
Di kamar...
Setelah bebersih, Rumi duduk di sebelah Debby.
"Dek?" Panggil Rumi, sementara Debby bergeser sedikit, tak menjawab. Rumi yang tak mau kalah, ia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Memeluk lingkar pinggang sang istri sembari menciumi perutnya. Debby sendiri masih berusaha keras untuk tidak tertawa.
"Awas." Kata Debby menarik tangan Rumi agar melepaskan pegangannya.
"Kok awas, sih? Aku kan kangen dek."
"Aku nggak... Emang kamu doang apa yang bisa mengabaikan ku?"
"Ya Allah. Marahnya masih lanjut ya?" Rumi menatap ke arah istrinya. "Kan aku udah bilang dek. Tadi tuh aku nggak sengaja mengabaikan pesan mu."
"Emmm..." Debby menjawab singkat. Membuat Rumi beranjak duduk.
"Maaf kek... Maaf ya. Maaf Zaujatti..." Menciumi pipi Debby. Gadis itu sedikit mendorong tubuh Rumi, lalu bergeser meraih bantal. "Mau kemana?"
"Mau tidur," jawab Debby sembari menggelar selimut bedcover di lantai lalu meletakkan bantal di atasnya.
"Eh... Dek. Itu buat apa?"
"Buat tidur.... Aku mau tidur di lantai aja. Nggak mau sebelahan sama suami yang mengabaikan pesan chat ku." Debby sudah mengambil posisi rebahan di atas selimut yang ia gelar di lantai.
"Astagfirullah al'azim..." Rumi terkekeh, "Jangan dong, nanti kalo masuk angin gimana?" Rumi duduk di sebelah Debby yang kini merubah posisi, membelakanginya.
"Biarin...!" jawab Debby ketus.
"Aku ikut tidur di lantai ya. Asik kayanya." Rumi rebahan di sebelah Debby, di bantal yang sama.
"Iiih... Nggak mau. Sana di atas aja."
"Nggak mau, enak di lantai. Geser dong, sempit nih." Rumi mendorong tubuh Debby dengan bokongnya itu karena posisi mereka saling memunggungi. Debby yang ingin tertawa hanya bisa menutup mulutnya gemas.
"Kalau sempit ya sana naik."
"Nggak mau, kalau kamu di bawah ya aku dibawah."
"Issssshhh... Rese ya." Debby beranjak duduk. Ia melihat Rumi sudah memejamkan matanya sembari senyum-senyum memeluk bantal guling.
"Sana naik, aku yang di bawah."
__ADS_1
"Nggak mau." Bibir Rumi bergumam seperti itu tanpa suara.
Debby yang tidak tahan tawa pun akhirnya terkekeh, ia memukul bagian pinggang Rumi lalu berdiri.
"Dasar...! Ya udah sana tidur aja di lantai."
"Eiiitttss... Nggak boleh pergi, ayo bobo di lantai. Kamu yang udah gelar ini loh sayang." Rumi menarik salah satu tangan Debby, sementara tangan Debby yang satunya berpegang pada pinggiran ranjang Menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke Rumi.
Keduanya tertawa ketika melakukan hal konyol itu, terlebih saat Rumi beranjak meraih tangan Debby melepaskan jari-jari itu satu persatu, dari pegangannya
"Ayo lepas... Lepas..." Gumam Rumi, sementara Debby hanya tertawa berusaha mempertahankan diri. Setelah berhasil tubuh keduanya langsung ambruk di atas selimut yang tergelar di lantai.
"Aaaaa...." Erang Rumi pelan.
"Ya ampun kak...! Duh, jatuh 'kan jadinya?"
"Apa? Kamu pake sok ngambek sih. Duh punggung aku sakit dek." Rumi mengusap-usap punggungnya sendiri.
"Haduh... Kak Rumi sih. Sini aku liat."
"Entar aja deh, kamu udah kena. Hahaha." Rumi memeluk tubuh Debora erat membuat gadis itu tertawa. Ketika serangan kecupan sudah mulai di luncurkan Rumi. Keduanya bercumbu mesra di lantai itu, kecup sana kecup sini. Hingga hasrat keduanya mulai naik. Rumi pun memutuskan melanjutkan urusan mereka di ranjang saja.
.
.
.
Debby baru keluar dari kamar mandi, bersama dengan Rumi. Keduanya baru saja mandi besar setelah berjima beberapa menit tadi.
"Ganti baju dulu dek. Dingin," titah Rumi yang tengah mendekati lemari pakaian mereka. Benar... Dia mandi lagi jadinya hehehe.
"Iya Sebentar. Aku tuh penasaran kamu tadi bawa apa?" Debby duduk di meja riasnya. Membuka paper bag di atas meja rias. Seketika matanya berbinar saat tahu isinya. "Ya ampun, moon cake?"
"Moon cake?" Rumi menoleh.
"Kue bulan kak, enak. Ini kue kesukaan aku. Kamu kok bisa bawa ini?"
"Oh... Di kasih sama pak Justin," jawab Rumi.
"Ya ampun, Justin? Jangan-jangan ini beli di Chiang Mai Bakery." Debby mengecek logonya. "Wah... Bener, dia masih suka kue ini juga rupanya."
__ADS_1
Deg...! Rumi yang mendengar itu langsung mematung setelah selesai memakai pakaiannya, lantas bergegas mendekati Debby. Ia meraih kue di tangan Debby.
"Kok di ambil?" Tanya Debby bingung.
"Kuenya udah nggak enak," jawab Rumi.
"Enak. Ini masih baru. Toko itu memproduksi kue bulan yang langsung habis hari itu juga. Karena emang laris banget. Jadi nggak mungkin nggak enak."
"Nggak dek, kue ini emang tadi enak. Tapi setelah tahu satu fakta jadi tidak enak." Rumi meraih paper bag itu juga.
"Mau di bawa kemana kuenya?"
"Kasihin ke kucing."
"Eh..." Debby mengejar Rumi yang hendak keluar lalu menahan lengannya. "Jangan di bawa, aku suka kue itu."
"Besok aku belikan yang baru."
"Nggak mau, maunya itu."
"Jangan yang ini, udah nggak enak soalnya."
"Ngarang banget sih, orang masih enak."
"Aku bilang nggak enak ya nggak enak dek. Jangan ngeyel ya." Rumi masih mempertahankan itu di dalam dekapannya, sementara Debby berusaha menarik bungkusan tersebut.
"Kak, kenapa sih? Orang mau makan juga, apa salahnya? Kue itu halal."
"Iya tahu kuenya halal, dan nggak salah juga kalau kamu mau makan. Yang salah itu yang ngasih."
Mendengar itu Debby pun berhenti. Ia melepaskannya lalu menatap lurus ke arah Rumi.
"Cemburu ya, karena ini dari Justin?"
"Nggak kok."
"Kalau nggak sini kasihin ke aku, kuenya."
"Dek, kok ada tokek di dinding kaca itu." Rumi menunjuk ke depan. Dan bodohnya Debby percaya, ia langsung menoleh kebelakang.
Dimana saat itu juga Rumi langsung mencium pipi Debby lalu membuka pintu kamar mereka sedikit, lantas kabur.
__ADS_1
"Hei... Kak Rumi ya...!!" Debby sedikit kesal, ia mau mengejarnya namun tidak bisa. Karena tubuhnya masih tertutupi jubah mandi. Ia pun menghela nafas, lalu terkekeh setelah faham ada yang cemburu berlebihan pada Justin, rupanya.
Bersambung...