
Satu hari sebelum ustadz Irsyad mendatangi keluarga Ulum.
(flashback is on)
Shafa yang baru saja pulang mengajar, memutuskan untuk masuk ke salah satu masjid.
Dimana masjid adalah tempat paling nyaman untuknya mengobati luka hati. Bukankah senyaman-nyamanya tempat adalah rumah Allah? Tempat untuk kita bernaung.
Bukankah senyaman-nyamanya adalah alas sujud? Tempat untuk kita mencurahkan isi hati. Karena tidak akan ada ketenangan kecuali ketika kita sedang merasa dekat dengan sang maha pencipta.
Selepas zhuhur, tepatnya di saf laki-laki. Ada beberapa orang yang berkumpul, seorang ustadz yang mungkin sudah sedikit berumur dengan beberapa bapak-bapak lainnya tengah melakukan kajian singkat.
Shafa yang masih berada di saf wanita pun termenung, turut mendengarkan isi dari kajian di depan.
"Fa lammaa nasuu maa zukkiruu bihii fatahnaa ‘alaihim abwaaba kulli syaii’, hattaaa izaa farihuu bimaaa uutuuu akhoznaahum baghtatang fa izaa hum mublisuun, surat Al Annam ayat 44."
__ADS_1
"Ayat di atas itu penggambaran, dimana orang-orang dengan bangganya hidup dalam kesesatan. Dengan harta yang melimpah, karir yang sukses, serta hidup yang bahagia dengan keluarganya. Tapi dia sangat lah jauh dari Allah. Sebab apa? Mereka lupa, siapa yang memberikan kesenangan itu? Mereka lupa, itu adalah fatamorgana kehidupan di dunia, yang sama sekali tidak nyata. Sehingga dengan bangganya mereka menikmati itu tanpa sadar bahwa mereka telah di abaikan oleh Allah. Itu namanya, 'Istijraj' Nauzubillah, hati-hati dengan itu."
"Sering nggak sih merasa? Kita sudah dekat sama Allah SWT, ibadah, melakukan hal yang wajib dan Sunnahnya. Solat malam tidak ketinggalan, Duha, puasa Senin-Kamis. Dan sebagainya, tapi hidup biasa-biasa aja. Nggak seperti mereka yang jauh dari Allah tapi sukses gitu dalam segi apapun. Jangan tergiur dengan yang seperti itu, mereka kaya, mereka tenar, hidup dengan harta yang melimpah, bahkan Nauzubillahnya sampai zinah pun mereka pamerkan tanpa rasa bersalah, dan itu mereka anggap tidak mengurangi kebahagiaan mereka di dunia."
"Ada ayatnya di surat Ali Imran ayat 178 begini bunyinya. Bismillahirrahmanirrahim 'Wa laa yahsabannallaziina kafaruuu annamaa numlii lahum khoirul li’ angfusihim, innamaa numlii lahum liyazdaaduuu ismaa, wa lahum azaabum muhiin' artinya di sini yaitu. Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa semakin bertambah, dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan."
"Makanya jangan pernah iri dengan yang seperti itu. Kita yang hidupnya seperti kekurangan, kesusahan, itu harusnya tetap di syukuri ketika hati ini di genggaman oleh sebaik-baiknya penjaga hati yaitu Allah SWT. Sebaiknya kita jauh lebih bahagia dari mereka."
"Seperti halnya ujian kekecewaan, terkadang ya? Hidup tidak sesuai dengan yang kita harapkan, itu faktanya. Kadang Allah itu seperti mengulur-ulur hal yang sangat kita inginkan. Bisa jadi? Allah sangat senang dengan doa kita, jadi di biarkan saja dulu. Di kasih rasa kecewa sedikit, dan di lihat lagi? Orang ini masih Istiqomah nggak? Masih tawakal nggak? Masih sabar nggak? Apa dekatnya hanya karena memiliki hajat?"
