
malam kembali datang...
Ustadz Irsyad duduk di hadapan dua anaknya, sebenarnya ia amat berat untuk mengatakan ini. Namun setelah sekian lama memikirkan serta memendam semuanya? Kini sudah saatnya ustadz Irsyad berbicara tentang niatannya meninggalkan kota Jakarta lalu hijrah ke desa. Tempat kelahirannya, yaitu kota Magelang.
"Tiga bulan lagi, Abi sudah tidak mengajar. Serta memilih untuk pensiun dini sebagai dosen," kata beliau, hingga mengguratkan tanda tanya besar pada kedua anaknya.
"Abi pensiun? Kenapa Bi?" Tanya Rumi.
"Iya... Abi mau ngurus pondok di Magelang, karena bude Adiba sudah susah bolak balik Solo-Magelang. Di samping jauh, sebenarnya itu adalah kewajiban Abi sebagai anak laki-laki satu-satunya almarhum mbah KH. Muktar."
Rumi manggut-manggut, ia memahami. Apa yang di katakan Abinya ada benarnya, dan mungkin juga ustadz Irsyad memang membutuhkan suasana baru dalam hidup beliau, lebih-lebih di rumah ini sudah tidak ada Umma Rahma.
"Apa tidak bisa di pikir-pikir dulu, Bi?" Nuha bertanya, dengan perasaan sedih. Di mana Rumi langsung merangkulnya, mengusap-usap bahu sang adik, yang memahami jika adiknya itu pasti akan merasa keberatan jika sampai Abi Irsyad benar-benar pindah.
Sebab bagi Nuha, jika Abi Irsyad pindah ke Magelang mungkin dia akan lebih susah bertemu.
Kalaupun harus mendatangi beliau, itu pasti bisa sampai beberapa bulan sekali atau bahkan setahun sekali. Seperti dirinya dulu bersama keluarga saat hendak mendatangi kediaman kakeknya dan neneknya di kampung sang ayah.
"Abi sudah memikirkan ini, bahkan sudah hampir satu tahun. Dan hari ini, Abi sudah memutuskan untuk berhenti menjadi dosen lantas pindah ke kota kelahiran Abi."
"Abi?" Nuha sudah tidak kuasa ia beranjak, memilih untuk pindah posisi duduk di sebelah ustadz Irsyad. "Nuha tidak mau jauh dari Abi."
Ustadz Irsyad memeluk sang putri, lalu mengecup kepalanya. "Abi harus hijrah, Dek. Dede di sini kan sudah ada A' Faqih."
"Tetap saja, Abi cinta pertama Nuha. Kesayangan Nuha. Abi tahu? Kesedihan Nuha saat kehilangan Umma? Sampai saat ini kalau boleh jujur, Nuha sebenarnya belum bisa benar-benar merasa bahagia. Hati Nuha masih merasakan kekosongan, apalagi jika datang ke rumah ini? " Nuha sedikit terisak, memeluk tubuh tambun Abinya karena memang benar, setiap kali ia datang rasanya rumah ini hampa karena tidak ada sambutan hangat Umma yang biasanya sudah menanti di depan rumah.
Mendengar penuturan sang anak, ustadz Irsyad hanya diam saja, beliau hanya bisa mengusap punggung Nuha lembut, mencoba untuk menenangkan.
"Dede berat, Bi... Hiks, kenapa harus seperti ini? Apa Nuha kurang memperhatikan Abi? Apa harus Nuha kembali ke rumah ini, agar Abi bisa tetap di sini?"
"Istighfar, Dek. Dede itu sudah ada A' Faqih. Tidak boleh punya pikiran untuk kembali ke sini."
"Tapi Dede mau ngerawat Abi... Abi tahu? Di hati Nuha masih ada ganjalan. Karena selama Umma sakit hingga meninggal, Nuha amat jarang di sisinya. Dan kalau Abi jauh, pasti akan semakin sulit bagi Nuha menjenguk Abi."
"Ya Allah..." Ustadz Irsyad kembali mencium kepala Nuha, dimana hati ustadz Irsyad kembali goyah antara tetap disini atau teguh dengan keputusannya untuk hijrah. Beliau pun menatap ke arah Rumi. "Kakak sendiri bagaimana?" Tanya beliau.
__ADS_1
Ia menghela nafas, menahan sesaknya. Pun sejatinya ia tidak ingin Abinya pindah ke Jawa Tengah.
"Rumi tidak bisa menahan segala sesuatu yang sudah menjadi keputusan Abi."
"Hiks, kak Rumi kenapa setuju?" Nuha semakin terisak, tatkala mendengar jawaban Rumi.
"Mau bagaimana lagi Dek, kita tetap harus menghormati keputusan Abi tidak boleh memaksa. Kasian Abi juga, beliau butuh suasana baru."
"Tapi Nuha nggak mau, Abi ke Magelang!!! Kak Rumi bisa bicara seperti itu karena kak Rumi bisa merawat Umma dan juga Abi, sementara aku? Waktu ku untuk bersama Abi dan Umma itu sedikit!"
"Dek?" Rumi mencoba meredam amarah sang adik.
