Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
kekasih hati


__ADS_3

Hal yang manis kembali di rasakan oleh Debby. Setelah sekian hari bahkan Minggu merasakan kakunya Rumi.


Kini perhatiannya sudah kembali... Terkadang sebagai wanita, perlu juga mengutarakan rasa tidak nyamannya dengan pasangan.


Tujuannya?


Agar mereka kaum Adam memahami, betapa tidak baiknya sikap mengabaikan pasangan. Setidaknya berilah sedikit perhatian agar istri merasa masih di cintai. Dan hubungan mereka mampu berjalan dengan baik, sesuai apa yang di syari'atkan.


Sedikit tak habis pikir sih. Kalau pria alim seperti Rumi bisa sedingin itu jika sedang diterpa kesedihan. Tidak... Dia masih bisa tersenyum sih, walaupun sangatlah tipis. Cuman tetap saja. Hidup satu rumah dengan pria yang banyak diam, dan tak terbuka membuat kita bingung sendiri. Apalagi tempat ini adalah rumah orang tuanya, dan kita sebagai istri hanya berusaha taat serta mengikuti kemauan suami. Berharap segalanya bisa di bicarakan, malah justru sebaliknya. Menjadi acuh hanya karena pikiran yang entah apa. Seharusnya kan Rumi lebih paham, karena dia yang paham agama.


Lagi pula sebagai pasangan, bukannya kita wajib saling terbuka? tentang masalah atau situasi hati masing-masing. Lalu bertukar pikiran dan menyelesaikan semua persoalan secara bersama-sama. Justru itulah hal yang mampu menghangatkan suasana hati Keduanya.


Tapi? Begitu lah hidup berumah tangga. Yang kita kira seindah cerita di novel. pada kenyataannya? Tidak juga. Kita tetap mahluk biasa yang memiliki ego masing-masing.


***


Selepas Azhar yang tenang ini, Rumi masih menggulir satu-persatu biji tasbih di tangannya.


Berzikir selepas sholat di rumahnya bersama Debby. Sesaat ia melihat bayangan yang terpantul di dinding, Debby beranjak dari alas sujudnya mengangkat kedua tangannya bertakbir.


Rumi menoleh sedikit, lalu kembali menatap lurus kedepan. Melanjutkan zikirnya sembari menanti istrinya selesai melaksanakan sholatnya.


Hingga beberapa saat kemudian, Debby menoleh ke kanan mengucap salam, lalu ke kiri. Sementara Rumi langsung memutar tubuhnya menghadap Debby.


"Kamu solat apa dek?" Tanya Rumi.


"Solat ba'diyah Azhar," Debby menjawab dengan polos.


Senyum-senyum "Owh... Sejak kapan kamu solat sunah setelah Azhar?"


"Emmm... Baru beberapa hari belakangan. Karena aku pengen kaya yang lainnya, solat sebelum dan sesudah." Nyengir.


"MashaAllah... Adek tahu nggak? ba'diyah Azhar itu tidak ada," Rumi membelai lembut kepala Debby.


"Hah...! Iya kah?"


Rumi mengangguk. "Begini, kalo Ade mau mengerjakan dua belas rakaat Solat Rawatib itu. Seperti ini pembagiannya, dua rakaat sebelum subuh, empat rakaat sebelum sholat fardhu Dzuhur, dua rakaat selepas zhuhur, Azhar kosong, dua rakaat selepas magrib, dua rakaat sesudah isya."


"Ya ampun, berarti aku salah."


"Nggak juga... Kan Ade nggak tahu. Tapi aku senang, kamu mau solat sunah juga. Kalau Ade bisa Istiqomah, inshaAllah? Allah akan bangun istana di surga. Allahu'alam." Rumi mencium kening Debby lembut.


"MashaAllah, mau... mau banget Istiqomah, semoga saja aku bisa."

__ADS_1


"Aamiin." Gumam Rumi, sembari tersenyum.


"Dan maunya sih solat malam, sama Dhuha juga. Tapi sepertinya masih berat."


"Latian, pelan-pelan. Biar nggak terlalu berat. Lama-lama pasti terbiasa."


"Iya... Tapi aku mau tanya. Kak Rumi kalau solat Dhuha itu berapa rakaat sih? Kenapa kadang banyak kadang cuma sedikit."


"Solat Dhuha itu minimal empat rakaat. Tapi kalau masih belajar dua nggak papa, besok-besok tambahin jadi empat. Kalau aku, kadang empat, kadang delapan. Kalau lagi tinggi iman ku bisa sampai dua belas rakaat."


"MashaAllah, banyak banget."


"Kalau dua belas rakaat jarang banget sih, Kayanya seumur hidup ku baru dua kali deh hehehe. Paling sering empat, atau delapan. Semampu ku lah."


"Wahhh... Kak Rumi luar biasa." Menatap dengan kagum.


