Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
hal baik setelah adanya pertengkaran


__ADS_3

Rumi masih memeluk Debby erat. Menatap langit cerah di luar, dengan hawa sejuk dari AC yang berada di kamar itu.


"Aku mau ke rumah tante Maryam." Kata Debby, Rumi pun mengangkat kepalanya mencium pipi Debby sejenak.


"Buat apa kesana?" Tanya Rumi, dia masih takut sang istri meminta untuk di kembalikan.


"Aku kangen Tante." Isaknya. Rumi pun melepaskan pelukannya lalu turun dari ranjang itu, berjongkok di hadapan Debby.


"Hanya Tante yang akan memahami ku." Sambung gadis itu saat Rumi tengah memandangnya sendu.


"Aku bukan pria sempurna dek... Aku masih bisa ingkar atas segala janji ku, saat berikrar di depan saksi. Tapi cinta ku itu sungguhan." Rumi mencium kening Debby lembut.


"Hiks..." gadis itu kembali menangis.


"Maaf dek sekali lagi aku bersalah, aku benar-benar menyesali. Sekarang marahi saja aku. Ayo marahi aku, kalau itu bisa membuat mu lega." Rumi meraih tangan Debby menempelkannya di pipi, memukul-mukulnya pelan. Sementara Debby langsung menariknya.


Sementara Rumi meraih lagi kedua tangan itu.


"Aku harus apa? Biar kamu tidak marah lagi." Mengecup kedua tangan Debby yang berada di genggamannya.


"Antar aku kerumah Tante Maryam." Rengeknya. Rumi menatap lekat-lekat mata yang tengah menghindari tatapannya.


"Dek, boleh kamu ke sana. Tapi jangan dalam keadaan marah seperti ini. Aku akan ikut menginap." Ucap Rumi lembut.


Debby menoleh kearah sang suami, dimana Rumi sudah menyunggingkan senyum terbaiknya.


"Nggak usah senyum. Kamu pikir baik apa senyum seperti itu? Kamu tetap bersalah." Perlahan hati Debby mulai luluh, namun memang sifat dasar wanita dia tidak ingin terlihat luluh di hadapan sang suami. Debby kembali memalingkan wajahnya, bersungut.


Rumi yang mulai merasakan Debby sudah mulai membaik pun semakin menggenggam erat tangannya.


"Iya aku masih bersalah... Tetap akan salah. Tapi kan kamu baik hati, pemaaf. Jadi maaf ya. Baikan yuk."


"Nggak..."


"Aaaa... Baikan, baikan." Nada Rumi membuat Debby menoleh cepat. Lalu sedikit menahan tawa.


"Lebai."


"Nggak lebai buat kamu mah... Ya, ya, baikan..." Mengacungkan jari kelingkingnya.


"Apaan sih seperti anak kecil." Gadis itu masih menghindari tatapan mata sang suami, dengan bibir berusaha keras menahan tawa.

__ADS_1


"Nggak papa kaya anak kecil mumpung belum ada anak kecil." Terkekeh.


"Nggak usah ketawa, nggak ada yang lucu."


"Ada yang lucu..."


"Nggak ada."


"Ada dek, liat jari aku nunjuk kemana?" Ucap Rumi, Debby pun menoleh. Jari itu terarah kepadanya. "Cieee lucu."


"Apaan sih..." Debby mendorong bahu Rumi, membuat pria itu tertawa lalu beranjak, pindah duduk di sebelah Debby.


"Peluk sini." Rumi merentangkan kedua tangannya.


"Nggak."


"Sini peluk... Nanti aku berubah pikiran loh."


"Sok... Berubah pikiran sana." Tantang sang istri masih dalam posisi menyamping membelakangi Rumi.


"Yeee... Nantangin, aku kalau berubah pikiran mintanya lebih loh ya." Rumi meraih kedua bahu Debby.


"Hei... Mau apa?" Sedikit terkesiap saat tubuhnya mulai direbahkan oleh Rumi.


Debby Terkekeh merasa geli ketika serangan kecupan sudah mulai menghujani wajah sampai kebagian lekuk leher.


"Nggak mau, kak. Aku masih marah." Menahan wajah itu dengan kedua tangannya.


"Marah aja, aku kan mau memberikan obat marah mu."


"Ih... Masih siang, jangan macem-macem deh." Tertawa lagi.


