Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
usulan pak Huda.


__ADS_3

Sudah lewat beberapa pekan.


Hari ini sedang di langsungkan sebuah acara tasyakuran empat bulanan usia kandungan Debby. Acara yang di adakan sedikit mengikuti adat Jawa, namun tidak sepenuhnya. Hanya tahlil biasa dan berdoa bersama, karena itu yang di pahami ustadz Irsyad.


Ada beberapa kerabat yang hadir, bahkan Papa dan Mama pun datang. Walaupun tak ikut pengajian, tapi Mama nampak antusias membantu para ibu-ibu yang tak lain adalah Umma Hasna dan juga istri dari pak Huda, menata beberapa jenis makanan untuk suguhan para jamaah yang turut mengaji di rumah itu.


Terdengar tawa serta sikap kekeluargaan yang di tampakkan Mama, sehingga mereka yang di sana pun tidak merasakan adanya batasan walupun berbeda keyakinan. Nyonya Brigitta pun merasakan hal yang sama, para wanita itu amatlah ramah dan sangat menerima adanya ibunda Debby, yang membuatnya tidak merasakan canggung dan malah justru muncul rasa kedekatan layaknya keluarga adalah ketika istri dari pak Huda benar-benar merangkulnya tanpa memandang ras dan juga agama yang beliau anut.


Hingga acara berakhir, kini hanya tinggal duduk-duduk santai mereka di ruangan tamu. Beralaskan karpet yang lembut.


Ustadz Irsyad duduk bersanding dengan Tuan Yohan di sisi kanan dan ustadz Rahmat di sisi kiri, sementara di sisi sebelah Tuan Yohan adalah pak Huda.


Mereka mengobrol dengan asik bersamaan dengan para ibu-ibu juga. Faqih dan Nuha hadir, namun saat ini Nuha dan Umma Hasna sedang berada di kamar, menemani dua bayi kembar itu yang sedang tidur, dan A' Faqih sendiri sedang asik menemani Ziya di tepi kolam di depan.


Ada pula Debby dan juga Rumi, di sana yang duduk bersebelahan sembari mendengarkan ucapan-ucapan pak Huda yang memang selalu sukses menjadi penghangat suasana.


"Ustadz, kemarin sudah di beritahu belum sama Nisa?" Tanya pak Huda pada ustadz Irsyad.


"Soal mengisi nasehat pernikahan, anak perempuannya?"


"Iya benar," jawab pak Huda.


"Sudah, saat ngisi kultum kemarin. Mbak Isti memberitahu saya, ingin minta tolong katanya." jawab beliau, yang memang sekarang memanggil Isti dengan julukan Mbak Isti, agar lebih sopan saja.


"Oh... Itu berani. Kemarin ragu-ragu katanya tidak enak mau minta tolong sama antum." Terkekeh. Ustadz Irsyad pun hanya tersenyum.


"Isti? Anisa? Itu orang yang sama ya?" Tanya Ustadz Rahmat.


"Iya, kami semua memangilnya Anisa. Pernah kan saya bilang sama Antum dulu, kalau ustadz Irsyad ini punya julukan sendiri," ledek pak Huda, yang membuat ustadz Rahmat sedikit tertawa karena mengingatnya.


"Pak Huda..." Ustadz Irsyad memanggil lirih, setelahnya geleng-geleng kepala saat mendengar tawa dari pak Huda.

__ADS_1


"Hanya bercanda ustadz..." Kembali terkekeh bersama. Hingga waktu sudah semakin malam, mereka semua berpamitan, dan saat ustadz Irsyad tengah mengantarkan pak Huda hingga ke mobil pak Huda pun menahan ustadz Irsyad saat hendak kembali.


"Bagaimana dengan usulan saya itu?"


"Apanya pak?"


"Tentang Anisa–"


"Owalah.... Saya belum memikirkan untuk menikah lagi."


"Saya sih tidak gimana-gimana. Hanya merasa kasihan, ketika ustadz Irsyad jadi jauh lebih pendiam sekarang semenjak Mbak Rahma meninggal dunia."


"Pendiam bagaimana, saya masih sama pak." Ustadz Irsyad terkekeh.


"Jujur saja, kalau ustadz mau sama Anisa mungkin bisa jadi Anisa menerimanya. Kalian sama-sama sendiri. Biar sama-sama ada yang ngurus."


"Haduh pak Huda, nih. Saya benar-benar belum memikirkan."


"Tidak ada salahnya menikah lagi, usia dibawah enam puluh tahun itu belum terlalu aki-aki."


