Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
situasi yang lebih hangat


__ADS_3

Hari demi hari sudah berganti, kondisi yang di alami Debby pun sudah bisa di katakan membaik. Pendarahan yang sudah berhenti, hingga hal yang di harapkan untuk memiliki momongan pun terwujud.


Sungguh tidak ada lagi yang perlu di bantah saat ini, selain rasa syukur dan syukur. Hari ini Papa dan Mama tengah bersiap untuk kembali ke Bandung, setelah menginap beberapa hari di rumah sakit. Serta menambahkan waktu satu malam lagi di rumah ustadz Irsyad karena kemauan Debby, Rumi dan ustadz Irsyad sendiri pastinya.


Pagi ini Papa sedang memperhatikan ustadz Irsyad menangkap ikan Koi peliharaannya. Lantas memasukkannya ke dalam plastik besar yang sudah di berikan air serta oksigen.


"Sudah ustadz, dua saja cukup. Nanti habis ikannya."


"Hahaha, tidak lah. Ini masih banyak kalau mau enam ekor pun tidak masalah."


"Kan mahal? Saya kesenengan nanti." Tuan Yohan terkekeh, sembari melihat ikan bercorak putih dan Kuning. "Ya ampun, akhirnya bisa dapat yang warna ini."


"Sekalian tuh... yang coraknya banyak, mau?" Ustadz Irsyad menawarkan.


"Sudah cukup dua saja. Biar nanti kalau anda datang ke rumah saya barternya nggak banyak. Paling dua juga, karena saya agak pelit orangnya." Tutur beliau sembari tertawa, sama halnya dengan ustadz Irsyad.


Ustadz Irsyad lantas menutupnya rapat plastiknya setelah oksigen di masukkan. Lalu meletakkan ikan tersebut di bagasi belakang mobil milik besannya itu.


"Mari duduk dulu, kita sambung dengan mengopi sejenak sembari menunggu Nyonya Yohan." Ajak ustadz Irsyad, kedua pria paruh baya bertubuh tambun itu pun kembali melangkah bersama menuju gazebo, menghabiskan sisa kopi di cangkir mereka yang sudah mulai mendingin.


Sementara itu di dalam kamar tamu, nyonya Brigitta baru saja selesai mengemasi pakaian mereka yang hanya beberapa pasang ke dalam tas travel yang tidak begitu besar.


"Hemmm... Mama sudah mau pulang, padahal rasanya seperti baru kemarin datangnya."


"Mau bagaimana lagi? sebenarnya Mama masih mau di sini sama kamu. Namun, masih banyak pekerjaan papa di Bandung yang tidak bisa di tinggal terlalu lama. Setidaknya kamu sudah sehat sekarang. Dan mama juga sudah menengok adiknya Rumi juga jadi ya harus pulang."


"Masih kangen masakan Mama."


"Nanti ya, kalau benar-benar sudah stabil kondisi kehamilan kamu ini. Boleh kok ke Bandung. Nanti Mama masakin."


"Huuuu...." Debby memeluk lingkar pinggang ibunya. "Makasih ya Ma, sudah datang kemari."


"Terimakasih lah sama Papa. Karena beliau yang mengajak kemari. Mama saja tidak menyangka."


Debby tersenyum. "Kak Gallen bagaimana? Apa kakak masih marah pada ku?"


"Entahlah... Karena dia juga sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Lenna."


"Pernikahan? Kak Gallen mau menikah?"


"Iya, rencananya sehabis Natal tahun ini."


"Rupanya sudah dekat ya kan hanya tinggal beberapa bulan lagi. Tapi aku baru tahu sekarang." Debby sedikit murung membuat tangan halus Mama menyentuh lembut pipinya.

__ADS_1


"Kamu harus tetap datang, tidak perlu di hari pemberkatannya saat resepsinya saja."


"Apa kak Gallen akan menerima kami? Aku takut, kakak mengusir ku dan kak Rumi lagi."


"Tidak sayang. Kalau sampai itu terjadi, Mama yang akan menjadi perisai kalian. Gallen tidak akan bisa mengusir anak dan menantu Mama."


Debby kembali tersenyum dengan perasaan sedikit lega. Hingga sebuah ketukan membuat keduanya menoleh.


"Maaf Ma, Papa di luar memanggil." Kata Rumi yang hanya berdiri di depan pintu kamar.


"Baiklah, sebentar lagi kita keluar kok."


"Kalau begitu Rumi bantu bawa tasnya ya."


