
Selama beberapa menit itu, perbincangan antara Debby dan ibunya masih berlanjut. Namun mereka tidak hanya membahas perihal Debby dan suaminya saja. Debby pun menceritakan tentang kedua orang tua Rumi yang amat baik, entah itu Abinya, dan juga Almarhumah ibunya. Nyonya Brigitta sedikit terdiam, saat bahasan sudah mulai menyangkut ke mendiang ibunya Rumi.
"Dan kak Rumi sempat terpuruk. Tapi Debby paham... Dia pasti sedih sekali."
"Rumi pasti sangat menyayangi ibunya, kalau mendengar dari cerita mu. Beliau pasti adalah sosok ibu yang amat baik serta penyayang."
"Iya Ma, Ummanya Kak Rumi sangat penyayang. Dia bahkan menganggap Debby benar-benar seperti teman sekaligus anak. Beliau selalu bercerita, jika sudah sembuh ingin rasanya berbelanja bersama ku," sedikit murung saat mengingat ekspresi menggebu-gebu mendiang Rahma yang berkata ingin sekali berbelanja ke fresh market bersama menantunya itu. "Umma memang sembuh, tapi sembuh yang benar-benar sembuh."
"beliau sudah bahagia," kata sang ibu.
"Iya Ma."
"Hemmm... Andai waktu itu Mama datang, sangat teringin Mama bertemu ibunya Rumi."
Debby tersenyum. "Debby kasih liat fotonya ya."
"Iya," jawab Mama, di mana Debby langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Menekan tombol power, mencari menu galeri, di mana ibu jarinya mulai menggulir naik layarnya.
"Ini Ma." Debby menunjukkan foto Umma Rahma bersama dirinya, yang sempat ia abadikan saat sedang duduk santai di gazebo tiga hari sebelum kepergiannya.
"Dia bercandar?"
"Iya, Debby tidak punya foto yang pas wajahnya nampak. Tapi beliau cantik, berkulit putih bersih. Dengan tubuh yang lumayan tinggi serta sedikit gemuk. Tapi itu tidak menghilangkan pesona Umma Rahma."
Ibunda Debby tersenyum, tatapannya masih tertuju pada layar ponsel anaknya.
"Tergambar jelas, walaupun hanya terlihat dari matanya. Ibunya Rumi memang cantik."
"Iya Ma, itu kenapa Debby tidak heran kenapa Abinya kak Rumi sangat mencintai Umma... hemmmm, Umma sama Abi itu gimana ya? Mereka adalah pasangan yang romantis, apalagi Abi... Beliau itu benar-benar pria yang sangat menyayangi istrinya."
__ADS_1
"Seperti Papa?" tanya Mama.
"Kurang lebih, kalau Papa beliau banyak diam, tapi sayang ke Mama. Kalau Abi Irsyad, beliau sedikit humoris, suka sekali menggoda Umma." Terkekeh, karena mengingat kesalnya Umma ketika di goda Abi Irsyad.
"Maaf, apa ustadz Irsyad ada istri lain?" tanya sang ibu hati-hati, karena beliau awam. Jadi belum paham jika tak semua ustadz memiliki istri lebih dari satu.
"Nggak Ma. Hanya Umma Rahma istri beliau," jawab Debby.
"Syukurlah, semoga Rumi bisa seperti Abinya."
"Iya Ma... Lagi pula tidak semua ustadz mendua. Jadi Mama tidak perlu khawatir ya."
Nyonya Brigitta terkekeh, dan memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan ke yang lainnya saja. Mungkin karena perasaan yang tidak enak pada Debby.
***
Kita beralih ke tempat lain...
Setelah meeting selesai, Rumi menilik ke arah jam tangannya.
"Alhamdulillah, masih bisa untuk sholat Dhuha," gumamnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri lalu memanggil seorang paruh baya yang menggunakan seragam cleaning servis. "Maaf pak, di sini ada ruangan khusus ibadah tidak ya?"
"Ruangan ibadah tidak ada mas, tapi bisa jalan ke belakang gedung ini, kurang lebih lima puluh meter lah, ada masjid di sana."
"Oh begitu ya? Baiklah, terimakasih ya."
"Sama-sama. Saya tinggal dulu."
"Iya pak," Rumi tersenyum. Ia pun segera berjalan menuju lift untuk keluar dari gedung ini lalu bergegas menuju masjid yang di tunjukkan bapak paruh baya tadi.
__ADS_1
–––
Di masjid yang masih sepi, karena belum masuk waktu shalat. Rumi dengan khusyuk menjalankan empat rakaat shalat Sunnahnya. Setelah selesai ia menoleh mengucap salam.
Sekilas ia mendengar suara tawa seorang wanita, yang langsung membuatnya menoleh ke arah pintu keluar.