"Serius nih?"


"inshaAllah. intinya? Saya hanya masih betah sendiri tapi tidak bisa yakin juga kalau saya masih bisa mempertahankan kesendirian saya sampai kematian menjemput, karena saya juga manusia biasa."


Pak Huda bersemangat. "Nah itu... sekarang saya mau tanya, antum masih ada rasa kekaguman tidak dengan Isti?"


Ustadz Irsyad terdiam sejenak, ia sendiri tidak tahu apakah masih ada rasa itu. Yang jelas, untuk saat ini perasaannya tak lebih dari sekedar perasaan seorang ustadz dengan seluruh jamaahnya.


"Ustadz?"


"Saya tidak tahu pak Huda. Lagi pula, saya ini merasa sudah tua, sedikit gemuk pula. Dan lagi usia Dia jauh lebih muda delapan tahun dari saya, saya rasa banyak pria salih yang masih lebih baik dari pada saya."

__ADS_1


"Tuanya ustadz Irsyad itu masih tampan. Walau sedikit gemuk pun ustadz itu tinggi, jadi masih gagah. Tidak seperti saya, bahkan ustadz Rahmat juga mengakuinya. Masih cocok lah untuk Anisa."


"Jangan puji saya seperti itu. Mengandung bisikan sombong di dada nih." Ustadz Irsyad tertawa, sama halnya dengan pak Huda.


"Jadi bagaimana? Apa mau ta'aruf dulu, agar bisa melihat wajah Isti?"


"MashaAllah baiknya saudara ku ini... tapi maaf untuk saat ini saya tidak ada kepikiran untuk ta'aruf seperti itu. Kalaupun saya mau, tidak perlu membuka cadarnya. Saya pasti akan menerimanya. Cuman untuk saat ini, di sini," ustadz Irsyad menyentuh dadanya sendiri. "Masih penuh dengan Rahma. Jadi belum bisa saya untuk menikah lagi."


Pak Huda menepuk-nepuk bahu ustadz Irsyad, seraya tersenyum.


"Salut saya sama antum. Bisa menahan hasrat selama ini, biasanya pria-pria seperti kita tidak akan mampu hidup sendiri tanpa pasangan."


"Saya walaupun sendiri tidak kesepian kok, ada anak-anak, dan beberapa cucu. Itu sudah membuat saya bahagia."


"Subhanallah... Benar, cucu. Jadi sedih ini saya belum menimang cucu dari salah satu anak saya."


"Hahaha... Makanya segerakan, Carikan jodoh untuk anak mu, terutama si Zahra. Dia sudah cukup umur loh."


"Itu yang saya bingung. Dianya selalu menolak lamaran pria manapun. Padahal kemarin-kemarin Faqih sempat bilang, temannya ada yang tertarik dengannya. Tapi Zahranya tetap tidak mau. Entah mau mencari pria yang seperti apa anak itu."


"Bujuk lah, usianya sudah hampir menginjak tiga puluh tahun loh."


"Makanya Tadz, saya sudah lelah membujuknya untuk segera menikah. Karena jawabnya tetap sama, selain Abi dan saudara-saudaranya hanya ada satu pria yang sudah membuatnya tidak ada keinginan untuk menikah dengan pria mana pun lagi."


"Astagfirullah al'azim..." gumam ustadz Irsyad.


"Yaah begitulah– Minta doanya saja Tadz. Saya sudah bingung sendiri menghadapinya."


"Semoga segera di buka hatinya ya. Karena tidak baik juga bagi wanita apabila berkali-kali menolak lamaran seorang pria, apalagi dengan alasan seperti itu."


"Aamiin... nanti coba saya nasehati lagi. Ya sudah kalau begitu saya permisi pulang, assalamualaikum."

__ADS_1


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab ustadz Irsyad. Pak Huda kembali berjalan masuk ke dalam mobilnya, sementara di dalam sang istri sudah menunggu. Mobil pun berjalan menjauh meninggalkan Ustadz Irsyad yang sedang melambaikan tangan kepadanya.


Beliau menghela nafas, dia tahu niat pak Huda baik. Karena tidak sekali dua kali ini beliau mencoba untuk menjodohkannya lagi dengan Isti, namun mau bagaimana lagi? Dalam lubuk hatinya, belum ada keinginan untuk melepas masa dudanya. Beliau masih betah menyendiri, karena Rahma masih memenuhi hati dan pikirannya.


__ADS_2