
Malam berlabuh, pendar rembulan pun mulai menyapa. Lelahnya perjalanan dari Bandung ke Jakarta, serta aktifitas yang di lakoni Rumi hari ini benar-benar membuatnya ingin bermanja ria dengan bantal dan selimutnya.
Namun dia harus bisa menahan sejenak, ketika dirinya sudah mulai bekerja. Dan kini, ia tengah sibuk berkutat dengan keyboard laptopnya. Mencicil pekerjaan sebelum tiba deadlinenya esok hari.
Ia memilih balkon kamar, sebagai tempat sunyi yang pas untuknya mencurahkan ide yang terselubung di otak. Bekerja selepas isya tadi, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, semuanya masih belum selesai.
Di dalam, Debby menggeliat. Ia terjaga, setelah beberapa jam tertidur. Mengangkat kepalanya sejenak memastikan. Televisi yang menyala tadi sudah mati, bersamaan dengan lampunya yang juga padam. Namun pintu balkon itu masih terbuka, sepertinya kak Rumi masih di luar?
Gadis itu beranjak duduk, menghalau pusing, lalu turun dari ranjangnya menghampiri sang suami yang masih terjaga.
"Kak?" Panggil Debby yang nongol dari dalam, dengan suara seraknya. Pria itu menoleh sekilas, dan hanya tersenyum saja lalu kembali menatap laptopnya karena tanggung.
"Kok bangun?" Tanya Rumi kemudian, Debby pun berjalan lagi lebih mendekat, ia berdiri di samping Rumi, di mana sang suami langsung meraih tangannya mencium tangan Debby. "Tidur lagi sayang, ini masih malam."
"Nanti saja, Kak Rumi kok belum tidur?"
"Tanggung, dek. Bentar lagi. Besok pagi harus di kirim soalnya," jawab Rumi.
"Ooh... Mau aku bikinin kopi, nggak?"
"Nggak usah sayang, aku tadi udah bikin teh manis." Rumi menunjuk ke sebuah gelas yang masih tersisa separuh isinya.
"Kok bikin sendiri sih? Kenapa nggak bangunin Debby?"
"Aku melihat kamu lelah, dek. Tidur aja tadi nggak kerasa kan? Jadi ku putuskan untuk buat sendiri saja. Nggak papa."
"Huh..." Debby mendengus, sementara Rumi hanya terkekeh. Ia pun duduk di kursi satunya. Melirik ke arah layar laptop. "Masih lama ya?"
"Sebentar lagi. Tinggal dikit lagi kok." Rumi menggerakkan mouse-nya, menggeser ke kanan, kiri, atas bawah. Mencoba untuk membentuk detail garis yang sempurna.
"Kak, aku boleh bertanya nggak?"
"Boleh. Tanya apa?" Masih fokus dengan laptopnya.
__ADS_1
"Definisi berumah tangga yang baik itu seperti apa? Apakah yang selalu mesra? Ataukah yang selalu cekcok."
Rumi tersenyum. "Kedua itu harus ada dek. Agar hubungan rumah tangga selalu ter-booster."
"Maksudnya dalam rumah tangga, cekcok itu wajar? Tapi kan nggak baik juga."
"Memang nggak baik kalau terlalu sering dek. Tapi itu, pasti akan terjadi sebagai bumbu kemesraan. Karena kita kan di satukan dengan perangai serta sifat yang berbeda."
"Aku bisa, berusaha untuk menjadi pribadi yang selalu mengikuti apapun maunya kakak."
"Berusaha semampunya, nggak melulu semuanya. Kamu harus tetap jadi dirimu sendiri, dek. Dan aku pun tetap akan menjadi diri ku sendiri. Walaupun harus bertolak belakang antar satu sama lain." Ketik... Ketik... Ketik... Rumi masih fokus pada pekerjaan, karena hanya tinggal menyimpan datanya saja.
"Kok gitu? Bukankah enak ya. Ketika kita bisa berusaha menjadi satu frekuensi? Kita akan terhindar dari cekcok."
Rumi telah selesai dengan pekerjaannya, ia menutup laptopnya lalu meraih cangkir teh yang sudah dingin. Ia menyodorkannya pada Debby kemudian. Gadis itu meminumnya.