"Pokoknya, Abi tetap disini...! Abi bisa kok tinggal di rumah Nuha jika butuh suasana baru, tidak perlu ke Magelang. Nanti Nuha izin sama A' Faqih pasti di perbolehkan."
"Dek, masalahnya bukan begitu."
"Lantas apa lagi? Tolong mengerti perasaan Nuha, Kak! Nuha nggak mau jauh dari Abi...!"
"Sssstt.... Sssssttt... Tenangkan hati kalian ya. Istighfar– Jangan sampai hal seperti ini menjadi sesuatu yang malah menimbulkan masalah." Berusaha beliau menenangkan situasi tak mengenakan ini. Mengusap air mata Nuha lembut. "Dede sayang sama Abi, tidak?"
"Tanpa perlu Abi bertanya, Nuha sudah pasti sayang sama Abi." Rengeknya.
Kedua mata Nuha mengerjap, semakin deras air mata itu mengalir. Ia melihat genangan air di kedua ekor mata Abinya. Nuha pun menghapus air mata ustadz Irsyad.
"Abi sempat ada pikiran untuk mengikuti kata orang, yang mereka bilang? Jika ingin mengobati hati yang pincang karena kehilangan, maka harus mencari separuh hati yang barunya. Tapi tidak semudah itu, walaupun ada seorang wanita lain yang menjadi pilihan Abi, tapi itu sulit. Akhirnya Abi lebih memilih hijrah, Abi benar-benar ingin mengurus pondok pesantren di kampung, semata-mata karena Abi ingin melupakan dunia. Abi ingin setia sampai kematian menjemput Abi, karena satu bidadari saja sudah cukup, yaitu Umma Rahma."
"Hiks... Abi, maafkan Nuha." Kembali Nuha memeluk tubuh ustadz Irsyad. Beliau tersenyum lantas merentangkan satu tangannya pada Rumi yang sedang mengusap air matanya, meminta anak itu untuk turut duduk di sebelah beliau. Rumi pun beranjak, dan berpindah ke sisi kiri ustadz Irsyad sama-sama memeluk Abi dan Nuha.
"Jujur, Abi berat saat memutuskan ini. Namun, mau bagaimana lagi. Sudah saatnya Abi lebih memperdalam ilmu agama Abi. Dan menjalankan amanah Mbah Kakung."
"Tapi bolehkah Nuha minta satu syarat?"
"Apa, Dek?" Tanya Ustadz Irsyad.
"Abi, harus sering-sering ke sini. Kalau Nuha tidak ke Magelang."
__ADS_1
"inshaAllah. Di usahakan– jangan sedih ya. Dan lagi untuk rumah ini, Abi ada niatan untuk menjualnya."
"Di jual?" Tanya Nuha dan Rumi hampir bersamaan. Mereka melepaskan pelukannya menatap Abi mereka.
"Kok– di jual?" Tanya Nuha.
"Iya, karena? Rumi kan kerjanya di Bandung. kandungan Debby juga sudah semakin membesar. Kasian kalau harus sendirian di rumah. Kalau bolak balik Bandung pun riskan juga. Jadi lebih baik, Abi belikan rumah untuk Rumi dan Debby di Bandung."
"Tapi kan Bi, nggak harus di jual juga. Kalau Nuha kangen rumah ini bagaimana?" Tanya Nuha dengan suara parau-nya.
"Nuha benar, Bi. Tidak perlu di jual. Rumah ini bisa untuk tempat kita berkumpul. Saat Abi pulang ke Jakarta." Rumi mengusulkan.
"Tapi, bukankah lebih baik di jual?"
"Nggak Rumi nggak setuju jika rumah ini di jual. Rumah ini penuh kenangan masa kecil aku dan Nuha. Penuh kenangan Abi dan Umma juga."
"Iya, Bi. Tolong untuk rumah ini. Tetaplah ada, ya Bi?"
Ustadz Irsyad tersenyum lalu mengangguk. Beliau mencium kepala Rumi lalu Nuha setelahnya.
"Tetaplah sehat, dan jadilah orang tua yang baik untuk anak-anak kalian."
"Iya Abi–" jawab Rumi dan Nuha bersamaan, dengan Isak tangis Nuha yang belum bisa di hentikan.
.
.
# POV RUMI
andai bisa ku diberi kesempatan untuk kembali.
Masa lalu
adalah hal yang terpilih yang paling ingin ku temui, ketika aku masih takut saat pulang terlalu petang, bahkan sabetan rotan Abi pun tidak begitu sakit ketimbang hadirnya masa dewasa yang menyempitkan waktu untuk bersama keluarga. Teriakan Umma yang selalu membuat ku terkadang merasa tak nyaman, adalah alarm cinta yang tak bisa lagi ku dengar saat ini.
__ADS_1
Setiap insan, memang harus bersiap. Ketika waktu membawa pada kuasa ilahi yang berwujud perpisahan. Tidak akan mampu kita menolak jalanya rentang waktu yang terus saja bergulir, berjumpa dengan suka dan duka, tangis dan juga tawa, semuanya mengalir hingga kita bertemu pada masa akhir kita menjalani hidup sebagai seorang penduduk di bumi ini.
Bersambung....