
Waktu berbuka tinggal beberapa menit lagi. Ustadz Irsyad pun memilih untuk menggelar karpet yang cukup lebar sebagai alas berbuka mereka.
Walaupun di rumah itu ada meja makan, namun hanya ada empat kursi bawaan. Sementara di sana ada lima orang dewasa dan empat anak-anak yang cukup aktif.
Makan lesehan lah yang menjadi pilihan, Nuha dan Debby mulai sibuk menurunkan hasil olahan mereka tadi di karpet yang sudah terbentang sempurna, beberapa piring, gelas, dan sendok serta dua teko berisikan air yang berbeda, tengah mereka siapkan. Setelannya mereka pun duduk di atas karpet itu, menanti adzan Maghrib yang belum terdengar.
"Abi–" panggil Faqih hati-hati.
"Iya?"
"Maaf, kalau boleh Faqih bertanya? Abi di sini, pasti kesepian?" Tanya Faqih, yang menatap iba tubuh yang mulai nampak kurus itu.
"Nggak juga... Di sini abi banyak temannya. Ya walaupun terkadang rindu juga dengan suasana Jakarta. Namun, jujur saja Abi malah justru lebih tenang di sini." Beliau tersenyum.
"Tapi Abi makannya terjamin kan?" Tanya Faqih lagi.
"inshaAllah– di sini Abi malah makan apa yang ada. Sayur apapun, pokoknya seperti kembali ke masa lalu."
Faqih menatap ayah mertuanya, pantas saja? Nuha selalu menangis setiap kali menelfon Abi Irsyad. Berkali-kali ia memohon untuk membantunya membujuk Abi Irsyad agar kembali ke Jakarta.
"Abi mau nggak? tinggal lagi di Jakarta? Sama kami. Nanti kita akan pikirkan, bagaimana caranya agar pondok pesantren ini ada yang mengurus." ujar Faqih.
Nuha yang di sebelah Faqih menatap penuh harap ke arah Abinya agar mau mendengarkan ucapan suaminya itu, lantas kembali pindah ke Jakarta.
Ustadz Irsyad pun terkekeh. "Tidak perlu– Abi itu betah di sini. Wallahi."
"Tapi jujur saja, kami khawatir kalau Abi sendirian di sini. Kalau ada apa-apa bagaimana? Sementara kami jauh, Bi." Tutur Faqih kemudian.
"A'a benar, Bi. Pikiran kami tidak bisa terlepas ke Abi. Menjalani masa tua namun sendirian. Lebih-lebih Rumi, rasanya seperti berdosa sekali."
ustadz Irsyad kembali terkekeh.
"Bi?" Panggil Nuha, membuat Ustadz Irsyad mengangkat kepalanya. "Kami sayang sama Abi, bukan karena kami tidak mau sering-sering berkunjung ke sini. Tapi alangkah bahagianya kami, jika Abi mau, ke Jakarta lagi dan berkumpul bersama kami."
Pria yang rambutnya sudah hampir memutih seluruhnya pun menghela nafas.
"Apa Abi nampak malang di mata kalian?" Tanya beliau. "Hingga pantas Abi dikasihani, seperti ini?"
Semua yang di sana membisu, tatkala Abi Irsyad mulai berbicara serius.
"Abi itu, di sini nyaman ketika hati ini menemukan sesuatu yang tidak pernah Abi rasakan selama di Jakarta. Yaitu sebuah ketenangan jiwa yang benar-benar nikmat. Kalian perlu tahu, raga Abi mungkin masih di dunia. Tapi jiwa Abi? Sudah berada di akhirat. Dan itu amatlah manis di rasa." Ustadz Irsyad tersenyum, menatap mata-mata mereka yang berkaca-kaca, lebih-lebih Nuha dan Rumi.
Karena memang, selama di Magelang Ustadz Irsyad lebih banyak melakukan tirakat, beliau bahkan sering di waktu-waktu tertentu melakukan zikir panjang hingga seharian, tanpa makan dan minum.
"Abi baik-baik saja, Abi kan ada yang memelihara. Mau tahu siapa?"
Mereka masih membisu. Ustadz Irsyad pun mengangkat jari telunjuknya ke atas. "Dialah sebaik-baiknya pemeliharaan untuk kita semua. Allah SWT– Wallahi...! Abi tidak pernah merasa takut, selain pada Tuhannya semua mahluk."
Deg...! Mereka semua semakin membisu.