"Dek, kamu tahu? Pasangan paling bahagia di dunia ini tidak pernah memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka miliki. Intinya, ketika kita berusaha untuk menerima kekurangan masing-masing akan lebih terasa nyaman. Jadi hidup ini tidak akan terpaut pada kekangan antar satu sama lain. Asal masih berada pada syariatnya."
"Begitu ya, tapi sepertinya aku ikhlas sih. Karena aku mencintai kak Rumi, sangat. Aku bisa melakukan apapun, asal bisa bersama dengan mu, mempertahankan kak Rumi agar hanya mencintai ku seorang." Debby memeluk lengan Rumi erat sembari menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Kenapa jadi sebut nama dia?"
"Nggak, dia pria yang pernah menyukai mu. Dia sempurna lebih dari segalanya, kenapa bisa kamu menyukai aku, yang seperti ini?"
"Kak Rumi bicara apa? Biarpun dia keren kata orang, tapi aku nggak suka tuh, karena dulu dia pernah membuat ku geram. Sebagai senior. Jadi ku putuskan untuk membencinya sampai sekarang."
Rumi terdiam sejenak... Ia menatap kearah langit, lalu menghela nafas.
"Ahbib habiibaka haunammaa, asa’an yakuuna baghidhaka yaumammaa wa abghidh baghidhaka haunammaa, asa’an yakuuna habiibaka yaumamma." tutur Rumi tiba-tiba, yang masih menatap kearah langit. Gadis itu mengangkat kepalanya.
"Itu ayat? Atau hadits?" Tanya Debby, Rumi pun menoleh, dia mengusap pipi istrinya.
"Itu hadist, Dek. Yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, artinya yaitu? Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu disuatu hari nanti dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu pada suatu hari nanti dia akan menjadi kecintaanmu."
__ADS_1
"Hadist itu tidak di peruntukan untuk kita yang sudah menikah kak."
"Bisa jadi dek, aku yang kamu lihat sempurna saat ini. Hanyalah manusia biasa, yang bisa jadi akan mengecewakan mu di kemudian hari. Hingga kamu pun akan membenci dan menyesali kedekatan kita ini."
Debby tercenung seketika, terdiam dengan tatapan tak berkedip mengarah pada Rumi. Pria itu tersenyum, ia mengusap lembut pipi Debby, lalu memberi kecupan di pipi itu.
"Kenapa jadi diam?" Tanya Rumi berbisik di dekat telinganya.
"Kak Rumi, tidak ada niatan untuk membuat ku terluka kan?" Tiba-tiba saja gadis itu merasakan sedikit kesedihan, serta ketakutan yang mulai menjalar di hatinya.
Rumi tersenyum tipis, "Enggak sayang."
Debby yang mendengar itu pun seperti tak cukup puas dengan jawaban Rumi, ia menunduk.
"Masuk yuk." Rumi beranjak, dimana tangan Debby masih menahannya. Ia memegangi kedua pipi Rumi, menatap lekat kedua mata indah milik pria yang ia cintai.
"Aku mencintaimu, kak Rumi."
"Aku juga dek."
Debby tersenyum kecut, lalu mendaratkan kecupan di bibirnya. Setelahnya memeluk tubuh Rumi.
"Dek, jangan terpengaruh sama ucapan ku tadi. Itu hanya hadist sebagai pengingat saja." Rumi merasakan ketakutan yang sepertinya tengah menyerang jiwa Debby saat ini. Sementara gadis itu hanya diam saja, masih memeluk erat tubuh suaminya.
"Dek?"
"Debby sayang kak Rumi, Debby cinta kak Rumi. Aku cuma mau, hanya Debby lah satu-satunya istri kak Rumi."
"Astagfirullah al'azim. Tentu saja istri ku cuma kamu, dek."
"Aaaaa... Pokoknya janji. Sekarang dan untuk selamanya."
Rumi tersenyum. "inshaAllah, sekarang dan untuk selamanya, hanya Debora Aruan. Istri ku tercinta."
__ADS_1
Debby tersenyum tipis, ia masih memeluk erat tubuh Rumi, berharap raga dan cinta pria dalam pelukannya itu hanya milik dirinya seorang, dan tak rela jika harus berbagi.