"Kenapa? Kan bukan Ramadhan. Jadi boleh-boleh saja."


"Nanti Abi manggil gimana?" Masih berusaha menolak.


"Abi pasti memahami, anaknya sedang butuh waktu untuk berdua." Rumi melepaskan atasannya, lalu kembali mengungkung tubuh mungil sang istri.


Membuat Debby tidak bisa menolaknya ia mengikuti permainan sang suami. Karena melayani suami adalah ibadah mau seperti apapun terlukanya kita. Hingga waktu yang masih di bilang siang itu terus berjalan, detakan jam pun terus berbunyi, menemani sepasang kekasih halal yang tengah beradu kasih. Karena tidak sabar menanti malam hari.


Dimana kenyamanan itu seolah semakin mereka rasakan, cinta pun sepertinya semakin tertancap lebih dalam diantara keduanya. Setelah sekian lama tak mendapatkan nafkah batin dari sang suami. Siang ini dia benar-benar mendapatkannya kehangatan yang pernah hambar.

__ADS_1


Melupakan makan siang yang sudah mendingin di atas meja, ia jauh lebih memilih menikmati apa yang di berikan Rumi untuknya. Bahkan Rumi pun sama merasakan kenyamanan itu lebih dari pada sebelumnya, mungkinkah efek setelah perseteruan tadi? Yang pasti ia jadi lebih melakukannya dengan penuh kasih sayang serta kelembutannya yang lain dari biasanya. seolah membuat mereka hanyut dan lupa sejenak akan luka yang terguratkan selama beberapa Minggu terakhir ini, lebih-lebih Debora.


Ya... Itulah seorang istri. Dia yang benar-benar cinta dengan pasangannya, mau di abaikan seperti apapun, di hempaskan, di remas bahkan di injak-injak sekalipun? Mereka tetap akan memaafkan jika sang suami sudah memberikannya sebuah sentuhan sayang.


🌸


🌸


🌸


Sebelum adzan Azhar berkumandang, keduanya keluar dari kamar menuruni anak tangga. Tangan Rumi menggenggamnya erat, dengan senyum tersungging tipis di bibir mereka.


Abi Irsyad sudah siap hendak pergi, beliau pun memasang kancing di lengannya.


Menatap bahagia kearah dua anak itu, sekaligus rasa lega, sepertinya Keduanya sudah baik-baik saja.


"Abi mau pergi?" Tanya Rumi.


"Iya, mau ngisi tausyiah rutin di masjid dekat rumah Bilal."


"Bilal yang mana bi?" Tanya Rumi.


"Habib Bilal."


"Oh.." Rumi paham, memang sudah satu tahun belakangan ini beliau rutin mengisi tausiyah di Minggu terakhir, setiap bulannya. Pemimpinnya adalah seorang guru madrasah Aliyah, Annisa Nur Istiqomah, dan karena para jamaahnya perempuan semua, ustadz Irsyad biasanya ada yang mendampingi.


"Ya sudah, Abi jalan ya. Assalamualaikum." Menyalami kedua anak itu.


"Walaikumsalam warahmatullah. Hati-hati Bi." Keduanya masih menatap kearah Abi Irsyad, dan setelah pintu tertutup Rumi menoleh ke arah Debby, mencium pipinya. Debby sedikit kaget, ia menoleh.


"Apa?" Menatapnya dengan aneh, karena bibir Rumi masih senyum-senyum di sana.


"Apa? Aku cuma mau liat kamu kok. Kan ibadah."


"Ya ampun..." Debby mendorong pipi Rumi pelan agar wajah itu berpaling. Membuat Rumi tertawa lalu menarik tangan Debby pelan memeluknya, hendaknya dia memberi kecupan di bibir.


Cklaaakk... Hingga Handle pintu kembali berbunyi, secepatnya Rumi melepaskan pelukannya. Saat Abi Irsyad kembali masuk.


"Ada yang ketinggalan, Bi?" Tanya Rumi, mengelus dada karena kaget.


"Iya, Abi salah ambil kunci. Harusnya kunci motor, karena mobil Abi mogok." Beliau berjalan cepat menuju kamarnya lagi.

__ADS_1


"Ya Allah... Kaget." Gumam Rumi. Sementara Debby hanya menutup mulutnya terkekeh.


Bersambung...


__ADS_2