Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
makan malam di rumah Meida


__ADS_3

Seorang wanita di saf-nya tersenyum. Sungguh, entah mengapa ia suka dengan ceramah pria ini.


Walaupun tidak pernah mencoba untuk mencari tahu, siapa laki-laki muda yang bersedia mengisi kajian singkat selepas magrib, dengan suaranya yang lemah lembut namun mengena di hati.


Ingin sih, dia mencoba membuka tabir hijau yang menjadi pembatas antara jamaah wanita dan pria, lantas mengintip siapa laki-laki yang tidak setiap hari mengisi kajian itu namun bisa dibilang cukup sering.


"Kasep Pisan, soleh, MashaAllah. Pegawai kantor lagi." Bisik-bisik para gadis di belakang Meida, membuat gadis itu semakin merasa gemetaran.


'benarkah setampan itu? astagfirullah al'azim.' Meida terus saja menolak sesuatu hal tidak baik, yang berusaha untuk menguasai pikirannya.


Sementara diatas mimbar itu, Rumi masih berceramah. Hingga tiba waktu Isya, ia pun menghentikan kajiannya lantas melanjutkan sholat Isya.


Setelah empat rekaat serta zikir singkat itu usai. Meida keluar dari dalam masjid, saat sampai pada pelataran. Tempat sandal jepit miliknya di letakkan begitu saja di lantai paving, Abahnya lantas mendekati, berjalan tergopoh-gopoh.


"Neng, tadi teh kamu masak apa?"


"Masak sayur daun singkong, Bah." jawab Meida.


"Banyak?"


"Lumayan, soalnya tadi daun singkong di belakang rumah teh banyak yang rubuh, jadi di pilihin yang muda-mudanya. Tadinya mau di bagi-bagi sama Uwa Abim dan mang Iwa."


"Begitu ya? Kalau ada dua orang yang Abah undang makan malam, kira-kira cukup nggak?"


"inshaAllah cukup Bah. Nanti biar Mei goreng telur buat lauk tambahan. sama sambal."


"Nah, itu. Sama sekalian belikan kerupuk juga ya."


"Iya, Bah."


"Ya sudah, di siapkan sana. Abah mau ngomong sama ke dua pemuda itu."


Meida tersenyum tipis lalu mengangguk, mencium punggung tangan Abahnya lalu pergi.


Sementara Meida yang semakin menjauh, Pak Kyai tersebut kembali mendekati Rumi dan Jimmy yang hendak pulang.


"Jang... Di sini saja, tidak usah pulang ya."


"Memang Kenapa pak Kyai?" Tanya Rumi.


"Kita ke rumah saya. Lanjutkan obrolannya. Sekalian makan, makanan sederhana yang di siapkan anak saya."


"Emmmm?" Rumi menoleh ke arah Jimmy.


"Saya sih tidak masalah," kata Jimmy. Lantas membuat Rumi kembali menatap pak Kyai di hadapannya.


"Apa kami tidak merepotkan?"


"Tidak lah... Mangga, ikut Abah." Ajak beliau yang lantas membuat Rumi dan Jimmy tersenyum lalu beranjak dari tempat itu.


–––


Jarak masjid dengan rumah pak Kyai memang tidak begitu jauh. Hanya melewati satu rumah saja, agak masuk ke dalam maka sampailah pada rumah yang bisa di bilang sederhana namun rapih.


Dua orang itu dengan rasa canggungnya duduk di sofa yang nyaman. Setelah mereka tiba dan dipersilahkan untuk masuk.


Mata Rumi berkelana, ada beberapa foto yang ia lihat, dan tertangkaplah foto seorang gadis dengan toga wisuda yang ia kenakan.

__ADS_1


'dia kan?' Rumi membatin. Lalu tiba-tiba merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Tatkala melihat bayangan keluar dari salah satu ruangan. 'ya Allah?'


Di luar dugaan, wanita yang ia anggap agak mirip Umma Rahma rupanya tinggal di rumah ini.


"Permisi," ucap gadis itu tanpa menatap Rumi dan Jimmy. Meletakkan minuman di atas meja, beserta beberapa camilan pendamping. "Mangga." Sambung Meida sembari mengangkat kepalanya, setelah semua yang berada di atas nampan sudah berpindah ke meja ia pun tercenung sejenak lalu menunduk lagi.


"Ini anaknya Abah... Meida namanya." Pak kyai memperkenalkan putrinya pada Rumi dan Jimmy. "Neng, ini mamanya Rumi yang kadang Abi minta untuk ngisi kajian. Anaknya salah satu ulama tersohor. Ustadz Irsyad Fadillah." Tutur pak kyai kemudian, memperkenalkan Rumi.


'Ya Allah. Pemuda itu yang pernah ku rusak ponselnya, juga yang beberapa kali beli voucher internet di konter ku. Jadi dia yang kadang-kadang ngisi kajian?' Meida menelungkupkan ke-dua telapak tangannya di depan dada. "Assalamualaikum."


Rumi membalasnya, dengan sedikit berbinar serta senyum tipis yang lantas menghiasi tatapannya terhadap Meida. "Walaikumsalam warahmatullah."


"Kalau ini Jimmy, temannya. Mereka berkerja di kantor depan sana."


