Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
lagi-lagi ngambek


__ADS_3

Siang yang terik, membawa langkah cepat Rumi menuju tempat beribadah.


Adzan Dzuhur sudah lewat beberapa menit yang lalu bahkan sudah hampir setengah jam.


Meeting tadi benar-benar memakan waktu cukup lama, pasalnya yang di bahas amat banyak. Dari pencapaian yang belum memenuhi target, hingga planning-planning lain yang tengah di bahas demi menunjang minat konsumen.


Ada hal lain yang membuatnya merasa resah, adalah ketika atasan meminta tim design untuk mulai bekerja lebih baik lagi. Beberapa teguran pun meluncur, membombardir mereka-mereka yang di anggap lamban, sehingga banyak yang menundukkan kepala, pencapaian memang amat jauh dari target yang di tentukan sementara akhir tahun hanya tinggal satu bulan lagi, itulah mengapa Tuan Felix atau ayah dari Justin itu menjadi emosi saat berhadapan dengan tim tersebut. sungguh meeting yang menciptakan ketegangan walaupun tak berlangsung lama, namun mau bagaimana lagi itulah dunia kerja.


Di masjid...


dinginnya ruangan itu membuat hati Rumi sedikit merasa tenang. Rehat di rumah Allah memanglah cara cepat memulihkan kondisi panasnya jiwa.


Hari ini pak kyai tidak hadir, namun terdengar santer kalau beliau akan menikahkan putrinya. Senyum merekah, serta pijaran mata yang berbinar pun selalu di tampakkan Jimmy setiap kali bertemu.


Sudah tahu jawabannya kan? Pria itu di terima saat melamar gadis berparas teduh nan manis beberapa bulan yang lalu, ia bercerita dengan perasaan menggebu-gebu. Sungguh ia benar-benar mendapatkan durian runtuh, karena baru-baru ini dia juga di promosikan untuk naik jabatan, di tambah beberapa proyek yang goal membuatnya mendapatkan bonus yang tak sedikit, satu lagi? Meida– gadis itu sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Benar-benar rezeki yang berlipat-lipat.


Rumi turut bahagia, setiap orang memiliki keberuntungannya masing-masing, rezeki masing-masing, dan kebahagiaannya masing-masing. Tidak ada sedikit pun rasa iri yang terselubung dalam benak pria yang usianya sudah hampir mendekati tiga puluh tahun.


Ia selalu memberi support untuk temannya itu. Itulah jawaban dari keistiqomahan dia semasa menjaga masa lajangnya, meninggalkan sesuatu yang dulunya di anggap benar-benar pujaan hati, demi bidadari yang sesungguhnya.


.


.


.


Langit kembali menggelap ia sudah sampai rumah sejak pukul tujuh tadi, karena belum sampai adzan Maghrib ia sudah mengambil start menuju Jakarta.


Rumi saat ini tengah memotong buah segar, membaginya menjadi dua piring yang berisi potongan apel, buah naga dan juga pir.


Ia membawa dua piring itu ke luar, menyerahkan pada sang ayah di ruangan depan yang tengah membaca kitab suci Al-Qur'an.


Ustadz Irsyad melirik dari bagian atas kacamatanya, sembari menjeda bacaan.


"Di makan, Bi." Meletakkan piring itu di meja, tepat di hadapan ustadz Irsyad.

__ADS_1


"MashaAllah, terimakasih ya. Baiknya anak ini." Ustadz Irsyad terkekeh. Sementara Rumi hanya tersenyum. Ia kembali melangkah masuk dengan satu piringnya yang lain.


Menyerahkan itu untuk sang istri yang sedang asyik menikmati serial animasi sembari cekikikan, saat karakter kucing biru tengah mendapatkan balasan setelah berniat jahat kepada tikus coklat.


Debby menyempatkan menoleh saat pintu kamar terbuka, meredam tawanya yang sedari tadi mengocok perut.


"Dek, buahnya nih."


"Uuuh... Makasih suami. Suapin–" dengan manja kata-kata itu terlontar dari bibir sang istri. Rumi yang kini hanya diam saja, sudah menusuk satu potong apel dengan garpu kecil.


