
Sudah selesai dengan urusan dunianya hari ini. Beliau kini tengah rehat di gazebo kesayangan. Sejak selepas Isya tadi, masih memikirkan tentang permintaan mbak Adiba.
Memang tidak ada yang salah, hal itu pun sempat menjadi salah satu list rencana kedepannya. sebab, tidak ingin juga Beliau tinggal di Jakarta hingga menghabiskan masa tuanya namun lain cerita jika Rahma masih ada.
Ustadz Irsyad mengalihkan pandangannya ketanah tempat kakinya berpijak, mengorek tanah yang tertutup rumput jepang dengan alas kakinya.
Pikirannya berkelana tatkala mengingat saat ini sosok Rahma cuma serupa bayangan, bermain dengan ruang imajinasi dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda walaupun lebih condong ke wajah cemberutnya yang menggemaskan. Bibirnya yang di majukan selalu sukses membuatnya ingin ******* habis. Ustadz Irsyad terkekeh sendiri– membayangkan itu sudah membuatnya bergetar.
Memang benar– Hasratnya sudah lama tak tersalurkan, bukankah itu hal manusiawi. Karena sejatinya laki-laki itu memiliki hasrat bercinta lebih tinggi dari pada seorang wanita. Namun memiliki istri lagi? Bukanlah perkara mudah, beliau benar-benar harus memilih dan memilah tidak mau dengan cara asal-asalan. Walaupun sejatinya beliau sudah tua, namun bukan berarti usia menjadi patokan, asal ada yang mau maka tidak masalah, yang penting kan dapat menemani di masa tua. Itu hanyalah pemikiran klise, pada kenyataannya akhlak lah yang menjadi pemenang sebagai alasan kita untuk memilih dia sebagai pasangan hidup.
Dan kandidat satu-satunya hanya Isti, yang menurutnya pas untuk menjadi pengganti Rahma sebagai teman hidup. Namun mendengar jawabannya tadi, apakah itu sudah benar-benar bisa di bilang sebuah penolakan?
Sedangkan beliau sendiri tidak menyatakan secara gamblang niatannya itu untuk meminang sang Janda solehah. Rasa tidak beraninya untuk berbicara lebih jauh mengenai perasaannya benar-benar menggambarkan ciri khas Ustadz Irsyad.
"Ya Allah, Dek.... Mas harus bagaimana?" Ustadz Irsyad kembali mengangkat kepalanya, memandangi gemintang indah di langit yang tak berawan.
Rasa gundah-gulananya seolah menghadirkan sosok wanita yang tengah tersenyum.
Iya– wajah Rahma. Haruskah beliau melanjutkan istikharahnya? Ustad Irsyad mengembuskan nafasnya pelan, rasanya ia belum benar-benar yakin.
Waktu yang cepat berputar membuat beliau bahkan tidak menyangka akan secepat ini menjadi sendiri. Padahal sepertinya baru kemarin, namun tidak menyangka sudah lewat puluhan tahun hidup dalam bahtera cinta yang luar biasa.
Kembali suara dering ponsel membuat Ustadz Irsyad menerimanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, mbak."
📞 "Walaikumsalam warahmatullah. Piye Dek. Samang belum ngomong po sama Rumi dan Nuha?"
"aku kui esih bingung mbak, pie le ngomong Ki. Kerjaan ku juga masih banyak."
📞 "Gini loh Syad, mas Gani itu kan sudah nggak muda lagi. Mbak yu, mu ini juga sudah nggak bisa kalau harus bolak balik Solo-Magelang. Sementara pondok pesantren siswanya semakin banyak. Jadi ya Mau nggak mau, pondok harus ada yang ngurus selain Lek Sarowi, kasian juga sudah semakin sepuh. Kalau mbak terus terang sudah susah Dek."
"sesok yo Mbak. Tak kasih jawaban, mungkin memang Irsyad sudah harus pensiun sebagai pengajar."
📞 "sepurone Yo Dek, mbak yu mu sebenarnya Yo kasian sama Nuha dan Rumi. Kasian juga sama kamu jadi sendirian di rumah Bapak lan si mbok. Andai nggak jauh, mbak pasti tidak akan menyuruh mu pulang buat ngurus Pondok."
