Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
hari yang kelam


__ADS_3

Di ruangan seorang pria tambun berusia lima puluh tahun, yang kita panggil saja Pak Celvin.


Debby duduk di hadapannya dengan sopan.


"Hari ini ada meeting penting. Dan kamu di tunjuk sebagai perwakilan dari devisi kita. Semua karena kamu lebih menguasai proposal ini." Tuturnya, Debby pun tersenyum mendengarkan. "Cuman masalahnya, kalau bisa hijab mu di lepas."


Deg...! Debby mematung.


"Maaf, di lepas?" Bertanya dengan sopan.


"Iya... kamu kan tahu Klien satu ini agak sensitif dengan wanita Berhijab. Apalagi hijab besar seperti yang kamu pakai." Ujarnya. "Jangan sampai beliau membatalkan perjanjian kerja sama, hanya karena tidak menyukai gaya busana mu."


"Ta... Tapi? saya tidak mungkin Melepaskan hijab saya pak."


"Kenapa? Bukannya sebelum ini kamu tidak berhijab ya? Dan maaf, kamu juga penganut Katolik kan sebelumnya?"


"Emmm, itu benar pak. Namun, sekarang saya sudah menjadi seorang muslim. Jadi saya tidak bisa, melepaskan hijab saya," jawab Debby


Pak Celvin menghela nafas. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi. "Rupanya seorang karyawan kalau sudah memiliki nama baik, semakin tidak taat peraturan ya? Di tambah sering izin dan sebagainya."


"Ma...maaf pak?" Debby bergumam, menanyakan dengan hati-hati, maksud dari apa yang beliau sampaikan.


"Kamu ada izin nggak, pakai hijab itu?" Menunjuk.


Debbi pun terdiam lalu menggeleng pelan.


Hingga sebuah surat di keluarkan. Pak Celvin mendorongnya pelan. "Sebenarnya surat ini sudah ada satu bulanan lebih saya simpan. saya hanya menyayangkan saja jika kau harus keluar, karena surat peringatan ini datang langsung dari pak komisaris. Kata beliau, jika kau masih mau bekerja di sini, ya harus melepaskan hijab mu. Paling tidak selama di kantor lah, kamu bisa memakainya lagi setelah keluar."


Tangan Debby gemetaran meraih surat itu, lalu membukanya dan membacanya.


Matanya bergerak-gerak, sudah mulai menampung air matanya.


"Debby, kalau bukan karena saya yang menghargai mu, saya sudah langsung menyerahkannya sejak lama. Kantor ini sebenarnya kan ada larangan untuk karyawannya berhijab. Kamu paham kan? Karena tertulis jelas di surat kontrak kerja."


"Saya tidak membaca sepenuhnya pak, maaf."


"Bagaimana bisa, kamu tidak membaca seluruh dari isi kontrak kerja itu?"

__ADS_1


"Maaf pak." Jawab Debby, mata gadis itu sudah menganak sungai, menerima semua puluhan kata yang tengah keluar dari bibir sang atasan.


"Dan lagi, beberapa karyawati dari devisi-devisi lain juga? sudah mulai protes hanya karena ada bawahan ku yang berhijab syar'i. Membuat beberapa karyawati lain yang menginginkan untuk berhijab jadi meminta izin pada atasan mereka untuk mengenakan hijab juga."


"Jadi... Intinya bagaimana pak? Apa saya tidak bisa tetap memakai hijab ini?" tanya Debby.


"Iya... dan saya juga sudah berusaha untuk berbicara, namun tidak bisa. Peraturan tetap peraturan."


Debby tersenyum kecut "Kalau begitu, saya mungkin akan mengundurkan diri." Tuturnya dengan berat hati.


Pak Celvin menghela nafas. "Debby... Bukankah gaji mu di sini besar ya? Kamu bisa mendapatkan posisi penting loh di sini. Hanya tidak memakai hijab selama di kantor saja, di luar kamu bebas."


Debby tersenyum. "Terimakasih pak, namun ada banyak pria-pria bukan muhrim saya yang bekerja di sini. Jadi saya tetap tidak bisa untuk melepaskan hijab saya, walaupun hanya di area kantor."


"Kamu itu ya... Mumpung belum terlambat. Lakukan saja apa yang menjadi aturan kantor ini."


"Apakah kantor ini bisa menjamin saya bisa selamat dari dosa membuka aurat?"


