Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
mengaji bersama ustadz Rumi.


__ADS_3

Selepas dua rakaat subuh di jalankan, lalu berzikir. Rumi mulai memutar tubuhnya. Menghadap Debora yang sedikit tegang.


Seharusnya biasa saja, namun setiap mengaji bersama Rumi. Ia merasa menjadi mahluk paling bodoh. Banyak bacaan yang salah, atau bahkan kesulitan dalam menghafal.


Seperti saat ini, Rumi melepaskan pecinya hanya untuk membenahi rambutnya kebelakang, lalu memasang lagi.


"Ayo coba baca. Biar ku dengar."


Debby pun mulai berta'awudz, yang di sambung bacaan basmalah. Sebelum membaca surat yang akan di setorkan Rumi.


"Dek, di bilangin kalau baca basmalah itu pelan-pelan. Dua harakat-dua harakat."


"Iya, kak."


"Ulangi yang benar,"


"Iyaaa." Debby pun mengulangi bacaan basmalahnya. Sementara Rumi hanya tersenyum-senyum, melihat tingkah sang istri yang mulai memperlihatkan sedikit rasa kesalnya itu.


Pada ayat pertama, Debby menunduk membaca dengan suara terbata-bata. Mungkin karena gugup belum lagi dengan tatapan Rumi, plus perbaikan ketika Debby salah membacanya.


"al-hakumut-takasur


Hatta zurtumul-maqabir


kalla saufa ta'lamun


Summa kalla saufa ta'lamun


kalla lau ta'lamuna 'ilmal-yaqin


latarawunnal-jahim


Sum...? Summa latus?" Debby terdiam karena lupa.


"Summa latarawunnahaa..." Rumi memancing.


"Summa latarawunnahaa 'ainal-yaqin?" Debby melirik kearah sang suami sejenak, dimana Rumi mengangguk, tanda dia benar. Debby pun menghela nafas, lalu menyambung kembali.


"Summa latus`alunna yauma`izin 'anin-na'im." Debby mengangkat lagi kepalanya menatap Rumi. Yang langsung menunjukkan satu ibu jarinya. Debby pun tersenyum ia lantas mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Dek, buka Al Qur'an-nya dulu coba, buka surat yang tadi kamu baca." titah Rumi. Debby pun membukanya. Yang saat itu pula tangan Rumi terangkat dengan alat tudingnya. Ia menunjuk satu huruf di ayat pertama. "di huruf Ha ini... Ada garis yang nggak sama seperti saat kamu membaca Alif tadi. Karena ini naik bukan miring, berati bacanya berharakat. Agak panjang. Coba ulangi," titah Rumi.


Debby pun mengulangi, memberikan harakat pada huruf Ha-nya. Dimana Rumi diam saja. Itu tandanya sudah benar. Ia pun melanjutkannya hingga selesai pada ayat pertama tadi.


"Dek, kalau ada tanda seperti ini, perhatikan tasyidid-nya." Protes Rumi.


"Sudah, tadi sudah di perjelas kak."


"Penegasannya kurang terdengar, coba lagi baca dari awal."


Debby pun mengulangi.


"nih ikuti aku. Tsur... Bukan Sur tapi sedikit di gigit bagian ujung lidahnya."


"Susah kak, kalo ngikuti kaya kakak."


"Coba dulu ikuti aku. bukan Sur. Kalo bisa S-nya nggak begitu jelas. Lebih ke T-nya."


Debby menghela nafas. Ya... Seperti itu lah jika mengaji bersama sang suami. Satu ayat bisa sampai habis lebaran baru usai saking banyaknya yang harus di perbaiki. Namun Debby tetap mengikuti, hingga bacaan itu mulai sempurna barulah ganti ayat ke-dua.


"Tunggu dek, kali ini. Kalo ada bacaan salah? Aku kasih hukuman ya."


"Oh... Iya dong. Nggak susah kok hukumannya."