"Nggak usah ini enteng kok."


"Nggak papa, Ma." Rumi meraih tas yang sedang di tenteng sang ibu mertua lalu membawanya keluar. Nyonya Brigitta menoleh ke arah Debby.


"Kamu di sini harus rajin. Mama liat papa mertua serta suami kamu rajin sekali beberes."


"Hehehe... Mereka memang rajin, Ma. Debby saja sampai kebingungan mau melakukan apa. Jadi cuma masak dan menyetrika. Sekarang Debby sedang hamil, Abi malah melarang ku untuk masak dan menyetrika. Katanya harus banyak istirahat."


"Senangnya punya mertua baik hati. Jadi kebayang seperti apa ibu mertua mu."


"Sayang Mama tidak sempat bertemu dan mengobrol."


Debby tersenyum... "Umma sudah bahagia di sana."


"Iya."


"Ya sudah ayo jalan, Ma."


"Yuk." Merekapun keluar dari kamar itu, yang tak lain adalah bekas kamar ustadz Irsyad dan Rahma dulu di lantai dua sebelum pindah ke kamar bawah.


🍂


🍂


🍂


Gelapnya malam yang kembali menyelimuti bumi.


Di temani sinar yang terang Ketika rembulan sudah menunjukan bentuknya yang sempurna. Bintang pun bertaburan indah di langit, jaraknya yang jauh tak nampak Ketika di lihat dari bumi. Karena yang tertangkap hanyalah gemerlap cantik nan elok ditengah kesunyian malam.

__ADS_1


Rumi saat ini tengah menerima panggilan telepon dari Jimmy, ia hanya bersyukur tatkala mendengar pria itu benar-benar memantapkan hatinya untuk mendatangi Abahnya Meida setelah menjalani istikharah selama beberapa malam.


📞 "Aku bermimpi tentang cahaya yang terang, lantas keluar wanita itu dari balik tabir. Ia tersenyum menggunakan kerudung dan kebaya pengantin syar'i yang indah, mengulurkan tangannya kepadaku. Apa itu pertanda aku boleh memperistrinya?"


"MashaAllah... Bisa jadi iya. Lantas, apa kamu sudah benar-benar mantap?"


📞"inshaAllah, beberapa hari ini aku hampir setiap hari bertemu pak kyai. Sepertinya beliau semakin baik saja. Apa aku yang kege'eran?" Jimmy terkekeh.


"Coba lah untuk bertanya, apa boleh kamu meminang putrinya?"


📞"Sudah... Iseng-iseng semalam aku mencoba untuk bertanya. Jika pria seperti ku, boleh tidak jadi menantu pak kyai."


"Oh... Lalu?" Rumi bersemangat mendengarkannya.


📞"Coba bawa saja orang tua mu. Kata beliau begitu. Tapi sambil tertawa, aku beranggapan itu tidak serius."


"Hei... Coba saja kamu datang dengan orang tua mu."


📞Jimmy yang di sebrang menyentuh dadanya. "Ya Allah kak, aku kok jadi berdebar-debar."


"Hahaha... Cepatlah lamar Meida, nikahi dia. Dari jawab pak kyai serta mimpi mu? inshaAllah bisa sebagai jawaban yang baik juga dari Allah."


📞"Aamiin... Minggu ini deh, besok pagi kan aku pulang. Mau coba bilang ke Ambu dan Abah."


"MashaAllah... Semoga sukses ya. Kabar-kabar jika di terima."


📞"Siap... Siap... Ya sudah, ku tutup dulu. Aku mau istirahat. Tidak sabar nih bertemu besok." Terkekeh.


"Baiklah, ku tunggu kabar baiknya."


📞"Aamiin ya Allah..."


"Assalamualaikum."


📞"Walaikumsalam warahmatullah."


Rasanya sedikit lega, Ketika bisa mendengar Jimmy akhirnya mampu membuka hatinya, setelah patah hati beberapa tahun yang lalu, karena sang mantan kekasih sudah di nikahi orang lain.


"Kak Rumi–" panggil Debby dari dalam kamar mereka. Rumi menoleh, di lihat sang istri sedang duduk di atas ranjangnya sembari mengusap-usap tangannya.


"Ya Dek..."


"Tutup pintunya, banyak nyamuk."

__ADS_1


"Iya." Rumi lantas masuk, menutup pintu balkon lalu mendekati, sebelum itu ia meraih botol lotion anti nyamuk.


__ADS_2