"Hei...?" Pak Celvin tidak bisa menjawab.


Debby beranjak dari kantor itu, setelah membuat atasannya itu bungkam.


"Saya permisi pak, surat pengunduran diri saya, akan segera saya kirim." Gadis itu mengangguk pelan satu kali lalu berjalan keluar dari ruangan sang manager. Dimana sang manajer hanya geleng-geleng kepala.


***


Di rumah...


Belum ada jam sebelas siang, gadis itu sudah tiba di kediaman ustadz Irsyad.


Rumah itu nampak sepi, tidak ada kak Rumi. Mungkin pria itu sedang ke makam ibunya. Gadis itu pun duduk di sofa ruang tamu, melamun. Ia mengingat saat dirinya di terima di kantor tersebut, betapa bangganya sang ayah kala itu.


Dan kini seolah, dia kembali menorehkan sebuah hal yang akan membuat sang ayah kecewa lagi.


Ia membuka aplikasi chatnya. benar-benar, selama itu tidak ada satu pun pesan yang di buka oleh ayah dan ibunya dan juga kak Gallen. Debby pun melempar pelan ke atas meja lalu menurunkan tubuhnya hingga ke lantai, ia menangis sesenggukan sendirian. Semuanya seperti hancur dalam sekejap mata, hal yang ia pikir mudah setelah memeluk Islam ternyata sesulit ini, belum lagi dengan sikap sang suami yang tiba-tiba menjadi kaku.


Gadis itu pun menyandarkan kepalanya dengan posisi miring

__ADS_1


"mamah..." Gumamnya parau. "Hiks, mamah. Debby kangen mah, Debby butuh mamah, pengen di peluk mamah." Isaknya di sana.


Sementara itu, Rumi yang hendak masuk pun mematung di depan pintu, dengan tangan masih memegangi kantong keresek putih. Sepertinya dia habis dari warung, ia mendengar suara tangis Debby dari luar yang terasa menyayat hati.


"Debby kesepian mah, Debby terluka, hiks. Hati Debby sakit."


'astagfirullah al'azim, apa yang terjadi?' Rumi segera membuka pintu membuat gadis itu terkejut. Ia menghapus air matanya, cepat. Ketika Rumi berjalan menghampirinya, lalu berjongkok.


"Dek, kamu kenapa?" Rumi hendak menyeka air matanya. Namun di tepis oleh Debby yang memilih untuk beranjak dan meninggalkan Rumi di sana. "Dek–" Rumi mencoba untuk mengejarnya, hingga ia pun mendapatkan tangan sang istri menahannya.


"Lepas..." Meronta.


"Kenapa, dek? Kamu kenapa?"


"Tidak penting aku kenapa? Tak perlu memperdulikan aku? Bukankah aku tidak lagi nampak ya di mata mu saat ini." Hunus Debby, pikirnya sudah tak lagi jernih. Rumi pun menggeleng.


"Nggak dek..."


"Aku nggak berarti apapun kan? Iya kan?"


"Nggak sayang... Nggak."


"Lepas kak, aku butuh waktu untuk sendiri."


"Katakanlah dulu ada apa? Kamu kenapa?" Rumi langsung memeluknya, namun Debby melakukan penolakan dengan cara mendorongnya.


"Hiks...! Lepas, aku bisa menenangkan diri ku sendiri. Aku tidak butuh suami yang bahkan sudah mengabaikan aku sekarang...!"


"Astagfirullah al'azim. Dek, Kita bicara baik-baik ya."


"Nggak perlu... Aku mau ke rumah Tante Maryam saja. Aku mau ikut dia saja. Hanya dia yang menyayangi ku." Tangis Debby semakin pecah, sementara Rumi semakin memeluknya erat.


"Maaf sayang... Maaf. Tolong jangan seperti ini. Jelaskan dulu ada apa?"


"Jahat... Hiks... Jahat. kau mengabaikan ku kak. Kau tidak memandang ku... Kau bahkan tidak memberikan ku nafkah batin selama itu. Aku tidak Ridho... Sungguh aku tidak Ridho di perlakukan seperti ini oleh mu." Suaranya melemah.


Deg...! Rumi baru menyadari itu. "Astagfirullah al'azim... Ampuni aku, dek. Iya aku salah... Tolong maafkan aku." Rumi semakin mendekap tubuh Debby yang masih tidak kontrol dengan tangisnya itu.

__ADS_1


__ADS_2