Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
mengunjungi Papa lagi


__ADS_3

Di restoran itu, entah bagaimana posisi Justin jadi berada di depan Jimmy, hingga mau tak mau, Rumi duduk di hadapannya, membelakangi meja Debby.


Dan meeting pun di mulai, dengan matanya yang sesekali melirik ke arah Justin. Memperhatikan pria itu yang sepertinya mencuri-curi pandang pada istrinya. Namun demi berusaha profesional Rumi tidak memperlihatkan sisi tidak sukanya, dan berusaha menjelaskan designnya dengan lancar.


Justin manggut-manggut mendengarkan. Baginya, design Rumi terlihat sederhana namun cukup elegan, dan dari mimik wajah pria Chinese tersebut terlihat Dia tertarik.


"Baiklah, idenya kreatif sih. Saya suka," kata Justin sembari tersenyum. Sama halnya dengan Jimmy dan Rumi, mereka saling tatap sebentar tersenyum dengan bibir bergumam Hamdallah.


"Nah karena yang saya butuhkan adalah seorang Desainer grafis, jadi jam kerja Masnya mungkin akan lebih fleksibel. Dimana Masnya tidak perlu datang ke kantor setiap saat. Anda bisa bebas mengatur jam kerja sendiri dan bisa menyelesaikan pekerjaannya di mana saja. Intinya adalah asal pekerjaan kelar sesuai deadline yang ditentukan. Bagaimana, apa Anda tertarik untuk bergabung?"


"InshaAllah Pak. Saya minat untuk bekerja di perusahaan bapak."


Justin tersenyum. "Baiklah kalau begitu, silahkan kirim CV lengkapnya ya. Dan datanglah ke kantor XX, besok pagi pukul sepuluh untuk melakukan tanda tangan kontrak kerja."


"Baiklah pak akan saya usahakan." Rumi tersenyum senang, sembari menjabat tangan Justin yang sudah terulur kepadanya.


Setelah membahas pasal pekerjaan, mereka berbicara basa basi hingga beberapa menit. Tak lama Justin beranjak, ia berpamitan lebih dulu. Sama halnya dengan Jimmy yang juga harus kembali ke kantornya.


Sesaat langkah kaki pria oriental itu terhenti di meja Debby.


"Aku permisi, Deb. Sekali lagi, selamat ya untuk mu."


"Oh... Iya. Terimakasih."


Justin tersenyum, dia pun melanjutkan langkahnya pergi. Sementara Rumi yang masih bersama Jimmy hanya menatap mereka berdua, namun ia lega ketika Debby masih terlihat menjaga pandangannya dari pria itu.


"Kak, saya permisi dulu ya harus balik. Soalnya masih harus ngirim proposal juga."


"Oh, okay. Terimakasih Jim."


"Sama-sama. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah," jawab Rumi. Pria itu berjalan mendekati Debby lalu mengusap kepalanya.


"Bagaimana?" Tanya Debby


"Alhamdulillah."


"Kamu di terima?"


"Iya dek."


"Wah selamat ya... Justin itu memang baik orangnya, humble juga. Kamu pasti betah kerja sama dia. Dulu itu dia ketua OSIS yang baik hati."


"Oh... Humble dan baik hati mana sama aku?"


"Hehe... Dua-duanya."

__ADS_1


"MashaAllah... Dua-duanya?"


"Iya, lebih kamu dikit lah." Nyengir.


Rumi membalas senyum lebar Debby dengan gelengan kepalanya. Gadis itu langsung menggenggam tangan Rumi dengan kedua tangannya.


"Senengnya di cemburuin."


"Idih...! Siapa yang cemburuin kamu?"


"Ya kamu, hareudang tuh pasti."


"Nggak juga..." Rumi memalingkan wajahnya, berjalan lebih dulu dengan tangan mengibas-kibaskan pakeannya di bagian depan. Sementara Debby hanya terkekeh.


***


Langit yang mulai menggelap di kota Bandung, keduanya baru saja melaksanakan shalat isya berjamaah. Setelah selesai berzikir, Rumi menoleh sejenak kebelakang memastikan jika Istrinya masih di belakang.


Gadis itu tersenyum, lalu mengetuk-ketuk keningnya, minta di cium.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Rumi meraih kepala Debby dan mengecupnya, tak hanya itu kedua pipi serta berakhir di bibirnya yang hanya sebatas menempelkan saja. Keduanya tersenyum setelah Rumi melepaskan kecupannya itu lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri yang masih menggunakan mukenah di tubuhnya.