"Umma?" gumam Rumi, karena suaranya yang hampir mirip dengan suara sang ibu, itu yang ia dengar. Rumi terdiam, ia menggeleng pelan lalu kembali menghadap kedepan.
Tak lama ia kembali mendengar suara itu tengah berbicara dengan seseorang, yang tak lain adalah seorang wanita juga tapi sepertinya lebih dari satu orang. Tawanya amat lembut, membuatnya sedikit penasaran. Rumi pun beranjak, berjalan keluar, dan berbelok lalu berhenti saat menemukan sumber suara yang ia cari-cari itu.
Di sana ia mendapati seorang wanita tengah melakukan kajian yang hanya di hadiri lima wanita lainnya saja, di salah satu pintu samping masjid. Tepatnya di area saf wanita.
Rumi mengintip sekilas, wajah wanita itu terlihat sedikit mirip dengan Rahma. Namun tubuhnya lebih kecil dan yang pasti dia masih muda. Berbicara amat lembut, mungkin agak sedikit berbeda dari Ummanya, tapi untuk suara dan wajah wanita itu memiliki kemiripan hampir tujuh puluh persen dengan Umma Rahma.
Saat ini, wanita itu tengah membuka bahasan, menceritakan tentang kisah Nabi Musa ketika bertemu dengan calon istrinya.
"Jadi setelah menceritakan pada sang ayah tentang pemuda yang dengan perkasanya menolong dia mengambilkan air di sumur untuk minum seratus ekor untanya? wanita itu pun berjalan dengan malu-malu menghampiri pemuda bernama Musa, yang pada saat itu di perintahkan oleh ayahnya untuk mengundang dia makan sebagai tanda terimakasih."
"Maju mundurnya si wanita itu karena dia bingung, bagaimana cara ngomongnya ke si pria. Supaya tidak terlihat modus. Kadang cewek gitu ya? Iya nggak sih? Kalo berhadapan dengan laki-laki tampan dan gagah, suka gugup gitu dengan hati yang meronta-ronta?" Wanita itu menutup mulutnya terkekeh, dan ketika matanya menyipit karena senyum. Rumi benar-benar seperti melihat sang ibu dari diri wanita itu. Hingga tanpa sadar dia turut tersenyum.
"Astagfirullah al'azim." Secepatnya ia tersadar, beristighfar berkali-kali lalu memutuskan untuk pergi dari tempatnya berdiri. Rumi kembali duduk di alas sujudnya, berusaha untuk berzikir. Namun karena jarak tempat wanita itu melakukan mentoring dengan teman-temannya sesama muslimah berhijab besar membuat suara gadis itu masih samar-samar terdengar.
"Apa yang di katakan wanita itu pada sang ayah saat Nabi Musa tengah makan? Dia berbicara jika pria itu adalah pria yang rajin dan kuat, dia pun gagah serta baik akhlaknya."
"Dari sana sang ayah paham, jika putrinya tertarik dengan pria bernama Musa itu. Hingga akhirnya ayahnya yang masih memiliki garis keturunan dari Nabi Syuaib as pun berbicara pada Musa. 'nak apakah kau sudah memiliki pendamping?' tanya beliau. Lalu Musa menjawab 'belum pak, saya masih sendiri.' begitu jawabnya, dan itu jujur."
"Si pria tua itu tersenyum, 'kalau begitu bersediakah menikah dengan anak bapak? Wanita yang tadi menawarkan mu untuk menerima jamuan ini.' pria bernama Musa itu sempat terdiam karena dia datang tidak membawa apa-apa, sedangkan pernikahan butuh mahar kan? Akhirnya beliau berkata. 'saya bersedia pak, tapi saya tidak punya mahar.' jawab Musa. Dan si bapak cuma senyum-senyum. 'tidak apa, jika kau bersedia maka nikahilah putri ku. Dan bayar mahar mu dengan bekerja di sini selama beberapa tahun.' dengan itu Nabi Musa as menyanggupi, si wanita yang mendengar itu dari dalam pun tersenyum senang."
"Jadi pertemuan yang tidak di duga-duga. Nabi Musa as yang notabene adalah orang Mesir ternyata dapat jodoh orang Yordania. Cuma gara-gara Nabi Musa as kabur setelah tidak sengaja membunuh orang kipti yang sudah menzolim seseorang dari Bani Israil. Tuh buat yang masih jomblo? Atuh jangan khawatir, kalo jodoh mah nggak perlu di cari, nanti datang sendiri. Yang penting, tugas kita ikhtiar, memperbaiki diri. Maka kita akan mendapatkan pasangan yang baik pula."
__ADS_1
Rumi menunduk, lalu terkekeh sendiri. 'suaranya benar-benar seperti Umma, hanya logat dia Sunda.' batinnya.
Rumi kembali geleng-geleng kepala, ia tidak jadi berzikir karena hilang fokus. Sehingga membuatnya memutuskan untuk beranjak saja lalu keluar dari masjid itu.