Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
ke masjid bersama


__ADS_3

Siang ini, ketika nabastala menunjukan kumulus awan pekatnya, hingga menjatuhkan rinai air yang sedikit membasahi seluruh kota.


Duduk seorang pria di sebuah anjungan yang tersekat oleh dinding kaca. Bertemankan secangkir kopi yang masih mengepul di sebelah mesin ketiknya. Bekerja dengan sepenuh hati, demi sebuah tanggung jawab sebagai seorang suami yang wajib menafkahi Istrinya.


Ia benar-benar berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja, berharap apapun yang ia lakukan saat ini mampu mengangkatnya ke posisi yang lebih baik. Yang pasti, satu hal yang ia yakini, tidak ada lelah yang menjadi sia-sia. Jika yang ia niatkan semuanya karena Allah.


Selang beberapa lama, Rumi menautkan kesepuluh jari, mendorong maju hanya untuk melakukan perenggangan setelah selesai bekerja sedari pagi tadi. Riuh suara adzan dari toa masjid sudah memanggil. Bersaut-sautan dari satu masjid ke masjid lainnya. Pertanda waktu sholat Ashar telah tiba.


"Alhamdulillah..." gumam Rumi, meraih cangkir yang isinya hanya tinggal sedikit lalu menyeruputnya.


Ia pun lantas beranjak, dan bersiap sebelum mendatangi masjid, dekat rumah.


"Ayo ke masjid," ajak Debby dengan gamis berwarna hitam dan hijab panjangnya, ia kini berdiri di depan pintu kaca, akses menuju ke balkon. Menyambut Rumi yang tengah menyunggingkan senyumnya.


Rumi mengangguk senang, mendekati sang istri lalu mengecup kepala yang tertutup kain hijab berwarna mocca.


"Rajinnya istri ku," puji Rumi setelah selesai mencium sang istri.


"Iya lah, kan pengen jadi jodoh mu dunia akhirat." Nyengir.


"MashaAllah... Aamiin. Sebentar ya, aku ambil air wudhu dulu, sama ganti baju."


"Iya," Debby berjalan mendekati ranjang. Ia pun duduk sejenak, sembari menunggu suaminya selesai wudhu dan ganti busana.


Koko gamis adalah favorit Rumi, ketika hendak sholat. Menurunnya simpel saja, tidak terlalu ribet. Karena harus memakai sarung dan kokonya.


Debby mengamati Rumi yang tengah menyibak rambutnya kebelakang sebelum memasang kopiah di kepala, lantas meraih parfum non alkohol di atas meja menyemprotkannya sedikit ke tubuh dan terakhir, ia pun meraih sajadah di dekatnya.


"Ayo jalan," ajak Rumi. Dimana Debby hanya diam saja. Mengamati Rumi dengan senyum yang masih merekah di bibir. "Dek... Ayo. Keburu komat."


"Aaaaa... Kakak tuh, kalo lagi begini gantengnya berlapis-lapis, tahu!"


"Ya Allah... Bisa aja kamu ya."


"Beneran." Ia pun berjalan mendekati Rumi. Dan mendapati sesuatu yang membuatnya semakin ingin melebarkan senyum. "Ya ampun. Ini?"


Rumi mengangkat sedikit tangan kirinya. Menujukan cincin tembaga yang melingkar di jari manisnya.


"sesuai permintaan mu. Dan setelah ku pikir-pikir nggak papa sih pakai ini. Cocok nggak?"


Debby mengangguk cepat. "MashaAllah cocok, Kak."


"Seneng tuh pasti?"

__ADS_1


"Seneng banget dong. Kalau kaya gini kan, orang tahu. Bahwa kak Rumi sudah ada yang punya. Hehehe."


"Ya kareem... Asal jangan minta aku tulis sesuatu di kening ya. Sebagai tanda ini suami Debora."


"Hahaha, bila perlu boleh juga tuh." Debby mengaitkan tanya di lengan Rumi.


"Jangan dong. Cukup hati ku saja yang bertuliskan nama Debora Aruan."


"Aaaa... Kak Rumi. Jangan bikin meleleh ya. Nanti nggak jadi ke masjid nih."


"Hahaha... Yuk lah jalan."


Keduanya berjalan keluar dari kamar mereka. Berbicara kesana-kemari, yang lebih banyak di sumbangkan oleh Debby dengan ribuan kata-kata dalam obrolan mereka sepanjang perjalanan.


Di depan rumah, Rumi melepaskan Sejenak tangan Debby. Ia pun menengadahkan tangannya sedikit naik.


"Udah nggak gerimis, sepertinya." gumam Rumi, yang lantas berjalan ke garasi guna mengambil motor matic yang biasa di pakai Debora.


Tak lama ia keluar dari garasi itu.