Dengan lembut, Debby mengusap-usap kepala itu membuat Rumi memejamkan matanya, menikmati.


"Dek, masih ada waktu kan?"


"Syukurlah. Tapi maaf, pasti ada makanan halalnya kan?"


"Mama bilang sudah menyiapkan makanan halal untuk kita yang di pesan menggunakan jasa pengirim makanan. Ya... Walaupun Mama memasak makanan yang tak semuanya non-halal, tetap saja alat masak di rumah ku itu bekas untuk memasak hidangan non halal juga."


Rumi tersenyum. "Mama itu baik ya."


"Iya, Mama memang baik. Papa, kak Gallen sebenarnya juga baik dan penyayang."


Rumi melirik ke atas, di lihat sang istri sedikit sedih. Ia menyentuh pipi Debby.


"Mereka hanya butuh waktu, Dek. Aku yakin sih, mereka akan luluh."


"Tapi, apakah Kak Rumi yakin? Mau datang kerumah? Pasti keluarga besar sedang kumpul."


"Ya aku yakin sayang. Kan aku sudah bilang, aku siap menghadapi semuanya. Mereka tetap keluarga kita."


Debby tersenyum. Ia menurunkan kepalanya mencium kening Rumi.


"Terimakasih suami ku," ucap Debby yang masih mencondongkan tubuhnya mengusap-usap pipi suaminya.


"Sama-sama. Sayang." Ia beranjak Sejenak, lalu memberikan kecupan lembut di bibir sang istri.

__ADS_1


🍂


🍂


🍂


Di komplek tempat tinggal orang tua Debby...


Mobil Rumi berhenti namun tidak berada persis didepan pagar rumah milik orang Tua dari Debby itu. Ya... Ada beberapa mobil yang berderet, menandakan sudah ada tamu di sana.


Tangan Rumi mendadak dingin, ia merasakan gugup saat ini. Entah seperti apa acara di dalam, semoga saja tidak ada acara aneh-aneh yang membuatnya tidak nyaman sebagai seorang muslim.


Rumi menoleh ke arah Debby. "Yuk kita turun sayang."


"Kak Rumi, yakin?"


"Iya lah... Yuk," ajak Rumi. Keduanya lantas turun dari mobil mereka, berjalan pelan sembari bergandengan tangan. Melewati salah satu mobil di depannya yang juga baru tiba karena pintu itu terbuka.


Rumi melihat seorang wanita menggunakan rok mini serta atasan dengan bahu yang terbuka. Ia langsung memalingkan wajahnya seraya beristighfar.


"Lusi." Debby menyapa sepupunya dengan ramah. Sementara wanita di hadapannya hanya menatap dari atas ke bawah, penampilan syar'i Debby yang di luar ekspektasinya. Hijab dia jauh lebih panjang dari pada yang di gunakan Tantenya Merry.


"Debby?"


"Apa kabar?"


"Aku baik," jawabnya masih menatap aneh. Ia melirik kearah Rumi, kemudian. "Ini suami kamu?"


"Oh... Iya. Kak Rumi namanya." Memperkenalkan suaminya, yang hanya mengangguk saja sekali dengan senyum tipisnya.


Lusiana terkekeh. "Maaf... Kamu nggak menikah dengan pria sombong, kan?"


"Eh... Bukan gitu kok, Dia itu?" Debby merasa tidak enak pada Rumi karena memahami, sang yang tidak bisa menatap balik ke arah wanita di hadapannya.


"Maaf ya Ci," kata Rumi. Menelungkupkan ke dua tangannya di depan dada, berusaha tersenyum sembari menoleh sedikit lalu memalingkan wajahnya lagi.


'ckckck... Iya, dia kan anak ustadz katanya. Pria alim rupanya.' batin Lusi. "Ya sudah Deb, aku masuk duluan."


"Iya," jawab Debby kemudian, gadis itu menoleh kearah suaminya. "Maaf ya, Kak."


"Nggak papa, Dek. Cuman aku agak khawatir pakaian mereka begitu semua."


"Sepertinya enggak sih, kalau Lusiana memang agak berani kak. Jadi bagaimana?"


"Ya mau bagaimana lagi, kan sudah sampai sini. Ayo kita masuk sebentar kalau memungkinkan untuk pulang, ya kita pulang cepat."


Debby mengangguk, ia meraih tangan Rumi keduanya lantas melanjutkan langkah kaki mereka menuju rumah berpagar hitam yang tak begitu tinggi.

__ADS_1


__ADS_2