Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
menghadiri pernikahan Kak Gallen


__ADS_3

Di depan pintu kamar, Rumi terdiam. Memikirkan sesuatu yang entah apa. Lantas beristighfar dan memilih untuk kembali masuk.


Mungkin dia memang harus memahami istrinya yang tengah hamil. Karena kondisi ibu hamil itu berbeda-beda, jadi mengalah saja untuk saat-saat ini, seperti apa yang selalu Abinya titahkan.


Baru saja pintu itu terbuka, ia menangkap Debby yang hendak meraih piring berisi buah lalu tidak jadi, dan kembali memiringkan tubuhnya membelakangi.


Pria berpostur jangkung itu tersenyum, ia kembali menutup pintunya setelah masuk dan duduk di sebelah Debby. Mengusap kepala sang istri lembut,


"Nggak jadi makan buahnya?"


"Nggak!" jawabnya ketus.


"Ya udah." sembari meraih piring di atas meja. Rumi menusuk satu potong apel. Suara potongan buah yang tengah di haluskan dengan gigi membuat Debby membuka matanya, Ia pun menoleh.


"Kak Rumi ngapain?"


"Makan buah," jawabnya enteng.


"Kan punya aku."


"Tadi katanya nggak mau."


"Ya tapi jangan di makan." Debby beranjak duduk.


"Nggak ada yang ngelarang tuh untuk di makan. Aku juga yang motong, lagian kalau buat besok kan sudah tidak enak." Rumi memakan satu demi satu potongan buah itu cepat.


"Tapi kan?" Debby merebut garpu di tangan Rumi. "Ini tetap punya aku, kakak udah ngasih kan."


"Diiih... Masih mau gitu makan buah dari aku? Harusnya kalau ngambek kan jaga image."


Debby tidak memperdulikan itu ia lebih memilih untuk menusuk buah di piring yang masih berada di tangan sang suami. Karena, marahnya Debby memang terbilang sering. Namun secepat itu pula kondisinya membaik.


Rumi mengulas senyum. Dan langsung menghadiahi kecupan di kening istrinya. Perbuatannya itu mengundang rasa bahagia yang seolah-olah langsung melunturkan rasa kesal dan sedihnya tadi.


"Kok balik, bukannya mau ikut ngambek ya?" Tanya Debby, dengan mulut masih mengunyah.


"Kamu maunya aku begitu?"


Debby hanya terdiam, karena dalam hati dia menjawab? nggak mau, aku senang kamu balik lagi.


"Kayanya kalau kita ke Senayan besok sore nggak papa sih, walau nggak sampai malam," katanya sembari menyentuh perut sang istri.


Debby menggigit ujung garpu-nya, sembari tersenyum malu-malu.


"Yang bener?"

__ADS_1


"Bener, tapi ada syaratnya."


"Apa? Jangan yang aneh-aneh." Menggelayut manja di lengan Rumi.


"Nggak aneh."


"Ya apa?"


Rumi tersenyum.


"Kan? Pasti lagi mikirin hal yang aneh-aneh tuh."


"Nggak... Nggak... Sayang. Aku cuma mau kamu lebih merubah sikap mu. Jangan terlalu mudah ngambek. Kita mau punya anak loh."


Bibir Debby mengerucut, "memang aku terkesan seperti itu apa? Semua kan karena kak Rumi juga."


"Aku ngapain?"


"Ya bikin aku merasakan di cuekin akhir-akhir ini," jawab Debby. Rumi menghela nafas, dan menarik pipi Debby.


"Seberapa sering pun aku memberikan mu perhatian? Tetap akan kalah dengan sekali mengabaikan. Itu sebabnya, aku selalu meminta mu untuk tidak terlalu memikirkan sesuatu yang akan melibatkan perasaan mu. Ujungnya nggak enak kan?"


"Ya tapi kan aku butuh kasih sayang lebih."


Debby manggut-manggut, mau seperti apapun dia akan tetap kalah dengan argumen suaminya. Rumi pun mengusap lembut kepalanya.


"Nahโ€“ besok, kita jalan selepas Ashar? Nanti kalau sudah mendekati magrib kita pulang."


"Iya, suami."


"MashaAllah, yuk tidur sudah malam." Ajaknya sembari meletakkan piring yang sudah kosong di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di sisi Debby sembari memeluk, ia pun mulai bersenandung, melantunkan sholawat Nabi untuknya. Sebuah hal yang membuat Debby selalu tenang di kala tidur bukanlah Nina Bobo lagi sekarang, tetapi sholawat Nabi dari bibir sang suami.


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


Minggu demi Minggu dilaluinya dengan baik, hingga berganti bulan setelahnya.