"Kalau kamu masih bisa bertahan atas itu, bahkan dengan berbesar hati mengikhlaskan apa yang sangat kita inginkan? Menyerahkan segala keputusan kepada yang lebih berhak yaitu Allah SWT, maka janji Allah apa? pasti akan di berikan kebaikan minimal lebih dari apa yang kita ikhlas kan itu."
"Percaya deh, kita yang di posisi seperti itu malah seharusnya bersyukur. Ketika di beri nikmat kita Alhamdulillah, ketika di berikan musibah maka innalilahi... Semua itu milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Kita kan Fakir, semua yang kita punya adalah pinjaman dari Allah, jangankan harta, ataupun orang yang sedang kita harapkan untuk bersama kita? Raga kita sendiri pun bukan milik kita loh... Kapanpun Allah mau ambil kita harus siap. Begitu bapak-bapak.... Jadi jangan terlalu memuja sesuatu yang akan menzolimi diri sendiri. Agar kecewa dalam hati tidak terlalu dalam. cinta boleh... Asal letakkan dulu cinta itu pada Rabb kita yang utama, kedua Rosulullah, ketiga orang tua, ke empat pasangan halal. Kalau yang pria ya? Kalo yang perempuan pasangan halal nomor tiga yang keempatnya orang tua. inshaAllah, kalo kita sudah menanamkan itu dalam hati, semua itu indah dan manis pak."
"dan kalau berdoa itu jangan seapa-apanya minta kekayaan, minta kesuksesan. Minta lah ini." Ustadz itu menunjuk ke arah dadanya.
__ADS_1
"Minta di lapangkan dadanya, di panjangkan sabarnya, minta di hilangkan rasa iri dan dengki. Terus setiap habis sholat."
"Sungguh pak, hadiah berupa sakinah di dalam hati akan kita dapatkan. Dan semua yang kita hadapi di dunia ini. Mau kita di hujat, di zolimi, di kecewakan. Semua tidak akan mempengaruhi hati kita... Dan kita tidak akan mudah goyah untuk terus berucap hamdalah atas apa yang kita dapatkan. Soalnya apa? Kita itu urusannya sama Allah, menyerahkannya sama Allah, dan Allah itu sebaik-baiknya penyusun sekenario dalam hidup kita, Allah yang lebih paham. Makanya percaya saja, di balik kesedihan, kesusahan pasti akan ada senyum haru setelahnya. Saking bahagianya karena kita sudah lulus dari ujian hidup." Tutur Ustadz tersebut.
"satu lagi, ketika kita sedang merasa kehilangan sesuatu, ada obat sakit hatinya."
"apa itu Tadz?" tanya seorang bapak-bapak.
"hafalin ya, kalau tidak catet." jawab beliau. "bismillahirrahmanirrahim, Allahumma’jurni fii mushibati wa akhlif lii khairan minha. (Ya Allah, berilah pahala kepadaku pada musibah yang menimpaku dan berilah ganti kepadaku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.)"
Beliau lantas memimpin doa, sehingga membuat Shafa yang sudah berderai air mata pun mengangkat kedua tangannya, turut mengamini. setelahnya dia pun menyambung doa itu dengan hajatnya sendiri.
"Allahu ya Rahman, tempat ku mencurahkan isi hati. Ku ikhlaskan dia yang mungkin memang bukan untuk ku, dan aku memohon ampun atas kezholiman diri ku, yang melukai diri ini sendiri. Semoga luka di hati ku lekas terobati... Dan aku bisa menjemput hikmah yang Kau janjikan. Aamiin ya rabbal'alamin." Gadis itu mengusap wajahnya, tersenyum dengan cerah, ketika ketenangan hati sudah ia rasakan saat ini.
Hingga ia mulai merasa yakin dengan semua masalahnya. Ia bahagia, ia pun akan baik-baik saja. Karena akan selalu ada Allah yang menyertai hari-harinya.
__ADS_1