
Mentari datang menyapa, sepasang mata milik Debby mengerjap, tatkala merasakan cahaya yang sudah mulai menembus ke kamar tersebut.
Di lihatnya di kamar itu hanya ada dia sendirian, kak Rumi tidak ada di sofa, di toilet pun juga tidak ada, karena toilet itu sedikit terbuka. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Mencari ponselnya sendiri namun tidak ketemu.
"Sepertinya ponsel ku tertinggal di rumah deh. Ini kak Rumi kemana ya?" Debby meraih remote tv di meja sebelah ranjangnya, lantas menyalakannya. Matanya masih sedikit menyipit akibat tidur terlalu lama. "Aku pengen buang air kecil lagi, tapi nggak boleh turun. Bagaimana ya?"
Ia memeriksa bawah ranjang dengan cara memiringkan tubuhnya. "Ya ampun nggak sampe. Tapi aku kebelet."
Tangan Debby masih saja mencoba untuk meranggainya. Hingga tak lama pintu kamar terbuka, Rumi masuk dengan kantong keresek di tangan, berisikan buah segar.
"Dek, mau apa? Nanti kamu jatuh loh."
"Mau buang air kecil."
"Sini aku bantu." Rumi meletakkan kresek tersebut ke atas meja, menyingsingkan lengan bajunya yang panjang lalu meraih pispot di bawah.
"Aku malu pakai itu kalau di bantu kamu."
"Kenapa harus malu. Aku suami kamu loh."
"Ya tetep aja. Tapi sepertinya sulit kalau sambil tiduran." Debby berusaha duduk.
"Dek, dokter suruh kamu sambil tiduran. Pasti bisa."
"Susah kak." Ia memaksa untuk duduk. Lalu menoleh ke arah Rumi. "Jangan ngeliatin."
"Ya Allah... Kan aku harus ngebantu kamu."
"Nggak perlu aku bisa. menghadap sana–"
"Ya ampun Dek-Dek." Rumi terkekeh ia pun balik badan membelakangi.
"Itu pintunya, kunci dulu."
"Nggak akan ada yang masuk sayang."
"Aaaa... Kunci."
"Iya... Iya..." Rumi berjalan hanya untuk menutup pintu saja lalu kembali mendekati Debby, dan berdiri di sebelahnya.
"Menghadap sana kak, jangan ngeliatin."
"Astagfirullah..." Rumi pun membelakangi. Sementara Debby melanjutkan urusannya hingga selesai.
"Sudah belum?"
"Bentar lagi." Ia sedang membenahi dirinya sendiri, "sudah."
__ADS_1
Mendengar jawaban Debby Rumi menoleh, ia hendak meraih pispot tersebut.
"Kak, itu jorok."
"Nggak papa... Biar aku yang buang."
"Tapi kan?"
"Kita suami istri, jangan ada batasan. Aku nggak akan merasa jijik sayang." Rumi meraihnya lalu membawanya ke kamar mandi guna membuangnya. Terdengar suara air, pertanda ia juga membersihkannya.
'ya ampun... Aku tahu dia penyayang, tapi tidak menyangka dia mau melakukan ini untuk ku.' batin Debby. Dan Rumi pun keluar dari tandas itu sembari menutup pintunya, lalu kembali mendekati sang istri.
"Mau makan buah nggak? Tadi aku beli apel."
"Nanti saja."
"Ya sudah kalau begitu."
"Kak, makasih ya."
"makasih buat apa?"
"Kakak bersedia melakukan ini. Padahal pasti menjijikkan sekali."
Rumi tersenyum. "Aku mau tanya, kalau posisi ku yang terbaring, apa kamu mau melakukan hal yang sama? Membantu menampung air najis ku, lalu membuang serta membersihkannya?"
"Tentu mau lah."
"Ya seperti yang kamu pernah bilang. Baktinya istri kepada suami, walaupun aku harus menjilat nanah di luka kaki suami ku sampai bersih itu tidak akan cukup untuk membalas segala tanggungjawab mu sebagai suami di hadapan Allah SWT. Dan hal seperti menampung air seni mu lantas ku buang itu sudah pasti wajib aku lakukan sebagai wujud bakti ku, dan juga rasa cinta ku sama kamu."
"Kamu tidak merasa jijik?"
"Nggak."
"Itu juga yang aku rasakan. Aku ingin memperlakukan mu, seperti Abi memperlakukan Umma. Karena cinta, jadi kita sama-sama saling membantu membantu apabila terjadi kesulitan. Ibarat kata? semisal salah satu dari kita tidak memiliki tangan maka salah satu dari kita juga harus bersedia menjadi tangan pengganti."
Debby tersenyum. "MashaAllah– Aku tersentuh nih jadinya..."
"Hehehe..." Rumi mengecup kening Debby lalu mengusap perut istrinya. "Masih ada rasa nyeri nggak?"
"Nggak sih, sudah mendingan."
"Alhamdulillah... Tapi tadi masih ada darah yang tercampur dengan air seni."
"Duh... Mudah-mudahan cepat berhenti pendarahannya. Aku sudah lama ingin punya anak. Jangan sampai keguguran."
"inshaAllah enggak... Anak kita kuat loh. Kaya Abinya."
__ADS_1
"Jangan kaya Abinya." Debby terkekeh.
"Loh kok jangan?"
"Abi itu cengeng, Nak. Jangan ya." Debby semakin terkekeh melihat ekspresi wajah Rumi.
"Kalau begitu jangan kaya Umma. Tukang ngambek, tukang marah-marah."
"Tapi Umma baik hati."
"Abi juga baik hati."
"Abi itu?"
"Apa? Jangan meracuni calon anak ku Dek."
"Hahaha." Rumi sudah menciumi perut Debby berkali-kali. Hingga membuat sang istri tertawa. "Sudah kak geli, perut ku kaku nanti ketawa terus."
Rumi pun melepaskannya lalu mengusap lagi perut Debby.
"Emmm.... Ngomong-ngomong, bagaimana Nuha?" Tanya Debby.
"Alhamdulillah, sudah lahiran semuanya sehat."
"Alhamdulillah, laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki dua-duanya."
"Wah– MashaAllah– Alhamdulillah... Senangnya."
"Iya... inshaAllah kita menyusul ya."
"Maunya apa, laki-laki atau perempuan?" Debby bertanya dengan nada manja.
"Apapun aku tetap bersyukur." Rumi menurunkan wajahnya hendak mencium bibir istrinya.
Tok... Tok... Tok...
Keduanya terkesiap, dan menoleh ke arah pintu.
"Kuncinya lupa belum ku buka. Aku buka dulu ya."
"Iya..." Debby tersenyum jail, saat Rumi batal untuk menciumnya tadi.
Di depan pintu Rumi membuka pelan, dan ia sedikit terkejut saat tahu siapa yang datang.
"Assalamualaikum..." sapa salah satu dari mereka dengan lembut.
__ADS_1
"A.... Alaikumsalam." Jawab Rumi tidak percaya, dengan sepasang suami istri yang datang itu.
Bersambung...