"Oh..." Meida melakukan hal yang sama, ia menyapa Jimmy, dimana Jimmy lantas membalasnya dengan tatapan yang seolah membuatnya lupa, dengan syariat menjaga pandangan. Meida pun mendekati Abahnya, berbisik sebentar jika makanan sudah hampir siap sekitar sepuluh menit lagi. Abahnya pun mengangguk, sementara Meida langsung masuk ke dalam.


'dunia serasa begitu sempitnya?' Rumi terus beristighfar, ia melihat itu seperti Umma, tapi kenapa jantungnya berdebar-berdebar?


Hingga dering ponsel membuatnya terkesiap. Rumi lantas mengeluarkan itu dari saku celana.


Zaujatti memanggil....


'istri ku, aku harus ingat aku punya istri di rumah.' Rumi mengingat Debby. Ia pun menoleh ke arah pak Kyai.


"Afwan pak kyai, saya izin menerima telepon dari istri saya dulu." Rumi meminta izin. Dari sana lah nampak perubahan raut wajah pak kyai.


"Antum sudah berkeluarga?"


"Alhamdulillah sudah."


"Oh... Saya pikir masih bujangan." Terkekeh. Rumi pun lantas tersenyum, memang dia belum pernah bercerita, karena kyai tersebut tidak pernah bertanya.


"Silahkan." Pak kyai mempersilahkan, saat itu pula Rumi langsung berjalan keluar.


Ia memilih menerima panggilan telepon dari sang istri di area teras.


"Assalamualaikum, sayang." Rumi menyapa.


"Walaikumsalam, belum jalan pulang?" Tanya Debby ketus.


"Sebentar lagi. Ini lagi ke rumah pak kyai," jawab Rumi.


"Ngapain? Nggak izin lagi."


"Ya ampun, ini juga mendadak Dek. Di ajak makan malam. Habis ini aku pulang."


"Beneran pulang ya? Nggak ada acara tambahan lagi....! Nggak ada kerjaan tambahan juga..!"


"inshaAllah, kenapa sih? Tahu-tahu marah gini?"


"Aku mimpi nggak enak. Kesel jadinya sama kamu."


"Mimpi apa?"


"Mimpi kamu lagi ngelamar anak orang!"


"Astagfirullah al'azim..." Rumi terkekeh. "Cuma mimpi ini."

__ADS_1


"Cuma mimpi tapi kerasa nyata. Kamu pandangan-pandangan sama wanita itu. Kesel rasanya."


"Allahu Rabbi.. ya sudah, kan cuma mimpi. Lagian kamu jam segini udah mimpi, memang sudah tidur?"


"Iya ketiduran tadi sehabis magrib."


"Ooh... Brati belum shalat isya?"


"Belum...! Baru mau...!"


Rumi tersenyum, ia geleng-geleng kepala merasa gemas. "Ya udah sana shalat dulu."


"Tapi beneran kamu lagi nggak naksir wanita Bandung ya?"


"Ya Allah, enggak Dek. Mimpi doang keselnya kenapa beneran sih?"


"Iya lah, habis kaya nyata....! Awas aja kalau sampai naksir sama wanita Bandung lainnya."


"inshaAllah di usahakan."


"Iiih... Jangan di usahakan aja. Tapi harus...!"


"Iya... Iya... Ya sudah lah jangan terlalu di pikir. Kan cuma mimpi mudah-mudahan nggak akan jadi kenyataan."


"Amit-amit, jangan sampai jadi kenyataan...! Kak Rumi cuma boleh mencintai tiga wanita dalam hidup kak Rumi. Umma Rahma, Nuha, dan Aku...!"


"inshaAllah sayang–"


"Janji...!"


"Nggak bisa janji akunya. Kalau ada Fulana yang menarik hati gimana? Kan nggak enak nolaknya." Ledek Rumi, sembari terkekeh tanpa suara.


"Kak Rumi...!! Ishhh– Udah ada niatan ya?"


"Nggak– enggak– bercanda."


"Bercanda yang makin bikin aku naik darah tahu."


"Hahaha maaf sayang."


"janji dulu–" rengek Debby.


"Iya istri ku."


"Iya apa?"


"Hanya ada lima wanita yang aku cinta."


"Kok lima sih?"


"Iya lah, sebelum ada kamu juga udah ada empat." Ledek Rumi, di mana Debby yang di sebrang hanya bersungut. "Umma, Nuha, Mbah Putri, sama nenek. Terus kamu, cieeee..."


"Nggak lucu." Debby bersungut.


"Hahaha. Maaf ya sayang sudah dulu telfonnya, aku nggak enak ini sama Jimmy dan pak Kyai."


"Iya, tapi inget ya? Langsung pulang!!"

__ADS_1


"Iya Ndoro ayu..." Tutur Rumi, mengikuti kata-kata Abinya jika Umma sudah banyak bercerocos. "Assalamualaikum ya Zaujatti... Tunggu aku ya."


"Emmm... Walaikumsalam." Pikk... Panggilan telepon di tutup. Meninggalkan tawa ringan di bibir Rumi yang merasa heran. Bisa-bisanya sang istri bermimpi seperti itu, dan rasa kesalnya kebawa sampai dunia nyata. Ia pun memutuskan untuk kembali ke dalam menghapiri Jimmy dan pak kyai.


__ADS_2