"Jadi untuk apa membujuk Abi, kalian tidak berdosa jika hanya menghubungi Abi melalui telfon seluler. Abi tetap bahagia dan merasa kalian tetap perhatian. Uang Kiriman kalian pun belum sepersen pun Abi pakai. Mungkin akan di gunakan untuk kebutuhan genting, atau hal-hal yang lebih penting lainnya. Walaupun tetap Abi ingin di kunjungi kalian, tapi Abi memahami kesibukan anak-anak Abi." Ustadz Irsyad mendengar samar-samar suara adzan, beliau pun meraih teko berisi teh manis menuangkan air itu ke gelas anak-anaknya.
Faqih menunduk, saat Ustadz Irsyad menuangkan minuman untuknya. "Abi menghargai perhatian mu, Faqih. Terimakasih."
Faqih mengangkat kepalanya. "Maafkan Faqih, ya Bi."
__ADS_1
"Maaf untuk apa?" Ustadz Irsyad tertawa.
"Faqih mungkin kurang sopan berbicara seperti ini."
"Ndak– Ndak papa... Abi senang." Ustadz Irsyad kembali menoleh ke arah Nuha, ia kini tengah mengusap matanya yang basah. "Anak Abi ini beruntung punya suami seperti kamu, pria yang bijaksana dan baik."
Ustad Irsyad pun beralih pada Debby. "Satu lagi anak Abi yang beruntung, karena memiliki istri sebaik Cece."
Debby tersenyum sumringah, merasa tersanjung.
"Yang penting satu. Kalian bisa hidup rukun dan bisa saling menghargai pasangan kalian. Abi sudah bahagia, dan tenang, Wallahi." Tutur Ustadz Irsyad, "nah sekarang sudah buka, kita buka saja tidak perlu lagi berfikir khawatir pada Abi. Wong Abi kerasan di sini, kok. Abi betah."
Semua yang di sana mengulas senyum. Berusaha untuk tidak membahas lagi. Mereka pun membaca doa buka puasa lalu melepas dahaga mereka, ada yang dengan teh lebih dulu atau mungkin air putih.
Malam itu, suasana makan kembali menghangat sebelum akhirnya di tutup dengan takbir dan tahmid di ruang sholat mereka setelah melangsungkan sholat Maghrib berjamaah.
.
.
.
Lautan kelabu masih menjadi pemandangan Rumi dan Debby di teras rumah.
Suara takbir pun menggema, di tambah suara letusan kencang petasan-petasan besar yang di nyalakan oleh anak-anak yang berlalu lalang di jalan. Tak hanya itu, suara meriam bambu pun terdengar riuh saling bersautan.
Rumi meraih tangan Debby, mengecupnya lembut punggung tangan yang masih memiliki aroma minyak telon, karena baru saja menyapu tubuh sang anak dengan minyak tersebut.
Di sudut lain, Abi Irsyad masih mengobrol dengan A' Faqih dan Mbah kyai Sarowi juga beberapa kerabat lain yang berkunjung.
"Memang aku kenapa?"
"Lebih banyak ngelamun, dan nggak ikut kumpul bareng mereka?"
Rumi tersenyum tipis. "Aku nggak papa, cuma sedang berusaha berdamai dengan keadaan. Semuanya tidak bisa kita tebak kondisinya akan seperti apa? Dan malam ini, aku kangen Umma, Dek."
"Aku bisa memahami sih, aku pun tidak bisa membayangkan seperti apa hampa-nya menjadi kak Rumi dan Nuha."
Rumi tersenyum, ia menggenggam tangan Debby semakin erat. "tetaplah di sisi ku ya, jangan dulu meninggalkan ku. Atau kalau perlu aku duluan."
"Ih... Kak Rumi kok bilangnya gitu sih? Nggak mau, jangan berbicara hal yang seperti itu."
"Wajar kan? Karena kita semua akan kembali, aku mungkin tidak bisa seperti Abi, jadi lebih baik aku duluan."
"Aaa– jangan bahas itu. Jadi nangis kan?" Mata Debby menganak sungai.
"Berbicara seperti ini membuat mu takut?" Tanya Rumi.
"Iya lah pakai tanya." Debby memukul manja bahu Rumi, pria itu pun tertawa kecil.
"Dek?"
"Hemmm?"
"Sayang nggak sama aku?" Rumi Semakin menggenggamnya dengan kedua tangan, mencoba mengalihkan gundah-gulananya.
__ADS_1
"Sayang lah–"
Rumi tersenyum. "Beneran?"
"Bener kak. Sayang banget." Rengeknya manja.