"Ini– buka mulutnya." Rumi mengarahkan sepotong apel itu pada Debby, yang sigap membuka mulutnya. haaapp... Masuklah buah itu, segera di kunyahnya pelan oleh sang istri.


"Makan dari tangan kak Rumi itu lain."


Rumi tersenyum, melirik dengan gemas. "Apanya yang bikin lain?"


"Lebih segar dan enak." Terkekeh, tangannya mengusap-usap lembut perutnya yang kembali merasakan gerakan. "Sepertinya Dede setuju."


"MashaAllah... Itu pujian atau cara agar terus di manjakan seperti ini?"


Debby tergelak, ia mencium pipi suaminya. Memang akhir-akhir ini Debby lebih sering memberikan kecupan. Rasa sayang terhadap suaminya seolah semakin bertambah, seimbang dengan rasa cemburu yang kerap kali mengundang rasa heran dan lelah menjelaskan dari diri Rumi.


"Pagi?" Rumi mengarahkan sepotong buah itu ke dekat mulut yang sudah siap melahapnya. Debby menggeleng pelan, membiarkan buah itu tertelan lebih dulu.


"Bukan, tapi sore. Pengen ke daerah Senayan. Main sepeda di sana."


"Jauh sekali sampai ke Senayan? Taman dekat sini saja ya."


"Aaaaa... Aku maunya Senayan. Tadi aku lihat acara televisi yang sedang meliput suasana sore hari. Banyak yang pada ke sana. Ayo kita juga ke sana."


"Dek, maaf ya. Aku sebenarnya sedang di kejar deadline, sebab target yang harus terpenuhi akhir bulan ini.


Sekarang saja aku harus lembur. Jadi besok aku nggak bisa janji."


Bibir Debby sedikit mengerucut, ia bersungut sembari memalingkan wajah saat Rumi mengarahkan potongan buah pir ke arahnya.

__ADS_1


"Dek–"


"Kamu makin sibuk sekarang."


"Aku sibuk karena tuntutan pekerjaan, bukan mau ku, lagi pula semua ku lakukan untuk kamu dan anak kita juga."


"Tapi kamu harus adil mengatur waktu, ini juga bukan mau ku. Maunya anak ini." Debby membalas.


Helaan nafas dari Rumi terdengar lirih, semenjak hamil Debby memang semakin sering ngambekan.


"Aku kan juga pengen di manja terus," runtuknya melanjutkan.


"Bukanya aku selalu memanjakan mu?"


"Nggak sesering dulu, coba sekarang. Temani aku tidur sampai pagi. Ayo..."


"Aku peluk dulu nanti, seperti biasa."


"Nggak mau. Aku tetap akan terjaga saat kamu beranjak."


"Dek, hanya setiap akhir tahun kan aku sibuknya. Kalau sudah normal aku akan biasa lagi."


Debby yang hanya diam saja memilih untuk menurunkan tubuhnya, tidur dalam posisi miring lantas membelakangi.


Sementara bibirnya bersungut-sungut, merasa jengkel.


"Aku hanya ingin di manja dan di perhatikan, itu saja. Apa susahnya sih." Bulir bening menetes. Hal sepele yang selalu menjadi penyebab datangnya masalah antara dirinya dan sang istri kerap kali membuat Rumi merasa lelah dan ingin mencoba untuk mendiami istrinya saja.


Seperti saat ini


Ia pun meletakkan piring buahnya di atas meja, menyelimuti tubuh Debby hingga sebahu lalu beranjak.


Debby yang diam saja semakin merasa gusar. Inginnya dia sedikit memaki namun mau bagaimana lagi? Dia tidak mungkin berlaku demikian terhadap suaminya, yang ada malah justru merugikan dirinya sendiri.


Ketika lampu kamar di matikan dan Rumi lebih memilih untuk keluar menemui Abinya.

__ADS_1


Debby pun menoleh saat pintu kamar sudah tertutup rapat, dan kembali dalam posisinya.


"Memang nggak peka!" Semakin gusar, ia mengusap air matanya yang sebenarnya tidak perlu terlalu di anggap serius masalah sepele seperti ini. Namun hal lumrah yang terjadi bagi para istri, menganggap suaminya kurang perhatian, padahal si suami sudah berusaha menjadi yang terbaik.


__ADS_2