"Ndak apa-apa Mbak. Wis dadi tanggung jawab ku. inshaAllah, secepatnya Irsyad kasih jawaban pasti."
"Walaikumsalam warahmatullah." Ustad Irsyad menurunkan ponselnya dan memandang layar yang masih menyala itu, di lihat foto Rahma yang bercadar masih terpampang di layar utama. Ustadz Irsyad tersenyum.
"Kangen, tapi cuma bisa lihat foto kamu." Mengusap lembut layar yang sudah terkunci itu lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Karena dersik angin semakin membuat tubuhnya menggigil walaupun sudah memakai sweater rajut berwana abu-abu. Entahlah faktor umur yang sudah tidak muda lagi mungkin membuatnya mudah merasakan kedinginan, hingga lebih sering beliau menggunakan jaket, jas ataupun sweaternya.
.
.
.
__ADS_1
Detik berdenting– kembali pada wanita paruh baya, bertubuh langsing dengan kulit putih bersihnya. Tengah menggulirkan biji tasbih di tangannya, berzikir panjang di waktu Dhuha.
Wanita itu memang tidak pernah absen menjalankan ibadah-ibadah sunnahnya. empat rekaat Dhuha, tahajud, berpuasa Senin dan Kamis bahkan selalu mengkhatamkan Al-Qur'an setiap seminggu sekali.
Baginya tidak ada pekerjaan lain setelah semua urusan rumahnya selesai. Jadi menghabiskan waktu dengan membaca Al Qur'an adalah pilihannya mengusir kebosanan. Ketimbang harus keluar dan membicarakan orang lain, semua akan menjadikan ia merugi. Jadi ia lebih memilih untuk beribadah dan ibadah sebab amalan yang baik adalah ketika kita sendirian namun fokus untuk beramal saleh sebanyak-banyaknya.
Hafalannya pun sudah sempurna tiga puluh juz dari usia beliau yang menginjak dua puluh lima tahu dulu.
Hanya tinggal berusaha untuk mentaddaburi setiap ayat. Beliau benar-benar ingin mengikuti jejak para sahabat, seperti Umar bin Khattab yang mampu mentaddaburi tiga puluh juz dalam waktu dua belas tahun. Namun dia bukanlah Umar, mengikuti apa yang ada di Al Qur'an amatlah tidak mudah, sebagai mana seorang manusia biasa. Namun mengikuti sedikit tidak masalah, bukankah Allah SWT lebih menyukai, amalan yang sedikit namun Istiqomah. Itulah yang sedang diterapkannya.
Dalam kesendiriannya, Isti meletakkan kembali tasbihnya. Setelah selesai berzikir. Di lihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, sudah cukup lama bahkan hampir dua jam ia berzikir.
Hari ini, Fara dan suaminya yang baru menikah beberapa Minggu yang lalu akan datang. Ia harus segera menyiapkan hidangan makan siang untuk menyambut kedua anaknya itu. Dilipatnya mukenah yang ia pakai, lantas berjalan menuju dapur.
Membuka lemari pendingin mengambil bahan-bahan masakan yang hendak di olah.
Namun baru saja Isti hendak mencucinya, suara mobil sudah terdengar di luar. Ya... Sepertinya itu Fara dan Aiman. Bibir yang masih sedikit ranum itu tersenyum tipis, membersihkan tangannya lantas memakai cadar yang tergantung di kursi meja makan, bergegas menghampiri.
"Assalamualaikum, Ummi."
"Walaikumsalam. MashaAllah, kesayangan Ummi." Isti memeluk erat tubuh mungil Fara, gadis itu membalas pelukan dengan erat lantas melepaskannya. Meraih tangan sang ibu kemudian, lalu meletakkan tangan itu dengan takzim di dahinya cukup lama, menikmati suasana hangat yang tercipta akibat rindu.
Setelahnya bergantian dengan Aiman, beliau melakukan hal yang sama meletakkan sejenak tas berisi pakaian mereka berdua karena ada niatan untuk menginap satu malam di rumah itu. Isti pun mempersilahkan ke-duanya untuk masuk ke dalam rumah yang terbilang lebih dari kata sederhana karena sudah mengalami beberapa kali renovasi oleh Bilal dan Fara sebelum ini.
__ADS_1