"Jangan gitu, jadi menimbulkan yuwaswisu, di hati nih." Rumi terkekeh.


"Apa itu yuwaswisu?"


"Itu potongan ayat di surat An Nas. artinya bisikan-bisikan... Yang di maksud disini bisikan di hati, ketika timbul rasa tinggi hati ketika di puji."


"Owh, jadi itu yuwaswisu...? Aku baru tahu, Pantas kak Rumi tidak suka di puji."


"Mukhlas apa?" Terkekeh. "Aku banyak tanya ya kak, jadi terkesan bodoh."


"Nggak juga sayang. Aku senang kamu banyak tanya, kalau aku bisa jawab aku pasti jawab. Kalau nggak bisa ya? Tanya ke Abi hehehe..." Terkekeh bersama. "Jadi Mukhlas itu adalah orang yang sudah benar-benar ikhlas. Mau di puji atau di hujat itu nggak ada bedanya. Mau di junjung tinggi atau di rendahkan juga sudah nggak ada bedanya. Jadi dia melakukan apapun itu tulus untuk Allah SWT. Bukan untuk menunjukkannya kepada mahluk."


"Owh... Begitu ya?" Manggut-manggut.


"Dan orang seperti kita ini, Mukhlis aja belum. Untuk menjadi Mukhlas itu sulit tapi kita tetap harus berusaha. Karena orang yang Mukhlas, setan saja sudah tidak bisa menggodanya."


"MashaAllah... Semoga kita bisa."


"Aamiin..." Mengusap-usap kepalanya. "Oh iya, dek. Aku mau bilang ke kamu. Pagi tadi Jimi teman ku sempat menelfon, dia ngajak aku buat kerja di salah satu perusahaan komunikasi."


"Wah... Iya kah?" Berbinar.


"Iya, mungkin aku akan menaruh lamaran kerja di sana. Walaupun masih mikir-mikir juga, karena kemungkinan aku di tempatkan di Bandung."


"Bandung?" Lebih berbinar lagi.


"Emmm..." Rumi menunduk.

__ADS_1


"Kak Rumi kenapa? Kok mendadak murung?"


"Aku sempat berfikir. Kalau kita di Bandung, sudah jelas Abi akan sendirian di rumah, kan?"


"Iya juga sih." Bergumam. "Kenapa tidak mencoba mencari di sini kak?"


"Belum ada dek. Aku sudah berusaha tanya-tanya. Apalagi ijazah ku S1, saingannya banyak."


"Begitu ya? Lantas bagaimana?"


"A' Faqih sih minta aku buat mengajar di rumah Tahfiz. Tapi yaaaa itu, gajinya?"


"Ada apa dengan gajinya?"


"Sangat kecil dek, nggak sampai satu setengah juta, karena hanya setengah hari, itu saja hanya empat hari mengajar. Aku takut, tidak bisa mencukupi mu. Nanti deh, aku coba berbicara pada Abi mengenai tawaran Jimi itu." Tutur Rumi. Debby pun menghela nafas.


"Kenapa harus memikirkan itu sih. Lagian tabungan ku juga masih banyak, kak. Dan aku juga bisa kerja lagi, cari kantor yang sekiranya bisa menerima ku. Jadi kebutuhan kita tetap bisa tercukupi, kakak tidak perlu khawatir."


"Begitu ya...?" Tersenyum kecut. Raut wajah Rumi nampak berubah.


"Kakak, aku tidak terlihat meninggikan diri ku di depan mu, kan?" Debby khawatir.


"Nggak dek, karena itu memang benar. Level mu masih di atas ku saat ini. Kau pun mudah mencari pekerjaan. Tidak seperti ku."


"Ya Allah, Kak Rumi? Kenapa bilang seperti itu?" Merengek. Rumi pun memeluk tubuh Debby.


"Maaf ya, aku benar-benar suami yang payah. Aku menikahi mu, tapi membawa mu pada kesusahan."


"Astagfirullah al'azim, kak Rumi bicara apa sih? Kak Rumi suami yang baik, sungguh."


"Aku janji dek, suatu saat nanti aku akan membahagiakan mu."


Debby tersenyum, sembari mendongakkan kepalanya. "Aamiin... Tapi sekarang aku juga sudah bahagia kok. Asal tidak seperti kemarin-kemarin."


"Ya Allah... Iya maaf ya untuk sikap ku yang kemarin." Mencium kening gadis yang tengah tersenyum senang. "Eh... Kita jalan-jalan yuk."


"Kemana?"


"Kemana saja. Kita kencan... Sepertinya selama kita menikah belum pernah aku mengajak mu jalan ke luar."


"Ya Allah... Serius?"


"Iya sayang... Ayo siap-siap." Rumi melepaskan pelukannya, pada gadis yang sudah bersemangat. Lalu beranjak lebih dulu sembari meraih tangan Debby, membantunya untuk berdiri.

__ADS_1


__ADS_2