Dalam waktu yang semakin mendekati hari berhentinya Ustadz Irsyad sebagai dosen?


Barang-barang beliau yang berada di kampus pun sedikit demi sedikit mulai di bawanya pulang.


Hari ini Rumi tercenung, melihat dua box kontainer di bawah tangga, sebelum keberangkatannya ke Bandung untuk menghadiri acara pernikahan kakak iparnya petang nanti.

__ADS_1


Abi benar-benar akan pindah satu bulan lagi, terlihat dari beberapa barang-barang yang sudah mipil beliau siapkan.


"Kak Rumi, pegangin ini. Aku ribet." Debby menyerahkan tasnya yang langsung di raih Rumi. Sementara dirinya tengah membawa sepasang kaos kaki sampai ke sofa ruang tengah. Berniat untuk memasang namun sedikit kesulitan akibat perut yang semakin buncit.


"Pelan-pelan. Sini aku bantu pasangkan." Rumi berjongkok dengan satu kaki di tekuk. Ia meraih satu kaos kaki, memasangkannya ke kaki kanan sang istri, lalu kaki kirinya.


Debby menatap dengan senyuman, perlakuan seperti itu sudah sering sekali ia dapatkan dari suaminya, salah satu hal yang perlu ia syukuri.


"Nyaman nggak, Dek?" Tanya Rumi.


"Nyaman. Terimakasih suami." Debby tersenyum senang.


"Sama-sama sayang, yuk jalan. Sudah siang." Rumi meraih kedua tangan istrinya, membantunya berdiri. Lantas berjalan dengan tangan saling bertaut keluar.


Pukul satu siang ini, matahari sedang garang-garangnya. Debby mengusap sedikit peluh di keningnya dengan tissue saat baru masuk ke dalam mobil. Binar matanya menangkap kipas lipat yang terbuat dari bambu tipis dan kain. Sebuah souvenir yang tempo hari di dapatkannya, saat kondangan ke salah satu teman Rumi di daerah Jatinegara.


Rumi segera menyalakan AC mobil, agar sang istri lebih merasa nyaman, dan mobil pun melaju.


โ€“โ€“โ€“


Di sebuah gedung yang lumayan indah dengan dekorasi, dominan warna pastel. Malam itu Rumi dan Debby datang, setelah rehat sejenak di rumah orang tua Debby.


Mata Debby mengembun, menangkap sepasang suami-istri yang baru saja mengucap sumpah pernikahan di depan pendeta pagi tadi.


Mereka sudah melakukan serangkaian acara, dan kini kedua mempelai itu tengah memegangi pisau panjang untuk memotong kue pernikahan yang tingginya sekitar tiga meter. Tawa renyah terpancar dari keduanya tatkala tangan-tangan mereka bekerja untuk menyuapi potongan kue tersebut secara bergantian, menandakan mereka benar-benar bahagia. Kak Gallen dengan jas berwarna senada dengan sang istri yang membalut tubuhnya dengan gaun pengantin bak ratu Disney, benar-benar sangat anggun.


Tiba masa para pengunjung mengucapkan selamat padanya. Debby sedikit ragu, ia takut membuat kakaknya itu menjadi malu karena sang adik datang dengan hijab syar'i-nya.


"Ayo kita kesanaโ€“" ajak Rumi pada sang istri, Debby menoleh sejenak.


"Kita di sini saja kak."


"Loh kenapa?"


"Kak Gallen kan tidak tahu kalau kita datang. Jadi aku takut, akan ada hal yang tak di inginkan. Yang malah akan mempermalukan mu," jawab Debby lirih. Lihat saja orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh. Karena sebagian besar dari tamu undangan tak ada yang berhijab satupun.


Walaupun sebagian ada yang muslim, tapi mereka rata-rata tak Berhijab. Dan sepertinya hanya Debby saja yang menggunakan kain syar'i itu di kepalanya.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Kita harus tetap mengucapkan selamat pada kakak. Ayo jalanโ€“" Rumi menggandeng tangan Debby yang terus saja menahan langkah itu, yang penuh dengan rasa khawatirnya.


Tak lama, Mama menangkap dua anaknya yang masih berada lumayan jauh dari kursi altar. Beliau pun membisikkan sesuatu pada salah satu Crew WO (wedding organizer). Pria itu mengangguk lalu berjalan mendekati Debby dan Rumi.


"Permisi, mbak dan mas di persilahkan untuk naik ke altar untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai."


"Emmmm....?" Debby ragu-ragu menatap ke arah sang suami yang sudah mengangguk sembari tersenyum. Rumi pun meraih tangan sang istri menggandengnya erat, memberanikan diri untuk mendekati kedua pengantin di sana.

__ADS_1


__ADS_2