"Yuk, naik."


"Kok pakai motor? Masjid 'kan deket."


"Jalan-jalan kemana? Masih mendung nih, kalau hujan lagi gimana?"


"muter-muter aja. Kalau semisalnya hujan lagi ya? Nggak papa hujan-hujanan kita. Ayo buruan, keburu komat."


Debby melebarkan senyumnya, merasa senang. Ia lantas berjalan mendekati motor, dan duduk menyamping membonceng Rumi.


"Pegangan yang kenceng ya. Takut jatuh. 'kan sayang kalo jatuh, nanti jadi lecet bidadari ku ini."


"Hahaha... Lebay banget sih." Debby melingkari pinggang Rumi dari belakang.


"Nggak papa lebay. Kan sama istri sendiri."


"Utututu suami, karena masih baru aja begini ya. Kalau udah bertahun-tahun pasti nggak akan ada rayuan manis lagi tuh."


"Paling julukan ku udah lain ke kamu?"


"Apa?" Tanya Debby.


"Apa ya...? Liat saja nanti." Rumi tergelak, ketika mendapati cubitan manja di pinggang. ia pun menarik gasnya. Dimana motor mulai melaju keluar dari halaman rumah. Menuju tempat ibadah.

__ADS_1


–––


Sesampainya di masjid, keduanya bergegas masuk menuju saf masing-masing. Karena Iqamah sudah berkumandang.


Di mana ustadz Irsyad pun kini tengah bersiap, berdiri di mihrab-nya sembari menanti Iqamah selesai di kumandangkan.


"Rapatkan saf-nya ya," titah ustadz Irsyad pada semua jamaah. Mereka pun menuruti. Setelah semua siap ustadz Irsyad kembali menghadap depan, mengangkat kedua tangannya hingga sebatas telinga, bertakbir.


Dalam keheningan, bertemankan hawa sejuk akibat mendung di luar sedari pagi. Empat rakaat shalat itu pun di jalankan.


Rinai hujan kembali berjatuhan, namun dengan intensitas lebih kecil dari yang tadi. Menambah suasana syahdu yang menciptakan kekhusuk-an di antara para jamaah, mengikuti setiap gerakan yang diimami oleh ustadz Irsyad.


Beberapa menit berlalu, empat rakaat itu pun selesai di jalankan. Kini keheningan masih tercipta, dimana zikir-zikir panjang yang lantunkan di masing-masing orang masih berjalan. hingga beberapa saat, satu persatu dari mereka mulai beranjak.


Hanya tersisa beberapa. Di antaranya lima orang pria berusia senja, tiga pria paruh baya termasuk ustadz Irsyad, dua pria dewasa yang salah satunya adalah Rumi, serta beberapa jama'ah wanita di saf mereka.


Dan setelah selesai berzikir, Rumi pun beranjak.


Ia keluar dari masjid tersebut. Yang kini hanya menyisakan beberapa orang pria saja. Biasanya mereka akan lebih lama di sana mengobrol bersama Abinya. Ada yang meminta nasehat, atau mungkin hanya sebatas mengobrol prihal kegiatan masjid. Karena memang di situlah letak kenyamanan mereka, demi men-charge iman antar satu sama lain.


–––


Di luar, Rumi menghampiri Debby yang sudah menunggu cukup lama.


"Ayo kita jalan-jalan." Ajak Rumi.


"Gerimis kecil-kecil tuh."


"Nggak papa Dek. Nanti kita jajan yang hangat-hangat. Kamu mau makan apa?"


"Emmm? Pengen makan soto betawi kak. Tapi yang di ujung sana." Debby menunjuk ke suatu arah.


"Owh warung itu, jam berapa memang sekarang?" Rumi menoleh ke belakang mengintip jam dinding di masjid. "Udah habis belum ya?" gumam dia kemudian.


"Coba dulu ayo kesana. Aku mau makan soto itu dengan sambal yang banyak. Hemmmm seger banget deh kayanya, mendung-mendung makan soto daging sapi." Debby membayangkan kenyalnya daging sapi yang ia makan dengan nasi hangat, plus emping melinjo yang sedikit asin gurih.


"Liur mu sampai netes, dek." Ledek Rumi, seraya mengusap-usap bibir Debby dengan tangannya.


"Hah...!!" Debby pun terkejut, lalu memukul bahu Rumi yang terkekeh. "Aku nggak pernah ngences, tahu!"


"Tadi ngences, makannya ku lap pake tangan. Baik 'kan aku?"


"Itu mah bisa-bisanya kamu."

__ADS_1


"Hahaha." Rumi tertawa ia pun langsung meraih tangan Debby, menggandengnya keluar dari masjid itu. Menuju tempat motor mereka terparkir.


__ADS_2