"MashaAllah, kalau begitu masuk ke kamar sebentar, yuk."
"Ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain, cuma mau di manjain sebentar." Bisiknya pelan.
Debby senyum-senyum, ia tak menjawab apapun selain mengikuti langkah Rumi di belakangnya menuju peraduan mereka.
Tak melakukan apapun sih, hanya saling mengobrol sembari bercumbu saja, sampai sang istri tertidur karena obrolan Rumi seperti dongeng yang membuatnya ingin tertidur.
Tidak... Lebih tepatnya ibu muda itu amat lelah hari ini.
🥀
🥀
🥀
Hari-hari berlalu, anak-anak serta cucu Ustadz Irsyad sudah kembali satu persatu. Walaupun Rumi lebih lama di sana, namun rumah yang baru saja ramai dengan bisingnya anak-anak akan berubah senyap ketika mereka pulang kembali ke kota.
Hal yang biasa di rasakan para orang tua selepas anak-anak mereka mudik lebaran, dan harus kembali bekerja.
Namu tenang saja, hanya butuh beberapa hari untuk beradaptasi di dalam kesunyian tersebut. Selebihnya mereka akan kembali menjadi terbiasa, memulai hari-harinya sendiri di rumah itu.
Ustad Irsyad berjalan sendirian ke area dapur setelah sholat subuh. Beliau pun menyalakan tungku perapian untuk merebus air di sana, sembari menghangatkan badan.
Seolah waktu kembali tertarik ke masa lalu, seorang wanita berjongkok di sebelahnya sembari mendekatkan ke-dua telapak tangannya di depan api.
'hangat... Mas masak air untuk mandi Rahma?'
Wajah itu terpaku menatap bayangan tak nyata di sebelahnya. Gadis berparas ayu itu tersenyum manis kepada beliau. lantas berubah menjadi raut wajah paniknya.
'Rahma itu nggak tahu bagaimana mempertahankan api di tungku ini. Jadinya dua gulung daun kelapa kering ku masukin semua, eh nggak tahunya di tungku belakang ada sayur ikan asin yang sedang di masak ibu... Bagaimana ini mas, gosong begini sampai kering di wajannya.'
Wajah panik itu kembali terlihat, membuat Ustadz Irsyad menyandarkan kepalanya di dekat lutut yang ia dekap. sembari terkekeh, sendiri. Menikmati bayangan tak nyata yang kerap kali datang.
Kalau dokter bilang beliau sedikit mengalami dimensia, di mana beberapa potongan masa lalunya akan seperti sebuah film yang di putar. Namun tidak parah, dan itu hanya beliau sendiri yang mengetahui serta dokter yang memeriksanya.
'mas kita bisa bakar jagung di sini kan? Rahma masukin ya...' bayangan Rahma mengusap wajahnya dengan punggung tangan hingga meninggalkan noda hitam arang di bagian Pipinya. Ustadz Irsyad kembali mengangkat tangannya, rasa gemas ingin membersihkan noda arang itu membuatnya tersadar tatkala siluet Rahma kembali menghilang.
Beliau lantas beristighfar cepat, memijat tulang hidungnya.
"Astagfirullah al'azim... Aku yo paham iki penyakit, tapi kok nyata tenan'e?" Beliau mengusap kedua matanya yang basah, lalu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dan beranjak sejenak meraih Al Qur'an di ruang tengah, lantas membacanya hingga mentari mulai muncul.
Setelah satu juz beliau baca, Ustadz Irsyad kembali melepaskan kacamatanya melamun sejenak, entah bayangan apa yang muncul, walaupun lebih dominan Rahma namun tak jarang muncul pula bayangan-bayangan orang tuanya. dan setelah semua menghilang, beliau kembali menghela nafas lantas beristighfar.
Ya seperti itulah hari-hari Ustadz Irsyad, saat ini. Namun beliau tidak pernah ingin mempermasalahkannya. Adakalanya dia bersyukur saat yang nampak adalah Rahma, namun ada kalanya beliau menangis sendiri karena hal itu malah justru membuatnya semakin merasakan kerinduan. Namun mau bagaimana lagi, dia memang harus menerima ini semua sebagai perjalanan di sisa-sisa hidupnya ini, sembari menanti Waktu kembali. Hanya berusaha untuk tetap eling, itu yang selalu beliau sematkan demi memberi semangat pada dirinya sendiri tatkala penyakit dimensinya tengah kambuh.
💐💐💐💐💐 Ekstra part tamat....
__ADS_1