"Ya tapi 'kan? satu ayat aja aku bisa salah banyak, kak. Nggak mau... Nggak usah pakai hukum-hukum segala, ah!" Debby menolak.


"Nggak bisa, di sini gurunya siapa? Aku apa kamu?"


"Ck...! Kak Rumi kok jadi nyebelin sih Sekarang!" Protes Debby.


"Eh... Mau surga nggak?" Rumi menunjuk Debby.


"Ya mau, tapi jangan pake hukum-hukuman. Belajar aja."


"Nggak bisa. Aku tetep bakal kasih kamu hukuman." Tersenyum jahat. Sementara Debby sudah bersungut.


"Kak Rumi mah gitu, males."


"Eh... Di bilangin ya, mau surga atau nggak, nih?"

__ADS_1


"Iya... Iya... Tapi apa dulu hukumannya?"


"Gampang. Ini nih..." Rumi mengetuk-ketuk pipinya. "Satu kali salah, satu kali aku dapat cium."


Debby terbelalak, mulutnya sedikit terbuka namun tertawa setelahnya lalu menutup mulutnya kemudian.


"Modus... Sumpah, modus banget sih."


"Nggak modus. Itu hukuman yang pas untuk kamu."


"Ya Allah... Ada-ada aja. Kakak ustadz ini."


"Sudah cepetan baca." Titah Rumi seraya terkekeh.


Dan Debby pun mulai membaca ayat keduanya.


"Ha yang ini tipis dek, bacanya. Ulangi...!" Titah Rumi sembari mengetuk-ketuk pipinya, tanda dia menghukum Debby karena salah.


Debby pun memajukan tubuhnya, "modus," bisik Debby sejenak sebelum mencium pipi Rumi.


"Alhamdulillah... Lanjut yuk," kata Rumi sembari senyum-senyum. Debby pun geleng-geleng kepala heran, lantas kembali mengulangi.


"Ya Zaujatti... Tasyidid di Tha, di inget-inget ya. bukan Ha Ta tapi Hatta Zur. Di gabung bukan di pisah. Ulangi...!" Rumi semakin tersenyum jail ketika mengatakan itu sembari mengetuk-ketuk pipinya lagi dengan jari telunjuk. Debby pun menjalankan hukumannya lebih dulu, sebelum kembali mengulangi.


"Ro-nya di baca pendek, karena sebelumnya ada Ba Kasroh. Jadi nggak di baca tebal. Maqabir aja."


"Ih... Si Kakak ya, sengaja sekali cari kesalahan. Biar di cium terus gitu?"


"Apaan sih, beneran kamu itu salah bacaannya."


"Tapi kayanya, sebelum ini nggak gini benget. Bisa-bisanya kamu aja ini pasti."


"Dek...? Baca sesuai hukum bacaan. Nggak mungkin aku bilang salah kalo kamu bacanya udah bener. Cepetan... Ulangi." Rumi tergelak seketika melihat tatapan sinis Debby. Sementara dirinya langsung mencondongkan tubuhnya mendekati Debby, dengan kedua telapak tangan bertopang di kedua pahanya. Memejamkan mata. "Hukuman mu... Sini kasih."


"Modus... Ih." Debby memukul bahu Rumi yang semakin tertawa, lalu memberi kecupan untuk kesekian kalinya.


Entah berapa puluh kali Rumi mendapatkan kecupan di pipi, selama mengajar istrinya mengaji itu.


tawa Rumi semakin terdengar, bahkan hingga ruang tamu, bersamaan dengan protes Debby ketika harus menjalankan hukumannya.

__ADS_1


di sisi lain, Abi Irsyad yang baru pulang dari masjid pun tersenyum dan memutuskan untuk meletakkan sajadahnya di kursi ruang tamu, lalu kembali keluar. ya... lebih baik jalan-jalan pagi saja dulu, menunggu dua anak itu selesai berperan sebagai guru dan murid. Hehehe.


__ADS_2