas sih." Debby menepisnya.
"Ya ampun... cewe gitu ya? Tadi baik-baik saja. Giliran bahas apa tahu-tahu langsung ngambek gini."
"Aku nggak ngambek, B aja!"
"Tuh 'kan? B aja-nya keluar?" Rumi menarik hidung Debby gemas.
"Awaaaasss.... Sakit!!" Menepisnya lagi.
"Ya udah jangan ngambek. sungguh aku nggak nyaman kalau pakai cincin."
Debby melirik. "Kamu nggak pernah ada niatan ya, buat nyenengin aku?"
"Nggak pernah ada niatan buat nyenengin kamu, bagaimana?"
"Ya itu... Kamu selalu menolak apa yang aku mau."
"Ya Allah... Dek?"
"Intinya kak Rumi, nggak pernah mau melakukan apapun yang aku mau. Contoh kecil aja cincin? Seberapa susahnya pake cincin coba? Nggak mau kan?"
"Aku bilang kan tadi mau, Dek."
"Tapi 'kan ada embel-embel inshaAllah nggak janji," cecar Debby.
Rumi pun mendesah, ia bingung mau bicara apa, jika sang istri sudah pada mode jengkelnya. Dan lebih memilih untuk diam saja, ketika ribuan kata mulai keluar mencecar dirinya. Rumi bertopang dagu sembari mendengarkan apapun yang di ucapkan istrinya sembari bersungut.
"Kenapa diam saja? Sebel sama kamu mah, nggak pernah dengerin aku kalo lagi ngomong."
"Ya seenggaknya respon."
"Nanti kalo aku ngerespon salah lagi, dan perdebatan kita yang nggak penting ini makin panjang."
"Nggak penting?"
"Ya... Penting... Penting dek. Udah deh jangan di perpanjang ya sayang."
"ck...!" Debby semakin jengkel, ia pun memutuskan untuk beranjak saja, lalu pergi dari ruang sholat itu.
"Dek?" Panggil Rumi dengan kepala bergerak mengikuti Debora, sementara yang di panggil hanya diam saja, terus melanjutkan langkahnya. "Haaaah... Ngambek lagi. Emang dasarnya wanita ya. Kalo lagi bengkok?"
Rumi geleng-geleng kepala, membiarkan sejenak istrinya itu. Dan dia pun turut bangkit dari posisinya lantas keluar dari ruangan sholat.
***
Di dapur...
Debby menyiapkan sebuah sarapan pagi. Yang di bantu oleh Rumi.
"Aku ngapain nih setelah ini?" Tanya Rumi berdiri di sebelahnya. Dimana Debby hanya melirik sekilas lalu membuang muka, berjalan mendekati lemari gantung untuk mengambil sesuatu.
Karena barang yang hendak di ambil letaknya terlalu tinggi dan agak jauh membuat Debby sedikit kesulitan. Berjinjit sedikit sembari merentangkan satu tangannya naik.
"Duh... Jauh banget sih," gerutu Debby.
__ADS_1
Rumi pun tersenyum, ia mendekati. Namun hanya sebatas berdiri saja sembari menatapnya.
"Bantuin 'kek. Nggak tahu ada orang lagi kesusahan apa?" Debby masih berusaha meranggai.
"Owh ada yang butuh bantuan suami ya? Tapi minta bantuannya yang halus dong. Coba? Nanti ku bantu." Titah Rumi seraya tersenyum jail.
"Apaan sih, nggak mau bantu ya udah." Debby memutuskan untuk mengambil kursi, mendekat ke arah lemari gantung dan naik. Menjadikan kursi itu sebagai pijakan. "Bisa kan ku ambil sendiri..."
"Iya deh iya..."
Debby kembali turun, lalu berusaha membuka botol kecil berisi bubuk penyedap yang masih baru. Di sana Rumi kembali mengamati, karena sang istri sepertinya kesulitan juga saat membuka tutupnya.
"Susah ya? Mau aku bantu?"
"Nggak... Nggak usah. Aku bisa kok."
"Oh... ya udah." Masih mengamati.
"Ihhh... Biasanya nggak sekeraaaaas, iniii..." Runtuk Debby.
"Sini ku bukain,"
"Nggak perlu, aku bisa."
"Sini ku bukain." Hendak meraih botol di tangan Debby, namun di tepis pelan.
"Aku bisa sendiri." Debby memutuskan untuk memunggungi, berusaha lagi untuk membukanya. Yang di biarkan saja oleh Rumi.
Cukup lama ia berkutat hingga akhirnya menyerah, ia pun putar badan.
"Apa?" Tanya Rumi.
"Buka," jawabnya lirih.
Rumi pun tersenyum. Mendekatkan telinganya. "Nggak kedengeran tuh... Coba bilang lebih keras."
"Ck...! Bukain ini."
"Yang halus dong ngomongnya. Pakai embel-embel sayang mungkin. Biar aku ikhlas bukain-nya." Terkekeh tanpa suaranya saat melihat Debby mengatup rapat-rapat bibirnya sendiri, menahan tawa.
"Apaan sih..."
"Apa? Mau di bantu nggak nih."
"Ya udah bukain aja. Nggak perlu pakai embel-embel. Kaya gitu."
"Kan biar ikhlas."
"Ck...! Emang bisa ya." Debby masih menahan tawanya.
"Bisa dong, cepetan bilang."
Menghela nafas sejenak. "Sayang... Bukain."
"Hehehe... MashaAllah." Rumi meraih botol kecil di tangan Debby. melihat sang istri malu-malu mengucapkan itu. Membuatnya gemas. Ia menoleh kearah pintu Sejenak hanya untuk memastikan, jika Abinya belum kembali lalu memberikan kecupan manis di bibirnya sebanyak tiga kali.
Ya... Sekuat apapun menahan jengkel, jika lawan kita adalah suami? Tak perlu menggunakan ribuan jurus rayuan. Cukup di pandang saja, tawa kita sudah pecah. Memang mahluk paling sulit untuk di musuhi lama, dialah suami. Hehehe.
__ADS_1
bersambung...